Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KEMBANG KANTHIL KEMBANG MLATHI

KEMBANG KANTHIL KEMBANG MLATHI

Keinginan tulus seorang ibu demi mewujudkan kebahagiaan bagi buah hatinya ternyata membawa konsekuensi yang tak terduga. Alih-alih berakhir indah, niat mulia tersebut justru berujung pada situasi mencekam yang jauh dari harapan semula. Kisah ini mengungkap sisi kelam di balik pengorbanan orang tua, di mana setiap impian manis bagi anak-anaknya perlahan berubah menjadi teror misterius yang menghantui kehidupan keluarga mereka selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 2

Pertama kali Diana menginjakkan kaki di pesantren ruqyah Karang Pandan. Bangunan nan megah di tengah kota Karang Pandan yang sering dilewatinya, tetapi belum pernah membuatnya benar-benar tertarik, sampai sekarang.

Sampai setelah dia sendirian dan dia merasa bahwa dia butuh pencerahan untuk kehidupannya. Saat Diana benar-benar butuh pegangan dan sandaran. Dan saat itulah Diana ingin belajar ilmu Al Quran dan Diana ingin langsung belajar pada ahlinya.

Diana sudah ditanya satpam dan diminta masuk ke dalam ruang tunggu, tetapi baru dia melangkah masuk, tiba-tiba Diana mendengar teriakan histeris beberapa orang dan kemudian beberapa orang berlari ke arah Diana.

Oh, orang-orang itu terlihat begitu besar bagi Diana. Mereka adalah lelaki-lelaki berambut panjang yang mengejar seorang lelaki yang bertubuh lebih besar lagi.

Diana membeliak tak percaya, ketika seorang lelaki yang rambutnya dikepang, menabrakkan diri pada pria yang mereka kejar. Mereka berdua terjatuh tepat di depan Diana, dengan suara yang cukup mengerikan. Sepertinya ada tulang yang patah.

"Hati-hati, Za! Dia putra Ustadz Harun!" teriak seorang pria sepuh --yang juga berambut panjang-- dari kejauhan.

Diana benar-benar shock dan bahkan napasnya tersengal. Pria berambut dikepang itu tersenyum malu pada Diana, dan dibantu dengan beberapa orang mereka mengangkat tubuh pria yang nampaknya pingsan itu ke dalam. Diana menelan ludah ketakutan. Dia merasa ragu untuk masuk ke dalam ruang tunggu.

"Tidak apa-apa, Mbak. Hal seperti itu biasa terjadi di sini. Jin yang ada pada pria itu takut melihat Ustadz Faza. Biasanya seperti itu."

Diana menoleh dan melihat seorang wanita berwajah lembut di belakangnya. Melihat baju dan jilbab wanita itu, sepertinya wanita itu memakai seragam ustadzah yang sudah dilihat Diana tadi. Diana tersipu malu.

"Mbaknya mau mendaftar jadi santri baru?" tanya wanita itu. Diana mengangguk sungkan.

"Perkenalkan saya Maya. Saya bekerja di sini. Yuk, saya antar ke bagian pendaftaran," kata Maya dengan ramah. Diana mengangguk. Dia mengikuti Maya berjalan menuju ke bagian dalam pesantren.

Dan kemudian mereka melewati ruang terapi ruqyah. Dan Diana mendengar teriakan-teriakan aneh dari ruangan itu.

"Aku mau menikah dengan Ustadz Faza saja!" teriak lelaki yang dikejar tadi. Rupanya pria itu sudah sadar. Pria itu memeluk pria dengan rambut dikepang yang dilihat Diana tadi. Semua orang tertawa termasuk Diana. Pria tadi nampak jijik dan berusaha mengibaskan dan mengusir pria tadi. Maya menoleh dan tersenyum pada Diana.

"Selalu begitu."

****

Pagi yang berembun. Awan membayang di angkasa dan teriakan-teriakan itu sudah terdengar membahana.

