
KERESEK HITAM DALAM FREEZER
Bab 2
Panggilan telepon terputus begitu saja. Kenapa Nia memutuskan telepon saat kami belum selesai berbicara. Pikiranku bertanya-tanya tentang sikap Nia yang aneh saat kutanyai tentang keresek hitam berisi mayat bayi yang kutemukan dalam freezer pagi ini. Suaranya terdengar gugup dan mencurigakan.
Apakah Nia yang menaruhnya. Tapi kenapa dan buat apa dia menyimpan bayi ini dalam freezer. Apakah dia memasaknya? Kalau memang demikian berarti selama ini aku mengonsumsi mayat bayi. Pikiranku bergidik ngeri. Perutku terasa mual membayangkannya. Jika benar demikian berarti selama ini aku bukan makan daging sapi atau ayam tapi mayat bayi.
Segala macam dugaan berputar dalam benakku. Aku hanya bisa menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini tanpa tahu harus bertanya pada siapa. Nia malah menutup teleponku tanpa menjawab pertanyaanku.
Merasa pusing memikirkan segala kemungkinan yang belum pasti, aku mencoba menghubungi Nia lagi. Mungkin saja dia mau menjawab pertanyaanku kali ini. Namun dia tidak mengangkat teleponku. Aku tidak menyerah dan terus menghubungi Nia lagi dan lagi. Namun ia tetap tidak mengangkatnya. Akhirnya aku menyerah dan kukirim pesan padanya.
[Dek, angkat teleponnya. Jawab pertanyaanku. Apakah Kamu tahu siapa yang menaruh keresek hitam itu dalam freezer? Keresek hitam itu berisi mayat bayi, Dek.]
Centang dua pertanda pesanku terkirim. Namun ia belum membacanya. Kulihat dia sedang offline.
[Dek, kenapa Kamu diam saja? Jawablah sayang. Jangan membuatku penasaran. Apakah ini perbuatanmu? Bukan Kamu kan yang menyimpan keresek hitam ini?]
Aku memfoto keresek hitam dengan posisi terbuka agar isinya terlihat. Dengan perasaan ngeri dan bergidik kulihat lagi hasil fotoku. Setelah terlihat cukup jelas segera kukirim foto tersebut ke Nia untuk membuktikan bahwa aku sedang serius dengan pertanyaanku tadi. Namun balasan yang kutunggu tidak juga datang.
Kulihat dia masih offline. Aku mencoba menghubunginya lagi lewat panggilan telepon biasa. Namun tetap tidak ada jawaban. Nia tidak mengangkat teleponku. Aku kalut dan bingung dengan apa yang harus kulakukan dengan keresek hitam itu.
Haruskah keresek itu kubuang ke tempat sampah. Bagaimana kalau tetanggaku yang menemukannya? bukankah hal ini akan menjadi gempar dan masalah menjadi bertambah besar.
Lalu bagaimana bila penemu melaporkannya ke polisi. Bukankah segala sesuatunya akan menjadi semakin rumit. Aku terus berpikir dan merenung. Apa yang harus kulakukan terhadap keresek hitam itu. Namun tetap tidak kutemukan jawaban atas segala permasalahan ini. Akhirnya kuputuskan untuk mengembalikan keresek hitam itu ke dalam freezer lagi.
Aku harus meminta penjelasan dari Nia, apakah dia yang menaruh keresek ini atau bukan. Tak terasa sudah 3 jam lebih aku merenung dan berpikir tentang tindakan yang harus kuambil selanjutnya. Perutku mulai berteriak minta diisi. Makanan terakhir yang kukomsumsi adalah mi instan yang kumasak kemarin malam.
Jam di dinding menunjukkan pukul 10.00 pagi dan aku masih belum sarapan. Sejujurnya nafsu makanku sudah menghilang dan menguap bersamaan dengan terbukanya keresek hitam tadi. Namun perutku yang keroncongan benar-benar tidak bisa dibohongi minta untuk segera diisi.
Aku memutuskan untuk membeli makanan di luar saja. Sungguh aku benar-benar tidak memiliki nafsu untuk makan sama sekali. Namun aku harus mengisi perutku yang terus bernyanyi dari tadi agar tidak kelaparan lagi.
