Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel KABUT CINTA DI KOTA HUJAN

KABUT CINTA DI KOTA HUJAN

Gayatri terpaksa menikahi Baskoro demi beban sang ibu, meski tahu suaminya masih mencintai mantan kekasihnya, Saras. Di tengah dinginnya Kota Hujan, pernikahan muda ini goyah saat Bima, atasan Baskoro, mulai mendekati Gayatri. Keadaan kian rumit dengan kembalinya Andika, mantan Gayatri, serta kepulangan Saras dari luar negeri. Di sela perjuangan kuliah dan badai pertengkaran, mampukah keduanya menjaga kesetiaan dan mempertahankan rumah tangga mereka?
Bab
Bagikan

Bab 3

Jangan lupa subscribe dan kasih bintang lima ya!

***B.Utami***

17 tahun ke atas

Bu Sekar tersenyum bahagia Gayatri menemukan jodoh yang baik. Beliau merasa beban di pundak sudah berkurang. Pak Broto dan istri juga bahagia karena kekhawatiran Baskoro salah bergaul hilang sudah. Mereka bersyukur Baskoro menikah dan yang lebih membahagiakan Baskoro mau menikahi anak sahabat seperjuangan.

Gayatri tertunduk dan mencoba tersenyum, walau hati tegang dan deg-degan. Dia sadar sudah menjadi seorang istri dan punya kewajiban untuk melayani suami. Dia bersikap biasa, meskipun takut akan melewati malam pertama yang katanya sangat menyeramkan. Saat Baskoro mencium kening saja, dia sudah kesulitan bernafas karena baru pertama kali ada lawan jenis yang menyentuhnya.

“Ga usah takut, malam ini aku ga akan menyentuh kamu.”

Suara pertama Baskoro yang didengar cukup membuat Gayatri lega. Sebagai wanita tidak disentuh pada malam pertama adalah musibah besar, tapi tidak berlaku untuk Gayatri. Dia justru merasa bersyukur Baskoro masih memberi waktu untuk bernafas. Dia merasa belum siap untuk menerima nafkah batin karena masih terlalu muda. Dia pun kembali tersenyum setelah seharian tegang selama acara pernikahan.

Baskoro melirik Gayatri yang terlihat begitu cantik saat tersenyum, pipi putih bersih bersemu merah. Lesung pipi juga terlihat jelas, semakin membuat Gayatri menawan dan terlihat sempurna. Dia kemudian memalingkan muka karena tidak mau perasaan di hati semakin bergejolak.

“Kita harus merahasiakan ini dari orangtua. Kita juga  harus pura-pura mesra saat di depan mereka.” Baskoro kembali membuka suara.

"Iya Mas."

Gayatri mengernyitkan dahi karena tidak percaya Baskoro mengajak bermain sandiwara. Namun, dia hanya bisa mengiyakan karena tidak mau pusing dan belum siap menjadi istri. Dia juga merasa tidak sulit untuk memerankan sandiwara dengan baik karena selalu menonton film-film drama dan tinggal mempraktekan saja.

***B.Utami***

Semalaman Baskoro gelisah karena tidak terbiasa tidur dengan wanita. Apalagi saat mau tidur tanpa sengaja melihat aurat Gayatri sedikit tersingkap. Napasnya naik turun, pikiran melanglang buana ke mana-mana, kalau tidak karena menahan gengsi, dia pasti sudah melampiaskan hasrat.

"Huh ... " Baskoro membuang nafas. 

Baskoro masih tidak percaya gadis kecil yang dulu sering main ke rumah telah menjelma menjadi gadis cantik jelita. Dia menarik selimut, kemudian memejamkan mata karena tidak mau pikiran semakin berkelana.

"Ehhhh ... " Gayatri menggeliat.

"Aaaa ... " Gayatri terbangun dan membuka muluat saat tangan Baskoro tiba-tiba memeluk.

Gayatri hampir saja menjerit, untung cepat tersadar kalau sudah menikah. Dia mengangkat tangan Baskoro yang tepat mengenai dada kemudian duduk. Dia bisa bernapas lega saat menyadari Baskoro masih pulas dalam tidur. Dia langsung meletakkan guling pembatas yang jatuh ke lantai lalu kembali tidur.

