Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KANDAS!

KANDAS!

Segala pengorbanan dan upaya keras yang telah dikerahkan demi mempertahankan hubungan asmara selama ini ternyata harus menemui jalan buntu. Meskipun seluruh tenaga dan perasaan telah dicurahkan untuk menjaga keutuhan cinta tersebut, takdir berkata lain. Kisah romansa yang diperjuangkan dengan penuh kesungguhan itu akhirnya terhenti di tengah jalan dan hancur berantakan. Harapan yang dulu dipupuk kini sirna saat jalinan kasih itu resmi dinyatakan kandas.
Bab
Bagikan

Bab 3

Berhias! Bicara soal berhias, aku bukannya tidak bisa. Walaupun tumbuh besar di panti asuhan, Bu Yanti selalu mengajari anak-anak panti. Bagaimana cara berpenampilan sesuai porsi dan sikon.

Selain itu, kami anak panti asuhan bukan pula anak-anak yang tumbuh tanpa pendidikan formal. Seperti aku misalnya. Dulu, aku menikah dengan Mas Angga tentunya setelah menamatkan pendidikan. Istilahnya, wajib belajar 12 tahun sudah aku lalui.

Pun aku bukanlah anak yang bodoh. Jadi, aku bisa memikirkan dengan logika, apa saja konsekuensi dan akibat dari sebuah keputusan yang aku ambil.

Malam itu, aku putuskan tidak memoles wajah ataupun bibir dengan apapun. Setidaknya aku sudah berpakaian rapi. Dres selutut tanpa belahan rendah yang sedikit longgar, melekat di tubuhku. Sepatu biasa yang sederhana pun sudah melekat di kaki. Aku kembali keluar dari kamar.

"Mas, aku sudah siap." Tersenyum untuk yang kesekian kali.

Mas Angga menatapku agak lama. Aku berharap tatapan itu adalah tatapan kagum. Namun, pada akhirnya dia mendekat dan menarik tanganku secara kasar, kembali ke dalam kamar.

Tidak ada kata-kata protes lagi yang keluar dari bibirnya. Bilqis yang mungkin kebingungan melihat orang tuanya, Mas Angga letakkan di tempat tidur. Dengan gerakan cepat, Mas Angga langsung membuka lemari pakaian. Dari dalamnya, dia keluarkan satu dress pesta yang tak pernah aku lihat sebelumnya.

"Apakah dress ini baru? Kapan Mas Angga membelinya? Lalu apakah dress itu khusus untukku?" Aku hanya bisa bermonolog di dalam hati.

"Pakailah cepat!"

"Iya, Mas."

Tanpa banyak bicara lagi, segera aku pakai dress pilihan Mas Angga. Akan tetapi, dress itu membuatku menjadi tak nyaman.

Dress berwarna soft itu menempel ketat di tubuhku. Hal itu tentu membuatku tak nyaman dan malu. Tidak sampai di situ, dress itu terlalu terbuka menurutku. Belahan dada rendah, yang hampir menampakkan lekukan tubuh bagian atas. Belum lagi bawahannya yang berada tepat di atas lutut.

"Mas, apa aku harus memakai baju ini?"

"Ya, apa ada yang salah?"

"Mas, baju ini aku rasa terlalu …."

"Belajar menjadi wanita kota, Rum. Walaupun memang aslinya dari kampung. Tapi jangan kampungan!" Mas Angga berkata dengan wajah datar.

Sakit! Dia tidak pernah memikirkan perasaan di dalam dada. Aku berusaha menjaga semuanya, tetapi dia justru seolah-olah membebaskan aku mempercantik diri di luar sana.

Apa tidak ada rasa cemburu sedikitpun untukku? Harusnya dia paham! Teman Mas Angga pasti lebih banyak laki-laki. Namun sepertinya dia tidak menaruh rasa cemburu sedikitpun.

Menatap pantulan diri di depan cermin. Aku semakin tidak percaya diri. Hanya bisa menarik nafas panjang, bersabar atas sikap Mas Angga.