Sambil menunggu pesananku datang, aku terus mencoba menelepon Nia. Nihil, dia tidak mengangkat panggilan teleponku. Saat pesananku datang kuletakkan ponselku dan segera menyuap sesendok makanan ke dalam mulut.
Aku mengunyah makanan dan menelannya dengan sangat pelan. Makanan ini terasa hambar dan tidak ada kenikmatan sama sekali. Padahal perutku terasa sangat lapar dan aku memesan makanan kesukaanku. Sungguh rasanya seperti mengunyah kerikil yang kupaksa masuk ke dalam kerongkonganku.
Setelah berapa suapan, aku tidak bisa meneruskan makan lagi. Kuletakkan sendok di piring dan kuteguk sisa minuman di gelas. Aku mengecek ponselku untuk melihat apakah ada balasan dari Nia. Namun pesan yang kutunggu masih belum ada. Kutekan tombol memanggil lagi namun tetap tidak ada jawaban dari Nia.
Aku enggan untuk pulang ke rumah. Mengingat keresek hitam berisi mayat bayi yang tersimpan dalam freezer rumahku membuatku bergidik ngeri. Pikiranku buntu. Memikirkan segala kemungkinan tentang siapa pelaku yang menaruh keresek itu.
Jika memang Nia pelakunya, lalu bayi siapakah itu. Dari mana dia mendapatkannya. Apakah itu bayi Nia. Tapi bagaimana mungkin? Setahuku dia tidak hamil. Bayi itu cukup besar dan mungkin berusia 6 atau 7 bulan.
Jika memang Nia hamil bukankah perutnya akan membesar. Sedangkan perutnya masih rata dan tidak ada tanda-tanda kehamilan yang muncul padanya. Nafsu makannya masih baik. Ia tidak pernah mengeluh mual atau muntah sekalipun.
Kalaupun Nia hamil dan itu bayi yang dikandungnya, kenapa dia diam saja dan tidak memberitahuku. Kenapa dia malah menyimpannya dalam keresek lalu menaruhnya dalam freezer. Apakah dia keguguran lalu karena bingung akhirnya menaruhnya ke dalam freezer? Apakah ini yang membuat Nia memaksa pulang ke rumah ibunya saat itu.
Aku memang berjanji akan mengantarkan Nia pulang hari itu. Namun tenggat waktu yang mendadak dari atasan membuatku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan hari itu juga. Padahal aku sudah berjanji untuk mengantarkannya pulang besok saja. Namun ia tetap bersikeras pulang sendiri hari itu juga.
Nia bilang kalau ia sudah kangen sekali dengan ibunya dan sudah berjanji pada ibunya akan pulang hari itu juga. Ia tetap memaksa pulang hari juga meskipun sudah kurayu berkali-kali agar pulang besok saja.
Hari sudah petang saat itu. Aku khawatir jika terjadi sesuatu di perjalanan. Meskipun Nia sudah terbiasa pulang sendiri ke rumah ibunya, tapi tetap saja rasanya tidak tega membiarkannya pulang sendirian.
Aku melonjak kaget saat mendengar ponselku berbunyi. Kulihat pesan masuk datang dari Nia.
[Maaf Mas, tadi Ibu memanggilku. Aku baru selesai membantu ibu masak lalu sarapan. Kamu sudah sarapan? Di sini sinyalnya jelek banget Mas, buat telepon nggak jelas. Suaranya, putus-putus. Kirim pesan saja ya. Kresek apa yang kamu bilang tadi?]
Sinyal di rumah ibunya Nia memang jelek. Aku selalu kesal dan mengeluh tentang sinyal yang tidak stabil setiap kali menginap di sana. Karena itu aku tidak betah menginap berlama-lama terutama saat ada tanggungan pekerjaan yang belum kuselesaikan.
[Mas, ini gambar apa? Kenapa ada bayi di dalam keresek hitam?]
Kubaca pesan balasan dari Nia setelah melihat foto yang kukirim tadi.
[Itu mayat bayi yang kutemukan saat membuka keresek hitam yang ada di freezer. Kemarin malam saat aku membuka freezer kulihat keresek hitam ini. Saat merabanya aku menduga isinya adalah ayam. Lalu aku mau memasaknya pagi ini. Karena itu aku bertanya resep ayam goreng padamu. Namun setelah kubuka ternyata isinya bukan ayam yang tetapi mayat bayi ini]
[Terus kenapa keresek hitam itu ada di freezer? Siapa yang menaruhnya, Mas?]
