
Ke(m)bali Mengejar Cinta Pelangi
Bab 2
"Angi, ayo berangkat sama aku aja biar kamu ngirit ongkos juga," teriak seorang gadis dari depan gerbang rumahnya yang berhadapan dengan rumah sang sahabat.
Teman yang dipanggil Angi itu hanya bisa menggelengkan kepala sebagai tanda penolakan setelah mendengar teriakan yang baru saja meluncur dari mulut sahabatnya itu. Suara yang melengking itu sepertinya bisa terdengar oleh seluruh penghuni kompleks perumahan tersebut.
"Ih, Harmonia! Suara kamu itu kurang kencang, deh. Udah bisa buat bangunin warga sekampung, Ni," gerutu Pelangi sembari mengeluarkan sepeda motor dari pekarangan rumahnya.
Harmonia mengabaikan ucapan Pelangi. "Ngapain kamu keluarin motor itu?" tanya gadis itu sebelum menahan tangan Pelangi, mencegah untuk melanjutkan aksi mengeluarkan motornya.
"Ya, mau ke sekolah, Harmonia. Jangan-jangan kinerja otakmu mulai menurun, ya, sekarang karena diracuni drama-drama dari Negeri Ginseng itu?" balas Pelangi bertanya dengan nada jenaka di dalam suaranya.
"Heh, sembarangan kamu kalau ngomong. Iya, tau kok kamu anak akselerasi dari SD yang otaknya di atas rata-rata," balas Harmonia yang tidak terima dengan ledekan Pelangi. "Tapi ... itu nggak sopan loh, Dek Angi. Kalau mau perhitungan, seharusnya kamu manggil aku kakak loh sekarang," lanjut gadis itu sembari menaik-turunkan kedua alisnya bergantian. Kini gilirannya yang menggoda Pelangi.
Ternyata godaan yang meluncur dari mulut Harmonia sukses membuat Pelangi mencebikkan bibirnya karena apa yang baru saja diucapkan oleh gadis itu adalah sepenuhnya benar. "Iya, iya. Maaf atuh, Kak, tapi aku harus ke sekolah sekarang karena sebelum kelas nanti ada rapat di klub debat, jadi aku nggak boleh telat," jelas Pelangi membalas ucapan Harmonia sembari memasangkan helm ke kepalanya.
"Ya, udah, tapi besok sampai minggu depan kamu harus berangkat sama aku, ya. Awas aja kalau nolak!" ancam Harmonia dengan kedua netra yang menyipit seolah berniat untuk mengintimidasi sang lawan bicara. Pelangi tampak berpikir sejenak, tetapi ketika mendapati ekspresi Harmonia yang tampak seperti singa betina, mau tak mau pun ia pun akhirnya mengangguk pasrah dan menyetujui ucapan gadis itu.
Gadis itu jelas tahu kalau Harmonia adalah tipikal yang tidak bisa ditolak kemauannya. Kalau kemauannya tidak dituruti, siap-siap saja hidupmu akan diganggu oleh gadis itu sampai kamu sendiri yang akan dengan sukarela menyetujui permintannya. Pelangi paham betul watak sahabatnya itu.
*
Harmonia melangkah memasuki rumah dengan wajah yang kusut dan tertekuk. Bahkan ketika sampai di ruang makan, ekspresi wajah gadis itu masih belum berubah sedikit pun.
"Kenapa pagi-pagi mukanya udah ditekuk begitu?" tanya Rafael pada putrinya. Pria setengah baya itu langsung menghentikan acara membaca korannya dan memilih untuk menunggu jawaban yang akan dilontarkan oleh sang putri.
"Gara-gara Mas Laskar ini, Pa," jawab Harmonia dengan bibir yang mencebik dan ekspresi yang tidak bersahabat. Gadis itu bahkan menatap ke arah abangnya dengan pandangan yang penuh dengan ketidaksukaan, sementara pria yang ditatap oleh gadis itu hanya cuek dan pura-pura tidak merasa.
