Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KEMBANG KANTHIL KEMBANG MLATHI

KEMBANG KANTHIL KEMBANG MLATHI

Keinginan tulus seorang ibu demi mewujudkan kebahagiaan bagi buah hatinya ternyata membawa konsekuensi yang tak terduga. Alih-alih berakhir indah, niat mulia tersebut justru berujung pada situasi mencekam yang jauh dari harapan semula. Kisah ini mengungkap sisi kelam di balik pengorbanan orang tua, di mana setiap impian manis bagi anak-anaknya perlahan berubah menjadi teror misterius yang menghantui kehidupan keluarga mereka selamanya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Fadli memijit keningnya. Kenapa ada begitu banyak kasus pada saat yang bersamaan seperti ini sejak Madan --putra Ustadz Harun-- diruqyah? Apa yang sebenarnya terjadi?

Yasna mendekati Fadli dengan senyum yang terkembang.

"Kurasa Mas Fadli tidak usah ikut-ikutan mereka sibuk ke sana ke mari," kata Yasna sambil meletakkan secangkir teh di depan Fadli, "biar saja mereka yang bingung, Mas. Mas Fadli beristirahat di sini, ya? Lagipula Hasna berpesan pada Mas Fadli untuk menemani Faiz, kan?"

Fadli mendengus. Dia sebenarnya merasa keberatan dengan tugas itu, karena Faiz bukan anak yang terlalu penurut menurut Fadli. Faiz anak yang terlalu ngeyel dan punya pendapat sendiri yang tidak bisa diintervensi oleh Fadli, seperti layaknya anak-anak Fadli. Tetapi, ya, mau bagaimana lagi. Faiz, kan memang bukan anak Fadli, jelasnya Faiz pasti juga menganggap Fadli orang yang tidak pada porsinya memberi nasihat yang berlebihan pada Faiz, kan?

Yasna tertawa.

"Kenapa Mas Fadli nampak kesal?"

Fadli melirik Yasna kesal.

"Tidak seharusnya kamu tertawa bahagia ketika istri saudaramu diculik orang yang kerasukan, Na. Kenapa kamu tidak membantu Hasna?" tanya Fadli ketus. Yasna tertawa makin keras.

"Astaghfirullah. Mas Fadli ini gimana, to? Ratna, kan sudah ditemukan tadi pagi."

Fadli memicingkan matanya.

"Ya Allah! Benarkah?"

"Nggih, Mas. Tadi Mas Fadli masih di kelas sepertinya. Orang-orang ramai ke rumah Hasna, tetapi Faiz malah pingsan dan harus di bawa ke rumah sakit ...." Yasna tersenyum.

"Faiz dan Ratna baik-baik saja, Mas Fadli. Insya Allah."

Fadli mengerjapkan mata beberapa kali pada Yasna. Dia benar-benar belum mendengar berita itu. Tetapi hari ini memang Fadli merasa agak lelah, dia mengisi kajian setelah Subuh dan mengajar sampai Dhuhur, setelah itu dia pulang dan tidur siang sampai sekarang. Fadli melirik jam dinding. Setengah tiga.

Yasna tersenyum paham. Dia memijat bahu Fadli.

"Mas Fadli nampaknya kurang sehat. Apa masuk angin?"

Fadli tersenyum.

"Capek. Aku sudah tua. Mengajar dua tiga jam saja sudah kelelahan."

"Makanya tidak usah ikut ekspedisi yang aneh-aneh lagi, ya, Mas? Pokoknya sekarang Mas Fadli hanya untuk Yasna," kata Yasna setengah menggoda Fadli, sambil memeluk tangan Fadli. Fadli tertawa. Ah, betapa lama dia menjadi peruqyah dan anggota bahkan ketua tim ekspedisi. Fadli menyadari dia sudah sangat lama meninggalkan Yasna dan anak-anaknya, hingga mereka semua sudah dewasa.

"Insya Allah. Bukankah dari dulu aku juga selalu jadi milikmu?" goda Fadli. Yasna mencebik.