Ratna sangat terkejut dan bergegas berjalan keluar rumahnya setelah mendengar teriakan-teriakan itu. Dia menengokkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak ada satu pun orang yang keheranan seperti dirinya dan tidak ada satupun orang yang keluar dari rumah mereka. Komplek perumahan ustadz ustadzah di belakang ruang terapi ruqyah itu sepi. Ratna menelan ludah takut. Apa hanya hanya dia yang mendengar suara itu? Tiba-tiba Ratna merinding ketakutan. Ratna khawatir dia bisa mendengar dan melihat hal-hal aneh lagi.

"Mbak Ratna, Ustadzah Hasna ada?" Seseorang muncul dari balik pintu sambung. Ratna menjengit terkejut melihat orang itu dan juga berdebar kencang ketika mendengar teriakan-teriakan itu lagi. Teriakan-teriakan tak manusiawi yang membuat bulu kuduk meremang.

Ratna menggeleng.

"Kadose dereng kundur saking masjid, Ust, (Sepertinya belum pulang dari masjid, Ust,)" jawab Ratna agak bingung. Orang itu juga terlihat bingung. Dia nampak berbicara dengan orang yang ada di belakangnya.

Ratna nampak agak tidak enak hati karena tidak tahu harus bagaimana, jadi dia memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah Hasna saja dan melanjutkan pekerjaannya sebelum berangkat bekerja. Ratna tersenyum. Dia suka dengan ritme di pesantren ini, karena semua benar-benar membuat Ratna berdebar tegang, menanti apa yang selanjutnya akan terjadi, selain tentu saja jadwal yang begitu ketat dengan target-target ibadah yang adalah hal baru bagi Ratna.

"Na! Ratna?"

Ratna buru-buru merapikan jilbabnya ketika namanya dipanggil oleh seseorang di depan. Ratna bergegas ke depan. Sepertinya dia tahu pemilik suara itu. Dan dugaan Ratna benar, pemilik suara itu adalah budhe dari suaminya yang bernama Yasna.

Yasna tersenyum pada Ratna dengan ramah. Wajah cantik Yasna nampak bersemu merah.

"Hasna ada?" tanya Yasna. Ratna menjengit, karena sudah sekian kali ada yang mencari Yasna pagi ini. Yasna menelengkan kepalanya.

"Kamu nggak tahu, ya? Aduh! Ke mana anak itu? Sukanya ngilang," kata Yasna tak jelas.

"Wau ummi dereng kundur saking masjid, Budhe, (Tadi ummi belum pulang dari masjid, Budhe)" jawab Ratna.

Yasna mengeluh.

"Dengan Faiz juga, kan?" tanya Yasna lagi.

Eh, Ratna baru tersadar, ternyata dia juga belum melihat suami dan ibu mertuanya sejak tadi. Ratna tertawa gugup.

"Sepertinya iya, Budhe. Saya malah baru sadar kalau Mas Faiz juga belum pulang," jawab Ratna. Yasna tertawa geli.

"Ya, sudah. Tidak apa-apa, Ndhuk. Nanti kalau Hasna pulang, tolong diberitahu kalau banyak yang cari, ya? Ditunggu di ruang terapi ruqyah," kata Yasna.

Ratna mengangguk dan mengiyakan perkataan Yasna.

"Sarapan di tempatku saja, Na. Kamu belum masak, kan?" tanya Yasna. Ratna kaget dan tertawa.

"Nggih, gampil mangkih, Budhe, (Ya, gampang nanti, Budhe)" jawab Ratna geli. Dia segera masuk ke dalam rumahnya dan melanjutkan pekerjaannya dengan damai.

