Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KERESEK HITAM DALAM FREEZER

KERESEK HITAM DALAM FREEZER

Kehidupan Tedi berubah mencekam saat ia menemukan bungkusan kresek hitam berisi jasad bayi di dalam freezer kulkasnya sendiri. Alih-alih melapor ke pihak berwajib, Tedi justru memilih untuk menyimpan rahasia mengerikan tersebut dan bertekad memburu sosok di balik tindakan keji ini secara mandiri. Mampukah ia mengungkap identitas pelaku sebenarnya sebelum segalanya terlambat? Sebuah kisah misteri penuh ketegangan tentang pencarian keadilan yang gelap.
Bab
Bagikan

Bab 3

Setelah membeli semua barang yang kubutuh kan untuk penyelidikan besok aku segera pulang ke rumah dengan terburu-buru. Aku harus menyiapkan segala sesuatunya dengan tepat agar bisa segera menyelesaikan segala permasalahan ini.

Aku harus segera menangkap pelakunya dengan tanganku sendiri agar bisa menguburkan bayi itu dengan layak secepatnya. Aku ingin menyelesaikan masalah ini secara tenang tanpa melibatkan polisi atau pihak luar mana pun.

Bagaimana jika itu perbuatan Nia? Jika polisi sampai terlibat bukankah dia akan dituduh atau dicurigai membunuh bayi tak berdosa itu. Kalaupun Bu Reni pelakunya aku juga tetap tidak ingin melibatkan siapa pun. Bu Reni sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri. Ia mirip dengan mendiang ibuku yang sudah meninggal.

Jika memang Bu Reni pelakunya aku akan memintanya bertanggung jawab untuk segera menguburkan bayi itu secara layak. Setelah itu baru kuusut apa sebenarnya motifnya melakukan hal tersebut. Aku benar-benar menyayangi kedua orang itu dan tidak ingin permasalahan ini melebar kemana-mana yang akhirnya akan melukai mereka. Apalagi sampai melibatkan pihak polisi. Pasti masalah ini akan semakin rumit. Karena itu aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini sebaik mungkin.

Sesampainya di rumah aku segera membuka freezer dan mengambil keresek hitam itu. Kubungkusi lagi keresek hitam berisi mayat bayi itu dengan keresek merah yang kubeli sebelum pulang tadi. Setelah itu mayat bayi itu segera kukembalikan ke dalam freezer.

Di sebelah mayat bayi tadi kuletakkan keresek hitam berisi ayam mentah yang kubeli bersama keresek merah tadi. Setelah selesai segera kututup kulkas dan pergi dari dapur. Aku tidak ingin berlama-lama di dapur karena keresek berisi mayat bayi yang membuatku bergidik ngeri. Kembali terlintas dalam pikiranku siapakah orang yang tega melakukan hal ini kepada bayi kecil yang tidak berdosa itu.

Untuk melancarkan penyelidikanku besok, aku berencana tidak masuk kantor dan mengambil jatah cutiku sehari saja. Segera kuhubungi atasanku dan kusampaikan rencanaku untuk cuti besok. Tanpa banyak bertanya alasanku mengambil cuti secara mendadak atasanku langsung menyetujui permintaanku.

Aku tak sabar menunggu esok tiba. Haruskah kuberitahukan rencanaku kepada Nia. Dia berkali-kali mengirimiku pesan menanyakan tentang rencanaku untuk menyelidiki Bu Reni. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan kualihkan dengan membicarakan hal yang lain.

Aku tidak mau membuat Nia khawatir. Jadi kuputuskan untuk merahasiakan rencana penyelidikanku dan memberitahukannya nanti setelah semua masalah terpecahkan. Lagi pula Nia juga salah satu daftar pelaku yang patut kucurigai jadi aku pun harus mulai menyelidiki dia secara diam-diam mulai sekarang.

Waktu berjalan terasa lambat untukku. Malam itu aku tidak bisa tidur karena teringat mayat bayi di kulkasku. Tengkukku terasa merinding setiap kali aku masuk ke dapur setiap kali hendak minum. Aku baru bisa memejamkan mata pukul 02.00 dini hari karena pikiranku kacau memikirkan segala kemungkinan yang akan terjadi besok.

