
Ke(m)bali Mengejar Cinta Pelangi
Bab 3
"Astaga, Pelangi! Tangan sama kaki kamu kenapa?" pekik Harmonia dengan suara yang sedikit melengking ketika menangkap sosok sang sahabat yang sedang duduk di kursi yang dekat dengan area parkiran sekolah mereka. Gadis itu segera berjongkok di depan kaki Pelangi untuk memastikan kondisi luka yang bersarang di sana. Harmonia bahkan sampai meringis perih ketika melihat luka yang cukup dalam itu. Parahnya, luka itu dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan apa-apa.
Anak ini benar-benar minta dihujat, gerutu Harmonia dalam hati tanpa menyuarakannya.
"Ini bisa infeksi loh," ujar Harmonia yang masih fokus meneliti luka Pelangi dan membuat gadis itu menjadi tidak nyaman karena menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di area lobi sekolah itu. Pelangi segera menarik lengan Harmonia agar bangkit berdiri dari posisi berjongkoknya karena bisik-bisik di sekitaran mereka mulai tertangkap oleh indra pendengarannya.
"Ni, bangun ih. Malu dilihatin banyak orang," gumam Pelangi sembari menundukkan kepalanya agar orang-orang tidak berfokus ke arahnya dan Harmonia saat ini.
Harmonia berdecak. Namun, gadis itu tetap mengikuti ucapan Pelangi yang memintanya untuk berdiri. Sementara itu, Pelangi yang tangannya sudah ditarik kecil oleh Harmonia pun hanya bisa mengikuti langkah gadis itu, walaupun dengan kaki yang terseok-seok.
"Sabar, Ni. Pelan-pelan ... bisa putus tanganku kalau kamu tarik terus," omel Pelangi.
"Kamu itu 'kan udah aku bilangin jangan bawa motor, Angi! Kenapa bandel banget, sih?" tanya Harmonia sebal. "Udah tau badannya begitu, masih juga ngeyel. Mana kamu masih belum punya KTP. Jadi pengen aku jitak, deh, kepala pintar kamu itu," lanjut gadis itu menambahkan dengan kening yang mengerut karena sebal dengan sifat keras kepala sahabatnya.
Pelangi yang tadi meringis kini malah terkekeh kecil setelah mendengar ucapan Harmonia yang terasa lucu baginya.
"Ih, kok malah ketawa, sih," gerutu Harmonia. “Nggak ada yang lucu, Pelangi.”
"Aku cuma nggak mau nyusahin Mas Laskar," gumam Pelangi membalas ucapan gadis itu. Mereka sudah membahas ini beberapa minggu lalu, tapi Harmonia seakan-akan tuli dan tak peduli dengan protes yang kerap Pelangi layangkan padanya.
"Nyusahin gimana, sih, Angi? Mas Laskar 'kan memang mau anterin aku ke sekolah. Kamu ini ngomongnya ngadi-ngadi, deh." Harmonia tak habis pikir dengan jalan pikiran gadis yang lebih muda dua tahun darinya itu.
Ia jelas tahu kalau Pelangi menyimpan perasaan pada abangnya, Laskar. Namun, melihat kepasifan gadis itu sukses membuat Harmonia merasa gemas. Makanya, tak jarang ia berusaha menjadi mak comblang di antara keduanya, meskipun Laskar kerap menolak keras, sementara Pelangi hanya bisa pasrah karena bukan cuma sekali gadis itu meminta Harmonia untuk berhenti menggodanya dengan Laskar, tetapi sudah berkali-kali. Sepertinya ucapan gadis itu hanya dianggap sebagai angin lalu oleh Harmonia.
Pelangi hanya ingin menyimpan perasaannya pada Laskar dalam diam. Meskipun terlihat pasrah dan kurang ekspresif, tetapi gadis itu diam-diam selalu mencari tahu dan mengagumi apa yang Laskar lakukan. Namun, sayangnya mulut ember Harmonia tidak bisa diajak kompromi dan meledak-ledak bagai petasan.
Sejak kapan cinta itu lebih banyak mengalah dan menyakitkan ketimbang memberi kebahagiaan? Atau memang sebenarnya begitu cara kerja cinta? Hanya menyakiti dan disakiti?
Harmonia terkadang bingung dengan otak pintar Pelangi. Gadis itu adalah yang terpintar di kelasnya, tetapi untuk masalah perasaan, Pelangi jelas nol besar. Gadis itu masih sangat awam dengan perasaan, cinta, dan sejenisnya.