Tetapi harapan Ratna untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan damai pagi itu sepertinya gagal, karena untuk kesekian kalinya ada orang yang masuk ke dalam rumah Hasna. Kali ini orang yang masuk itu dengan berlari terengah. Ratna sangat terkejut dan membuka tirai yang membatasi ruang tengah dengan dapur, dan Ratna melihat pria itu. Seorang pria tinggi besar, bertelanjang dada dan memakai celana hitam berdiri di depan Ratna dengan kikuk. Pria itu nampak kebingungan dan panik. Dia memandang Ratna dengan nyalang.

Ratna dilanda kepanikan.

"Endi dalane? (Mana jalannya?)" tanya pria itu dengan keras.

Ratna tidak tahu harus berbuat apa. Dia berdiri mematung di balik tirai pintu dapur. Kemudian terdengar suara-suara lain di luar sana.

"Ke mana larinya?"

"Berarti kita harus mencari ke semua rumah!"

Dan terciptalah keributan itu. Dan sekali lagi ada beberapa orang yang masuk ke dalam rumah Hasna, membuat Ratna dan pria di depan Ratna terkejut.

"Hei! Ternyata di sini!"

"Jangan lari lagi, ya, Pak! Ayo, kita ke ruang terapi ruqyah lagi."

Pria itu menggeleng liar. Dia memandang berkeliling dengan panik dan kemudian memandang ke arah Ratna.

Ratna membeliak panik. Dia ketakutan melihat pria yang memandangnya penuh kemarahan. Seharusnya dia berlari menghindar atau bersembunyi, tetapi Ratna hanya membeku di tempatnya.

"Jangan berbuat macam-macam, ya, Pak?" kata seseorang, tetapi perintah itu hanya menguap dalam ketegangan. Dan dengan kecepatan kilat, pria itu berlari ke arah Ratna dan menggendong Ratna dengan mudah dan menghilang.

Semua orang panik dan segera mengejar pria itu. Tetapi pria itu menghilang setelah menaiki tangga yang menuju ke tempat menjemur pakaian dan ... dan di sana tidak ada siapa-siapa. Kosong. Meninggalkan para peraqi kebingungan dan ketakutan setengah mati.

Mereka telah menyebabkan salah satu menantu cucu Ustadz Irfan menghilang.

****

"Pakdhe, tolong saya, Pakdhe," kata Faiz. Dia terlihat begitu tak berdaya.

Fadli mengangguk.

"Pasti akan kubantu, Iz. Kamu beristirahat dulu, ya?" Faiz menggeleng.

"Aku tidak bisa berdiam di sini. Aku akan ikut ...."

"Kamu di sini dengan Pakdhe, ya? Pakdhe tidak akan ke mana-mana," bisik Fadli. Dia duduk di samping tempat tidur Faiz. Faiz menggeleng lagi. Air mata mengalir di pipi Faiz, dalam kesenyapan. Oh, wajah pria muda itu nampak begitu sedih. Fadli tidak bisa menghiburnya. Fadli hanya mengembuskan napas panjang. Dia tersenyum.

"Apa yang bisa kulakukan agar kamu mau tetap di sini bersama ummimu?" tanya Fadli dengan pandangan yang tegas pada Faiz. Faiz masih menggeleng. Dia tidak bisa mengungkapkan isi hatinya saat ini. Dia merasa tidak ada yang akan mengerti perasaannya sekarang. Faiz tidak bisa menceritakan kepada Fadli bahwa dia sangat takut Ratna akan menjadi seperti dulu lagi, ketika hilang di kuburan Cina di Karang Legi.

Faiz memandang Fadli dengan pandangan yang dingin. Fadli mengenali pandangan itu. Pandangan kemarahan itu adalah milik Galang, bapak Faiz yang telah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dan pandangan itu adalah pandangan yang tidak main-main.

Fadli mengangkat bahu.

"Jadi menurutmu kami mau ke mana?" tanya Fadli pada Faiz.

Faiz mengangkat bahunya masa bodoh, dia nampak agak putus asa.

"Bersabarlah sebentar, Iz. Kita menunggu Faza atau Naim, yang sepertinya akan membawa kabar untuk kita," kata Fadli. Faiz terdiam. Pandangannya menerawang ke atas. Air matanya mengalir lagi. Masih dalam keheningan. Kesedihan terlihat nyata di wajahnya.

Fadli merasa tidak sabar sendiri. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya untuk menghibur Faiz dan akhirnya Fadli memutuskan untuk meninggalkan Faiz sendiri. Fadli keluar dari kamar Faiz dan disambut oleh Faza dan Naim yang wajahnya juga nampak agak tidak menentu.

"Apa yang terjadi?" tanya Fadli.

Faza tersenyum, dia meminta Fadli untuk duduk dan menceritakan semuanya perlahan.

****

"Putra Ustadz Harun yang melarikan diri tadi adalah seorang penari. Sepertinya dia memiliki sesuatu di tubuhnya yang bereaksi sangat keras ketika diruqyah, Pak," kata Faza. Fadli memicingkan matanya mendengar cerita Faza.

"Penari apa, Za?" tanya Fadli keheranan.

Faza memandang Naim. Naim mengangguk.

"Warok, Pak," jawab Faza.

Mereka bertiga berpandangan. Fadli beristighfar lirih.

"Apa Ustadz Harun tahu hal ini, Za?" tanya Fadli. Dia memejamkan matanya. Faza mengangguk.

"Tahu, Pak. Ustadz Harun yang meminta putranya untuk berubah. Tetapi mungkin seperti apa yang kubilang tadi, Pak, ada sesuatu di dalam tubuh putra Ustadz Harun yang menolak untuk keluar," jawab Faza.

Fadli menganggukkan kepalanya. Dia tampak agak ragu.

"Kalian sudah menceritakan hal ini pada beliau?" tanya Fiki. Faza dan Naim mengangguk.

"Ustadz Harun ... sekarang ada di rumah sakit, Pak," bisik Naim.

Fadli memejamkan matanya. Dia nampak semakin sedih. Oh, masalah sudah berkembang dengan sangat pesat. Sangat pesat sekali dan sepertinya sudah tak terkendali lagi.

"Innalillahi! Sepertinya aku harus segera menemui Ustadz Harun dan memintanya untuk bersabar ... oh, ya, kalian sudah mencari tahu tentang apa yang kuminta tadi, kan?" tanya Fadli. Faza mengangguk lagi.

"Sudah, Pak. Kami sudah menanyakan di mana kira-kira putra Ustadz Harun itu sering menghabiskan waktunya. Dan dengan sedih tadi Ustadz Harun mengatakan bahwa putra beliau selalu pergi ke sebuah desa kecil bernama Papringan Ijo di daerah Karang Pandan bagian barat, Pak. Di sana dia belajar menjadi warok dan menjadi kekasih seorang warok tua."

Naim menunduk, dia takut bapaknya akan memarahinya karena menjabarkan informasi yang kurang pantas itu. Fadli diam saja. Dia memandang ke arah Naim.

"Siapa saja yang tahu informasi ini, Im?" tanya Fadli.

Naim mendongak.

"Aku, Faza, Bapak dan Ustadz Harun. Ustadzah Isti pun tidak tahu informasi ini," jawab Naim. Fadli mengangguk.

"Bagus. Jangan sampai ada orang lain yang tahu. Nanti sore antar aku ke rumah sakit untuk menjenguk Ustadz Harun," kata Fadli pada Naim dan Faza. Mereka berdua mengangguk takzim.

Fadli berdiri dan meninggalkan Faza dan Naim dengan wajah dan langkah yang sedih. Faza dan Naim berpandangan.

"Apa bapak merasa malu, Mas?" bisik Faza. Naim mengangkat bahu.

"Mungkin tidak malu, tetapi sedih. Sedih karena ikut merasakan betapa tak menentunya rasa Ustadz Harun saat ini. Ketika tahu anaknya menjadi kurang sholih dan bahkan sampai menculik istri orang seperti ini ...." Naim menoleh ke arah Faza.

"Putra Ustadz Harun hanya dua, Za. Yang satu sakit-sakitan dan yang satu yang menjadi warok itu," bisik Naim. Mereka berpandangan sedih. Oh, betapa besar cobaan yang harus dipikul Ustadz Harun.

"Siapa nama putra Ustadz Harun itu, Mas?" tanya Faza.

"Yang pertama bernama Budi Utomo. Yang kedua Heru Pratama. Yang melarikan Ratna adalah putra beliau yang kedua, yang kalau tidak salah sudah berganti nama menjadi Madani. Orang-orang sering memanggilnya Madan," jawab Naim.

Faza mengerutkan keningnya. Dia sepertinya belum pernah mendengar nama itu. Naim tersenyum mafhum.

"Kedua putra Ustadz Harun memang tidak ada yang di pesantren, Za. Mereka semua dibesarkan di luar pesantren. Aku dulu pernah satu kelas dengan Utomo, sehingga aku tahu sedikit tentang keluarga Ustadz Hasan," jelas Naim.

Faza mengangguk.

"Mas Budi Utomo sakit apa, Mas?" tanya Faza lagi.

"Kalau aku tidak keliru, waktu dulu masih SMA saja, Budi Utomo sudah divonis sakit TBC, tetapi kemudian sempat sembuh dan sehat kembali. Lalu kami berpisah, tetapi sepengetahuanku, dia masih sakit juga, kalau yang sekarang aku tidak tahu sakit apa. Sementara Madan, adiknya, dititipkan pada pakdhenya karena Ustadz Harun dan Ustadzah Isti fokus merawat Budi Utomo." Naim memandang Faza. Dia nampak khawatir.

"Atau karena dititipkan itu Madan jadi kecewa dan kemudian memilih dunia yang lain, ya, Za?" tanya Naim. Dia nampak merenung. Faza menimbang-nimbang perkataan Naim tadi. Bisa jadi memang Madan sakit hati dan kemudian memilih kehidupan yang berbeda.

"Aku tidak tahu, Mas. Aku hanya berharap Ratna segera ketemu dan Madan segera kembali kepada orang tuanya lagi," kata Faza dengan sedih.

Naim berdeham. Wajahnya tiba-tiba nampak risau.

"Emm ... sebenarnya aku ingin mengatakan ini lebih awal, tetapi pasti bapak akan murka dan sangat sedih, Za," bisik Naim. Faza memandang Naim tak percaya.

"Apa itu, Mas?" tanya Faza. Wajah Faza sangat penasaran.

"Sebenarnya setelah tahu kalau Madan membawa lari istri orang lain, Ustadz Harun langsung tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, dan sekarang beliau di rawat di ICU," kata Naim pelan.

"Astaghfirullah! Apakah Ustadz Harun baik-baik saja, Mas?"

Naim nampak sedih dan menggelengkan kepalanya.

"Ustadz Harun sudah tidak sadarkan diri, Za."

****

Diana mengikuti ritme pesantren dengan sukacita. Paling malam tidur jam sembilan. Hal itu tidak menjadi masalah bagi Diana. Dia sudah sering tidur lebih malam atau lebih awal lagi. Kemudian dia diminta bangun paling tidak jam tiga pagi. Diana sama sekali tidak keberatan. Dia sudah sering bangun lebih awal dan bahkan sering tidak tidur sama sekali dulu.

Diana tersenyum ketika harus mengantri kamar mandi dan sudah harus berada di masjid sebelum jam empat. Setelah semua ibadah pagi sampai subuh, Diana harus bersiap-siap untuk mandi dan memulai kelas pada jam delapan pagi. Mengesankan sekali. Diana sangat menyukai aktivitas barunya ini.

"Mbak Diana nggak pernah capek, ya, Mbak?" tanya Aura, salah seorang teman sekamar Diana. Diana tertawa.

"Iya, Dik. Aku dulu memiliki kehidupan yang lebih keras dibandingkan di sini," jawab Diana pendek.

Aura dan dua wanita muda yang sekamar dengan Diana berpandangan penasaran dan 'excited' sekali.

"Seperti apa, Mbak Diana?"

"Mbak Diana mau sharing ceritanya, kan?"

Diana tertawa. Dia mengangguk.

"Insya Allah, tentu saja aku mau cerita, dan semoga cerita ini bisa menjadi pelajaran untuk semua, ya?" kata Diana semua mengangguk.

Diana merenung. Setiap lantunan cerita membawanya kembali ke sebuah rumah kecil di pinggiran Karang Pandan. Rumah kumuh, kotor dan sangat sempit itu. Bau apak rumah itu terpampang jelas di depan Diana dan bau itu seakan kembali membebani pundak Diana dengan beribu luka.

Bau yang seakan tercium dengan jelas oleh Diana sekarang, membuat Diana membayangkan teriakan-teriakan yang akan terdengar kemudian.

"Di mana gadis pemalas itu? Di mana dia?"

Oh! Suara itu seakan menyayat hati Diana. Diana berhenti berjalan dan meringkuk di sudut ruangan sempit yang penuh sesak dengan barang-barang itu.

"Bara! Di mana Diana?"

Diana menutupi kepalanya dengan tangannya. Dia takut kejadian di masa lalunya itu akan benar-benar terulang lagi.

"Diana sedang mencuci baju, Buk. Ibuk minta apa?"

"Pampersku basah. Aku mau ganti pampers!"

"Tunggu sebentar, Buk. Bara panggilkan."

Tubuh Diana panas dingin membayangkan Bara akan mencarinya. Lalu ... lalu Bara akan memarahinya dan berteriak padanya dan kemudian hari itu akan menjadi hari yang sangat buruk bagi Diana. Membayangkan dan mengingatnya kembali membuat Diana merasa mual dan berkunang-kunang.

Dan kemudian bisikan itu datang kembali.

[Palu saja!]

Oh, menyenangkan sekali sepertinya mengayun benda tumpul itu kepada orang yang sangat kita benci. Membayangkan suara keretak palu beradu dengan tulang kepala rasanya lega sekali. Paling tidak semua ocehan-ocehan itu akan berhenti ....

"Mbak Diana! Mbak Diana!"

"Tolong!"

"Tolong!"

Diana membuka matanya. Dia terbaring di tengah kamarnya sendirian. Di mana teman-temannya tadi? Dan kenapa tadi dia mendengar suara teriakan-teriakan? Di mana orang-orang yang berteriak itu?

Diana bangun dan melihat semuanya. Dia melihat Aura terbaring di depannya. Diana menjerit ngeri ....

