Sampul Novel Aku Dan CEO Nakal

Aku Dan CEO Nakal

8.8 / 10.0
Dalam Aku Dan CEO Nakal, seorang mahasiswi magang harus menghadapi tantangan besar saat bekerja di perusahaan ternama. Kehidupannya berubah total sejak berurusan dengan pria hidung belang yang berkuasa. Simak kisah billionaire romance novels ini di platform web novel kami sekarang.
Ringkasan Aku Dan CEO Nakal
Seorang mahasiswi cantik sedang menempuh masa magang di sebuah perusahaan ternama yang sangat besar. Namun, rutinitas dan ketenangan hidupnya mendadak berubah total sejak ia bersinggungan dengan seorang pria hidung belang yang memiliki kekuasaan di sana. Akankah sang gadis mampu menghadapi segala tantangan dan dinamika yang muncul akibat pertemuan tersebut? Ikuti terus perjalanan hidup penuh warna dari sang asisten magang dalam menghadapi sang CEO nakal.
Baca Selengkapnya

Aku Dan CEO Nakal Bab 1

Keesokkan harinya, gadis berambut pirang terang terlihat tergesa-gesa berjalan menyalip setiap orang yang dirasa menghalangi jalannya.

Sepatu hak tinggi yang dikenakan gadis itu nampaknya tidak menjadi penghambatnya untuk segera menghampiri mesin jam digital yang sebentar lagi akan menunjukan pukul 8:00 pagi.

Dan lebih dari itu, gadis itu akan terhitung terlambat. Hal yang tidak gadis itu inginkan untuk mempengaruhi laporan magangnya pada bulan ketiga ia magang di perusahaan besar dan berkompeten itu.

"Touch down!!" serunya begitu ia berhasil meletakkan ibu jarinya di mesin sidik jari, tepat 1 detik sebelum jam berubah menjadi angka 8.

"Pada dasarnya, kita masih diberikan toleransi 15 menit untuk terlambat punch in, Meg. Kau baru saja menyia-nyiakan semangat kerjamu untuk berlari."

Gadis yang disebut Meg tersebut menoleh kearah kanan begitu bunyi Bip yang menandakan kalau absennya sudah masuk terdengar.

"Dan pada dasarnya aku adalah calon karyawan teladan yang menjunjung tinggi ketepatan waktu," balas Gadis itu sambil menyingkir agar laki-laki yang merupakan seniornya dapat melakukan absen.

"Oh, apa tadi kau tidak lihat? Mesin mendaftarmu pukul 8:00 lewat 3 detik. So, basically, kau sudah terlambat."

Laki-laki itu terkekeh ketika melihat gadis di sampingnya merutuk. "Megan Penelope tenang saja, sebagai senior yang baik, aku akan pura-pura tutup mata akan hal itu."

Perlahan senyum diwajah Megan mulai terlihat. "Aku tahu kau tidak akan tega kepadaku, Bos."

Laki-laki itu berdesis. "Aku berubah pikiran. Aku akan memasukan keterlambatanmu pada laporan bulan ini."

Begitu selesai mengabsen, laki-laki itu berjalan melalui Megan kedalam ruang kerjanya.

Megan terkejut dan ia langsung mengekori langkah laki-laki itu dengan cepat.

"Ah, maaf, Ed. Aku lupa akan aturan yang satu itu. Ed, kan? Aku berjanji tidak akan memanggilmu bos lagi. Jadi please, lepaskan kesalahanku yang satu itu, ya?"

Kedatangan dua orang itu cukup mengundang tatapan setiap orang yang sedang sibuk di kubikelnya masing-masing.

Sebagian ada yang tertawa, ada yang memilih mencuekinya. Bukan rahasia lagi memang kalau Ed atau Edward, Marketing Manager perusahaan itu tidak suka kalau dipanggil dengan sebutan Bos yang menurutnya terdengar sangat otoriter.

Semua orang tahu, bahkan hal itulah yang pertama kali Ed tekankan saat perkenalannya dengan karyawan magang, termasuk Megan.

Sementara itu, Megan sendiri juga memang dikenal friendly pada siapapun dan apapun kedudukan mereka, termasuk Ed sendiri yang notabene adalah Atasannya.