[Aku juga tidak tahu, Dek. Karena itu aku bertanya padamu. Kukira kamulah yang menaruhnya. Bukannya selama ini Kamu yang mengurusi kulkas dan isinya]
[Mas, sumpah bukan Aku yang menaruhnya. Kemarin sebelum aku pergi semua isi kulkas sudah kuperiksa. Tidak ada apa pun dalam freezer saat kutinggalkan]
[Kamu tidak sedang hamil kan sayang?] tanyaku memastikan.
[Mas, kalau Aku hamil orang yang pertama kali kuberitahu adalah Kamu]
[Lalu siapa yang menaruhnya?]
[Entah Mas. Aku juga tidak tahu. Apakah mungkin, Bu Reni pelakunya?]
Ya, Bu Reni. Muncul lagi sebuah nama yang masuk dalam daftar yang patut dicurigai sebagai salah satu pelaku yang menaruh keresek itu dalam freezer selain Nia. Kenapa aku tidak terpikirkan nama itu.
Bu Reni adalah orang yang biasa datang ke rumahku untuk membersihkan rumah 3 kali seminggu. Biasanya dia datang pada hari Senin, Rabu dan Jumat. Setelah Nia pulang dia sudah datang 2 kali ke rumah untuk bersih-bersih rumah.
Apakah Bu Reni pelakunya? Namun kenapa dia harus menyimpan bayi ini ke dalam freezer rumahku. Kenapa dia tidak membuangnya atau menguburkannya ke tempat lain saja. Apakah dia kebingungan harus melakukan apa terhadap mayat bayi ini sehingga disimpan dalam freezer. Tapi kenapa harus di rumahku.
Apa karena Nia pulang ke rumah ibunya jadi dia menaruhnya di sana untuk sementara. Lalu dia akan mengambilnya lagi saat Nia akan kembali.
Jika memang benar demikian, Aku harus menyusun langkah yang tepat untuk mencari tahu apakah benar Bu Reni pelakunya. Aku tidak boleh gegabah apalagi bertanya secara langsung kepadanya. Bisa-bisa dia berkelit dan mengatakan kalau bukan dia pelakunya. Lalu berbalik menuduh Nia atau akulah pelakunya. Yang terburuk dia akan menyebarkan masalah ini bahkan melaporkannya ke polisi. Aku harus menyusun rencana yang tepat untuk menyelidiki Bu Reni.
Apakah kupindah saja keresek itu dari freezer agar Bu Reni kebingungan lalu mencarinya. Saat terlihat kebingungan lalu akan kutanyai dia agar dia bicara jujur dengan keresek itu sebagai buktinya. Namun harus kupindah ke mana. Jika ditaruh di luar bukankan mayat bayi itu bisa membusuk.
Atau kutunggu saja dia sampai mengambil keresek itu dari freezer dan kutangkap dia saat memegangnya agar dia tidak bisa berkelit lagi saat kutanyai tentang keresek itu. Tapi bukankah itu terlalu berisiko. Aku tidak tahu kapan Bu Reni akan mengambil keresek hitam itu. Bisa saja dia melakukannya saat aku di kantor sehingga aku tidak bisa memergokinya secara langsung.
Haruskah kupasang CCTV di dapur agar aku bisa memantau Bu Reni saat mengambil keresek hitam itu dan menunjukkan rekaman itu padanya agar dia tidak bisa berkelit. Aku berpikir dan menimbang-nimbang tentang hal yang bisa kulakukan untuk memancing Bu Reni.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepalaku. Aku langsung berdiri dan berjalan menuju kasir untuk membayar makananku. Setelah itu bergegas pergi ke sebuah toko untuk membeli beberapa barang yang kuperlukan untuk menjebak Bu Reni besok. Aku tidak sabar untuk pulang ke rumah dan menyiapkan segala keperluan untuk penyelidikanku kepada Bu Reni. Aku sangat bersemangat melakukannya dan tidak sabar untuk sampai di rumah.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Tedi untuk menjebak Bu Reni besok? Benarkan Bu Reni pelakunya seperti kata Nia?
Anda Mungkin Juga Suka





