Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KERESEK HITAM DALAM FREEZER

KERESEK HITAM DALAM FREEZER

Kehidupan Tedi berubah mencekam saat ia menemukan bungkusan kresek hitam berisi jasad bayi di dalam freezer kulkasnya sendiri. Alih-alih melapor ke pihak berwajib, Tedi justru memilih untuk menyimpan rahasia mengerikan tersebut dan bertekad memburu sosok di balik tindakan keji ini secara mandiri. Mampukah ia mengungkap identitas pelaku sebenarnya sebelum segalanya terlambat? Sebuah kisah misteri penuh ketegangan tentang pencarian keadilan yang gelap.
Bab
Bagikan

Bab 1

Jam di dinding menunjukkan sudah pukul 00.30 malam saat aku melangkahkan kakiku ke dapur. Aku baru saja terbangun untuk mencari makanan. Perutku terasa lapar karena belum makan malam sebelum tidur tadi.

Setelah pulang dari kantor aku langsung tertidur begitu sampai di rumah. Aku terlalu terlalu lelah dengan pekerjaan di kantor yang menumpuk. Begitu tubuhku kurebahkan di atas kasur aku langsung tertidur lelap bahkan tanpa mengganti bajuku.

Sesampainya di dapur kubuka tudung saji di atas meja. Tidak ada apa pun di dalamnya. Oya, aku lupa. Nia, istriku sedang di rumah ibunya 3 hari ini. Pantas saja meja makan kosong tidak ada apa pun.

Kemarin aku makan malam di luar sebelum pulang ke rumah. Namun karena dikejar tenggat waktu aku pulang kemalaman. Tubuhku sudah terlalu lelah walau sekedar mampir ke warung untuk membeli makanan. Hanya ingin segera merebahkan tubuh dan meluruskan punggung ini di kasur. Setelah seharian duduk di kursi menatap monitor, membuat tubuh dan mata ini kelelahan.

Kutuangkan air putih ke gelas dan langsung meminumnya untuk menghilangkan rasa haus. Mengganjal perut yang kelaparan, meronta-ronta untuk diisi makanan untuk sementara waktu.

Aku beranjak ke kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Barangkali Nia menyimpan sesuatu yang bisa dimakan dalam kulkas. Biasanya dia selalu menyimpan makanan ataupun buah-buahan yang bisa langsung dimakan sebagai stok saat butuh camilan. Nihil, tidak ada apa pun yang bisa dimakan untuk mengganjal perutku yang semakin kelaparan. Hanya ada racikan sayur sop mentah dan beberapa butir telur di pintu kulkas.

Kualihkan pencarianku ke dalam freezer untuk mencari lagi sesuatu yang bisa kumakan. Saat kubuka pintu freezer, kulihat bungkusan keresek berwarna hitam yang cukup besar hingga langsung menarik perhatianku. Kupegang bungkusan keresek hitam itu dan merabanya untuk menebak kira-kira apa isinya.

Keresek hitam itu teraba keras layaknya bongkahan daging yang mengeras karena beku. Kutebak isinya adalah seekor ayam yang belum sempat dimasak oleh Nia sebelum pergi.

Nia memang suka makan ayam. Entah itu digoreng, dibakar, diolah menjadi bakso atau dimasak apa pun. Dia sangat menggemari ayam dibandingkan daging. Menurutnya ayam lebih gampang diolah menjadi makanan apa pun dan pasti akan terasa lezat. Selain itu daging ayam harganya relatif lebih murah bila dibandingkan dengan harga daging. Karena itu Nia sering membelinya dan menyimpannya dalam freezer sebagai stok agar bisa dimasak sewaktu-waktu.

Aku memang jarang sekali membuka freezer. Biasanya saat membuka kulkas, aku hanya membuka pintu bawah dan mengambil makanan atau apa pun yang kuperlukan tanpa membuka pintu atas. Biasanya dalam freezer hanya diisi bahan mentah yang perlu dimasak terlebih dulu seperti ikan, ayam ataupun daging oleh Nia.

Aku beralih ke lemari kayu di sudut dapur untuk mencari stok mi instan. Pilihan yang tepat untuk orang yang butuh makanan cepat saji saat kelaparan. Kuambil sebutir telur dan kumasukkan ke dalam air yang mendidih sebelum memasukkan mi agar telur tidak terlalu mentah saat mi sudah matang ini nanti.

Beberapa menit kemudian mi sudah siap santap. Aku berpindah ke meja makan untuk menyantapnya. Tak perlu waktu lama sampai mi dalam mangkok sudah habis berpindah ke dalam perutku yang kelaparan.

Selesai makan, aku beranjak ke ruang tamu. Kunyalakan televisi dan mencari tontonan yang menarik. Aku menonton televisi sambil membuka ponselku. Saat membuka aplikasi chat berwarna hijau kulihat istriku terlihat Online beberapa menit lalu. Tanpa berpikir lama, aku langsung menghubunginya dia namun panggilanku tidak diangkatnya sampai deringan terakhir. Segera kukirimkan pesan padanya.

[Sayang, sudah larut malam begini kenapa belum tidur?]

Kutunggu beberapa menit namun belum ada jawaban darinya. Kulihat dia sudah tidak Online lagi. Ah mungkin dia baru saja tidur. Bukankah sekarang sudah malam.

Rasa letih yang belum tuntas dan perut yang sudah kenyang membuatku mengantuk lagi. Segera kumatikan televisi dan beranjak dari tempat duduk dengan membawa ponselku. Aku berpindah ke kamar dan meneruskan tidurku yang terputus karena rasa lapar tadi.

**

Matahari sudah bersinar terang saat aku terbangun keesokan harinya. Untung saja hari ini hari minggu, jadi kantor libur. Aku tidak perlu terburu-buru karena takut telat.

Segera kuambil air wudu dan menunaikan salat dua rakaat. Setelah Shalat subuh aku berselancar di dunia maya untuk mencari cara mengolah ayam. Aku berniat memasak ayam dan sayur yang ada di kulkas sebelum membusuk karena terlalu lama disimpan di kulkas.

Nia akan kembali beberapa hari lagi. Dia pamit pergi selama seminggu karena kuliahnya sedang liburan selama hampir sebulan. Selama liburan sudah seminggu ini Nia hanya di rumah saja tidak ke mana-mana. Biasanya saat libur ia akan pergi dengan teman-temannya kalau aku masuk kerja. Namun, karena libur panjang teman-teman kuliahnya tentu pulang ke rumah masing-masing.

Nia yang biasanya disibukkan dengan kegiatan kampus dan kuliah jadi bingung dan merasa bosan karena tidak melakukan apa-apa di rumah. Karena itu daripada hanya bengong di rumah, dia ingin pulang dan melepaskan rasa rindu dengan ibunya. Lagi pula sudah hampir 4 bulan ini dia tidak pulang ke rumah ibunya.

Melihat banyaknya resep olahan ayam hanya membuatku pusing dan semakin bingung untuk menentukan pilihan. Akhirnya kuputuskan untuk memasaknya menjadi ayam goreng saja. Hanya perlu membumbui ayam lalu menggorengnya di minyak yang sudah dipanaskan terlebih dulu.

Kembali kupandangi layar ponselku untuk mencari bumbu apa saja yang diperlukan untuk membuat ayam goreng yang mudah dan enak. Tiba-tiba aku teringat dengan ayam goreng dan sambal terasi yang biasa Nia masak. Kenapa aku tidak terpikir dari tadi untuk bertanya resepnya langsung ke nia.

Kubuka pesan yang kukirim semalam, pesanku sudah dibaca namun tak dibalas padahal kulihat dia sedang Online. Mungkin dia sedang sibuk atau lupa pikirku. Kucoba mengirim pesan lagi padanya.

[Dek, kirimi Aku resep ayam goreng yang biasa kamu masak buatku dong]

Kupencet tombol kirim. Terlihat centang dua dari abu-abu pertanda pesanku sudah terkirim lalu berubah menjadi warna biru dalam sekejap. Pertanda pesanku sudah dibaca olehnya. Kulihat dia sedang mengetik untuk membalas pesanku.

[Resep ayam goreng? Buat apa Mas?]

Kubaca pesan balasan dari Nia. Lalu segera kuketik pesan balasan untuk istriku.

[Aku mau masak ayam goreng mumpung libur. Mas kangen ayam goreng buatanmu yang enak itu. Kangen yang biasa masak buatku juga]

Segera kukirim pesan yang sudah kutulis. Tak lupa kuselipkan sedikit rayuan dan gambar hati berderet-deret untuk menggodanya.

Nia sering protes saat aku merayunya dan mengatakan kalau rayuanku norak. Namun aku tidak memedulikan dengan sikap protesnya. Aku selalu terpesona saat melihat mulutnya yang mencebik karena merasa kesal. Membuatku bertambah semangat untuk menggodanya dengan rayuan-rayuan gombal setiap kali ada waktu.

[Tumben mau masak. Kenapa nggak beli saja? Lebih praktis]

Bunyi ponselku membuat lamunanku buyar. Segera kubuka pesan balasan dari Nia.

[Kulihat ada simpanan daging ayam di freezer yang belum dimasak. Mau kumasak sekarang saja. Kalau masaknya menunggu Kamu balik kelamaan nanti keburu busuk dan nggak segar lagi ayamnya]

Lama kutunggu tak ada balasan lagi dari Nia. Pesanku hanya dibaca dan statusnya sudah offline sekarang. Mungkin dia sedang sibuk membantu ibunya memasak sekarang.

Ibunya Nia memang terbiasa memulai aktivitas memasak pukul 06.00 pagi. Setelah selesai masak biasanya akan dilanjut dengan sarapan dan mencuci peralatan bekas memasak.

Daripada menunggu lama, akhirnya kuputuskan mencari resep ayam goreng dari internet lagi. Setelah menemukan resep yang pas dan terlihat simpel segera kucari bahan-bahan yang diperlukan. Setelah semua bahan-bahan terkumpul segera kukeluarkan keresek hitam dari dalam freezer.

Aku kesulitan saat mengambil keresek hitam tersebut dari dalam freezer. Permukaan bawah keresek menempel pada dinding dan permukaan freezer karena membeku dan mengeras menjadi es. Kemungkinan karena terlalu lama ditaruh dalam freezer. Segera kukecilkan pendingin agar es mencair. Selang setengah jam barulah keresek itu bisa diambil.

Setelah berhasil mengambilnya segera kutenteng keresek hitam itu ke wastafel. Berniat untuk mencuci dan membersihkan ayamnya terlebih dahulu sebelum memotongnya menjadi beberapa bagian.

Kuambil wadah besar dari rak piring untuk menaruh ayam yang hendak kumasak. Dengan bersiul kubuka ikatan keresek hitam tersebut. Begitu terbuka kulihat isi dalam keresek hitam. Aku begitu terkejut melihat isinya tersebut sehingga tanpa sadar tanganku melemparkan keresek hitam itu ke wastafel begitu saja.

Tubuhku bergetar hebat dan dadaku berdebar sangat kencang. Nafasku terengah-engah seakan aku baru berlari jauh. Selama beberapa menit aku mencoba untuk tenang. Masih belum percaya dengan apa yang kulihat tadi, aku mencoba melihat isi keresek hitam itu sekali lagi. Benarkah penglihatanku atau aku tadi hanya salah lihat.

Dengan hati-hati kuambil keresek hitam yang kulemparkan ke wastafel lalu tadi. Lalu kubuka dengan pelan untuk melihat isinya sekali lagi. Memastikan apa yang kulihat tadi benar.

Ya, tidak salah lagi. Aku memang tidak salah lihat. Apa yang kulihat tadi memang benar. Berarti penglihatanku masih baik dan aku masih sadar sepenuhnya. Dengan tangan gemetar aku memegang keresek hitam berisi sebuah mayat bayi yang sudah membeku.

Kukucek mataku berulang kali dan melihatnya lagi. Berharap penglihatanku salah. Namun yang kulihat masih sama. Aku masih melihat adalah mayat bayi yang membeku, bukan ayam seperti dugaanku tadi.

Tapi kenapa mayat bayi ini ada di dalam freezer. Siapa yang menaruhnya dan kenapa. Pikiranku berkecamuk. Aku tidak mampu berpikir dengan jernih. Aku bingung dengan apa yang harus kulakukan.

Selama beberapa menit aku hanya berjalan mondar-mandir di dapur sambil memikirkan segala kemungkinan yang terjadi. Sampai terdengar bunyi dari ponsel yang kuletakkan di atas meja makan. Kulihat sebuah pesan datang dari istriku, Nia.

Benar, Nia. Kenapa aku tidak terpikir untuk bertanya kepadanya dari tadi. Mungkin saja dia yang menaruh keresek hitam ini dalam kulkas. Bukankah dia yang selama ini mengurus bahan makanan dalam kulkas. Kenapa aku tidak bertanya langsung padanya saja.

Kubuka ponselku dan kubaca pesan dari Nia.

[Ayam yang mana, Mas? Aku nggak menyimpan stok makanan mentah apa pun di dalam kulkas. Paling hanya ada sayur sop sisa kemarin yang belum sempat kumasak dan beberapa butir telur. Kalau sayur sopnya sudah busuk buang saja]

Setelah membaca pesan Nia, aku langsung meneleponnya tanpa pikir panjang. Setelah beberapa saat dia mengangkat panggilanku.

“Dek, siapa yang menaruh keresek hitam di dalam freezer? Bukan kamu kan?” Aku langsung memberondong Nia dengan berbagai pertanyaan begitu Nia menjawab teleponku.

Hening. Lama tidak ada jawaban. Kunyalakan loudspeaker di ponselku untuk mendengar jawaban dari Nia dengan saksama. Namun dia masih diam belum menjawab pertanyaan yang barusan kulontarkan padanya.

“Dek, kenapa diam? Jawab pertanyaanku. Keresek hitam itu siapa yang menaruhnya?” kuulangi lagi pertanyaanku.

“Eh ia mas. Ehmm ... Keresek? Kresek yang mana mas?” Suara Nia terdengar gugup.

“Keresek hitam dalam freezer dek. Tadinya kupikir isinya ayam. Jadi mau kumasak sekarang. Setelah kubuka ternyata isinya mayat bayi, Dek,” jelasku panjang lebar.

Hening lagi. Tidak terdengar suara apa pun dari ponselku. Nia hanya diam tak menanggapi pertanyaanku. Lalu panggilan telepon terputus begitu saja.

Jadi mayat bayi siapakah yang ada di freezer? Siapa yang menaruhnya di sana?