"Cckk! Aku dulu selalu kalah dengan Pak Sapto. Masak sampai sekarang masih begitu?"

Fadli tertawa terbahak-bahak.

"Astaghfirullah. Masak dulu aku begitu, Na?" Yasna makin mencebik. Dia mencubit Fadli.

"Selalu saja pergi ke sana ke mari tanpa henti. Aku dan anak-anak selalu jadi nomor dua. Eh, waktu anak-anak sudah besar, Mas Fadli mengajak anak-anak kita ikut ekspedisi. Mas Fadli kira Na di rumah tenang-tenang saja minum teh sambil menunggu Mas Fadli pulang? Nggak, Mas. Na selalu khawatir, Na kadang memangis dan Na selalu berdoa agar Mas Fadli dan anak-anak dan semua tim ekspedisi selamat sampai tugas selesai. Na tidak pernah peduli apakah kasusnya terpecahkan atau tidak, yang penting Mas Fadli dan semuanya segera pulang dalam keadaan sehat dan selamat." Yasna memandang Fadli dengan pandangan yang tak terjabarkan, entah apa maksud Yasna. Dan pandangan itu membuat Fadli merasa bergidik dan amat sangat bersalah.

"Nah, coba Mas Fadli bayangkan kalau Mas Fadli memberitahu ada anak kita yang di rumah sakit atau ada anak kita yang terluka, hilang atau entah apa lagi. Astaghfirullah. Rasanya Na mau mati saja mendengar semua itu ...." Yasna menangis terisak. Dia memeluk Fadli erat.

"Mas Fadli jangan ikut ekspedisi lagi, ya? Mas Fadli di rumah saja, ya?"

Fadli sangat tersentuh dan sangat terharu mendengar cerita dan permintaan Yasna. Ah, hati Fadli seakan diremas mendengar itu semua. Dia memeluk Yasna erat.

Eh, tetapi pada saat yang bersamaan ada beberapa pertanyaan di kepala Fadli yang tiba-tiba muncul begitu saja. Membuat Fadli merasa makin bersalah pada kekasih hatinya itu. Dan entah kenapa pertanyaan itu terus mengusik hatinya.

Fadli berusaha tetap bersikap romantis dan bersikap biasa ketika memeluk Yasna, terutama ketika dia bertanya-tanya dalam hati tentang keadaan Madan. Apakah Madan baik-baik saja?

****

Diana melihat Aura terbaring di depannya. Darah mengalir dari telinga Aura. Diana bergidik. Dan entah kenapa tiba-tiba Diana melihat ada palu di tangannya. Palu yang cukup besar dan bernoda darah. Oh, pasti palu itu yang telah membuat Aura berdarah-darah.

Secara refleks Diana melemparkan palu itu hingga mengenai cermin yang ada di kamarnya. Cermin itu pecah berkeping-keping, menciptakan suara yang begitu keras dan bising. Diana menutupi kedua telinganya dengan tangannya. Tetapi kemudian Diana malah melihat pemandangan lain yang begitu mengerikan.

Diana melihat Aura terbangun dan menjerit marah.

"Siapa yang berisik?" teriak Aura.

Diana terpaku. Dia melihat darah Aura bercucuran dari telinga dan mulut Aura. Dan ketika Aura berbicara darah itu muncrat ke mana-mana. Diana tersengal.

"Siapa yang berisik?" teriak Aura lagi.

Diana diam. Dia tidak berani menjawab pertanyaan Aura.

Aura memandang berkeliling dan kemudian Aura menemukan Diana, yang duduk bersimpuh di depan Aura dengan wajah pucat pasi. Aura tertawa melihat rona ketakutan di wajah Diana. Dia mendengus.

"Akhirnya aku menemukanmu. Akhirnya aku menemukanmu." Aura mendesis, dia maju mendekati Diana dengan gerakan yang sangat aneh dan seperti menyakitkan. Aura berjalan terpincang. Sepertinya kakinya sakit, dan kemudian Diana menyadari kenapa Aura pincang, ketika melihat noda darah pada rok Aura, yang sepertinya terdapat lada bagian lututnya. Oh, sepertinya ada yang memukulkan palu pada lutut Aura.