"Aaa ... " Baskoro kaget.

Baskoro tidak percaya saat bangun mulutnya begitu dekat dengan pipi Gayatri. Dia bersyukur Gayatri masih tidur nyenyak, sehingga tidak harus menahan malu karena telah menerjang guling pembatas yang dipasang sendiri sebelum tidur.

Baskoro semakin kaget saat menyadari posisi kaki terletak tepat di atas paha Gayatri. Dia baru menyadari memeluk guling hidup memberikan sensasi yang berbeda. Dia pun segera melepaskan pelukan agar perasaan kembali tenang. Dia juga menahan keinginan untuk mencium dan mengelus pipi putih yang halus seperti bayi karena takut Gayatri terbangun.

***B.Utami***

Pagi hari sepasang suami istri itu hanya diam, mereka tidak berani menceritakan apa yang terjadi semalam. Mereka juga memilih sholat sendiri, kemudian mandi dan sarapan. Gayatri diam seribu bahasa karena malu saat ingat peristiwa semalam. Baskoro mencoba menata hati yang mulai merasakan getaran tidak biasa. Dia baru menyadari getaran itu lebih dasyat dibandingkan saat dekat dengan Saras.

Untung hanya semalam mereka tidur berdua di kamar pengantin yang terletak di hotel tidak jauh dari rumah, sehingga tidak sampai terjadi sesuatu yang diinginkan. Mereka pergi ke rumah Baskoro untuk berpamitan sebelum berangkat ke Bogor.

Mereka buru-buru ke Bogor karena Gayatri harus segera daftar ulang kuliah dan Baskoro hanya mengambil cuti nikah tiga hari. Mereka juga tidak mau berlama-lama di Purwokerto karena khawatir rahasia terbongkar.

Mereka juga berpamitan ke rumah Gayatri sebelum berangkat ke Bogor. Bu Sekar bahagia melihat Baskoro dan Gayatri bergandengan saat datang. Setelah memberi wejangan panjang lebar beliau pun melepas kepergian anak semata wayangnya. Walau merasa tenang Gayatri pergi ke Bogor dengan suami, tetapi tetap saja beliau merasa sedih ditinggalkan.

***B.Utami***

Begitu masuk mobil Gayatri langsung menjaga jarak dengan Baskoro. Dia duduk mepet kaca dan menaruh tangan di dekat pintu. Dia tidak mau kembali bersentuhan dengan Baskoro karena takut membuat getaran di dada semakin kencang. Dia diam dengan pandangan mata lurus ke depan dan hanya sesekali melihat ke samping.

Baskoro gatal duduk diam berjam-jam dan mulai mengajak Gayatri bicara. Dia semakin kagum saat menyadari, walau masih muda wawasan Gayatri cukup luas. Dia juga senang Gayatri enak diajak ngobrol, sehingga perjalanan yang sempat membosankan berubah jadi menyenangkan.

Sesampai di Cirebon, Baskoro memarkirkan mobil di rumah makan yang menyediakan empal gentong. Dia makan siang dengan empal gentong karena kuah panas dan bumbunya yang gurih sangat ampuh untuk menghilangkan rasa penat dan kantuk.

“Tri, pilih aja makanan kesukaan kamu.”

“Mas aja yang pilihin, aku tidak tahu harus pesen apa karena baru pertama kali ke sini.”

Baskoro tersenyum melihat Gayatri begitu polos menanyakan empal gentong. Dia kembali tersenyum saat melihat tingkah laku dan mimik muka Gayatri lucu dan menggemaskan saat menyantap makanan.

“Kenapa ngeliatin aku terus?”

“Kamu lucu juga ternyata ya."

“Hehehe maaf aku rakus karena laper banget.”

"Mau nambah?"

"Ga, makasih udah kenyang."

Selesai makan mereka melanjutkan perjalanan ke Bogor. Setelah menempuh perjalanan selama dua belas jam, mereka akhirnya sampai di rumah bercat abu-abu yang terletak di daerah Bantarjati. Bau cat masih tercium karena rumah belum lama selesai direnovasi.

