
Kecelakaan dan Penyesalan
Bab 2
Seperti yang sudah kuduga, ekspresi Ibu segera berubah jadi dingin. "Mengirim orang egois seperti itu ke luar negeri buat apa? Siapa tahu setelah pergi sekali, hatinya makin gelap!"
Lusvira berkata dengan manis, "Ibu jangan marah, Kak Rina pasti punya alasan tersendiri."
Mata Ibu segera melembut, "Vira, kamu itu terlalu baik hati, makanya selalu ditindas kakakmu."
Begitulah Lusvira, selalu tahu cara mengatakan hal yang paling disukai Ayah dan Ibu.
Aku tahu, bahkan jika aku berdiri di depan mereka dan menceritakan semua kelicikan Lusvira dari kecil sampai besar, mereka hanya akan menamparku dan mengatakan aku mengada-ada, iri pada adik.
Selama bertahun-tahun, aku sudah terbiasa.
Saat mereka berbicara, kakakku, Ruitoni menerobos masuk dengan tergesa-gesa, dengan panik memeriksa luka Lusvira.
Begitu mendengar adik mengalami kecelakaan, dia segera naik pesawat dari provinsi lain, terburu-buru pulang ke rumah.
Sama seperti Ayah dan Ibu, di matanya juga hanya ada Lusvira.
Setelah memastikan Lusvira baik-baik saja, Ruitoni akhirnya menghela napas lega, ekspresi wajahnya penuh kemarahan. "Sudah kubilang, Rina itu pembawa sial bagi keluarga kita. Sejak Vira lahir, entah sudah berapa kali dia mencelakakan Vira!"
Lusvira mengambil kesempatan untuk manja. "Jangan marah ya, Kak. Meski Kak Rina mendorongku ke jalan, pasti itu bukan sengaja!"
Mendengar itu, seluruh keluarga segera meledak!
Ayah menepuk meja. "Apa? Dia mendorongmu ke jalan?!"
Ibu dengan marah menggertakkan gigi. "Anak nggak tahu diri itu, aku nggak akan membiarkannya hidup tenang!"
Mata Kak Ruitoni bahkan seperti dipenuhi racun, seolah ingin mencincangku sampai tak bersisa.
Padahal sama-sama anak Ayah dan Ibu, tetapi kenapa mereka selalu yakin adik tidak pernah berbohong, dan tidak pernah mau percaya padaku?
Jantung Lusvira terlonjak, seperti takut kebohongannya kebablasan lalu terbongkar. Dia buru-buru berkata, "Ayah, Ibu, Kak Toni, jangan marah pada Kak Rina, ya. Mungkin aku yang salah ingat. Bagaimanapun, dia itu kakakku, dia pasti nggak akan melakukan hal seperti itu!"
Kak Ruitoni menyentil dahinya dengan sayang. "Kamu itu terlalu polos, mana tahu betapa jahatnya hati manusia. Baiklah, asal dia pulang dan minta maaf padamu, kami akan memaafkannya."
"Entah berapa banyak kebaikan yang kami lakukan pada kehidupan sebelumnya sehingga bisa punya anak sebaik kamu."
"Ibu akan dengarkan kamu, nggak usah peduli dengan anak jahat itu, fokus saja pulihkan diri!"
Cahaya senja yang hangat jatuh di tempat tidur Lusvira. Melihat mereka berempat begitu harmonis, rasa sakit yang tak bisa dijelaskan memenuhi dadaku.
Dalam sekejap, aku merasa jiwaku sendiri begitu tidak layak berada di sana.
Tiba-tiba, ponsel Ayah berbunyi. Saat kulirik, ternyata itu panggilan dari telepon rumah sakit, telepon yang digunakan untuk memberi tahu keluarga tentang kematian pasien.
Akhirnya, mereka akan tahu kabar kematianku?
Anda Mungkin Juga Suka