"Dari cara Mas Laskar lihat aku aja udah kayak monster yang lagi mantau mangsanya, Ni. Terlebih kalau aku terus-terusan berbagi oksigen di dalam mobil yang sama dia, bisa-bisa aku dipindahin ke atas atap mobilnya," jelas Pelangi dengan nada datar, sementara Harmonia sudah terkekeh di tempatnya setelah mendengar penjelasan sang sahabat.
Pelangi mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti kenapa Harmonia tertawa, padahal tak ada nada humor di dalam kalimatnya tadi. Gadi itu sungguh-sungguh ketika mengatakan Laskar akan memindahkannya ke atas atap mobil.
"Mas Laskar mana mungkin sejahat itu. Paling-paling kamu diturunin terus dikasih ongkos naik angkot-lah setidaknya," balas Harmonia sebelum kembali terkekeh, bermaksud meledek Pelangi.
"Nah daripada begitu, lebih bagus kalau aku berangkat sendiri ‘kan. Lagi pula, Mas-mu itu juga ilfeel-nya kayak udah mendarah daging sama aku,” kata Pelangi dengan volume suara yang mengecil, mirip seperti sebuah gumaman.
Harmonia yang gemas setelah mendengar ucapan Pelangi pun lantas menekan luka gadis itu lebih dalam dengan kapas yang sudah diberikan antiseptik sebelumnya.
"Harmonia!" pekik Pelangi dengan suara tertahan karena ulah Harmonia yang hampir membuatnya ingin mati karena rasa nyeri yang bertambah siginifikan di bagian lukanya.
Tangan gadis itu sontak melayang pada salah satu punggung tangan Harmonia yang sedang menganggur. "Kamu kalau mau bunuh aku, nggak kayak gini juga caranya, Oni," gerutu Pelangi dengan ekspresi masam dan cemberut di wajahnya.
"Makanya kalau ngomong itu yang bagus-bagusnya aja, Dek. Ingat, ucapan itu doa loh. Sekali lagi Kak Oni dengar kamu ngomong ngawur, tak sentil lambe-mu, ya!"
Pelangi mendengus kemudian mengangguk dan berkata, "Iya, Kakak. Maafin Adek, ya." Gadis itu sedang berperan sebagai sosok adik yang patuh pada kakaknya. Namun, belum sampai satu menit berlalu, tawa Pelangi malah menyembur keluar. "Ah, geli banget kita. Jadi jijik sendiri aku, Ni."
*
Kaki Pelangi masih terseok saat berjalan sehingga Harmonia memutuskan untuk pergi ke kantin seorang diri. Biasanya Pelangi dan Harmonia selalu ke kantin bersama-sama. Kebetulan hari ini Pelangi membawa bekalnya sehingga tanpa harus berdesakan di kantin sekolah yang tidak terlalu luas, ia sudah bisa mengenyangkan perutnya.
Sebenarnya Pelangi juga membawakan bekal untuk Harmonia. Namun, memang dasar perut Harmonia yang sebelas dua belas dengan karet, alias susah kenyang sehingga ia pun membutuhkan asupan tambahan dan memutuskan pergi ke kantin untuk membeli cemilan di sana.
Pelangi baru saja mengeluarkan dua kotak bekal makan dari dalam tas. Satu untuknya dan satu untuk Harmonia. Baru membuka kotak makan dan belum sempat menyendok ke dalam mulutnya, beberapa gadis yang Pelangi kenali tiba-tiba berdiri mengelilingi mejanya dan Harmonia.
"Eh, guys, lihat … ada yang lagi makan bekal ala kaum miskin,” celetuk salah satu dari gadis di hadapannya dengan nada mencemooh yang kentara dalam suaranya.
Pelangi kira urusan mereka sudah selesai sejak memutuskan untuk mengakhiri tali pertemanan, tetapi ternyata Delilah masih terus mengusiknya sampai hari ini. Ya, itu adalah Delilah dan geng-nya yang selalu tampil berlebihan di sekolah. Riasan wajah mereka seperti gadis yang hendak menghadiri kondangan, bukan ke sekolah.
Ketika Pelangi sedang bersama Harmonia, Delilah dan kawanannya tidak berani melakukan apapun padanya. Namun, ketika Harmonia tidak berada di sisi gadis itu, maka barulah mereka akan menjalankan rencananya yang lebih mirip seperti pengecut itu. Beramai-ramai melawan satu orang. Contohnya seperti saat ini.