"Aku cari makan malam, kamar kamu di lantai atas dekat tangga."

"Iya Mas, makasih." Gayatri tersenyum saat tahu kamarnya akan terpisah.

Baskoro ke luar untuk membeli makan malam, sedang Gayatri langsung ke kamar. Gayatri tersenyum melihat kamar ukuran enam kali empat dengan kamar mandi di dalam. Dipan ukuran king, lemari pakaian dua pintu dan meja melengkapi kamar.

Gayatri memasang sprei yang sudah tersedia di atas ranjang. Dia membongkar tas dan meletakkan barang-barang sebelum pergi mandi.

***B.Utami***

Saras tidak percaya mendengar temen-temen di kantor membicarakan pernikahan Baskoro. Dia tidak menyangka Baskoro akan secepat itu menikah. Teman-teman di kantor tidak ada yang memberi tahu rencana pernikahan setelah tahu Saras lebih memilih putus dibanding menikah dengan Baskoro.

Saat kantor sepi, Saras memberanikan diri untuk melihat foto-foto hasil jepretan Adrian yang tergeletak di ruang meeting. Hanya Adrian yang datang ke Purwokerto menghadiri pernikahan Baskoro, sehingga mengabadikan pernikahan tersebut untuk ditunjukan ke teman-teman. Hati Saras sakit melihat foto pernikahan Baskoro karena cukup megah. Dia semakin sakit hati saat mendengar hampir semua teman-teman memuji kecantikan istri Baskoro.

Saras merasa salah langkah telah melepas Baskoro apalagi tahu Baskoro telah dipromosikan sebagai manager operasional. Kabar Baskoro telah merenovasi rumah dan membeli mobil baru juga sampai ke telinga.

Saras pun berpikir untuk mendapatkan cinta Baskoro kembali. Dia melakukan itu, setelah tahu laki-laki yang mendekatinya sudah mempunyai anak dari hasil pernikahan sebelumnya.

Saras tidak mau menunda rencana dan langsung menghubungi nomor telepon rumah Baskoro. Dia ingin mendapatkan kembali hati Baskoro sebelum dimiliki oleh istrinya.

“Kring ... kring ... kring ...”

Gayatri turun karena tahu Bsskoro sedang ke luar. Dia mengangkat telepon karena khawatir ada hal penting.

“Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Mas Baskoro?”

“Wa’alaikumsalam, maaf dengan siapa?”

Saras terdiam mendengar suara di sebrang telepon. Hatinya sakit mengetahui Baskoro sudah tinggal satu rumah dengan istrinya. Namun, dia tidak mau kesempatan untuk mendapatkan Baskoro kembali cinta Baskoro.

“Saya teman kantor Mas Baskoro.”

“Maaf Mas Baskoro sedang ke luar cari makan malam, mau titip pesan?”

“Saya cuma mau kasih selamat atas pernikahan Mas Baskoro.”

“Terima kasih, maaf ini dengan Mba siapa?”

“Saras, mantan pacar Mas Baskoro. Saya kasihan sama Mas Baskoro dipaksa harus menikahi gadis pilihan orangtua”

"Maksud Mba?"

"Bulan lalu Mas Baskoro mengajak saya menikah." Saras diam cukup lama.

Bagai disambar petir Gayatri pun langsung melepaskan gagang telepon. Dada mendadak sesak dan air mata mulai tumpah karena akhirnya tahu Baskoro tidak menyentuh di malam pertama bukan karena ingin memberi waktu, tapi karena ada wanita lain di hatinya.

Gayatri langsung ke kamar karena ingin segera mandi untuk menghilangkan kesedihan. Dia bertekad untuk tidak merepotkan dan menggunakan sepeser pun uang Baskoro. Dia membuka tas untuk melihat saldo di buku rekening tabungan. Dia bersyukur walau sempat ditolak, ibunya tetap memberi uang cash dan buku tabungan. Ibu bilang buat jaga-jaga kalau diperlukan dan ternyata memang diperlukan.