Dan apakah dia yang melakukannya. Diana menggelengkan kepalanya. Dia merasa ngeri sendiri.

"Apakah aku memalumu? Apakah aku memukulmu dengan palu?"

Aura tertawa dan hal itu membuat darah membanjiri dadanya.

"Tentu saja, Gadis manis. Tentu saja. Terima kasih sudah mematuhiku," bisik Aura. Dia menyentuh tangan Diana.

Diana membelalak tak percaya. Rasa sakit seketika mengenai kepala Diana ketika tangan Aura menyentuh tangannya. Kepala Diana bagaikan dipalu dengan keras dan bertubi-tubi. Sakitnya tak terperi. Dan Diana bisa mendengar bunyi tulang yang retak, patah atau bahkan hancur ketika terkena palu itu. Dan lututnya juga. Oh, ternyata benar dugaannya. Dia atau mungkin entah siapa memalu lutut Aura.

Diana begitu takut, karena dia tahu bunyi itu berasal dari kepala dan lututnya sendiri. Diana berteriak keras dan kemudian pintu kamarnya terbuka.

"Diam! Ribut saja!"

Diana menjengit. Oh, bukankah itu suara Bara? Bukankah Bara sudah mati? Bukankah dia dulu sudah memukul kepala Bara dengan palu.

"Jangan tidur saja! Buatkan aku minum!" teriak Bara. Dia memandang penuh kebencian kepada Diana.

Diana mengangguk pasrah. Dia menyentuh kepala dan lututnya. Semuanya utuh dan tidak ada setetes pun darah di kepala atau pun lututnya. Diana memandang berkeliling dan dia sudah kembali ke sebuah rumah sempit di kawasan padat penduduk di pinggiran Karang Pandan.

Air mata Diana meleleh.

Oh, entah mana yang nyata, entah mana yang mimpi. Diana merasa begitu berat menanggung semua beban ini.

****

Fadli memandang Naim dengan murka. Naim menunduk dan sedikit mundur.

"Monggo, Ustadz," kata Ustadzah Isti dengan sopan dan takzim. Oh, kemarahan Fadli terpaksa harus menunggu dulu. Dia diminta masuk ke dalam ruang rawat Ustadz Harun di ICU.

Fadli mengangguk dan buru-buru mengikuti seorang perawat yang memintanya untuk melakukan beberapa prosedur sebelum masuk ke dalam ruang rawat.

"Apa yang terjadi pada Ustadz Hasan, Mas?" tanya Fadli.

Perawat itu tersenyum penuh makna. Dia diam sejenak.

"Kami tidak diperkenankan membicarakan kondisi pasien selain kepada keluarga pasien, Ust," jawab perawat itu diplomatis.

Fadli tersenyum mafhum. Dia mengangguk.

"Njih, Mas. Tidak apa. Kalau putranya Ustadz Harun apakah juga di rawat di rumah sakit ini?" tanya Fadli ini.

Perawat itu nampak agak bingung ketika memandang Fadli, tetapi kemudian dia menggelengkan kepalanya.

"Saya kurang paham. Kalau pun iya, berarti saya yang tidak tahu, Pak. Karena saya bertugas di bagian ICU saja," jawab perawat itu lagi.

Fadli tertawa dan beristighfar.

"Oalah, iya, ya, Mas. Maaf saya lupa," jawab Fadli dan dia buru-buru masuk ke dalam ruang ICU.

****

Ustadz Harun nampak begitu pucat. Dia tidak terlihat hidup, selain dadanya yang bergerak naik turun perlahan, seiring dengan desahan perlengkapan medis yang mengelilingi Ustadz Harun.

Oh, apakah Ustadz Harun sadar? Atau semua perlengkapan itu menunjukkan bahwa Ustaz Harun sudah di penghujung kehidupannya? Fadli segera beristighfar karena merasa memiliki pemikiran buruk seperti itu. Dia segera mendekati Ustadz Harun dan berbisik lirih di dekat tubuh Ustadz yang usianya jauh lebih muda dibandingkan Fadli itu.

"Ustadz Harun, ini Fadli," bisik Fadli pelan.

Fadli merasa ragu, apakah dia harus berkata dengan keras atau berbisik saja pada Ustadz Harun. Fadli memandang wajah nelangsa itu dengan iba. Wajah Ustadz Harun terlihat penuh beban dan bahkan dahinya pun mengkerut menahan semua rasa.

Fadli mengelus tangan Ustadz Harun dengan penuh kasih.

"Sabar, njih, Ust? Allah memberikan semua ujian ini karena tahu Ustadz Harun adalah seorang yang kuat dan mampu menanggung semua beban ini," bisik Fadli pelan.

Hening menyapa Fadli. Fadli tersenyum. Tentu saja. Apa yang akan diharapkan Fadli?

"Semoga dimudahkan dan diringankan oleh Allah, njih, Ust. Semoga Allah menguatkan Ustadz Harun dan keluarga," bisik Fadli lagi, "Fadli pamit dulu, njih, Ust?"

Fadli menepuk-menepuk tangan Ustadz Harun dan sebulir air mata mengalir dari netra Ustadz Harun yang tertutup rapat oleh perban yang melindungi matanya.

Ah, Fadli merasa iba sekali.

****

Diana berjalan perlahan menuju ke arah dapur. Ya, atau suatu tempat yang memang pantas disebut dapur, karena di sanalah Diana memasak. Diana segera mengambil gelas dan mengisi gelas itu dengan gula dan kopi.

Diana mengembuskan napas panjang. Gula dan kopi itu hampir habis semua. Dia harus segera mendapatkan uang untuk membeli semua bahan pangan di rumah itu, agar dia tidak dimarahi lagi, seperti biasanya.

Diana memeriksa termos yang masih penuh dengan air panas, dan segera menuangkan air panas itu ke dalam gelas berisi kopi tadi. Bau kopi yang begitu segar menguar ke ruangan sempit yang disebut dapur itu.

Diana segera membawa kopi itu ke ruang tengah dan meletakkan gelas itu di meja depan TV. Aneh, di mana Bara? Biasanya Bara duduk bermalas-malasan di depan TV, tetapi sekarang lelaki itu tidak kelihatan. Diana tidak peduli. Dia segera membereskan ruang tengah yang penuh dengan sampah dan berantakan sekali. Karena kalau Diana terlambat sebentar saja, maka Bara atau wanita tua itu akan meneriakinya. Dan Diana tidak ingin hal itu terjadi.

Diana menyapu bagian bawah kursi plastik dan meja kecil di ruang tengah itu dan dia menemukan untaian kuntum-kuntum bunga melati dan bunga kanthil yang menciptakan bau wangi lembut dan melenakan. Buku kuduk Diana seketika meremang. Dia bergidik dan segera menyelesaikan aktivitasnya menyapu dan membersihkan rumahnya.

Diana merasa agak sedikit janggal dengan bunga-bunga itu. Bukankah sejak tadi tidak ada bunga itu di lantai? Diana bergidik lagi dan memaksakan dirinya untuk tidak memedulikan hal itu lagi. Diana bergegas kembali ke dapur untuk memasak dan menyelesaikan pekerjaannya yang lain.

****

Diana yang sedang sibuk memasak sangat terkejut ketika mendengar suara hujan di luar, dia segera keluar untuk mengangkat jemuran. Dan pada saat itulah Diana menyadari sebuah kejanggalan.

Oh, ya. Oh, ya.

Ke mana orang-orang itu? Kenapa tidak ada seorang pun yang memanggilnya untuk melakukan ini itu? Bukankah dulu, tidak pernah ada jeda bagi Diana? Bukankah dulu Diana selalu bekerja tanpa henti?

Diana memicing, dia segera meletakkan jemuran di kamarnya --seperti biasa-- kemudian dia segera menuju ke kamar itu. Kamar yang sangat dibencinya, dan untuk menuju ke kamar itu, Diana melewati ruang tengah. Dan sekali lagi dia merasa sangat janggal dan terkejut ketika melihat kopi yang dibuatnya tadi masih utuh. Tak tersentuh sama sekali.

