Sampul Novel Putriku Bukan Anak Pembawa Sial

Putriku Bukan Anak Pembawa Sial

8.5 / 10.0
Dalam Putriku Bukan Anak Pembawa Sial, Rani berjuang demi masa depan Luna, putrinya yang tunarungu setelah selamat dari upaya aborsi. Romance novel ini mengisahkan ketangguhan seorang ibu tanpa suami yang kasar. Baca online novel ini untuk mengikuti perjuangan mereka mencari kebahagiaan.
Ringkasan Putriku Bukan Anak Pembawa Sial
Rani berjuang sendirian membesarkan Luna, putrinya yang mengalami gangguan pendengaran. Kondisi tersebut merupakan dampak dari upaya aborsi yang dilakukan Rani saat mengalami depresi akibat kekejaman suaminya, Niko. Setelah suaminya pergi menghilang, Rani harus berperan ganda sebagai ibu sekaligus ayah. Meski dihantui masa lalu yang kelam, ia bertekad bekerja keras demi menjamin masa depan Luna agar tidak merasakan penderitaan serupa yang pernah ia alami.
Baca Selengkapnya

Putriku Bukan Anak Pembawa Sial Bab 1

"Luna!" teriakku pada putri kecilku yang berumur 5 tahun.  

Luna adalah putri pertama ku, sejak lahir Luna memiliki cacat pada telinga sebelah kanannya. Itulah yang membuat pendengaran Luna terganggu. Semua itu karena kesalahanku, saat itu aku yang sedang mengandung Luna berusaha untuk menggugurkannya menggunakan obat-obatan, jamu bahkan memijatnya. Semua itu kulakukan karena aku depresi akan sikap kasar suamiku.  

"Luna!" aku kembali berteriak sambil berjalan ke arah Luna yang sedang bermain di halaman depan. 

"Eh. Ibu," ucap Luna polos sambil tersenyum ke arahku yang sedang berdiri di hadapannya.

“Mainnya sudah dulu ya. Nak, sekarang Luna tidur siang dulu!"perintahku sambil duduk di hadapan Luna. 

"Apa. Bu," tanya Luna sambil mendekatkan telinganya.

"Sekarang waktunya tidur siang, mainnya dilanjutkan nanti sore ya," jawabku sambil berteriak. 

"Iya. Bu," jawab Luna sambil tersenyum. 

Saat Luna tertidur pulas di kamarnya aku diam-diam masuk dan duduk di sampingnya. Siang itu kupandangi wajah polos putriku yang masih berusia 5 tahun ini. Kini hanya penyesalan yang selalu aku rasakan setiap melihat wajah putri kecilku. 

"Maafkan Ibu. Nak, seandainya dulu Ibu tidak berusaha untuk menggugurkan mu ini semua tidak akan terjadi," batinku sambil meneteskan air mata. 

Namaku Rani, aku adalah Ibu sekaligus ayah untuk Luna putri semata wayangku. 5 tahun yang lalu tepat saat aku melahirkan Luna suamiku meninggalkanku entah kemana. Bahkan sampai saat ini hubungan kami seolah menggantung tanpa kejelasan.

Sekilas aku mengingat kejadian 5 tahun lalu saat itu aku baru saja melahirkan Luna. Mas Niko yang harusnya bisa menjadi ayah dan suami yang baik untuk kami justru meninggalkan kami tanpa alasan yang jelas. Hatiku saat itu benar-benar hancur, kelahiran seorang anak yang seharusnya menjadi kebahagiaan justru menjadi sebuah duka.

"Kamu mau kemana. Mas," tanyaku kepada Mas Niko yang sedang mengemasi pakaiannya.

"Aku mau pergi dari sini, aku capek hidup dengan perempuan miskin dan pembawa sial sepertimu," jawab Niko sambil terus memasukkan pakaiannya ke dalam tas koper.

"Lalu bagaimana dengan aku dan Luna. Mas," tanyaku penasaran.

"Aku tidak peduli, kamu dan anak cacat itu hanya bisa membuat ku malu saja!" bentak Mas Niko sambil menoleh ke arahku.

"Aku tahu ini semua salahku, tapi aku mohon jangan tinggalkan kami. Mas," jawabku sambil memegang tangan suamiku yang berjalan ke arah pintu.

"Ah!" teriak suamiku sambil menarik paksa tangannya hingga aku terjatuh di lantai.

Sejak malam itu aku tidak pernah melihat ataupun mendengar kabar dari Mas Niko. Aku yang memang seorang anak yatim piatu berusaha merawat merawat Luna seorang diri. Semua aku lakukan demi menyambung hidup kami berdua, Luna yang saat itu masih berusia satu bulan sudah harus aku bawa bekerja sebagai seorang buruh cuci dari rumah ke rumah.

"Ibu menangis?" tanya Luna sambil mengusap air mataku hingga mengejutkanku.

"Tidak. Nak," jawab ku sambil menggelengkan kepala agar Luna mengerti walau tidak mendengar.

"Ibu, aku lapar," ucap Luna sambil memegangi perutnya.

"Kamu mandi dulu ya," jawabku sambil menggandeng tangannya menuju ke kamar mandi. 

Setelah selesai memandikan Luna akupun langsung berjalan ke dapur. Luna yang saat itu sudah rapi berjalan keluar rumah untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Tidak berapa lama aku pun menghampirinya sambil membawa sepiring nasi dan telur dadar untuk Luna. 

"Luna!" teriakku sambil duduk di lantai yang tidak jauh dari Luna.

“Luna suka telur dadar ya, hampir tiap hari makannya telur dadar terus,” ucap salah satu ibu-ibu yang ada disitu.

“Iya. Bu, alhamdulillah Luna tidak pernah pilih-pilih makanan selama ini," jawabku sambil menyuapi Luna. 

Gajiku sebagai seorang tukang cuci rumahan memang tidak besar, jadi hanya cukup untuk membeli makanan untuk hari itu dan besok. Untungnya Luna tidak pernah mengeluh ataupun protes dengan apa yang aku berikan setiap harinya. Buat kami yang penting bisa makan saja itu sudah cukup. 

“Eh. Mbak Rani, kabar Mas Niko gimana sudah 5 tahun pergi tapi kok gak pulang-pulang, apa nggak kangen sama Luna," tiba-tiba seorang wanita menanyakan Mas Niko hingga membuatku terkejut. 

“Luna kita makan di dalam ya. Nak, tadi Ibu lupa belum matikan kompor, kami permisi dulu. Bu,” jawabku sambil menggandeng Luna masuk ke dalam rumah.

Aku menghindari pertanyaan mereka bukan karena aku sakit hati ataupun tersinggung kepada mereka. Namun, aku hanya tidak mau Luna bertanya tentang ayahnya. Karena pertanyaan itu yang akan membuatku terluka nantinya. 

"Ibu kenapa kita masuk ke dalam rumah, Luna masih ingin main sama teman-teman," tanya Luna yang ternyata dia tidak mendengar ucapanku tadi.

"Luna main di dalam rumah sama Ibu saja ya. Nak," jawabku sambil mendekat ke telinganya.

Luna hanya mengangguk tanda setuju, aku bersyukur Luna tidak mendengar ucapan ibu-ibu tadi. Di kampung itu aku termasuk orang lama, karena sejak menikah dengan Mas Niko aku memutuskan untuk menempati rumah peninggalan almarhum orang tuaku. Jadi disaat Mas Niko tidak memberi nafkah pun aku tidak terlalu bingung dengan sewa rumah.

***

Hingga suatu pagi setelah Luna selesai mandi dan akupun mulai bersiap berangkat ke rumah salah satu tetangga untuk bekerja. Luna tiba-tiba menolak untuk ikut dengan alasan hari ini dia ingin bermain dengan salah satu temannya yang ada di samping rumah. Karena hari itu pekerjaanku tidak terlalu banyak dan jaraknya juga tidak terlalu jauh aku pun mengizinkannya dan mengantar Luna ke tetangga samping rumah sekalian menitipkannya.

"Permisi, Bu saya mau mengantar Luna sekalian mau menitipkannya disini sebentar,katanya dia mau main sama Siska dan yang lain," ucapku kepada sang pemilik rumah.

"Oh iya. Mbak Rani, Luna masuk sini. Nak," jawab sang pemilik rumah dengan sabar.

"Luna tidak boleh nakal ya, jangan bertengkar dan tunggu Ibu disini sampai Ibu pulang kerja," ucapku sambil sedikit berteriak di telinga Luna.

Setelah mengantar Luna aku pun langsung berangkat ke tempat kerjaku hari ini. Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang. Setelah menyelesaikan semua pekerjaan hari ini aku pun bergegas pulang. Namun, alangkah terkejutnya aku saat sang pemilik rumah mengatakan jika Luna sudah pulang ke rumah sejak tadi.

