
KABUT CINTA DI KOTA HUJAN
Bab 2
Jangan lupa subscribe dan kasih bintang lima ya!
***B.Utami***
17 tahun ke atas
Bu Broto sedih saat mengingat peristiwa minggu lalu, saat pertama kali bertemu Bu Sekar. Beliau kaget saat bertemu karena sejak suami meninggal, sahabatnya pindah dari komplek tentara di Bogor dan memilih pulang ke kampung halaman tanpa pamit sama sekali.
Bu Broto semakin sedih melihat sahabatnya menempati rumah kecil di gang sempit di jalan Dr Angka. Namun, beliau kagum dengan kerja keras Bu Sekar, sehingga bisa mempunyai usaha jahit yang maju dan memiliki banyak pelanggan.
Bu Sekar sangat terkenal dan disukai ibu-ibu karena jahitan rapih dan tepat waktu. Beliau juga hobi masak, sehingga membuat pelanggan setia sering merasakan kelezatan masakan.
“Bu, bajunya tolong dicek!” Gayatri mengingatkan karena melihat wanita di depannya melamun.
“Oh ya, maaf Ibu terpesona sama kecantikan kamu.” Bu Broto memuji Gayatri agar tidak kentara sedang memikirkan masa lalu.
Gayatri hanya tersenyum tipis dan kembali menunduk, “Matur nuwun.”
“Jahitan rapih dan bagus, bilang terima kasih ke Ibu!"
“Nggih Bu, kulo pamit.”
“Sebentar, Ibu mau nitip buat Ibu!” Bu Broto masuk ke ruang tengah kemudian menyerahkan bungkusan kecil ke Gayatri.
"Matur nuwun, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan."
Gayatri pamit dan mencium tangan Bu Broto sebelum pergi. Bu Broto tidak kuasa menahan haru dan langsung memeluk tubuh kurus Gayatri kemudian mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang.
***B.Utami***
Sesampai di rumah Gayatri kaget melihat ibunya menangis. Dia mengambil air minum dan menawarkan obat ke ibunya. Namun, ibunya hanya mau minum air putih dan menolak obat yang diberikan karena merasa tidak sakit. Setelah bisa menahan emosi, Bu Sekar mulai membuka percakapan.
“Nduk, apa benar kamu pacaran sama Andika?”
Gayatri menunduk karena sedikit takut untuk menjawab. “Dereng pacaran Bu, nembe jadian wingi sonten.”
“Ya udah kalau begitu putusin aja!”
“Terosipun Ibu, nek kulo sampun lulus SMA, pareng pacaran.”
“Iya, tapi jangan sama Andika!”
“Andika baik Bu, Ibu kan sampun kenal kaleh Andika.”
“Iya, tapi Ibunya Andika tidak setuju. Kamu harus sadar kita ini miskin, jadi jangan bermimpi menikah dengan orang kaya.” Air mata Bu Sekar semakin deras mengalir.
“Ibu jangan sedih, aku akan putus sama Andika. Ibu jangan menangis lagi!”
Gayatri menyeka air mata ibunya dan berusaha terlihat tegar, meskipun hati sedih harus putus dengan laki-laki yang sangat dicintai. Dia melepas kalung yang ada di leher sambil menahan air mata. Dia tidak siap harus perpisah dengan Andika, tapi tidak akan membiarkan siapa pun menghina dan membuat sedih ibunya. Dia membungkus kalung tersebut dan mengirim ke alamat Andika.
Bu Linda tersenyum bahagia saat menerima amplop dari Gayatri. Beliau bernafas lega karena bisa memisahkan Andika dengan Gayatri dengan mudah.
***B.Utami***
Pak Broto Susetyo pusing memikirkan anak semata wayangnya yang belum mau menikah, padahal umur sudah mendekati kepala tiga. Anaknya juga lulusan S1 dan S2 dari perguruan tinggi ternama di Depok. Pekerjaan mapan dan kalau mau sudah mampu membeli kendaraan dan rumah.
Baskoro tidak belum membeli mobil karena dididik orangtua untuk hidup sederhana. Dia terbiasa naik motor karena praktis dan hemat, sehingga tidak terlihat seperti anak orang berada.
“Baskoro, sampai kapan kamu akan melajang?”