Gayatri menarik napas dan mulai berpikir untuk mencari pekerjaan sampingan. Dia berniat menjadi guru privat seperti kakak kelas. Dia tidak mau gagal kuliah dan mengecewakan ibunya. Dia pun menutup hati yang belum sempat terbuka karena tidak ingin jatuh cinta dengan laki-laki yang salah.

“Tri makanan sudah siap.” Suara Baskoro tidak diindahkan sama sekali.

Setelah mengetuk pintu berulang-ulang tidak dibuka Baskoro pun turun dan mulai menikmati makan malam. Dia menaruh makanan di depan pintu kamar karena berpikir Gayatri ketiduran. Tidak lama kemudian dia tertidur di sofa karena kelelahan setelah menyetir seharian.

Air mata Gayatri semakin deras mengalir, sederas hujan yang mengguyur Kota Bogor malam itu. Semalaman dia tidak ke luar kamar karena tidak mau melihat wajah Baskoro. Dia memilih mengganjal perut dengan bantal untuk menahan lapar sampai akhirnya ketiduran.

***B.Utami***

BERSAMBUNG

Silahkan tinggalkan komentar dan pencet love ...

Terima kasih

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam seorang ibu
8.3
Dunia Maya hancur saat putrinya dibunuh oleh anak pejabat yang tak tersentuh hukum. Menyadari keadilan mustahil didapat melalui sistem yang korup, sang ibu yang berduka ini memilih jalan gelap untuk menuntut balas secara mandiri. Ia menyusun rencana rapi demi menghukum pelaku, meski harus mempertaruhkan nyawa. Namun, apakah aksi nekat ini akan memberikan ketenangan atau justru melenyapkan sisa hidupnya? Sebuah perjuangan ibu demi kebenaran di tengah bahaya.
Sampul Novel Bukan Sekadar Figuran
7.9
CEO Narendra Hasan terancam batal menikah dengan Bella setelah kecelakaan membuatnya lumpuh. Tak sudi bersuamikan pria cacat, Bella kabur di hari pernikahan. Sebagai gantinya, Narendra menunjuk Sheilla, keponakan Bella, untuk menjadi pengantin pengganti. Sheilla yang terikat utang budi pada pamannya terpaksa setuju. Namun, pernikahan ini mengungkap misteri besar terkait kecelakaan orang tua Sheilla dan hilangnya penulis ternama. Siapa dalang sebenarnya?
Sampul Novel Istri Muda Pak Dosen
7.9
Helga, mahasiswi kutu buku, terpaksa menikahi Hadyan, dosen playboy sekaligus putra dari Hans Anderson yang membiayai kuliahnya. Perjodohan ini bertujuan agar Helga menjadi ibu bagi putra Hadyan. Namun, ia harus merahasiakan pernikahan mereka demi karier mantan istri Hadyan yang masih terobsesi. Di tengah ancaman sang mantan dan sikap dingin Hadyan yang belum bisa berpaling dari masa lalu, mampukah Helga bertahan saat suaminya sendiri justru terus membela wanita yang telah mengkhianatinya?
Sampul Novel "KALA" Buah Cinta Terlarang
8.8
Kayli dituduh meracuni mertuanya sendiri hingga membuat rumah tangganya bersama Gala hancur berantakan. Di tengah upaya membersihkan namanya, Kayli justru menemukan sisi gelap yang tersembunyi dalam dirinya. Berbagai kejanggalan muncul, membuatnya curiga bahwa ia terlibat dalam tragedi itu tanpa sadar. Apakah Kayli memiliki kepribadian ganda atau ada entitas lain di tubuhnya? Misteri kian pelik saat Zael, sahabat lamanya, memanggilnya dengan nama Kala.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.
Sampul Novel Pembantu Rasa Bos
7.9
Demi membiayai kuliah sang buah hati, Maharani yang merupakan mantan istri pengusaha terpaksa banting tulang menjadi asisten rumah tangga. Luka akibat pengkhianatan masa lalu membuatnya enggan meminta bantuan sang mantan suami. Kini, ia harus beradaptasi melayani bos duda anak satu. Namun, Maharani mulai merasa bingung karena tanggung jawab yang ia jalani perlahan justru menyerupai peran nyonya rumah. Mampukah ia menjaga profesionalitasnya?