
Kado Dari Masa Lalu
Bab 3
Declan duduk termenung di ruang kerjanya, telepon di tangannya masih hangat setelah panggilan misterius yang baru saja diterimanya. Suara pria asing itu masih terngiang di telinganya, penuh ancaman dan teka-teki yang membuat pikirannya kalut.
Elio bermain di ruang tamu dengan mainannya, tanpa tahu badai yang perlahan menyelimuti keluarganya.
Declan menghela napas dalam, mencoba mengumpulkan keberanian. Ia tahu harus mencari jawaban, meski itu berarti membuka pintu-pintu masa lalu yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat.
Hari berikutnya, Declan mulai menggali masa lalunya secara diam-diam.
Ia menghubungi beberapa kenalan lama, termasuk sahabatnya yang lama berpisah, Marco. Marco adalah satu-satunya yang mengetahui masa lalu Declan secara mendalam, bahkan masa kelam yang tak pernah diceritakan kepada siapa pun.
"Marco, aku butuh bantuanmu. Ada sesuatu yang harus kubongkar tentang Lysandra dan anaknya, Elio," ujar Declan saat mereka bertemu di sebuah kafe tersembunyi.
Marco memandang serius. "Kau yakin ingin masuk ke dalam pusaran ini, Declan? Aku tahu Lysandra bukan orang biasa. Ada hal-hal yang mungkin kau tak siap dengar."
Declan mengangguk mantap. "Aku harus tahu kebenarannya."
Marco mulai membuka cerita lama yang selama ini tertutup rapat.
"Lysandra berasal dari keluarga yang penuh rahasia dan kekuasaan. Mereka mengatur segalanya dengan tangan besi, bahkan kehidupan pribadi Lysandra juga dikontrol."
Declan mengernyit. "Jadi, masa lalumu dengannya tidak sesederhana yang kukira?"
Marco menggeleng. "Tidak, jauh dari itu. Ada banyak intrik, perjanjian yang tidak kau ketahui, dan anak itu-Elio-bukan hanya anak biasa."
Declan terdiam, jantungnya berdetak kencang. "Maksudmu?"
"Dia adalah bagian dari perhitungan keluarga Lysandra. Sebuah kunci yang bisa membuka pintu-pintu kekuasaan yang selama ini tersembunyi."
Declan merasa dunia seolah berputar lebih cepat.
Ia tak hanya dihadapkan pada kenyataan bahwa ia memiliki seorang putra, tapi juga pada ancaman yang lebih besar: sebuah rahasia keluarga yang bisa menggoncang hidupnya dan Elio.
Ia pulang dengan kepala penuh pertanyaan dan hati yang tak menentu.
Sementara itu, Elio mulai menunjukkan tanda-tanda kebingungan dan ketakutan yang ia sembunyikan selama ini.
Suatu malam, Declan menemukan Elio menangis pelan di kamarnya.
"Ada apa, Elio?" tanya Declan lembut, duduk di samping tempat tidur anak itu.
Elio mengusap air matanya. "Aku takut, Ayah. Aku takut Mama tidak akan kembali. Aku takut aku tidak punya keluarga."
Declan memeluknya erat. "Aku di sini sekarang. Aku akan jadi ayahmu. Kita akan hadapi semuanya bersama."
Hari-hari berlalu, tapi rahasia dan tekanan dari masa lalu terus menghantui Declan.
Suatu sore, saat Declan kembali dari kerja, ia mendapati sebuah amplop berisi dokumen-dokumen lama tergeletak di meja ruang tamu.
Dokumen itu berisi surat perjanjian rahasia antara Lysandra dan seseorang yang tidak dikenalnya, membahas tentang hak asuh Elio dan sebuah "perjanjian" yang melibatkan uang dan kekuasaan.
Declan merasa marah dan dikhianati. Ia menatap dokumen itu dengan penuh amarah.
Tidak lama setelah itu, seorang wanita misterius muncul di depan rumah Declan.
Wanita itu mengenakan jas hitam dan kacamata gelap, wajahnya sulit dibaca.
"Declan Montereau?" tanyanya dengan suara dingin.
Declan mengangguk waspada. "Siapa Anda?"
"Saya adalah utusan keluarga Lysandra. Kami tahu kau telah mengetahui rahasia kami."
Declan menegakkan badan, menantang. "Apa yang kalian inginkan?"
Wanita itu tersenyum tipis. "Kami ingin kau menyerahkan Elio. Dia adalah masa depan keluarga kami."
Konfrontasi itu menegangkan. Declan tahu ia harus melindungi Elio, tapi ancaman itu nyata.
Ia menutup pintu dengan perlahan, memikirkan langkah berikutnya.
Keesokan harinya, Declan mengajak Elio ke sebuah taman kota yang ramai.
Ia ingin membuat anak itu merasa aman, merasa diterima.
"Elio, ayah ingin kau tahu satu hal," kata Declan sambil menatap mata anaknya. "Tidak peduli apa yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu. Aku tidak akan pernah menyerah."
Elio tersenyum kecil, sebuah cahaya harapan yang mulai muncul di wajahnya.
Namun, di balik ketenangan itu, sebuah telepon masuk ke ponsel Declan.
Sebuah suara asing berkata, "Ini baru permulaan, Declan. Kita akan bertemu lagi."
Declan menatap langit senja, penuh tekad sekaligus ketidakpastian.
Rahasia masa lalu, ancaman masa kini, dan tanggung jawab sebagai seorang ayah kini menjadi beban sekaligus kekuatan baginya.
Anda Mungkin Juga Suka