"Ya sudah, Mas. Ayo kita berangkat," ucapku benar-benar pasrah.

"Sebentar," celetuk Mas Angga lagi.

"Apa lagi, Mas?"

"Jangan terbiasa kampungan, Rum. Olesi wajah dan bibirmu dulu. Cepatlah, aku tunggu di luar."

Aku hanya bisa terdiam. Mas Angga kembali menggendong Bilqis dan beranjak dari dalam kamar.

Tidak ingin membuatnya semakin kecewa, aku turuti segala keinginannya. Aku berdandan mengikuti style wanita-wanita kota pada umumnya. Setelah semua selesai, aku kembali keluar.

"Mas, aku sudah siap!"

Berjalan menuju rak sepatu, di sana aku ambil sepatu hak tinggi punyaku satu-satunya. Tidak peduli lagi, jika penampilanku menarik perhatian teman-temannya, terutama Mas Faisal.

Sudahlah, aku pasrah!

Mas Angga masih bengong menatap penampilanku. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Mungkinkah Mas Angga terpana?

Mustahil!

***

Rasa gugup masih bergelayut setia menemaniku sampai di rumah baru Mas Faisal. Sepanjang perjalanan, Mas Angga bercerita kalau pesta yang kami tuju adalah pesta perayaan ulang tahun pernikahan. Selain itu, juga untuk merayakan atas keberhasilan Mas Faisal.

Usaha sampingan yang dia geluti satu tahun terakhir sudah membuahkan hasil. Sementara itu, dia masih tetap menjadi teknisi di perusahaan listrik swasta. Tentu penghasilannya lebih unggul dari Mas Angga.

Suamiku hanya mengandalkan gaji bulanannya dari perusahaan. Belum terbesit mengumpulkan uang untuk membangun usaha sampingan.

Aku tidak pernah tahu mengenai gaji bulanan Mas Angga. Dia hanya memberikan aku uang keperluan dapur dan kebutuhan sehari-hari. Sisanya dia yang pegang. Semua itu tidak akan menjadi masalah bagiku.

"Buruan, kita sudah terlambat," ucap Mas Angga menarik tanganku.

Malam itu aku berjalan di sampingnya sekalem mungkin. Niat awal tetap sama, aku tidak mau menarik perhatian dari teman-teman Mas Angga. Sedangkan Mas Angga menggendong Bilqis.

Alunan musik nan indah baru saja aku dengar, tatkala kaki menjejaki pekarangan rumah baru itu. Tidak terlalu besar, tetapi cukup mewah kulihat.

Kerlap kerlip lampu hiasan, melingkar di tiang kokoh rumah itu. Pintunya terbuka lebar, suara candaan serta alunan musik saling bersahut-sahutan.

Ketika kami masuk, beberapa mata langsung tertuju pada kami. Aku semakin gugup, apalagi beberapa pria dewasa menatap intens.

"Hai, gue belum telat kan?" tanya Mas Angga melambaikan tangan. Kemudian mereka saling berjabat tangan.

"Acara baru dimulai kok Ngga. Eh, ini anak pertama lu?" tanya salah seorang dari mereka.

"Yup, bro. Anak pertama ni. Anak kedua lagi diproses," ucap Mas Angga, seolah tanpa beban sedikitpun.

Aku hanya mematung mendengar obrolan mereka. Beberapa menit berlalu, datanglah Mas Faisal bersama istrinya–Ayu.

"Hai, Bro. Baru nyampe lu?" tanya laki-laki berbadan tinggi dan tegap. Dialah Mas Faisal–sahabat suamiku.

Aku hendak berlalu tapi tidak bisa. Mas Faisal menyapa ramah, seraya matanya tak berhenti menatap. Mbak ayu pun menyambutku ramah. Kami saling berjabat tangan dan cipika-cipiki.

Sungkan! Itulah yang aku rasakan. Aku memang tidak terlalu dekat dengan Mbak Ayu. Bukan tanpa alasan, selain Mas Faisal jarang membawanya bertamu ke rumah, selain itu juga Mbak Ayu adalah wanita karir. Tentu saja dia tidak akan sudi menjadikanku sahabatnya. Apalagi aku hanyalah wanita yatim piatu berasal dari kampung.