Salah satu anggota geng Delilah yang bernama Rachel tiba-tiba menuangkan teh kemasan yang sudah diminumnya sampai setengah ke dalam kotak makan Pelangi. Bukan hanya itu, cairan berwarna kecoklatan itu bahkan merembes sampai mengenai rok yang Pelangi pakai.
Pelangi yang diperlakukan seperti itu pun hanya bisa terdiam dengan tangan yang mengepal. Gadis itu tidak memiliki cukup keberanian untuk melawan gadis-gadis yang ada di depan mejanya. Kalau saja ia punya keberanian seperti Harmonia, sudah dipastikan sendok dan garpu yang kini berada di tangan Pelangi pasti sudah menancap di salah satu bagian tubuh para pem-bully itu.
"Kok dia malah diam, sih? Selain gendut, ternyata mulutnya juga bisu," ejek Delilah karena belum puas dengan ulah temannya yang menguyur bekal Pelangi tadi. Dua gadis yang berdiri di masing-masing sisi Delilah pun menyoraki Pelangi dengan berbagai ejekan yang membuat siapapun meringis ketika mendengarnya.
Begitu banyak manusia lain yang ada di dalam ruangan kelas itu, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berani maju untuk membela Pelangi. Di mana letak hati nurani orang-orang yang ada di ruangan itu? Sepertinya tidak ada.
"PENGECUT!" teriak Harmonia dengan lantang dari ambang pintu ruang kelas.
Gadis dengan rambut dikuncir kutda itu lantas berjalan cepat menuju tempat di mana Delilah dan geng-nya mengerubungi Pelangi. Tanpa babibu, Harmonia langsung menyemprotkan susu yang ada di tangannya ke muka Delilah dan membuat makian meluncur dari mulut gadis itu.
“Anjing!” sembur Delilah yang tidak terima dengan ulah Harmonia sembari mengusap wajahnya yang terkena cairan putih hasil keberanian gadis itu.
"Anggap aja itu balasan dari Pelangi yang katamu gendut dan bisu!" desis Harmonia berang dengan tangan yang masih setia menggenggam sekotak susu berwarna biru. Namun, bedanya kini benda itu sudah penyok dan tidak berbentuk dalam genggamannya. Susu kotak itu bahkan hampir habis karena derasnya volume yang disemprotkan Harmonia ke wajah Delilah.
Seolah belum puas dengan ulahnya menyiram wajah Delilah dengan susu tadi, kini Harmonia lanjut menghadiahkan dua teman gadis bermuka du aitu dengan hadiah yang hampir sama. Bedanya gadis itu menyiramkan cairan berwarna merah dari botol soda yang berada di dalam genggaman tangan kirinya.
Rachel dan Monica yang mendapatkan perlakuan spontan itu menggeram marah. Kedua gadis itu sudah bersiap menyerang Harmonia, tetapi gadis itu dengan sigap menghindar sehingga mereka hanya bisa menggapai angin.
Napas tercekat dan suara berbisik-bisik terdengar di sekeliling mereka. Lima orang yang menjadi pusat perhatian di dalam ruangan kelas itu jelas tahu kalau semua orang yang berada di dalam sana sedang menatap ke arah mereka dengan pandangan yang berbeda-beda dan sulit untuk dideskripsikan. Ada yang meringis ngeri, tetapi ada juga yang menatap kumpulan gadis itu seperti acara smack down yang seru dan menegangkan.
"Oh, ada yang mau jadi pahlawan kesiangan?!" desis Delilah yang tidak terima dengan ulah Harmonia. Ia jelas merasa direndahkan oleh gadis itu. Namun, bukannya ketakutan melihat wajah Delilah yang sudah seperti kerasukan setan, Harmonia malah tampak santai seolah-olah dirinya akan mendapatkan hadiah yang besar sebentar lagi.
"Setidaknya bukan jadi penjilat menjijikkan yang jago kandang!" balas Harmonia menyindir sembari menyusuri seluruh tubuh Delilah dari atas sampai ke bawah dengan pandangan mencemooh yang tidak berusaha untuk ditutupi sedikit pun.
Saking santainya, Harmonia menjadi lengah dan diserang mendadak oleh Delilah. Gadis itu tidak mempersiapkan diri sehingga tubuhnya pun menabrak sudut meja dan membuat barang-barangnya di sana jatuh berserakan di atas ubin ruang kelas.
Pelangi meringis ketika melihat adegan jambak-jambakan yang terpampang dengan jelas di hadapannya. Namun, yang paling mendominasi adalah rasa nyeri dan sesak di hatinya ketika melihat sang sahabat dikeroyok oleh tiga orang. Sungguh tidak imbang.
Merapalkan doa dan mempersiapkan mentalnya, Pelangi meyakinkan diri bahwa ia harus turun tangan untuk mengamankan Harmonia sebelum terjadi apa-apa pada gadis itu.
"BERHENTI!" pekik Pelangi sebelum tiba-tiba menyusup di antara Harmonia dan Delilah serta teman-temannya. Gadis itu sudah tidak memedulikan lagi luka yang baru saja didapatkannya tadi pagi.
Namun, sayangnya niat Pelangi untuk mengamankan Harmonia tidak berjalan dengan mulus. Bukannya mereda, pertengkaran kelima gadis itu malah menjadi semakin kacau. Tubuh Pelangi tidak luput dari cakaran Delilah dan teman-temannya yang berkuku panjang. Gadis itu jelas adalah sasaran empuk mereka, terlebih lagi ia tidak memiliki pernah mengecap pendidikan bela diri sebelumnya.
Tanpa babibu, Pelangi lantas mendorong tubuh Harmonia sedikit ke belakang dan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng dari serangan Delilah dan teman-temannya. Sayangnya, aksi heroik yang dilakukan oleh gadis itu sukses membuat kuku panjang Delilah menggores pipinya hingga mengeluarkan darah dan mengenai sklera salah satu matanya.
"Angi!" pekik Harmonia dengan nada tinggi tanpa bisa menutupi kepanikannya ketika mendapati cairan berwarna merah pekat dan berbau anyir mengalir dari pipi Pelangi tanpa bisa dicegah.
Belum sempat ada balasan atas pekikan Harmonia, sebuah suara tiba-tiba menggema di seluruh ruangan kelas tersebut.
"Ada apa ini?"
Semua murid lantas menoleh ke sumber suara. Banyak pasang mata yang langsung menemukan sosok guru mereka yang sedang berdiri di ambang pintu dan sudah bersiap untuk melangkah masuk ke dalam ruangan kelas. Namun, sayangnya tidak ada satu pun murid yang menyadari kehadirannya sehingga wanita setengah baya itu dapat melihat kekacauan yang sedang terjadi di kelas.
"Di belakang kenapa kacau begitu? Kalian habis ngapain sampai kursinya bisa terbalik hah?" tanya Guru Matematika yang terkenal paling galak di se-antero sekolah itu.
"Itu, Bu. Harmonia duluan nyerang saya. Dia semprotin susunya ke muka saya, Bu," adu Delilah menunjuk Harmonia dengan telunjuknya.
"Jadi, kenapa Rachel dan Monica yang di belakangmu bisa ba—" Belum sempat guru killer itu menyelesaikan ucapannya, Harmonia sudah lebih dulu memotong dengan segenap keberaniannya.
"Bu, urusanku sama mereka nanti baru diproses, ya. Ini ada yang lebih penting daripada itu." Setelah mengatakan itu, Harmonia segera memapah Pelangi menuju ruang UKS tanpa memedulikan suasana kelas lagi. Gadis itu mengabaikan tatapan kekaguman yang dilayangkan oleh teman-teman sekelasnya karena sudah berani menyela ucapan guru mereka.
Jantung Harmonia rasanya hampir terjatuh ke perut melihat kondisi Pelangi sekarang. Pipinya mengeluarkan darah yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berhenti, ditambah lagi dengan sklera matanya yang kini bewarna merah.
"Angi, kamu baik-baik aja, 'kan? Tolong jangan buat aku mati muda, Angi!" gumam Harmonia dalam tangisnya. Dokter jaga di UKS langsung membaringkan Pelangi di brankar, sedangkan Harmonia hanya bisa berdoa dalam hati ketika tirai di sekeliling brankar itu ditutup sehingga ia tidak bisa melihat ketika dokter itu menanganin Pelangi di dalam sana.
Harmonia sudah lebih dulu dipanggil ke ruang konseling sebelum Pelangi selesai ditangani. Gadis itu duduk di kursi yang langsung berhadapan dengan guru konseling dengan Delilah yang duduk di sebelahnya. Sementara itu, Rachel dan Monica berdiri di belakangnya dengan ekspresi yang tidak bisa Harmonia deskripsikan.
Ekspresi Harmonia jelas menunjukkan kemarahan yang sedang ditahannya sedari tadi, sementara Delilah malah tampak tidak bersalah sedikit pun seolah-olah dialah yang paling tersakiti dalam kejadian ini.
Playing victim, batin Harmonia berdecih di dalam hati.
"Jadi, salah satu dari kalian bisa menjelaskan kronologisnya?" tanya guru bernama Yohanna itu.
Belum sempat Harmonia membuka mulutnya, suara nyaring Delilah sudah lebih dulu terdengar. Kalau tidak khawatir dengan keadaan Pelangi saat ini, mungkin tangan Harmonia sudah hinggap di kedua pipi Delilah dan menariknya sekuat tenaga ke araha yang berlawanan karena terlalu geram dengan gadis itu.
"Dia duluan nyerang saya, Bu, padahal saya nggak ada urusan sama dia," jawab Delilah membalas dengan ekspresi seolah paling tersakiti yang tercetak di wajahnya.
"Benar begitu, Harmonia?" tanya Bu Yohanna, meminta konfirmasi dari Harmonia.
"Dengan dia cari masalah dengan Pelangi, artinya dia juga cari masalah dengan saya. Kira-kira sebutan apa yang cocok untuk tiga orang yang berani bully satu orang kalau bukan PENGECUT, Bu?" Harmonia yang dengan penekanan pada akhir kata dan nada penuh sindiran yang tidak berniat untuk disembunyikannya. Gadis itu bahkan sudah tidak peduli ketika mendapatkan tatapan dari guru konseling yang lain karena suaranya yang memenuhi seluruh isi ruangan.
"Apa benar yang baru dikatakan Harmonia, Delilah, Rachel, dan Monica?" Kini tatapan guru itu beralih pada Delilah dan teman-temannya yang berdiri di belakang gadis itu.
Tak mendapat jawaban yang diharapkan, Bu Yohanna pun akhirnya menghela napas dan berkata, "Panggil orang tua kalian sekarang! Saya nggak mau tau gimana caranya. Pokoknya orang tua kalian masing-masing sudah harus berada di sini nanti. Saya beri waktu setengah jam dari sekarang."
Harmonia mengangguk singkat. Setelahnya, gadis itu memilih keluar dari ruangan konseling dan menuju ke ruang UKS. Gadis itu sepertinya sudah cukup muak harus berbagi oksigen di dalam ruangan konseling yang cukup sempit bersama Delilah dan teman-temannya sehingga ia memilih untuk pergi. Memikirkan bagaimana dulu ia bisa berteman dekat dengan tiga pengecut itu sukses membuat Harmonia bergidik ngeri.
"Halo?" sapa suara di seberang sana ketika panggilan dari Harmonia tersambung .
"Mas Laskar, buruan ke sekolah, ya. Dapat panggilan dari guru konseling nih, tapi jangan bilang-bilang sama Papa Mama, ya," pinta Harmonia tanpa menjawab sapaan sang kakak lelaki sebelumnya.
Laskar mengerutkan keningnya, meskipun Harmonia tidak akan bisa melihat hal tersebut dari seberang sana. "Kamu ngapain aja di sekolah sampai-sampai orang tua didatang?" tanya Laskar yang kini sudah menggelengkan kepalanya. Tentu saja ulah apapun yang dibuat oleh Harmonia sehingga masuk ke ruang konseling tadi pasti akan menyita waktunya yang berharga.
"Ada masalah dikit, Mas. Pokoknya buruan ke sini, ya. Dengan Mas Laskar datang, bukan cuma Oni yang selamat, tapi Pelangi juga."
Setelah itu, hanya ada suara sambungan telepon yang sudah terputus dan tertangkap oleh indra pendengaran Harmonia. Laskar mematikan sambungan panggilan itu secara sepihak tanpa mengatakan membalas ucapan sang adik dengan sepatah kata pun.
Astaga, jangan-jangan Mas Laskar beneran ngadu ke Papa Mama, batin Harmonia bermonolog pada dirinya sendiri. Ah, Mas Laskar nggak mungkin setega itu sampai membiarkan adiknya ini kesusahan, pikir gadis itu setelahnya lalu mendorong pintu ruang UKS.
"Gimana keadaannya, Dok?" tanya Harmonia ketika melihat dokter jaga tadi sudah duduk kembali di balik mejanya.
"Udah saya bersihkan dan kasih salap di luka pipinya. Oh, ya, itu luka di tangan dan kaki juga harus sering dibersihkan, ya, supaya nggak infeksi nanti," jelas dokter yang merangkap sebagai guru laboratorium itu.
"Kalau untuk masalah luka skleranya, lebih baik langsung dicek ke dokter mata. Takutnya akan menganggu fungsi penglihatan kalau dibiarkan," lanjut dokter berjenis kelamin perempuan itu menjelaskan. Setelahnya, ia pun berjalan keluar dari ruang UKS tersebut dan membiarkan Harmonia menemani Pelangi di dalam sana.
Memastikan sang dokter sudah benar-benar keluar dari ruangan UKS itu barulah Harmonia menyibak perlahan tirai yang menutupi brankar Pelangi. Kedua netranya langsung menemukan sosok Pelangi yang sedang berbaring di atas brankar dengan indra penglihatan yang terpejam. Harmonia tidak tahu jelas apakah gadis itu benar-benar tertidur atau hanya sekadar menutup matanya saja.
"Angi," bisik Harmonia pelan seolah-olah jika volume suaranya sedikit lebih tinggi saja akan membuat sebuah benda berbahan kaca yang ada di dalam ruangan UKS itu pecah. Ia takut mengganggu Pelangi jika gadis itu benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Jarang sekali suara yang dikeluarkan dari mulut Harmonia sepelan ini. Sepertinya selama Pelangi berteman dengan gadis itu, inilah pertama kalinya ia mendengar suara Harmonia yang sepelan tadi.
Pelangi tidak langsung menjawab panggilan Harmonia, melainkan membuka kedua netranya lalu menoleh ke arah sang sahabat yang kini sedang berdiri di sisi brankarnya. "Mana yang sakit? Nanti setelah ini kita ke rumah sakit, ya," kata Harmonia masih dengan suara yang sama pelan seperti sebelumnya. Gadis itu tidak bisa menyembunyikan nada suara dan ekspresinya yang sarat akan kekhawatiran. Namun, sayangnya ucapan Harmonia tadi dibalas dengan gelengan kepala oleh Pelangi, menandakan bahwa gadis itu menolaknya.
"Anak siapa, sih, kamu ini? Bandel banget kalau dibilangin," gerutu Harmonia yang masih menahan nada suaranya agar tidak meninggi. Gadis itu benar-benar gemas dengan Pelangi yang selalu membantah ucapannya. “Bisa nggak, sih, sehari aja kamu turutin ucapanku?” lanjut gadis itu bertanya pada Pelangi.
"Nggak bisa," balas Pelangi ringan dan santai dengan ekspresi ceria yang terlukis di wajahnya. Gadis itu tidak ingin menambah kekhawatiran Harmonia sehingga hanya ekspresi cerialah yang dapat ditampilkan untuk menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
“Kalau mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan-tahan. Pundakku siap kok untuk jadi tempatmu bersandar,” ujar Pelangi sembari mengelus pelan punggung tangan Harmonia dengan binar geli yang terpatri di kedua netranya. Gadis itu kini sedang menggoda Harmonia, berharap kekhawatirannya segera memudar.
“Sok kuat! Kamu aja duluan tumbang daripada aku,” ledek Harmonia berusaha menerbitkan senyum lebar di bibirnya.
Setelahnya, ruang UKS itu diisi oleh kesunyian selama beberapa saat sebelum Pelangi kembali membuka suara.
“Maaf ya, Ni. Gara-gara aku, kamu jadi kena masalah,” gumam Pelangi dengan tatapan yang menerawang dan menatap kea rah langit-langit ruang UKS.
Sifat inilah yang Harmonia benci dari Pelangi. Terlalu tulus dan mudah merasa bersalah, padahal ini bukan kesalahannya sama sekali.
"Sekali lagi kamu minta maaf, aku suruh Papa nikahin kamu sama Mas Laskar baru tau!" Bukannya senang setelah mendengar ucapan Harmonia, ekspresi Pelangi malah tampak getir.
"Mana bisa. Kami terlalu jauh. Ibarat kayak langit dan bumi," gumam gadis itu pelan, tetapi masih sangat bisa tertangkap oleh indra pendengaran Harmonia. Sayangnya, belum sempat gadis itu membalas ucapan Pelangi, seseorang sudah masuk ke dalam ruang UKS dan menyuruhnya untuk kembali ke ruang konseling.
Anda Mungkin Juga Suka