“Tenang Pak, kalau sudah waktunya juga akan nikah. Sekarang nikah di atas usia tiga puluh sudah biasa.”
“Ga bisa, pokoknya kalau sampai lebaran ini kamu ga bisa ngenalin calon, Bapak akan carikan istri!"
Baskoro terdiam karena kekasihnya belum mau diajak menikah. Kekasihnya masih ingin meraih cita-cita untuk mendapatkan pendidikan di luar negeri. Kekasihnya sedang menunggu hasil tes akhir beasiswa S2 ke London, sehingga tidak mau diajak nikah dalam waktu dekat.
Baskoro pusing karena sudah tahu sifat bapaknya, kalau punya keinginan harus dituruti. Dia pun menemui kekasihnya untuk membicarakan rencana pernikahan.
“Ras, sebelum kamu pergi sekolah kita nikah aja dulu.”
“Mas, S2 di luar negeri itu berat, kalau aku menikah sekarang khawatir ga bisa konsentrasi karena pikiran akan terpecah. Aku juga belum siap harus mengurus keluarga. Umur kita juga masih muda, nikah setelah aku lulus S2 aja ya?”
Baskoro menghela napas, “Bapak terus mendesak, kalau lebaran tahun ini aku belum bisa ngenalin calon harus menikah dengan calon pilihan Bapak.”
Saraswati menolak diajak menikah karena masih merasa ragu dengan masa depan. Baskoro selalu datang dengan motor butut dan masa depan kurang menjanjikan. Dia merasa punya kesempatan untuk mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari Baskoro. Dia juga merasa akan mempunyai masa depan cerah setelah selesai S2.
Saraswati bingung mencari cara memutuskan hubungan dengan Baskoro karena selama ini semua berjalan baik. Dia senang akhirnya punya kesempatan untuk putus dengan Baskoro. Dia merasa sudah mempunyai pengganti yang lebih baik, ada laki-laki yang memberi perhatian dan punya masa depan lebih menjanjikan karena mengantar jemput menggunakan mobil.
“Ya udah kalau orangtua Mas Baskoro sudah ga sabar menunggu nikah aja sama wanita pilihan orangtua Mas Baskoro.”
“Kamu bisa ngomong begitu Ras?”
“Aku mau mengerjar cita-cita dan ga mau menjadi penghambat kebahagiaan Mas Baskoro.”
"Ya udah aku pamit, semoga kamu bisa meraih cita-cita seperti yang kamu impikan, mulai hari ini di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."
Baskoro pergi dengan hati terluka dan menahan marah. Dia tidak percaya Saras tetap pada pendirian untuk menunda pernikahan karena ingin sekolah lagi. Dia membayangkan Saras akan setuju menikah sebelum berangkat ke luar negeri. Dia sudah beberapa kali survey rumah dan ingin mengajak Saras memilih. Namun, niat itu terpaksa diurungkan karena Saras selalu beralasan sibuk setiap diajak jalan.
***B.Utami***
“Assalamu’alaikum Wr. Wb."
"Wa'alaikumsalam Wr. Wb, ada apa pagi-pagi telepon?"
"Bu, bilang sama Bapak, kalau punya calon aku siap menikah dengan calon pilihan Bapak.”
Suara Baskoro disambut sumringah oleh Bu Broto karena merasa punya calon yang tepat untuk anaknya. Saat makan malam beliau pun membicarakan masalah tersebut dengan suaminya.
“Pak, Baskoro setuju menikah. Bapak punya calon?”
“Belum, Bapak cuma menggertak biar dia cepat nikah.”
“Kalau kita jodohkan dengan anak Mas Ridho gimana Pak?” Wajah Bu Broto semakin sumringah.
Ayah Gayatri satu angkatan saat masuk Akmil dengan ayah Baskoro. Dua keluarga ini sangat akrab karena pernah tinggal di asrama yang sama. Bu Sekar cukup lama menanti buah hati dan untuk menutupi rasa sepi sering bermain dengan Baskoro kecil.
“Kemarin anaknya ke sini, cantik dan baik. Dia diterima di IPB, jadi pas setelah nikah masih bisa tetap kuliah. Mereka bisa menempati rumah kita di Bogor dan Baskoro bisa dilaju ke tempat kerja.” Bu Broto semakin semangat.