Paginya aku terbangun kesiangan. Sinar matahari menerobos lewat lubang ventilasi di kamarku menandakan bahwa aku melewatkan waktu Salat Subuh. Aku segera beranjak dari kasur dan berjalan dengan cepat ke kamar mandi.

Saat hendak keluar dari kamar, aku mendengar suara aktivitas dari luar. Sepertinya Bu Reni sudah datang dan mulai membersihkan rumah. Aku mengambil ponselku yang tergeletak di atas kasur. Kuusap layar ponselku, tidak ada pesan apa pun dari Nia untuk menanyakan kegiatanku seperti biasanya. Sepertinya ia merasa kesal karena aku tidak menjawab pertanyaannya semalam.

Jam di ponsel menunjukkan saat ini sudah pukul 08.00 pagi. Aku sudah tertidur cukup lama sekitar 6 jam tetapi rasanya seperti baru memejamkan mata sebentar saja. Aku segera keluar kamar dan ingin melancarkan aksiku sesuai rencana yang telah kususun kemarin.

Aku mendekati Bu Reni yang sedang menyapu lantai. Berbasa-basi sebentar sebelum bertanya pada Bu Reni untuk memulai percakapan.

“Jam berapa ini, Bu Reni? Sudah dari tadi sampainya. Kok aku nggak dengar suara apa pun dari tadi.”

“Loh Mas Tedi nggak masuk kerja? Saya baru sampai satu jam yang lalu, Mas,” jawab Bu Reni dengan ramah. Ia terlihat sedikit terkejut saat melihatku keluar dari kamar tadi lalu segera melanjutkan kegiatannya menyapu lantai yang sempat terhenti saat menjawab pertanyaanku tadi.

Bu Reni memang sangat ramah. Dia juga cekatan dalam melakukan semua tugasnya. Tidak pernah terlihat bermalas-malasan saat bekerja. Sifatnya yang keibuan dan penuh perhatian mengingatkanku pada sosok ibuku yang meninggal 4 tahun lalu. Aku sudah menganggapnya seperti ibuku sendiri karena itu aku selalu memanggilnya dengan panggilan Bu Reni.

Aku juga meminta Bu Reni memanggil namaku langsung dan tidak usah menambahkan kata Mas. namun dia selalu menolak permintaanku. Terlalu sungkan dan tidak enak rasanya. Lagi pula ia juga merasa nyaman dan sudah terbiasa dengan panggilan tersebut.

“Aku ijin nggak masuk kantor, Bu. Badanku terasa meriang dan ngilu-ngilu dari kemarin. Mulutku terasa pahit dan tenggorokan rasanya sakit buat menelan. Makanya aku ingin istirahat di rumah saja biar sembuh dulu.”

Aku terpaksa berbohong sakit agar dia tidak curiga kalau aku sengaja ijin dari kantor untuk menyelidikinya. Kuamati Bu Reni yang masih menyapu lantai dengan sigap. Tubuhnya yang kurus bergerak dengan luwes sehingga pekerjaan menyapu selesai dalam waktu singkat.

“Mas Tedi sakit apa? Sudah periksa ke dokter belum?” tanya Bu Reni dengan nada penuh kekhawatiran.

“Sudah, Bu. Kemarin sudah periksa ke dokter katanya cuma flu biasa. Obatnya juga sudah kuminum. Ini sudah agak mendingan. Ngilunya sudah hilang. Tinggal nafsu makan yang masih belum kembali.”

“Syukurlah kalau begitu. Oia, Mbak Nia kapan pulang, Mas?”

Deg. Jantungku berdebar-debar saat mendengar pertanyaan Bu Reni barusan. Kenapa ia menanyakan kapan Nia pulang. Apakah ia berencana mengambil keresek hitam itu sebelum Nia kembali kesini. Aku harus berbohong agar dia segera bertindak dengan keresek hitam itu. Ini kesempatan emas. Harus kupergunakan dengan baik.

“Nanti sore sepertinya, Bu. Kenapa?” jawabku dengan semangat sembari tersenyum penuh kemenangan. Membayangkan Bu Reni pasti akan segera bertindak bila mengetahui Nia akan segera pulang. Ayo ambil keresek hitam itu dan akan kutangkap basah kamu agar tidak bisa berkelit lagi, pikirku.

Kuamati wajah Bu Reni dengan saksama. Tidak ada perubahan apa pun di wajahnya saat aku menjawabnya. Ia tetap terlihat tenang seperti biasanya. Aneh.

“Syukurlah kalau begitu. Kasihan kalau Mas Tedi sendirian di rumah dalam kondisi sakit seperti ini. Kalau ada Mbak Nia kan enak ada yang merawat.”

Benarkah apa yang dikatakannya. Aku tidak bisa menilai apakah dia sedang jujur atau berbohong sekarang.

“Bu Reni, aku boleh minta tolong?” tanyaku dengan hati-hati untuk melakukan rencana berikutnya.

“Minta tolong apa, Mas? Kalau saya bisa pasti saya bantu.” Bu Reni tersenyum simpul. Suaranya terdengar tulus saat mengatakannya. Aku jadi merasa ragu dengan dugaanku kalau Bu Reni yang menaruh keresek hitam tersebut.

“Kemarin setelah pulang periksa dari dokter aku membeli ayam. Dari kemarin aku ingin makan sop ayam buatan Bu Reni. Pasti enak dimakan saat kondisi mulut yang pahit seperti ini. Apalagi dengan sepiring nasi hangat. Dari kemarin aku terus mengiler membayangkan makan sop ayam buatan Bu Reni yang maknyus itu.”

Selain membersihkan rumah, dulu Bu Reni juga bertugas memasak untukku dan Nia. Dulu saat masih baru menikah denganku, Nia masih belum pandai memasak seperti sekarang. Kesibukannya di kampus dan tugas yang menumpuk membuatku kasihan melihatnya kelelahan harus membagi waktu untuk membersihkan rumah, mencuci pakaian kami dan mengerjakan tugas dari kampus. Karena itu aku memperkerjakan Bu Reni untuk membantu Nia membersihkan rumah sekaligus memasak agar kami tidak terus-menerus makan di luar.

Selain lebih hemat, memasak sendiri juga lebih sehat karena kita sendiri yang mengatur bahan dan takaran bumbu saat memasak. Syukurlah meski tanpa disuruh, Nia berinisiatif belajar memasak sendiri dari Bu Reni.

Saat hari minggu dan tidak ada jadwal kuliah Nia akan mulai belajar memasak pada Bu Reni. Setelah Nia pandai masak kami hanya menugaskan Bu Reni untuk membersihkan rumah dan urusan memasak diambil alih oleh Nia. Sesekali saat sedang sibuk dia akan meminta Bu Reni yang memasak. Namun itu juga jarang sekali. Bisa dihitung dengan jari.

“Oh ... Mas Tedi mau dimasakkan sop ayam. Baiklah, mau dimasakkan sekarang atau nanti? Mas Tedi sudah sarapan belum?” tanya Bu Reni.

“Iya. Sekarang saja, Bu Reni. Perutku lapar belum sarapan. Semalam cuma makan roti sedikit buat minum obat saja.”

Aku memang cuma makan roti yang kubeli dari toko bersama keperluan penyelidikan hari ini untuk makan malam kemarin. Nafsu makanku benar-benar menghilang. Aku makan hanya sekedar mengganjal perutku agar tidak kelaparan lagi.

“Baiklah, Mas. Bahan-bahannya sudah ada ya? Atau perlu belanja dulu?”

“Sudah, Bu. Ayamnya ada dalam freezer. Nanti kalau ada bahan yang kurang bilang saja padaku.” Sengaja aku tidak menjelaskan padanya ayam itu dalam keresek yang mana. Kalau dia pelakunya bukankan dia akan kaget melihat keresek hitam yang berubah menjadi keresek merah. Aku ingin tahu reaksinya secara langsung jadi aku mengikutinya ke dapur.