"Loh ... memangnya Mas-mu kenapa, Nak?" Kini giliran Tabitha—sang ibu yang bertanya pada gadis itu.
"Pelangi jadi berangkat sendiri gara-gara Mas Laskar bangunnya kesiangan. Sarapannya juga jadi lama," jawab Harmonia yang kini sudah duduk bersandar di kursi yang biasa ditempatinya ketika bersantap di ruang makan dengan nada menggerutu yang kentara di dalam suaranya.
Mendengar gerutuan yang baru saja dilontarkan oleh sang adik lantas membuat Laskar menoleh dengan sebelah alis yang terangkat. Terkadang pria itu heran tentang hubungan darah yang ada di antara mereka karena Harmonia tampaknya lebih sering membela Pelangi daripada dirinya. Gadis itu bahkan hampir menyangkut pautkan segala hal di dalam hidupnya dengan Pelangi sampai-sampai Laskar terkadang muak mendengar ceritanya.
"Lalu hubungan dia berangkat sendiri dengan aku apa?" tanya Laskar sebelum meneguk habis kopi hitam yang ada di dalam gelasnya.
"Kalau Mas Laskar bangunnya lebih pagi, pasti kita bisa berangkat sama Pelangi, Mas," jelas Harmonia menjawab pertanyaan Laskar dengan menggebu-gebu. Gadis itu tampaknya kesal dengan sang kakak laki-lakinya.
"Nggak ada urusannya sama aku. Dia 'kan punya kendaraan sendiri, punya kaki sendiri, ngapain juga harus nebeng sama kita terus? Nyusahin aja!" Mendengar ucapan abangnya yang dingin itu tentu saja membuat Harmonia menjadi bertambah dongkol pada Laskar.
"Tapi Pelangi baru belajar naik motor nggak sampai seminggu, Mas. Nanti kalau ada apa-apa sama dia gimana?" tanya Harmonia.
"Balik lagi, urusannya sama aku apa? Toh, dia punya orang tua, 'kan? Paling kalau ada apa-apa, ya, tinggal telepon aja orang tuanya. Gitu aja kok susah," jawab Laskar sebelum bangkit dari posisi duduk untuk meletakkan piring bekas makannya ke bak pencucian piring, meninggalkan kedua orang tuanya dan Harmonia di ruang makan.
"Kasihan abangmu, Ni. Jangan protes terus sama dia, ya, Nak," ujar Tabitha memberi nasihat seraya mengusap pelan puncak kepala putrinya itu. Sementara itu, Rafael hanya menjadi pengamat dari ujung meja makan. Pria setengah baya itu melanjutkan acara membaca korannya yang sempat tertunda tadi. Ia membiarkan sang istri saja yang memberikan wejangan pada putri bungsu mereka itu.
Harmonia hanya bisa mendengus pelan ketika mendengar ucapan Tabitha. Namun, tidak ada sedikit pun rasa iri pada abangnya atas kalimat yang baru saja meluncur dari mulut sang ibu yang seakan-akan lebih membela Laskar.
Pada akhirnya, Harmonia hanya bisa menganggukkan kepalanya dan bangkit dari posisi duduknya lalu berjalan meninggalkan ruang makan tanpa perlu meletakkan alat makannya ke bak pencucian piring karena ia sudah lebih dulu menyelesaikan sarapannya sebelum menghampiri Pelangi tadi.
Sungguh, dari semua saudaranya, Laskar inilah yang paling menyebalkan di mata Harmonia dan paling berpotensial untuk disembelih hidup-hidup. Mereka lima bersaudara dengan jarak usia yang berjauhan dan sifat yang berbeda pula. Terkadang Harmonia juga heran bagaimana cara kedua orang tuanya bisa menghadapi sifat anak-anak mereka yang terkadang kelewat absurd dan saling bertolak belakang itu.
Meskipun Sagara terkesan dingin, tetapi pria itu selalu mampu mengeluarkan kalimat-kalimat yang mengadamkan hati siapapun yang mendengarnya. Berbeda jauh dengan kembarannya, Anggara lebih ekspresif dan penuh lelucon yang mampu membuat orang-orang di sekitaranya terbahak kencang sampai sakit perut.
Beranjak dari sepasang anak kembar yang merupakan anak angkat Rafael itu, Talitha adalah tipikal wanita penuh kelamah-lembut yang selalu menjaga tutur katanya. Sementara itu, Laskar-lah yang sifat dan perkataannya sudah hampir mencapai titik minus. Sudah dingin, ketus pula. Tidak jarang kalimat-kalimat yang keluar dari mulutnya itu adalah kalimat sarkatis yang menyakitkan hati.
Harmonia sebagai anak bontot yang selalu ceria dan kerap bersuara bak petasan pun bisa dibuat mengeluarkan air mata oleh Laskar hanya karena satu kalimat tanpa intonasinya itu. Jadi, sudah bisa dibayangkan seperti apa pedasnya mulut pria itu? Melebihi cabai Carolina Reaper.
Laskar baru saja kembali melangkah memasuki ruang makan setelah meletakkan piring bekas makannya di bak pencucian ketika suara sang ibu tiba-tiba menginterupsi. Suara Tabitha sukses membuat pria itu mau tidak mau harus menghentikan langkahnya.
"Laskar ... Mama heran, deh. Pelangi pernah punya salah, ya, sama kamu?" tanya Tabitha pada putranya dengan nada suara pelan sembari menatap ke arah pria itu dengan penuh kelembutan. Wanita setengah baya itu baru menanyakan pertanyaan tersebut setelah memastikan bahwa Harmonia sudah benar-benar keluar dari ruang makan dan tidak akan mendengar percakapan di antaranya dan Laskar, mengingat betapa pedas dan arogannya kalimat yang bisa saja meluncur dari mulut putranya itu.
Laskar menghela napas setelah mendengar pertanyaan yang sang ibu tujukan padanya. Pria itu paling malas kalau ibunya sudah membahas perihal topik seperti ini. "Entahlah, Ma. Sepet aja mata Laskar kalau lihat wujud bocah itu," jawab Laskar cuek. "Lagi pula, memangnya Harmonia nggak bisa cari sahabat yang lebih bagus gitu?" lanjut pria itu menambahkan.
Tabitha hanya bisa melirik sang suami yang sedang membaca koran kemudian menghela napas lelah. Entah sudah berapa kali wanita setengah baya itu menegur putranya yang kerap bersikap dingin pada Pelangi, padahal gadis itu tidak melakukan apapun padanya.
Sepertinya sikap dan tutur kata Pelangi baik-baik saja selama ini, bahkan terkesan sangat sopan, meskipun siapapun dapat dengan jelas melihat bahwa ia memiliki ketertarikan pada Laskar. Pelangi adalah gadis murah senyum yang introvert, sifatnya yang agak pendiam itulah yang membuat ia dan Harmonia bisa saling melengkapi sehingga menjadi sahabat selama beberapa tahun terakhir.
"Capek aku Mas nasihatin anakmu itu. Semoga aja dia nggak kena batunya nanti," gumam Tabitha pada Rafael setelah Laskar sudah meninggalkan rumah bersama Harmonia.
*
"Mas ... nyetirnya dikencangin dong. Aku takut Pelangi kenapa-napa nanti," pinta Harmonia yang tampak gelisah di kursi sebelah kemudi. "Lagian anak itu juga nekat banget. Udah badannya pendek begitu, sok-sokan mau bawa motor lagi. Mana baru juga bisa bawa motor nggak sampai seminggu," lanjut gadis itu bergumam.
Laskar mendengus kasar di balik kemudi karena sedari tadi hanya hal itu yang diributkan oleh sang adik. "Kenapa kamu harus khawatir sama dia?" tanya Laskar dengan nada jengah yang kentara di dalam suaranya. Rasa-rasanya Harmonia lebih peduli pada sahabatnya itu ketimbang abangnya sendiri.
"Ya, karena Pelangi sahabatku," jawab Harmonia lugas. Oke, jawaban yang masuk akal.
"Lalu kenapa kamu nggak berangkat aja sama dia tadi?" Laskar bertanya.
"Tadi dia buru-buru karena harus latihan debat dulu sebelum mulai sekolah, sementara aku terlalu malas kalau harus nunggu di kelas sendirian. Lagi pula, aku juga nggak mau biarin Mas keenakan dengan nggak nganterin aku ke sekolah," jawab Harmonia dengan nada sedikit pongah di dalam suaranya, sementara kedua tangan gadis itu terlipat di depan dada.
"Mas heran banget sama kamu, Ni. Kamu punya teman sekian banyak, tapi kenapa ujung-ujungnya malah sahabatan sama si Burik itu sih? Kayak nggak ada yang mau temenan sama kamu aja, Ni," ujar Laskar tanpa menatap ke arah sang adik.
Harmonia menggeplak lengan Laskar yang sedang memegang setir kemudi. Ulah Harmonia sukses membuat Laskar menolehkan kepalanya untuk menatap ke arah gadis itu dengan kedua netra yang melotot lebar karena keseimbangan tangannya terganggu sehingga mengakibatkan mobil yang ia kemudikan sedikit melenceng dari jalur yang seharusnya.
"Kamu mau cari mati, Harmonia?" bentak Laskar pada sang adik yang kini sedang memasang wajah tengilnya di kursi samping kemudi.
"Kematian itu nggak bisa dicari, Mas. Mati itu udah takdir dan nggak bisa diatur," balas Harmoni sembari mengendikkan pundaknya seolah tidak terdistraksi oleh ekspresi marah yang kini sudah terpatri di wajah abangnya itu. Tidak ada ketakutan yang ditunjukkan oleh gadis itu ketika menghadapi Laskar. Sungguh terlalu memang.
"Berteman dengan upik abu seperti sahabatmu itu kayaknya membuat kelakuanmu semakin mirip dengannya ... menyebalkan!" balas Laskar dengan nada menggerutu.
"Memangnya kenapa kalau sahabatku kayak upik abu, Mas?" tanya Harmonia dengan nada ketidaksukaan yang terdengar jelas di dalam suaranya. Sepertinya amarah di dalam diri gadis itu mulai tersulut, terbukti dari api kemarahan yang sudah tampak pada kedua indra penglihatannya. Ia benar-benar tersinggung dengan ucapan sang abang yang terang-terangan menjelek-jelekkan sahabatnya itu.
"Pelangi juga manusia, Mas ... nggak peduli gimana rupa dia sekarang. Mas kira Mas udah ganteng dari lahir? Mas lupa gimana rupa Mas sebelum puber?" Harmonia balas bertanya dengan menggebu-gebu. "Lagian, siapa juga yang mau hidup dengan rupa jelek, Mas? Kalau bisa, semua orang juga mau cantik dan ganteng, tapi apa mereka bisa memilih dan mengatur hidup mereka sesuai dengan keinginan mereka sendiri?" lanjut gadis itu memberondong Laskar.
Harmonia menjeda ucapannya sejenak lalu menarik napas panjang sebelum kembali melanjutkan uneg-uneg yang ingin disembutkan pada Laskar. "Nggak peduli gimana pun keadaan Pelangi, dia yang selalu ada untuk aku, Mas. Di saat teman-teman yang lain mendekatiku hanya karena kekayaan Papa, tapi diam-diam menyibir sifat minusku di belakang, hanya Pelangi yang nggak melakukan itu. Jadi, tolong bilang sama aku gimana aku bisa ninggalin orang sebaik dan setulus dia?" Air mata hampir menetas dari kedua indra penglihatan Harmonia ketika menyelesaikan ucapannya.
Teman-teman dekat Harmonia saat SMP dulu melarangnya untuk berteman dengan Pelangi hanya karena fisik gadis itu. Harmonia yang sangat marah pada saat itu pun langsung meninggalkan grup yang sudah mereka bentuk sejak tahun pertama di tingkat SMP.
Jangan dipikir Harmonia tidak tahu apa yang mereka katakan di belakangnya selama ini. Teman-temannya itu berteman baik dengan Harmonia hanya karena kekayaan ayahnya dan hal itu sukses membuat Harmonia menjadi jijik pada tingkah penjilat mereka.
Selama tiga tahun, Harmonia berusaha menutup mata tentang sikap mereka yang kurang elok itu, tapi semuanya berubah ketika amarah gadis itu mencapai puncaknya, tepatnya ketika mereka duduk di bangku kelas satu SMA.
Saat itu, Pelangi menjadi murid pindahan di sekolah mereka. Entah bagaimana ceritanya, gadis itu pun akhirnya berteman dengan geng Harmonia. Namun, baru beberapa bulan berteman, hubungan pertemanan itu sudah tidak sehat.
Teman-teman Harmonia sejak SMP itu kerap menggunjingkan Pelangi. Tentu saja Harmonia tidak terima atas ulah mereka yang menghina Pelangi dan memprovokasinya untuk memutuskan hubungan pertemanan dengan gadis itu. Murka dengan tingkah mereka, Harmonia bukannya memutuskan hubungan dengan Pelangi, melainkan dengan geng-nya sejak SMP itu.
"Kalau Mas Laskar nggak bisa suka sama Pelangi, aku mohon setidaknya jangan hina dia. Aku yang dengar aja sakit hati, Mas, apalagi kalau Pelangi yang dengar pakai telinga dia sendiri." Harmonia tidak mau repot-repot mendengar balasan dari mulut Laskar. Setelah mengatakan kalimat tersebut, gadis itu pun kemudian keluar dari mobil abangnya setelah membanting pintu kendaraan beroda empat itu dengan gerakan yang sedikit kencang sehingga menimbulkan suara yang cukup kuat.
Laskar mendesis akibat ulah yang Harmonia lakukan pada mobilnya. Ia adalah tipikal orang yang menyayangi barang miliknya, terlebih lagi kendaraan beroda empat itu adalah hasil keringatnya sendiri dari upah bekerja di perusahaan ayahnya. Tentu saja perbuatan sang adik itu menyulut api kemarahan di dalam dirinya sehingga umpatan pun meluncur dari mulutnya dan memenuhi seluruh penjuru kendaraan beroda empat itu.
"Sial ... kalau bukan adikku, pasti udah aku potong tangannya itu!" desis Laskar sembari menatap punggung Harmonia yang berjalan menjauhi mobilnya.
Belum sempat Laskar menjalankan mobilnya untuk meninggalkan area lobi sekolah sang adik, kedua netranya sudah lebih dulu menangkap sosok Harmonia yang berlari kecil menuju ke arah seorang gadis. Gadis itu tampak terduduk di kursi dekat parkiran mobil. Meskipun posisi duduk gadis itu membelakangi Laskar, tetapi pria itu jelas tahu siapa pemilik punggung yang tidak terlalu mungil itu.
Harmonia tampak berjongkok di depan Pelangi dan meneliti kakinya dengan saksama. Pandangan itu tidak luput dari penglihatan Laskar yang masih setia mengamati dari balik setir kemudinya. Meski dari kejauhan, tetapi Laskar masih dapat menangkap luka yang bersarang di lutut Pelangi dan hal itu sukses membuatnya terusik. Namun, sayangnya aksi mengamati pria itu menjadi urung ketika mendengar suara klakson yang berasal dari mobil di belakang sehingga ia harus lanjut menjalankan kendaraannya dan meninggalkan area lobi sekolah itu dengan perasaan yang bahkan tidak bisa ia deskripsikan sendiri.
Anda Mungkin Juga Suka