Ed menatap gemas kearah Megan dan memutuskan untuk menyentil kening gadis itu. "Kembali ke mejamu."

"Tapi kau berjanji tidak akan..."

"Kalau kau tetap berbicara di depanku, maka aku akan benar-benar memasukan keterlambatan 3 detikmu ke dalam laporan," potong Edward sambil berkacak pinggang.

Ia berhenti tepat di depan ruang kerja pribadinya sebelum Megan mengekori lebih jauh.

Tanpa berbicara lagi, Megan langsung berbalik dan berlari dari hadapan Edward yang tertawa melihat tingkahnya.

Megan kembali ke meja kerjanya lalu menyalakan komputer miliknya.

"Jam berapa kau pulang semalam?"

Megan menoleh ke sebelah kirinya, mendapati Claire, rekan kerja yang juga teman kuliah yang melakukan magang bersama di perusahaan itu sedang menatap penuh selidik kearahnya.

"Kau pulang terlalu cepat semalam dan melewatkan keseruannya," desis Megan tidak menjawab pertanyaan temannya secara langsung.

"Well, itu sudah jam 11 malam, -aku berani jamin itu sama sekali bukan pagi karena aku sudah mengantuk-, dan aku tidak melihat tanda-tanda kalian akan segera pulang. Maka itu aku..."

"Tania dilamar David, dan David akan merayakannya malam ini di klub. Kau ikut?" tanya Megan tanpa menunggu

Claire menyelesaikan jawabannya. "He what??" Pekik Claire terkejut. "Apa dia Iupa kalau dia masih harus menyelesaikan magang dalam 3 bulan lagi, dan masih banyak ujian yang menungg... Oh ya, Tuhan! Laki-laki itu memang bodoh. Dia menyepelekan segala hal."

Megan memutar bola matanya menanggapi gerutuan Claire yang sudah biasa ia dengar.

Dalam lingkungan pertemanannya, Claire dikenal sebagai ibu mereka yang suka melakukan ceramah.

David dikenal sebagai bungsu pembuat onar.

Tania yang paling innocent di antara mereka.

Sedangkan Megan adalah sosok kakak tertua yang selalu bisa di andalkan.

Claire menghela nafas dan kembali ke posisinya di meja kerja ketika Megan bergerak mendekat dengan kursinya dan berbisik, "Lalu kau tidak mau ikut malam nanti?"

Claire melirik kearah Megan yang sedang menggodanya dengan menggerakkan kedua alisnya naik turun sambil menyunggingkan senyumnya.

Claire terkekeh sambil mendorong tubuh Megan menjauh. "Tentu saja aku ikut, bodoh!"

***

Suara dering ponsel yang nyaring, di sertai dengan getaran yang membuat suara gesekan antara benda pipih dan meja kayu itu beradu mengganggu ketentraman dan ketenangan tidur laki-laki yang enggan membuka matanya pagi itu.

"Babe, your phone." Suara lembut seorang wanita terdengar berbisik di telinganya hingga mau tidak mau ia membuka matanya bersamaan dengan kecupan lembut yang mendarat di bibirnya.

Laki-laki itu sedikit terkejut, namun hanya beberapa detik sebelum ia sadar akan keadaannya. Ia meraih ponsel yang masih bergetar riang di atas nakas sambil menarik tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang.

Wanita yang tadi membangunkannya kini melingkarkan kedua tangannya di perut telanjang laki-laki itu sambil memejamkan mata. Laki-laki itu masih setengah tersadar ketika ia menjawab panggilan itu.

"Alceo speaking."

"Sir, apa kau akan segera tiba? Rapat akan dimulai dalam 10 menit."

Suara dari seberang sana cukup membuat Alceo mengernyit dan menggaruk pelipisnya sebelum tangannya kembali membelai punggung telanjang wanita di sebelahnya yang sudah mulai menyentuh setiap jengkal tubuh tegapnya dan membangunkan kembali nafsunya.

"Pukul berapa ini?" tanya Alceo.

"P-pukul 9 lewat 35 menit pagi, sir."

Pria di seberang telepon menjawab dengan suara sedikit gugup.

"Pagi?" tanya Alceo tidak penting.