“Kalau anaknya mau Bapak seneng, sudah lama Bapak memikirkan nasib anak dan istrinya Ridho. Semoga mereka berjodoh dan anak kita bisa memperlakukan istrinya dengan baik. Bagaimana pun kita harus hati-hati karena dia anak yatim. Jangan sampai kita dan anak kita menyakiti.”
Setelah Pak Broto setuju, Bu Broto langsung datang ke rumah Bu Sekar. Beliau menginginkan pernikahan dilakukan secepatnya karena takut Baskoro akan berubah pikiran. Beliau juga ingin tanggung jawab Bu Sekar diambil alih oleh Baskoro karena merasa tidak tega melihat kondisi Bu Sekar sekarang.
Seperti mendapat angin segar Bu Sekar langsung menyetujui perjodohan tersebut. Mereka sepakat untuk mengadakan pernikahan sebelum Gayatri pergi ke Bogor. Bu Sekar merasa bahagia, hinaan Bu Linda langsung dibalas oleh Allah dengan nikmat yang jauh lebih besar.
Bu Sekar bahagia yang melamar Gayatri mempunyai pangkat jauh di atas suami Bu Linda. Beliau juga bahagia Gayatri akan menikah dengan laki-laki dari keluarga baik yang sudah dikenal
“Bu, aku belum sembilan belas tahun masa harus menikah?”
“Tri, jodoh kalau sudah datang tidak boleh ditolak. Apalagi kalau kita tahu yang melamar baik dan dari keluarga baik.”
“Tapi Bu, aku belum siap untuk menikah.”
Bu Sekar menarik napas, kembali berusaha membuka pikiran Gayatri agar mau menikah. Beliau ingin beban di pundak bisa sedikit berkurang.
Gayatri terpaksa menyetujui perjodohan karena keluarga suami berjanji akan mengijinkan dan membiayai kuliah. Dia berpikir ini cara Allah untuk meringankan beban ibunya. Dia juga berpikir cinta akan mudah tumbuhkan dari hati.
***B.Utami***
Baskoro tidak pernah menyangka yang dinikahi adalah gadis kecil yang dulu suka menangis saat ditinggal ayahnya kerja. Dia masih teringat dengan jelas saat Om Ridho harus berputar-putar komplek berkali-kali dengan motor sampai Gayatri mau ditinggal. Saat itu Baskoro sudah duduk di bangku SMP, sehingga sudah mengingat semua dengan baik.
Baskoro mengakui kecantikan Gayatri, tetapi melihat dia baru lulus SMA membuat seperti ada tembok untuk mencintai. Dia merasa Gayatri anak kecil yang lebih pantas untuk dijadikan adik. Umur mereka memang terpaut jauh dan Baskoro masih mengingat saat ibunya mengajari Bu Sekar menggantikan popok Gayatri.
Baskoro tidak percaya saat Gayatri mencium tangan, hatinya bergejolak. Jantung berdetak kencang, saat tamu undangan menyuruh mencium kening Gayatri. Sebagai laki-laki normal dia merasakan getaran berbeda saat bibir menyentuh kening Gayatri.
Semerbak wangi bunga melati yang menghiasi sanggul Gayatri membuat pikiran Baskoro melayang. Namun, dia berusaha mengendalikan diri karena hati masih menjadi milik Saras. Dia masih berpikir Saras yang seharusnya menjadi istrinya.
Bu Linda kaget pernikahan yang dihadiri adalah pernikahan anak Bu Sekar yang satu bulan lalu diminta meninggalkan Andika. Beliau tidak percaya atasannya mengambil anak Bu Sekar sebagai menantu.
Bu Linda tertunduk karena malu dengan Bu Sekar. Namun, sesaat kemudian beliau kembali tersenyum karena Andika tidak bisa lagi mendekati Gayatri. Beliau berharap setelah lulus Andika menikah dengan anak atasan dan mencapai puncak karir dalam militer.
"Andika akan jadi orang sukses!"
***B.Utami***
BERSAMBUNG
Silahkan tinggalkan komentar dan pencet love ...
Terima kasih
Anda Mungkin Juga Suka