"Luna," ucapku saat melihatnya duduk sambil menangis di depan pintu.

"Ibu!" teriak Luna sambil berlari memelukku.

"Kamu kenapa menangis disini, bukannya tadi Luna main sama teman-teman," tanyaku penasaran.

"Ibu kenapa mereka jahat kepada Luna, apa karena Luna tidak punya Ayah," tanyanya sambil menangis.

"Ya allah, apa yang terjadi dengan Luna, kenapa dia bisa berpikiran seperti itu," batinku sambil memeluknya dengan erat.

"Ibu apa benar Luna adalah anak haram, anak haram itu apa sih. Bu?" tanya Luna sambil terus menangis di pelukanku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Putriku Bukan Anak Pembawa Sial

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Antara Dendam dan Penyesalan
8.8
Pernikahan tiga tahun tidak cukup bagi Harvey untuk melupakan cinta lamanya. Di saat Selena divonis menderita kanker, Harvey justru menemani wanita lain. Memilih mundur, Selena menyodorkan surat cerai, namun kebenaran pahit terungkap bahwa pernikahan mereka hanyalah alat balas dendam Harvey atas utang keluarga. Saat ayahnya koma dan hidupnya hancur, Selena memilih terjun dari gedung demi melunasi utang tersebut. Kini, Harvey yang hancur hanya bisa berlutut dan memohon kepulangannya.
Sampul Novel Berpaling Darimu
8.2
Aris mencoba sabar menghadapi sikap dingin Bella di tengah hubungan rahasia mereka yang terhalang restu. Perseteruan abadi antar keluarga memaksa keduanya bersembunyi, namun Bella justru semakin abai. Di titik jenuhnya, Aris justru menemukan kehangatan dari sosok Ana. Perhatian tulus yang diberikan Ana perlahan mulai mengikis perasaan Aris pada Bella, hingga hatinya kini beralih sepenuhnya pada wanita lain yang lebih menghargai kehadirannya.
Sampul Novel Gadis Rahasia Kapten
8.7
Kapten Anatoly tak pernah menduga bahwa cinta pertamanya adalah Helen, turis Jerman yang ia sembunyikan di rumahnya saat Rusia menyatakan perang. Di tengah ketegangan konflik, hati sang kapten yang dingin perlahan mencair. Namun, kebahagiaan itu hancur saat identitas asli Helen terungkap sebagai putri dari musuh negaranya. Kini, Anatoly terjepit dalam dilema besar antara kesetiaan pada negara atau menyelamatkan wanita yang ia cintai. Pilihan manakah yang akan ia ambil?
Sampul Novel Perjaka Kepincut Janda
8.1
Della Mahardika, seorang janda menawan, tidak pernah menyangka bahwa luka masa lalunya akan membawanya bertemu dengan Dimas Anggara. Meski berawal dari pertemuan yang unik dan penuh tawa, benih cinta perlahan tumbuh di antara mereka. Dimas percaya bahwa cinta sejati menuntut pengorbanan, namun ia enggan membiarkan perasaan itu dimanfaatkan secara buta. Akankah hubungan beda status ini berjalan mulus tanpa rintangan, atau justru menemui hambatan besar?
Sampul Novel Ternyata Aku Orang Ketiga di Pernikahan Suamiku
9.2
Pernikahan karena perjodohan orang tua membawa Widuri Yasmin ke dalam penderitaan. Hanya sebulan setelah menikah, suaminya, Emran Hafiz, diam-diam menikahi kekasihnya yang bernama Mawar Rosdiana. Dianggap sebagai penghalang dalam hubungan mereka, Widuri kerap menerima perlakuan buruk dan ketidakadilan dari Emran. Kini, berada di posisi sebagai orang ketiga yang tidak pernah diinginkan, Widuri dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan demi rasa cintanya atau menyerah dan pergi.
Sampul Novel Voice : 40 Days With Mr Carson
8.9
Daniel Carson Abraham menghabiskan masa kecilnya di rumah sakit karena penyakit jantung kronis. Kehidupannya berubah total setelah menerima donor jantung dari Bara yang tewas kecelakaan. Pasca operasi, Carson mendapatkan kemampuan supranatural untuk mendengar suara batin Dewi, wanita yang dahulu sangat dicintai oleh Bara. Meski awalnya merasa terganggu, kehadiran Dewi justru memberi makna baru bagi hidupnya. Kini Carson terjebak antara mengikuti perasaan atau melepaskan masa lalu Bara.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan