Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Kebohongan Manis Sang Tunangan Setia

Kebohongan Manis Sang Tunangan Setia

Menjelang pernikahan, Habib meminta Lea merelakannya menghamili Hanan, adik angkatnya yang sakit, demi balas budi. Namun, Lea menemukan bukti bahwa Hanan sudah hamil dua bulan. Saat dikonfrontasi, Hanan memfitnah Lea hingga Habib memaki Lea dengan kasar. Kecewa karena cintanya dikhianati demi menutupi skandal, Lea membatalkan pernikahan mereka. Ia memilih pergi ke Singapura untuk memulai hidup baru dan meninggalkan tunangannya yang penuh dusta.
Bab
Bagikan

Bab 2

Lea POV

Senyuman Habib yang lembut dan suaranya yang penuh kekhawatiran saat berbicara di telepon dengan Hanan terasa seperti tamparan dingin. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi pertanyaan. Itu adalah Hanan. Selalu Hanan.

Saya menatap laporan tes kehamilan di tangan saya. Dua bulan. Berarti, saat Habib mulai mendesak saya untuk "menerima" ide bayi tabung itu, Hanan sudah mengandung anaknya. Semua kata-kata indahnya tentang "pengorbanan kecil" dan "cinta sejati" hanyalah sandiwara. Sebuah kebohongan keji untuk membuat saya menyetujui sesuatu yang sudah terjadi.

Saya mengingat kembali percakapan-percakapan kami. Setiap kali saya mencoba menanyakan detail, dia selalu mengelak, mengatakan itu "masalah sensitif" dan "jangan terlalu dipikirkan". Dia bilang, "Kita akan hadapi ini bersama." Tapi dia sudah menghadapinya sendiri, tanpa saya. Dia sudah memutuskan takdir saya, tanpa saya.

Saya hanyalah penonton, yang diminta untuk bertepuk tangan atas drama yang sudah dia tulis dan sutradarai. Rasa sakit di dada saya berubah menjadi amarah yang membara. Saya marah pada Habib, pada Hanan, dan yang terpenting, saya marah pada diri sendiri karena begitu bodoh dan buta.

Saya telah membayangkan pernikahan kami. Pernikahan impian, dengan dekorasi yang saya desain sendiri, dengan gaun putih bersih, dan janji suci di hadapan Tuhan. Saya membayangkan kami akan membangun sebuah keluarga, anak-anak yang berlarian di rumah yang kami rancang bersama. Semua impian itu, dalam sekejap, hancur menjadi debu.

Ponsel saya bergetar di tangan saya, mengagetkan saya dari lamunan pahit itu. Saya melihat nama di layar. "Bu Tari."

Bu Tari adalah mantan mentor saya di universitas, seorang desainer interior papan atas yang kini membuka firma di Singapura. Saya mengangkat telepon.

"Lea, sayang. Bagaimana kabarmu? Aku menggangumu, ya?" Suara Bu Tari terdengar hangat dan familiar.

"Tidak, Bu. Saya baik-baik saja," jawab saya, berusaha agar suara saya tidak terdengar bergetar.

"Syukurlah. Aku menelepon lagi untuk menanyakan tawaran pekerjaan itu. Ingat? Proyek besar yang kita bicarakan enam bulan lalu?"

Saya ingat. Enam bulan lalu, Bu Tari menawari saya kesempatan emas untuk bekerja di firma desainnya di Singapura, mengembangkan proyek-proyek inovatif. Itu adalah impian saya sejak lama. Tapi saat itu, saya menolaknya.

"Kita akan menikah, Bu. Saya tidak bisa meninggalkan Habib." Itulah alasan saya saat itu. Sebuah alasan yang sekarang terasa begitu ironis dan menyakitkan.

"Lea, proyek ini sangat menjanjikan. Ini kesempatan emas. Kamu tahu potensimu. Aku tahu potensimu. Timku juga sangat membutuhkan tangan sepertimu. Apalagi sekarang, Prof. Salim, dia membentuk tim riset baru di sana. Dia sangat ingin kamu bergabung." Suara Bu Tari penuh semangat.

Itu adalah tawaran yang luar biasa. Sebuah kesempatan untuk belajar, tumbuh, dan berkarya di kancah internasional. Sebuah kesempatan untuk sepenuhnya membenamkan diri dalam pekerjaan. Tapi juga sebuah pengorbanan. Itu berarti saya harus pergi, meninggalkan segalanya, dan mengisolasi diri dari dunia yang saya kenal.

Dulu, saya menolaknya demi Habib. Demi pernikahan kami. Demi masa depan kami. Dan sekarang? Habib sudah menjadi ayah bagi anak wanita lain, bahkan sebelum kami menikah.

Pernikahan, impian, masa depan... semuanya sudah tidak ada lagi.

Ini adalah perpisahan. Tidak ada lagi jalan kembali.

"Saya ambil tawarannya, Bu," kata saya, suaraku tiba-tiba menjadi sangat jelas dan tegas. Tidak ada lagi keraguan. "Saya akan berangkat secepatnya. Secepat mungkin."

Bu Tari terdengar terkejut sekaligus senang. "Benarkah, Lea? Syukurlah! Aku tahu kamu tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Kapan kamu bisa mulai? Ada proyek besar yang harus segera digarap."

"Besok," jawab saya, tanpa berpikir panjang.

Bu Tari tertawa. "Besok? Kamu tidak bercanda? Biasanya orang butuh waktu untuk mengurus administrasi dan persiapan. Apalagi pernikahanmu..."

"Pernikahan saya dibatalkan, Bu," potong saya, suaraku datar. "Saya ingin segera memulai. Secepat yang saya bisa."

Ada keheningan singkat di ujung telepon. Bu Tari pasti menyadari ada sesuatu yang tidak beres. "Baiklah, Lea. Kalau itu maumu. Aku akan urus semua dokumen dan akomodasimu. Penerbangan pagi besok, bagaimana?"

"Bisa, Bu," jawab saya.

Setelah menutup telepon, saya menatap kalender di dinding. Lingkaran merah besar pada tanggal lusa. Itu seharusnya menjadi tanggal pernikahan saya.

Sekarang, tanggal itu tidak lagi melambangkan awal yang baru. Tanggal itu menjadi simbol akhir dari segalanya. Titik di mana saya akan memutuskan semua ikatan, meninggalkan semua kesedihan, dan memulai hidup yang benar-benar baru.

Saya akan pergi. Dan saya akan memastikan bahwa saat saya pergi, saya tidak akan pernah melihat ke belakang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Pemenang Dalam Hidupku
8.8
Setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang adiknya dan diabaikan oleh keluarganya sendiri, puncaknya terjadi di hari pernikahan. Ayah, ibu, kakak, serta Jason—tunangannya yang merupakan seorang bos mafia—memilih pergi ke wisuda sang adik. Ditinggal sendirian di altar penikahan dengan rasa malu, ia teringat momen pertunangan saat Jason juga meninggalkannya demi sang adik. Sadar dirinya tak pernah dihargai, ia memutuskan pergi membawa koper dan rahasia kehamilannya demi memulai lembaran baru.
Sampul Novel Belenggu Cinta Tuan Muda
9.5
Nara, putri pembantu yang polos, terjerat skandal kelam dengan Axel, sang tuan muda. Axel melecehkan Nara demi membalas dendam karena ibu Nara menjadi simpanan ayahnya. Namun, niat mempermainkan itu berubah menjadi rasa cinta yang obsesif. Axel tumbuh menjadi pria posesif yang membelenggu Nara tanpa ampun. Meski Nara berusaha melarikan diri dari jeratan itu, ia selalu tertangkap kembali. Akankah hubungan penuh luka ini berakhir bahagia atau justru tragis?
Sampul Novel Dilema
8.5
Insiden kecelakaan yang menimpa Doni Damara mengungkap rahasia besar yang memicu konflik batin mendalam. Kini ia terjebak dalam pilihan sulit antara tetap bersama Rina, penolongnya, dan Romeo yang sudah menganggapnya ayah, atau kembali pada masa lalunya. Di sisi lain, ada Ibu Marmi, Aida sang istri setia, serta Ajeng yang merindukannya. Akankah Doni meninggalkan keluarga barunya demi mereka? Bagaimana reaksi Rina saat mengetahui kebenaran tentang identitas Doni?
Sampul Novel Dua Istri CEO: Istri Simpanan Suamiku
8.0
Adam memutuskan menikahi Maya hanya demi mengamankan harta warisan, meski hatinya masih terpikat sepenuhnya pada sang kekasih, Sabrina. Memanfaatkan kenaifan Maya, Adam lihai menyembunyikan perselingkuhannya dalam waktu yang cukup lama. Namun, segala rahasia gelap dan kebusukan motifnya perlahan mulai terendus. Saat kebenaran akhirnya terungkap, Adam dihadapkan pada dilema besar. Siapa yang akan ia pertahankan? Kekayaan warisan atau cinta sejatinya?
Sampul Novel Duda itu Suamiku
8.1
Hidup Bianca berubah total sejak bertemu Bealize, balita yang terus memanggilnya 'Mami'. Demi Bea, Bianca terpaksa tinggal di rumah gadis kecil itu bersama ayahnya, seorang duda tampan. Merasa cemas akan pandangan orang dan getaran di hatinya, Bianca memilih kabur diam-diam untuk menghindari skandal. Ia mengabaikan nasib Bea demi kebebasannya sendiri. Namun, akankah sang duda membiarkannya pergi begitu saja atau justru mencarinya kembali?
Sampul Novel Kasih Sayang Yang Dikhianati
8.6
Tiga tahun menikah, Althea baru menyadari cintanya dikhianati. Lucas, suaminya, ternyata hanya menjadikannya tameng untuk melindungi mantan sahabatnya yang telah menyebabkan kematian ibu Althea. Kebenaran pahit terungkap saat Althea tahu Lucas memberi nafkah lebih besar pada wanita itu, bahkan kado mewahnya hanyalah barang bekas penolakan sang selingkuhan. Meski hancur, Althea memilih bungkam demi menyusun rencana pembalasan yang setimpal atas segala kepalsuan Lucas.