Lalu ada apa dengan Nia? Kenapa dia terlihat mencurigakan? Kenapa dia terdengar gugup saat kutanyai tentang keresek hitam itu?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
8.5
Kisah ini dituliskan dengan latar belakang sejarah seorang wanita bangsawan kelas atas pada abad ke-15 di Eropa Timur, saat ini letak Cachtice Castle berada di dekat kota Bratislava, Slovakia. Tokoh-tokoh nyata yang berada dalam sejarah seperti Elizabeth Bathory de Ecsed, Raja Matyas, Gyorgy Thurzo, dll., berdampingan dengan tokoh fiksi seperti Benca, Lorant, Arpad, Ivett, Gustav, dll. Atas laporan dari berbagai pihak termasuk pendeta Lutheran Istvan Magyari, serta saksi-saksi lain, Raja Matyas memerintahkan Gyorgy Thurzo untuk melakukan penyelidikan terhadap Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, dia dinyatakan bersalah, termasuk mereka yang membantu kegiatan pembunuhan gadis-gadis muda secara sadis tersebut. Dorka (Doratia Dentez), Anna Darvula, juga suster Illona Joo dan Johanness Ujvari, mendapatkan hukuman mati dari Raja Matyas, sedangkan Countess Elizabeth Bathory de Ecsed yang berstatus bangsawan, memiliki kekebalan terhadap hukuman mati. Maka dia ditahan di dalam kastilnya sendiri dengan hanya diberi sedikit celah untuk bernafas, dan makanan. Pada 21 Agustus 1614, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, meninggal dunia, ditandai dengan makanan yang tidak disentuhnya sama sekali. Maka setelah diperiksa, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, ditemukan sudah tidak bernyawa. Hingga saat ini, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, sering disebut sebagai Blood Countess, atau putri berdarah yang disinyalir telah membunuh lebih dari 600 gadis perawan dalam upayanya untuk menjadi tetap muda belia, dengan melakukan ritual mandi darah gadis perawan. Kisah kekejaman maupun kegiatan ritual sex bebas yang dilakukan di dalam kastil Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, tercatat dalam sejarah kelam Roman Empire di Hongaria. Namun kisah ini hanyalah fiksi dengan latar belakang kekejaman sang putri berdarah yang menjadi inspirasi terhadap kisah vampire di Eropa.
Sampul Novel Dicintai Iblis Betina
8.2
Sumpah reinkarnasi menggema sebelum sosok itu lenyap bersama aroma busuk yang menyengat. Di tengah keputusasaan, Jacob berusaha menghidupkan kembali arwah kekasihnya melalui bantuan seorang dukun sakti. Namun, ia justru terjerat tipu daya ratu iblis yang licik. Hubungan mereka pun berkembang jauh melampaui sekadar pertemuan biasa, hingga terjebak dalam gairah terlarang di ranjang. Kini, Jacob harus menghadapi konsekuensi mengerikan atas cintanya yang gelap.
Sampul Novel Gunung Pengantin Ngunduh Mantu
8.8
Bima lahir dalam keluarga sederhana yang terbelenggu kutukan iblis. Di desanya, Gunung Pengantin berdiri angker dengan legenda hantu pengantin yang kerap meneror pendaki. Suatu hari, Bima dan sahabatnya, Alif, melanggar pantangan gunung hingga Alif hilang menjadi abdi gaib. Saat dewasa, Bima harus memutus kutukan leluhur dibantu khodam warisan. Meski berhasil, ia harus kehilangan orang tuanya yang tewas dalam ritual gaib, menyisakan duka dan kesendirian mendalam.
Sampul Novel Hamil Anak Genderuwo
8.5
Pasca suaminya terkena PHK, Esmeralda terpaksa memulai hidup baru di kampung halaman pasangan hidupnya tersebut. Namun, kepindahan ini justru membawanya pada serangkaian penampakan sosok Genderuwo yang mengerikan. Di tengah penantian panjang akan hadirnya buah hati, Esmeralda akhirnya dinyatakan mengandung anak pertama. Sayangnya, kebahagiaan itu tertutup awan gelap saat ia menyadari ada kejanggalan besar yang menyelimuti janin di rahimnya.
Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku
9.2
Alana terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar akibat teror mimpi buruk. Tatapannya terpaku penuh ketakutan pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan sekadar benda biasa, melainkan pemicu berbagai kejadian mistis di luar nalar. Ia bertekad menjauhkan kain itu dari hidupnya karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kebaikan yang murni.
Sampul Novel PATUNG KUDA DI RUMAH MERTUA
8.5
Dewi tidak pernah menyangka bahwa kediamannya di rumah Pak Darma akan menyingkap tabir gelap. Di balik kemegahan hunian sang mertua, tersimpan berbagai rahasia kelam yang selama ini tersembunyi rapat. Satu demi satu misteri mulai terungkap, menyeret Dewi ke dalam pusaran kenyataan yang mengerikan. Puncaknya, ia harus menghadapi kebenaran mengejutkan mengenai jati diri aslinya yang berkaitan dengan kengerian di rumah tersebut.