“Loh Mas Tedi mau ngapain kok ikut saya ke dapur?” tanya Bu Reni yang keheranan karena aku mengikutinya ke dapur.

“Mau buat teh hangat. Biar nggak pahit mulutku. Sekalian mengganjal perut biar nggak terlalu lapar, Bu.” Aku berbohong lagi untuk menjalankan aksiku.

“Mas Tedi istirahat di kamar saja, kan masih sakit. Jangan banyak gerak biar cepat sembuh. Biar tehnya saya buatkan.”

“Nggak papa, Bu. Kubuat sendiri saja tehnya. Bu Reni masak sop ayam saja biar cepat matang dan aku bisa segera sarapan. Perutku sudah sangat lapar minta diisi, Bu,” tolakku secara halus. Bagaimanapun aku harus tetap di dapur untuk mengawasinya secara langsung.

Apakah dia bermaksud mengusirku dari dapur agar dia leluasa mengambil keresek hitam berisi mayat bayi itu. Tentu saja dia harus segera mengambilnya sebelum Nia kembali agar dia tidak ketahuan telah menyembunyikan mayat bayi itu dalam freezerku.

“Baiklah kalau begitu saya masak dulu ya, Mas”.

Bu Reni mengambil beras dan memasak nasi terlebih dulu. Setelah memasukkan beras yang sudah dicucinya ke dalam rice cooker ia membuka lemari untuk mencari bumbu-bumbu yang diperlukan untuk memasak. Ia terlihat membawa beberapa bumbu dalam tangannya lalu menaruhnya di atas meja.

Aku melihatnya diam-diam sambil berpura-pura merebus air untuk membuat teh. Hatiku berdebar tak karuan saat melihatnya mulai bergerak mendekati kulkas. Aku tak sabar menunggu Bu Reni membuka kulkas dan melihat reaksi yang akan dia tunjukkan saat melihat keresek hitam yang menghilang berganti menjadi keresek merah.

Bu Reni membuka pintu kulkas bawah dan mencari sayuran yang dibutuhkan untuk memasak. Tidak ada apa pun kecuali sawi yang mulai menguning dan layu karena terlalu lama disimpan dan sisa sayir sop dalam plastik. Melihat sayuran yang dibutuhkan tidak ada Bu Reni menutup kulkas dan berkata, “Mas Tedi sayurnya masih ada yang kurang. Saya belanja sayur dulu ya.”

“Sebentar kuambilkan dulu uangnya, Bu,” jawabku seraya berjalan secara tergesa-gesa ke kamar untuk mengambil uang dari dompet untuk belanja sayuran. Namun dompet yang kucari tidak segera ketemu. Aku lupa dimana menaruh dompetku. Biasanya aku meletakkannya di nakas atau kalau tidak masih tas kerjaku.

Berulang kali kucari dompetku di dua tempat itu, namun tetap tidak ketemu. Aku mencoba mengingat kembali dimana dompetku kuletakkan setelah pulang belanja kemarin namun tetap tidak ketemu. Pikiranku kacau karena aku memikirkan apa yang dilakukan Bu Reni di dapur sehingga tidak bisa fokus mencari dompetku.

Tidak mau berlama-lama meninggalkan Bu Reni sendirian di dapur aku segera bergegas keluar dari kamar dan berjalan dengan cepat ke dapur. Biarlah aku meminjam uang Bu Reni dulu, nanti setelah aku ingat dimana dompetku uangnya akan kuganti. Aku tak ingin kehilangan momen yang kutunggu-tunggu sejak kemarin dan berjalan dengan tergesa-gesa ke dapur.