Begitu sadar kalau pertanyaannya sama sekali tidak bermutu, ia kembali bersuara.

"Undur rapatnya 1 jam lagi."

"S-sir, saya rasa tidak bisa."

Alceo mengernyit. Sedikit terkejut ketika ia merasakan tangan wanita di sebelahnya sudah menyentuh bagian bawahnya yang tidak tertutup apapun sisa dari perbuatan mereka semalam.

Seperti bisikan, Alceo bertanya, "Kenapa?"

"Ayah anda sedang berada disini. Dan beliau ingin memantau jalannya rapat hari ini."

Alceo seperti disiram air dingin begitu mendengar penuturan sekretatisnya barusan.

Nafsunya langsung padam, tubuhnya menegap dan matanya melotot.

"APA?!"

Alceo benar-benar ketakutan saat ini. Takut bukan dalam artian ayahnya akan memarahinya, membentaknya bahkan memukulinya.

Takutnya Alceo dalam artian ayahnya akan marah karena dia tidak hadir dalam rapat pagi ini hanya karena seorang wanita. Pekerjaannya terbengkalai demi urusan pribadinya.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Aku Dan CEO Nakal

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dosen Fisiologi Cantik
9.6
Novel modern Dosen Fisiologi Cantik mengisahkan kepanikan seorang pengajar saat berada di asrama. Pertanyaan polos namun provokatif tentang bagaimana pria dan wanita berhubungan hingga hamil terlontar dari seorang murid laki-laki. Situasi mendadak berubah menegangkan ketika sang murid bertindak nekat dengan menekannya ke ranjang dan melucuti pakaiannya. Di bawah desakan dan permohonan sang murid yang ingin belajar langsung lewat praktik nyata, sang dosen kini dihadapkan pada pilihan sulit yang menguji batas profesionalismenya.
Sampul Novel Harga Cinta Terpendam
9.0
Demi menyelamatkan Bram, aku pernah menghancurkannya. Kini ia kembali sebagai pengacara kejam yang ingin merampas putriku, Kania. Bram tak tahu Kania adalah darah dagingnya, atau bahwa aku sedang sekarat karena leukemia. Saat aku berjuang melawan maut dan tuntutan hukum, Bram justru menjadi senjata yang menghancurkanku. Di akhir hayat, aku menyerahkan segalanya demi Kania dan meninggalkan surat yang akan meruntuhkan dunia sempurna pria yang kucintai.
Sampul Novel Pembalasan Sang Istri Tertindas
9.3
Amara bangkit dari kematian tragis untuk menuntut balas atas pengkhianatan Rafael dan kekejaman selingkuhannya, Isabella. Kembali ke masa lalu, ia bertekad menghancurkan mereka yang merampas harta serta nyawa anaknya. Di tengah misi balas dendam untuk membuat Rafael berlutut memohon ampun, Amara justru menemukan sosok pria masa lalu yang menawarkan perlindungan tulus. Kini ia harus memilih antara menuntaskan kebenciannya atau membuka hati bagi cinta yang baru.
Sampul Novel Putri Raja Kasino: Pembalasan
8.4
Luna Croft dikhianati oleh kekasihnya, Smith Caldwell, yang merasa telah menjadi miliarder berkat Alice Moore. Demi mengejar cinta sejatinya, Smith mencampakkan Luna. Namun, setelah bangkrut dalam sekejap, ia justru menyerahkan Luna kepada rentenir sebagai pelunas utang. Dianggap yatim piatu yang lemah, Luna justru tertawa saat dikepung. Dengan penuh keberanian, ia menuntut untuk bertemu langsung dengan bos kasino guna mengungkap identitas aslinya yang tersembunyi.
Sampul Novel WANITA TERNODA
9.3
Dunia Nala Sundari runtuh seketika saat kesuciannya direnggut paksa oleh lima pria asing tepat dua hari sebelum pernikahannya. Alih-alih dibantu, keluarga dan calon suaminya justru membuang Nala karena dianggap aib. Di tengah perjuangan menata hidup yang hancur, salah satu pelaku tiba-tiba muncul dan terus memberikan bantuan meski terus ditolak. Akankah Nala mampu memaafkan pria yang telah merusak masa depannya itu, ataukah ia memilih lari menjauh selamanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan