
Kenapa Kalian Membuang Ibu?
Bab 2
Yang mereka berikan hanyalah berbentuk uang, untuk keperluan sang ibu. Membeli diapers, susu, hingga vitamin dan obat-obatan. Itupun tidak rutin. Terkadang, jika tidak diingatkan, Edo dan Eva akan lalai.
Sebagai istri dari seorang karyawan perusahaan kecil, Eliza jelas tidak sanggup untuk membiayai kebutuhan ibunya sendiri. Oleh sebab itu, ia terpaksa harus menebalkan muka untuk mengingatkan kedua kakaknya pada kewajibannya.
Dan, saat ini, Eliza telah sampai pada titik jenuh. Ia terlalu lelah. Bayi kecil yang ia lahirkan dua tahun yang lalu, benar-benar super aktif, hingga menguras energi Eliza setiap hari. Jika ditambah dengan urusan ibunya, Eliza nyaris ambruk, tidak bertenaga. Ia terlalu lelah. Tidak hanya tubuhnya yang lelah, tapi juga pikiran. Jika stres yang ia rasakan sangat berlebihan, maka dua balitanya yang akan jadi sasaran amuk. Amarahnya bisa membuncah dengan cepat.
Maka dari itu, malam ini, Eliza sengaja menghubungi Edo. Ia hanya butuh ketenangan beberapa saat saja. Untuk memberikan ruang pada otaknya agar bisa berpikir normal. Jika kondisi lebih memungkin, ia akan dengan senang hati mengurus ibunya kembali. Bukanlah ada ladang pahala, dari kondisi ibunya sekarang?
Akan tetapi, pada Edo, lelah itu tidak bisa ia adukan. Sebagai satu-satunya anak laki-laki, Edo melalaikan tanggung jawabnya. Ia mengelak untuk mengurus ibu, sejenak saja. Eliza tidak habis pikir pada pikiran mas-nya itu. Tidakkah ia ingat pada masa kecilnya dulu, ketika masih ada dalam rengkuhan kedua lengan ibunya?
Sekarang harta dan kesibukan, membuat Edo lupa pada segalanya. Padahal dulu, ia adalah anak kebanggaan ibunya. Tidak ada kata tidak, untuk segala keinginannya. Eliza saja sebagai anak bungsu, tidak jarang merasakan cemburu pada Edo.
"Gimana, Dek?"
Munculnya Agung dari balik pintu, mengagetkan Eliza. Ia segera menyapu sudut matanya yang entah sejak kapan basah. Perlahan, ia menggeleng. Hati Eliza nelangsa. Pada siapa lagi, akan ia adukan semua ini? Pada Eva pun, ia juga tidak yakin mendapatkan penawar pada problema dalam dadanya. Sikap Eva selama ini, bahkan lebih parah dari Edo. Anak sulung Minah itu, jangankan untuk pulang untuk melihat kondisi sang ibu, sekadar bertanya saja dalam telepon, bisa dihitung dengan jari sepanjang tahun.
"Aku akan hubungin Mbak Eva ...." lirihnya.
Agung hanya menatap Eliza dalam diam. Ia tidak bisa membantu apa-apa, atas permasalahan istrinya. Awalnya, ia menyarankan Eliza untuk bersabar. Merawat orang tua di masa sepuhnya adalah pekerjaan mulia. Akan berbalas surga, jika ia bisa ikhlas. Akan tetapi, kondisi Eliza terlihat sangat tidak memungkinkan belakangan ini. Dia terlihat stres mengurus segalanya sendiri. Hampir setiap Agung pulang dari bekerja, Eliza mengeluhkan banyak hal. Lelah fisik dan juga batin membuat emosi Eliza tidak terkendali.
Agung tidak habis pikir. Ternyata Edo tidak bisa memberikan solusi atas kondisi adik bungsunya itu. Sebagai laki-laki, seharusnya ia bisa mencarikan jalan keluar untuk semua ini. Tetapi, ia memilih untuk lepas tangan.
Eliza mendengkus dengan kasar. Panggilan teleponnya pada Eva, sudah dua kali tidak mendapatkan jawaban. Entah ada dimana kakaknya itu? Jelas sekali, kalau ia belum tidur. Masih terlalu senja. Jam dinding baru menunjuk ke pukul delapan. Apa jangan-jangan Eva sengaja tidak mengangkat telepon darinya? Benar-benar keterlaluan kakaknya itu! Gumam Eliza kesal.
"Gak diangkat?" Lagi, Agung bersuara.
Eliza mengangguk lemah.
"Coba lagi ...."
Eliza menuruti saran suaminya. Mencoba untuk menghubungi Eva kembali.
"Ada apa, El?" Nada ketus Eva terdengar dari seberang sana.
"Mbak, aku mau bicara ...." Mendengar nada tidak bersahabat dari Eva, Eliza jadi ragu untuk mengungkapkan semuanya. Rasanya ia sudah dapat membaca penolakan yang akan diterimanya.
"Katakanlah, ada apa?"
Eliza mengusap dadanya, berusaha agar emosinya tidak terpancing oleh nada bicara Eva.
"Mbak, kita gantian ngurus ibu ...."
"Apa?" Kalimat Eliza belum usai, tapi Eva sudah terdengar menyela.
"Iya. Kondisi aku lagi gak memungkinkan Mbak. Zaydan lagi aktif-aktifnya. Belum lagi si kakak. Sementara aku hanya sendiri tanpa ART. Aku benar-benar drop." Eliza menghela napasnya. "Mbak bawa dulu ibu ke sana. Beberapa bulan aja. Nanti, kalau kondisi memungkinkan, kami akan jemput ibu kembali ...."
"Gak bisa, El!" tandasnya seketika. Eliza cukup yakin, penolakan itu spontan, tanpa melalui pertimbangan sedikitpun. Benar sekali tebakan Eliza. Pasti lagi-lagi penolakan yang ia terima.
"Tapi, Mbak. Tolonglah .... Aku benar-benar gak sanggup, Mbak. Tubuhku remuk mengurus segalanya sendiri. Mencari ART, keuangan kami gak memungkinkan, Mbak. Kalau Mbak, kedua anak Mbak sudah besar. Mengurus ibu saja, jelas gak akan begitu merepotkan. Lagipula, sementara saja, Mbak. Gak akan selamanya ...." bujuk Eliza, dengan harapan kakaknya itu luluh, dan mengubah keputusan.
"Gak bisa, El. Mbak sibuk. Lagipula Shella dan Gilang gak akan betah tinggal bareng ibu yang sakit-sakitan," tambahnya lagi.
"Astaghfirullahal adziim, Mbak. Tega Mbak ngomong kayak gitu tentang ibu?" Setetes butiran bening dari mata Eliza mengalir begitu saja. Hatinya sakit mendengar penolakan yang tidak masuk akal dari Eva.
"Udah dulu ya, El. Mbak lagi sibuk. Assalamualaikum ...." Ia menutup telepon begitu saja. Tanpa menunggu Eliza menjawab salam yang ia ucapkan.
Tubuh Eliza luruh. Air matanya mengalir begitu saja. Ia tidak habis pikir sama isi kepala kedua kakaknya. Kehidupan duniawi telah menarik dan menenggelamkan mereka terlalu jauh. Hingga melupakan apa yang seharusnya menjadi kewajiban dan sebuah bakti di atas dunia ini.
Anda Mungkin Juga Suka





