
Kado Dari Masa Lalu
Bab 2
Pagi itu, Declan Montereau terbangun dengan kepala penuh pikiran. Suara riang tawa kecil dari kamar tamu membuatnya sadar: Elio benar-benar ada di rumahnya. Bukan mimpi, bukan khayalan. Anak laki-laki berusia empat tahun itu, yang tiba-tiba mengklaim dirinya sebagai putranya, kini nyata dan tak bisa lagi diabaikan.
Declan berdiri dari tempat tidur, menarik nafas panjang, dan berjalan menuju kamar kecil. Bayangan Elio memenuhi pikirannya, seperti bayangan masa lalu yang selalu bersembunyi di sudut hatinya. Ia teringat Lysandra, wanita yang dulu pernah dicintainya dengan segala kesalahan dan penyesalan yang menyertainya.
"Harus kuhadapi ini," gumamnya pelan.
Di ruang sarapan, Elise telah menyiapkan segelas susu dan piring kecil berisi roti bakar.
Elio duduk di kursi makan, dengan mata yang masih mengantuk tapi penuh rasa ingin tahu. Declan mendekat, mengambil tempat di seberangnya, berusaha bersikap biasa. Namun ada ketegangan yang menggelayuti udara.
"Elio," Declan memulai, "aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu. Tentang ibumu. Tentang bagaimana kamu bisa sampai ke sini."
Elio menatapnya dengan jujur. "Mama bilang dia harus pergi. Dia bilang aku harus mencari ayah."
"Kenapa dia pergi?" tanya Declan, suaranya bergetar sedikit.
Elio menggeleng, tidak tahu jawabannya. "Aku tidak tahu. Tapi dia bilang kamu akan mengerti kalau aku bertemu denganmu."
Declan merasa dadanya sesak. Kata-kata Elio membangkitkan rasa bersalah yang selama ini ia coba sembunyikan.
Setelah sarapan, Declan memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang Lysandra.
Ia membuka laptop, mencari jejak digital wanita yang pernah mengisi hatinya, namun hilang tanpa kabar. Beberapa klik membawanya ke profil lama Lysandra di media sosial-foto-foto yang dulu penuh senyum dan kebahagiaan, kini berhenti di lima tahun yang lalu.
Di salah satu foto, ada seorang pria yang tampak bersama Lysandra dan seorang bocah kecil. Declan merasa jantungnya berdetak lebih kencang.
Siapa pria itu? Apakah dia ayah Elio sebenarnya?
Ketika Declan tenggelam dalam pencarian, Elise masuk membawa secarik surat yang ditemukan di meja depan rumah.
Surat itu tampak tua dan berlipat-lipat, dengan tinta yang mulai pudar. Declan membuka surat itu dengan tangan gemetar.
Tulisan tangan di dalamnya berisi pesan singkat:
"Declan, aku tak bisa terus membohongi diri sendiri. Anak ini adalah milikmu, dan dia berhak tahu siapa ayahnya. Maafkan aku telah meninggalkannya, tapi aku tak punya pilihan. Cari dia. Temukan dia. Jangan biarkan dia tumbuh tanpa ayah."
Tanda tangan: Lysandra.
Declan terdiam, menatap surat itu seperti melihat bayangan dirinya yang dulu. Ia merasa dikhianati, disakiti, tapi juga ada rasa tanggung jawab yang tak bisa dihindari.
"Kenapa kamu tidak bilang apa-apa padaku, Lysandra?" bisiknya pada surat itu.
Sementara itu, di kota lain, Lysandra duduk di sebuah kafe kecil, memandangi layar ponselnya dengan air mata yang menetes pelan.
Dia tahu Declan pasti menerima surat itu sekarang. Dan dia tahu, segalanya akan berubah.
Tapi Lysandra takut. Takut akan penolakan, takut akan konsekuensi, takut akan rahasia yang selama ini dia sembunyikan.
Rahasia yang jika terungkap, bisa menghancurkan lebih dari sekadar hubungan mereka.
Kembali ke rumah Declan, suasana mulai berubah.
Elio mulai membuka dirinya perlahan. Ia bercerita tentang malam-malam yang gelap tanpa ibu, tentang kebingungannya yang besar, dan tentang keinginannya untuk memiliki ayah.
Declan mendengarkan, mencoba memahami betapa besar arti keberadaan Elio dalam hidupnya. Ia tahu, anak ini bukan hanya sebuah "kado dari masa lalu," tapi juga kunci untuk menyembuhkan luka-luka yang lama terkubur.
Namun, perjalanan mereka tidak akan mudah.
Pada siang hari, Declan menerima telepon yang membuat darahnya mendidih.
Suara di ujung sana adalah seorang pria dengan nada dingin dan penuh ancaman.
"Declan Montereau, kita perlu bicara tentang Elio. Dia bukan anakmu."
Declan terkesiap. "Siapa kamu? Apa maksudmu?"
Pria itu tertawa kecil. "Kamu pikir mudah menerima anak tak dikenal begitu saja? Ini bukan sekadar kebetulan. Ada banyak yang kamu tidak tahu tentang masa lalumu... dan tentang Lysandra."
Declan menggenggam telepon erat, amarah dan kebingungan bercampur menjadi satu.
Declan menatap keluar jendela, Elio bermain di taman belakang rumah.
Sebuah badai yang lebih besar sedang menanti mereka. Rahasia yang selama ini tersembunyi siap untuk keluar, dan Declan harus bersiap menghadapi semua konsekuensi.
Apakah ia siap menjadi ayah yang selama ini ia tolak?
Apakah ia siap menghadapi masa lalu yang penuh luka dan pengkhianatan?
Anda Mungkin Juga Suka