Saat tiba di dapur aku kaget melihat apa yang tengah kulihat. Ini benar-benar diluar rencanaku. Semuanya kacau dan aku hanya bisa terdiam melihat apa yang terjadi di depan mataku.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
8.5
Kisah ini dituliskan dengan latar belakang sejarah seorang wanita bangsawan kelas atas pada abad ke-15 di Eropa Timur, saat ini letak Cachtice Castle berada di dekat kota Bratislava, Slovakia. Tokoh-tokoh nyata yang berada dalam sejarah seperti Elizabeth Bathory de Ecsed, Raja Matyas, Gyorgy Thurzo, dll., berdampingan dengan tokoh fiksi seperti Benca, Lorant, Arpad, Ivett, Gustav, dll. Atas laporan dari berbagai pihak termasuk pendeta Lutheran Istvan Magyari, serta saksi-saksi lain, Raja Matyas memerintahkan Gyorgy Thurzo untuk melakukan penyelidikan terhadap Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, dia dinyatakan bersalah, termasuk mereka yang membantu kegiatan pembunuhan gadis-gadis muda secara sadis tersebut. Dorka (Doratia Dentez), Anna Darvula, juga suster Illona Joo dan Johanness Ujvari, mendapatkan hukuman mati dari Raja Matyas, sedangkan Countess Elizabeth Bathory de Ecsed yang berstatus bangsawan, memiliki kekebalan terhadap hukuman mati. Maka dia ditahan di dalam kastilnya sendiri dengan hanya diberi sedikit celah untuk bernafas, dan makanan. Pada 21 Agustus 1614, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, meninggal dunia, ditandai dengan makanan yang tidak disentuhnya sama sekali. Maka setelah diperiksa, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, ditemukan sudah tidak bernyawa. Hingga saat ini, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, sering disebut sebagai Blood Countess, atau putri berdarah yang disinyalir telah membunuh lebih dari 600 gadis perawan dalam upayanya untuk menjadi tetap muda belia, dengan melakukan ritual mandi darah gadis perawan. Kisah kekejaman maupun kegiatan ritual sex bebas yang dilakukan di dalam kastil Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, tercatat dalam sejarah kelam Roman Empire di Hongaria. Namun kisah ini hanyalah fiksi dengan latar belakang kekejaman sang putri berdarah yang menjadi inspirasi terhadap kisah vampire di Eropa.
Sampul Novel Dicintai Iblis Betina
8.2
Sumpah reinkarnasi menggema sebelum sosok itu lenyap bersama aroma busuk yang menyengat. Di tengah keputusasaan, Jacob berusaha menghidupkan kembali arwah kekasihnya melalui bantuan seorang dukun sakti. Namun, ia justru terjerat tipu daya ratu iblis yang licik. Hubungan mereka pun berkembang jauh melampaui sekadar pertemuan biasa, hingga terjebak dalam gairah terlarang di ranjang. Kini, Jacob harus menghadapi konsekuensi mengerikan atas cintanya yang gelap.
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Sampul Novel Hamil Anak Genderuwo
8.5
Pasca suaminya terkena PHK, Esmeralda terpaksa memulai hidup baru di kampung halaman pasangan hidupnya tersebut. Namun, kepindahan ini justru membawanya pada serangkaian penampakan sosok Genderuwo yang mengerikan. Di tengah penantian panjang akan hadirnya buah hati, Esmeralda akhirnya dinyatakan mengandung anak pertama. Sayangnya, kebahagiaan itu tertutup awan gelap saat ia menyadari ada kejanggalan besar yang menyelimuti janin di rahimnya.
Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku
9.2
Alana terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar akibat teror mimpi buruk. Tatapannya terpaku penuh ketakutan pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan sekadar benda biasa, melainkan pemicu berbagai kejadian mistis di luar nalar. Ia bertekad menjauhkan kain itu dari hidupnya karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kebaikan yang murni.
Sampul Novel PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA
8.5
Dewi tidak pernah menyangka bahwa kediamannya di rumah Pak Darma akan menyingkap tabir gelap. Di balik kemegahan hunian sang mertua, tersimpan berbagai rahasia kelam yang selama ini tersembunyi rapat. Satu demi satu misteri mulai terungkap, menyeret Dewi ke dalam pusaran kenyataan yang mengerikan. Puncaknya, ia harus menghadapi kebenaran mengejutkan mengenai jati diri aslinya yang berkaitan dengan kengerian di rumah tersebut.