Jantung Diana berdebar keras. Di mana Bara? Ke mana Bara? Diana menelan ludah ketakutan. Dia tidak ingin memperpanjang masalah itu, masalah itu bisa menunggu nanti. Diana bergegas menuju ke sebuah pintu kamar yang ada di depannya. Dan pada saat itu lah dia mencium bau kembang melati dan kanthil lagi, seperti tadi ketika dia menyapu ruang tengah itu. Diana memerhatikan lantai ruang tengah itu dan ... oh, bunga itu ada lagi. Bukankah dia tadi sudah menyapu bersih ruang tengah itu?

Yang mana yang mimpi? Yang mana yang nyata? Tiba-tiba Diana merasa lelah. Air mata membayang di pelupuk mata Diana. Dia mengambil keputusan akan memikirkan hal itu nanti, sekarang dia bergegas melanjutkan perjalanan menuju ke kamar itu.

Dalam sekejap Diana sudah membuka pintu kamar yang sangat dibencinya itu. Diana mundur karena ... karena kamar itu sangat bau. Oh, baunya tak terkira. Bau amis, bau anyir dan bau busuk yang menusuk-nusuk hidungnya.

Diana maju lagi sedikit dan melihat kenapa kamar itu sangat bau. Mayat Bara dan wanita itu teronggok begitu saja di salah satu sudut ruangan itu. Dan bahkan dari jauh pun Diana bisa melihat kepala mereka mengeluarkan darah yang terus menetes-netes.

Kepala mereka seperti telah dipalu.

****

Fadli merenung. Dia merasa ada sesuatu yang hilang dari kepulangan Ratna. Bukannya dia tidak ikut senang dengan kepulangan Ratna, bukan, bukan itu. Tetapi Fadli merasa bahwa betapa janggalnya, ketika tidak ada seorang pun yang penasaran dengan nasib Madan.

Ya, memang Madan adalah orang jahat. Dia --secara tidak sengaja-- mengambil istri orang dan menculiknya. Tetapi ketika istri orang itu ditemukan dalam keadaan selamat, lalu kenapa tidak ada orang memedulikan nasib Madan, atau paling tidak menanyakan tentang keberadaan Madan? Atau ... atau kenapa tidak ada orang yang ingin menangkap Madan atau menghukum Madan? Bukankah hal itu sangat aneh? Menurut Fadli hal itu sangat aneh.

Fadli menembuskan napas panjang. Sepertinya Fadli harus menanyakan hal itu pada seseorang, tetapi siapa? Ah, dia harus menyembunyikan semua pertanyaan-pertanyaan itu dari Yasna. Yasna bisa marah, dan bahkan murka kalau tahu Fadli mulai bermain detektif-detektifan lagi.

Fadli tertawa. Dia tahu harus ke mana.

****

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cachtice Castle : Blood Countess de Ecsed
8.5
Kisah ini dituliskan dengan latar belakang sejarah seorang wanita bangsawan kelas atas pada abad ke-15 di Eropa Timur, saat ini letak Cachtice Castle berada di dekat kota Bratislava, Slovakia. Tokoh-tokoh nyata yang berada dalam sejarah seperti Elizabeth Bathory de Ecsed, Raja Matyas, Gyorgy Thurzo, dll., berdampingan dengan tokoh fiksi seperti Benca, Lorant, Arpad, Ivett, Gustav, dll. Atas laporan dari berbagai pihak termasuk pendeta Lutheran Istvan Magyari, serta saksi-saksi lain, Raja Matyas memerintahkan Gyorgy Thurzo untuk melakukan penyelidikan terhadap Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, dia dinyatakan bersalah, termasuk mereka yang membantu kegiatan pembunuhan gadis-gadis muda secara sadis tersebut. Dorka (Doratia Dentez), Anna Darvula, juga suster Illona Joo dan Johanness Ujvari, mendapatkan hukuman mati dari Raja Matyas, sedangkan Countess Elizabeth Bathory de Ecsed yang berstatus bangsawan, memiliki kekebalan terhadap hukuman mati. Maka dia ditahan di dalam kastilnya sendiri dengan hanya diberi sedikit celah untuk bernafas, dan makanan. Pada 21 Agustus 1614, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, meninggal dunia, ditandai dengan makanan yang tidak disentuhnya sama sekali. Maka setelah diperiksa, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, ditemukan sudah tidak bernyawa. Hingga saat ini, Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, sering disebut sebagai Blood Countess, atau putri berdarah yang disinyalir telah membunuh lebih dari 600 gadis perawan dalam upayanya untuk menjadi tetap muda belia, dengan melakukan ritual mandi darah gadis perawan. Kisah kekejaman maupun kegiatan ritual sex bebas yang dilakukan di dalam kastil Countess Elizabeth Bathory de Ecsed, tercatat dalam sejarah kelam Roman Empire di Hongaria. Namun kisah ini hanyalah fiksi dengan latar belakang kekejaman sang putri berdarah yang menjadi inspirasi terhadap kisah vampire di Eropa.
Sampul Novel Deviant Love
9.5
Dunia Windy runtuh setelah Jimmy tiada. Sejak saat itu, serentetan aksi pembunuhan keji mulai menghantui orang-orang di lingkaran terdekatnya. Akibat pola mengerikan ini, Windy justru menjadi sasaran kecurigaan dan tuduhan miring. Di tengah tekanan publik, ia juga harus menghadapi teror misterius dari sosok tak dikenal yang mengincar nyawanya. Apakah sang pembunuh dan pengirim teror adalah orang yang sama? Windy terjebak dalam misteri yang mengancam.
Sampul Novel One Chance without Change
9.0
Dalam sebuah kisah yang menyelimuti misteri dan kengerian mendalam, muncul sebuah pertanyaan penuh keputusasaan mengenai batas penderitaan manusia. Tokoh utama terjebak dalam situasi yang sangat menyiksa hingga ia mempertanyakan apakah ada bentuk kematian yang jauh lebih menyakitkan daripada apa yang sedang ia alami saat ini. Keadaan ini memicu ketakutan luar biasa di tengah dunia fantasi yang kelam, di mana rasa sakit menjadi inti dari eksistensi.
Sampul Novel Pembalasan Dendamnya, Hidupnya yang Hancur
9.1
Dunia forensik adalah hidupku, namun saat putraku tewas, sistem justru melindungi pembunuhnya. Jaksa Budi Santoso menolak bukti pembunuhan dariku dan menyebutnya bunuh diri. Demi keadilan, aku menculik putrinya, Dinda, lalu menyiksa gadis itu secara live di depan publik. Meski Dr. Gunawan dan Amanda mencoba memanipulasi mentalku dengan surat wasiat palsu, aku menemukan kode rahasia di sana. Putraku minta tolong. Kini, dendamku takkan berhenti meski aparat mengepungku.
Sampul Novel Sumpah Dalam Kubur
8.0
Hana tewas setelah dikubur hidup-hidup oleh mertua dan iparnya sendiri saat suaminya, Hadi, tidak ada. Fitnah keji menyebar di desa bahwa Hana kabur dengan lelaki lain, membuat Hadi jatuh sakit karena duka. Di tengah keserakahan keluarga yang memanfaatkan situasi ini, arwah Hana tidak tinggal diam. Akankah ia bangkit dari liang lahat untuk menuntut balas pada mereka yang mengkhianatinya? Sebuah kisah horor tentang dendam yang melampaui maut.
Sampul Novel TABIR HITAM
8.2
Kehidupan damai di kota kecil yang penuh berkah awalnya terasa sempurna, namun kebahagiaan itu hanyalah pembuka menuju teror yang mencekam. Aku terseret ke dalam pusaran kegelapan dan ketakutan luar biasa saat harus menghadapi kekuatan supranatural di luar logika manusia. Meski sulit untuk dipercaya, inilah kenyataan pahit yang mengubah seluruh hidupku. Sebuah perjuangan batin melawan entitas misterius yang terus mengintai di balik tabir hitam.