"Sebentar ya, Mbak," ucap Mbak Ayu meninggalkanku di situ. Dia sibuk menyambut teman-teman satu circle-nya.

Tidak tahu apa yang harus aku lakukan di pesta itu.

"Rum, kamu gendong Bilqis dulu. Aku mau gabung sama teman-teman yang lain dulu."

Aku mengangguk, mengambil Bilqis dari gendongan Mas Angga. Setidaknya aku punya alasan untuk pergi dari sana.

Aku berjalan perlahan, menuju sudut ruangan. Di sana sudah tersedia beraneka makanan dan minuman. Tidak mungkin aku menggendong Bilqis sepanjang acara. Memutuskan untuk duduk diam, sambil mengamati mereka satu persatu.

Itu jauh lebih baik kurasa.

***

Satu jam berlalu, pesta belum juga usai. Justru alunan musik semakin besar memekakkan telinga. Aku tidak tahu persis apakah tetangga yang tidak jauh dari sana terganggu. Itu bukan urusanku juga.

Aku hanya ingin cepat-cepat pulang. Mata mulai mengantuk, Bilqis pun sudah terlelap tidur.

Mataku mencari-cari keberadaan Mas Angga. Tanpa sengaja, aku melihat kejadian yang membuat rasa cemburu bergejolak. Mas Angga sedang mengobrol akrab dengan seorang wanita.

Ketika ingin beranjak menghampirinya, langkah kaki ditahan oleh kedatangan sang pemilik pesta.

"Mau kemana, Rum?" tanya Mas Faisal, seraya tersenyum.

Dia mendekat, serta duduk di hadapanku. Membuat pandangan ke Mas Angga menjadi terhalang. Entah disengaja atau tidak melakukan itu, tetap saja aku tidak suka.

"Kamu cantik, Rum."

Aku tertegun mendengar pujian dari Mas Faisal. Aneh saja rasanya, jika dia memuji istri sahabatnya sendiri. Tidak aku pungkiri, pujian itu sedikit menyentuh hati. Selama kami hidup bersama Mas Angga belum pernah memujiku sedikitpun.

"Biasa saja kok, Mas."

Aku berusaha mengendalikan diri. Tidak ingin terbuai satu kalimat pujian dari laki-laki asing.

"Di mataku luar biasa, Rum. Kamu benar-benar cantik. Hmm, sebenarnya aku heran. Tapi sudahlah tidak usah dibahas."

Aku hanya terdiam.

"Bilqis sudah tidur?"

"Sudah, Mas. Sementara ayahnya masih asyik mengobrol di sana."

"Hmm, kamu mau pulang, Rum?" tanya Mas Faisal lagi.

"Iya, Mas. Tapi aku harus sabar sampai Mas Angga selesai."

"Bagaimana kalau aku saja yang mengantarkanmu pulang?" Mas Faisal menatapku agak lama. Mungkin dia menunggu jawaban.

"Tidak, Mas. Tidak usah," ucapku menolak tegas.

"Kenapa, Rum? Aku sahabat suamimu loh!"

Mas Faisal seakan memaksa agar aku mau diantarkan olehnya.

Aku hanya diam saja, sembari mengalihkan fokus pada Bilqis yang terlelap.

"Ini sudah larut malam. Kasihan Bilqis, aku akan minta izin pada Angga untuk mengantarkanmu."

Tanpa menunggu jawaban dariku, Mas Faisal sudah beranjak menuju Mas Angga. Entah apa yang mereka bicarakan. Kemudian Mas Faisal kembali dengan senyuman menang.

"Angga setuju kok, Rum. Ayo, Sayang aku antarkan pulang. Kasihan melihat kamu diabaikan begini."

Apa? Mas Faisal memanggilku sayang? Ujian apalagi ini? Kenapa Mas Angga tidak mempedulikanku. Jika dia tidak peduli padaku, setidaknya dia pikirkan Bilqis. Tiba-tiba aku menjadi sangat sedih. Dia tidak menaruh cemburu sedikitpun.

"Ayo, Rum!"

Mas Faisal menggendong Bilqis, kemudian menarik tanganku. Lebih tepatnya menggenggamnya dengan lembut.

Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku setuju atau segera menolak?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cintai Aku, Suamiku
9.2
Kehidupan pernikahan Suci dan Ricko didera ketegangan hebat saat Ricko menuduh istrinya telah berubah. Namun, Suci justru merasa sikap Ricko-lah yang mendingin sejak mereka menikah. Ricko tak membantah dan mengisyaratkan alasan di balik sikapnya tersebut. Suci menyadari bahwa sosok Lona kembali menjadi pemicu keretakan hubungan mereka. Di tengah tetesan air mata yang tak terbendung, Suci harus menghadapi kenyataan pahit bahwa bayang-bayang masa lalu suaminya belum juga sirna.
Sampul Novel Dia Canduku
9.5
Dalam kondisi setengah sadar, Amira dikhianati oleh suaminya sendiri yang tega menjualnya kepada Raka, seorang pengusaha yang butuh pelampiasan. Pertemuan intim yang tak terduga itu ternyata meninggalkan kesan mendalam bagi Raka hingga ia terus terbayang sosok Amira. Takdir kembali mempertemukan mereka secara mengejutkan di kediaman Raka seminggu kemudian. Bagaimana kelanjutan hubungan mereka setelah rahasia kelam di malam panas itu mulai terungkap?
Sampul Novel Gadis Milik Tentara Arogan
9.3
Amore Acresia terpaksa pulang ke Kudus akibat pandemi global saat menempuh studi di Los Angeles. Namun, kepulangannya berujung petaka ketika ia tak sengaja menabrak Alexander Yudha, seorang tentara arogan yang sedang bertugas. Ponsel Alex hancur terlindas mobil akibat insiden itu, memicu kemarahan sang prajurit yang menuntut pertanggungjawaban penuh dari Acre. Meski berawal dari konflik tajam, benih asmara mulai tumbuh di antara mereka sebelum tugas memisahkan keduanya.
Sampul Novel Jangan salahkan aku minta cerai
8.1
Elsa menyadari Thomas memiliki keluarga rahasia dengan mantan kekasihnya. Meski berjuang keras menjaga pernikahan dari pihak ketiga, Elsa akhirnya sadar bahwa cinta yang pudar tak bisa dipaksakan. Ia pun memilih mundur dan melepaskan suaminya demi ketenangan batin. Di tengah kesendirian, seorang pria baru hadir mengusik hatinya. Kini Elsa bimbang, haruskah ia memulai lembaran baru atau menerima kembali suaminya yang tiba-tiba menyesal dan ingin bertobat?
Sampul Novel KISAH PANAS STEWART RANZO
8.0
Ranzo menavigasi perjalanan hidup yang penuh gejolak emosi dan hasrat mendalam saat ia beranjak dewasa. Dalam pencarian cinta sejati, pria tampan ini terlibat dalam berbagai hubungan romantis dan pengalaman ranjang yang mendebarkan dengan beragam wanita unik. Setiap pertemuan membawa tantangan baru bagi Ranzo. Akankah keberuntungan terus menemaninya di tengah intrik asmara yang panas? Temukan kisah fiktif khusus dewasa ini yang mengupas tuntas liku-liku pencarian jati diri.
Sampul Novel Menikahi Asistenku
8.4
Anton Pratama dikenal sebagai pengusaha sukses yang sangat tegas serta cerdas di kota besar. Namun, di balik kegemilangan kariernya, tersimpan sebuah kisah rahasia yang jarang diketahui publik. Sementara itu, Alya baru saja bergabung sebagai asisten di perusahaan Anton dengan perasaan yang campur aduk. Meski merasa sangat gugup, ia tetap antusias menghadapi peluang langka ini. Dari kejauhan, Alya menatap meja kerja sang bos sambil merasakan ketegangan yang nyata.