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
8.5
Kisah ini dituliskan dengan latar belakang sejarah seorang wanita bangsawan kelas atas pada abad ke-15 di Eropa Timur, saat ini letak Cachtice Castle berada di dekat kota Bratislava, Slovakia. Tokoh-tokoh nyata yang berada dalam sejarah seperti Elizabeth Bathory de Ecsed, Raja Matyas, Gyorgy Thurzo, dll., berdampingan dengan tokoh fiksi seperti Benca, Lorant, Arpad, Ivett, Gustav, dll. Atas laporan dari berbagai pihak termasuk pendeta Lutheran Istvan Magyari, serta saksi-saksi lain, Raja Matyas memerintahkan Gyorgy Thurzo untuk melakukan penyelidikan terhadap Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, dia dinyatakan bersalah, termasuk mereka yang membantu kegiatan pembunuhan gadis-gadis muda secara sadis tersebut. Dorka (Doratia Dentez), Anna Darvula, juga suster Illona Joo dan Johanness Ujvari, mendapatkan hukuman mati dari Raja Matyas, sedangkan Countess Elizabeth Bathory de Ecsed yang berstatus bangsawan, memiliki kekebalan terhadap hukuman mati. Maka dia ditahan di dalam kastilnya sendiri dengan hanya diberi sedikit celah untuk bernafas, dan makanan. Pada 21 Agustus 1614, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, meninggal dunia, ditandai dengan makanan yang tidak disentuhnya sama sekali. Maka setelah diperiksa, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, ditemukan sudah tidak bernyawa. Hingga saat ini, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, sering disebut sebagai Blood Countess, atau putri berdarah yang disinyalir telah membunuh lebih dari 600 gadis perawan dalam upayanya untuk menjadi tetap muda belia, dengan melakukan ritual mandi darah gadis perawan. Kisah kekejaman maupun kegiatan ritual sex bebas yang dilakukan di dalam kastil Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, tercatat dalam sejarah kelam Roman Empire di Hongaria. Namun kisah ini hanyalah fiksi dengan latar belakang kekejaman sang putri berdarah yang menjadi inspirasi terhadap kisah vampire di Eropa.
Sampul Novel Deviant Love
9.5
Dunia Windy runtuh setelah Jimmy tiada. Sejak saat itu, serentetan aksi pembunuhan keji mulai menghantui orang-orang di lingkaran terdekatnya. Akibat pola mengerikan ini, Windy justru menjadi sasaran kecurigaan dan tuduhan miring. Di tengah tekanan publik, ia juga harus menghadapi teror misterius dari sosok tak dikenal yang mengincar nyawanya. Apakah sang pembunuh dan pengirim teror adalah orang yang sama? Windy terjebak dalam misteri yang mengancam.
Sampul Novel One Chance without Change
9.0
Dalam sebuah kisah yang menyelimuti misteri dan kengerian mendalam, muncul sebuah pertanyaan penuh keputusasaan mengenai batas penderitaan manusia. Tokoh utama terjebak dalam situasi yang sangat menyiksa hingga ia mempertanyakan apakah ada bentuk kematian yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang sedang ia alami saat ini. Keadaan ini memicu ketakutan luar biasa di tengah dunia fantasi yang kelam, di mana rasa sakit menjadi inti dari eksistensi.
Sampul Novel Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
9.1
Dunia forensik adalah hidupku, namun saat putraku tewas, sistem justru melindungi pembunuhnya. Jaksa Budi Santoso menolak bukti pembunuhan dariku dan menyebutnya bunuh diri. Demi keadilan, aku menculik putrinya, Dinda, lalu menyiksa gadis itu secara live di depan publik. Meski Dr. Gunawan dan Amanda mencoba memanipulasi mentalku dengan surat wasiat palsu, aku menemukan kode rahasia di sana. Putraku minta tolong. Kini, dendamku takkan berhenti meski aparat mengepungku.
Sampul Novel Sumpah Dalam Kubur
8.0
Hana tewas setelah dikubur hidup-hidup oleh mertua dan iparnya sendiri saat suaminya, Hadi, tidak ada. Fitnah keji menyebar di desa bahwa Hana kabur dengan lelaki lain, membuat Hadi jatuh sakit karena duka. Di tengah keserakahan keluarga yang memanfaatkan situasi ini, arwah Hana tidak tinggal diam. Akankah ia bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas pada mereka yang mengkhianatinya? Sebuah kisah horor tentang dendam yang melampaui maut.
Sampul Novel TABIR HITAM
8.2
Kehidupan damai di kota kecil yang penuh berkah awalnya terasa sempurna, namun kebahagiaan itu hanyalah pembuka menuju teror yang mencekam. Aku terseret ke dalam pusaran kegelapan dan ketakutan luar biasa saat harus menghadapi kekuatan supranatural di luar logika manusia. Meski sulit untuk dipercaya, inilah kenyataan pahit yang mengubah seluruh hidupku. Sebuah perjuangan batin melawan entitas misterius yang terus mengintai di balik tabir hitam.