Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel JERAT PESONA PRIA 21 CM

JERAT PESONA PRIA 21 CM

Pernikahan dengan Evans, pemuda tampan tetangga desa, awalnya terasa seperti mimpi bagi aku. Namun, cinta pandangan pertama itu berubah menjadi petaka saat rahasia kelam pekerjaannya sebagai pria pemuas terungkap setelah kami menikah. Hidupku hancur ketika suami yang kucintai tega menjualku kepada mucikari demi melunasi hutangnya pada lintah darat. Kini aku terjebak menjadi wanita panggilan dan harus berjuang keras untuk lepas dari jerat neraka dunia ini.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Ruli, mana kopi guaa!? Lelet banget sih lo bikin kopi doang!?" Teriak mas Evans dari teras rumah.  Aku mempercepat mengaduk kopi ditanganku, lalu buru buru membawanya kehadapan mas Evans yang tengah duduk bersantai sembari merokok dan juga memainkan gadgetnya.

"Ini mas, kopinya. Maaf lama. Tadi aku ke warung dulu beli gula. Stok gula kita habis mas," ucapku dengan nada lemah lembut. Mas Evans melirikku sekilas, kemudian menatapku lekat lekat. Seperti ada yang sedang dia pikirkan terhadapku.

"Ya sudah. Sore ini gua mau berangkat kerja ke Jakarta. Ada kerjaan dadakan. Tapi gua enggak punya ongkos jalan nih. Bagi gua duit donk! Nanti kerjaan kelar langsung gua ganti beserta jatah buat elu!" Ucap mas Evans dengan entengnya sembari menengadahkan tangan.

"Mas pergi berapa hari? Kenapa aku enggak di ajak mas? Kita kan baru aja menikah?" Tanyaku tanpa jeda. Mas Evans berdecak kesal.

"Gua ke kota ada urusan bisnis Rulii! Kenapa sih loe kebanyakan nanya!? Pake segala kepengen ikut lagi? Nanti kapan kapan gua ajakin elu kerja disono, kalo elu udah siap!" Hardik mas Evans sembari menatapku tak suka. Hatiku berada teremas perih melihat gaya bicara dan juga tingkah lakunya yang terkesan sedikit kasar itu.

'akh, mungkin itu hanya logat orang orang ibu kota saja, 'pikirku masih berusaha memaklumi sikap Suami tampanku ini.

"Ya udah, mana duitnya! Gak usah banyak banyak, sejuta aja cukup buat ongkos!" Pintanya lagi dengan sikap acuh tak acuh. Memang aku dan mas Evans belum lama saling mengenal satu sama lain. Aku bahkan hanya bertemu dengan mas Evans pertama kali saat Pak Mansyur membawanya untuk melamar ku, dan dipertemuan kedua kami langsung menikah.  Jadi ini yang membuatku agak shock dengan sikap dan gaya bicaranya yang sedikit sengak. Dan satu lagi, saat menikah pun belum tumbuh rasa cinta diantara kami. Hanya rasa kekagumanku padanya, dan itupun karena paras mas Evans yang tampan yang berhasil memikat hati ini.

"Heh, Nurul!? Kok malah bengong!? Buruan!! Mana duitnya!"  Semprotan mas Evans sukses membuatku membeliak kaget. Aku buru buru masuk kedalam kamar dan mengambilkan sejumlah uang yang dia minta. Padahal uang tersebut adalah uang mas kawin yang baru saja dia berikan kemarin malam, saat prosesi ijab kabul dimalam pernikahan kami.

"Ini mas, uangnya. Tapi segera di ganti ya, karena itu uang mas kawin yang sudah mas beri ke aku. Jadi itu seratus persen hakku!" Tegasku sembari menyerahkan amplop putih berisi uang satu juta darinya yang bahkan akupun belum sempat membukanya.

"Iya iya! Bawel banget sih Luh jadi bini! Baru duit segini doang!?" Pungkasnya sambil berdecak kesal. Senyum tipis tersungging dibibirnya. Mas Evans menyobek ujung amplop itu lalu mengeluarkan lembaran uang berwarna merah, lalu memasukkan uang itu kedalam waistbag yang melingkar dipinggangnya.

"Ya udah! Kalo gitu gua pamit pergi dulu!" Ujarnya sembari melenggang keluar dari teras rumah.

"Mas!" Seruku lalu segera menghampirinya. "Mas lupa ya, aku ini istri kamu. Jadi kalau mas pergi pergi, aku harus Salim cium tangan mas dulu!" Gerutuku sambil menyodorkan tangan. Mas Evans mengulurkan tangan dan langsung ku sambut untuk ku cium punggung tangannya. "Hati hati ya mas, jangan lupa kalau sudah sampai kabari aku,"

Mas Evans mengangguk pelan lalu melangkah pergi dengan tergesa gesa. Diujung jalan sudah ada sebuah mobil Avanza silver yang menunggunya.

"Ah, mungkin itu travel yang akan membawanya ke kota atau grab yang sebelumnya sudah mas Evans pesan,"gumamku.

Aku kembali masuk kedalam rumah. Hanya ada aku seorang diri disini. Bapak dan ibu mertuaku sedang pergi kesawah. Sedangkan Tiwi, pergi ke sek0lah dan belum pulang hingga jam dua siang ini.

Kebetulan aku sudah selesai memasak, tinggal beres beres dan bersih bersih kamarku saja.  Aku memasuki kamar yang baru dua hari ini menjadi kamar pribadiku dan mas Evans.

Aku melepas sisa sisa dekorasi kamar pengantin yang masih menjuntai lalu mengepacknya kedalam sebuah dus.

Didinding kamar, terpampang foto foto jadul masa kecil suamiku. Aku menyungging senyum, sejak kecil mas Evans memang memiliki paras yang tampan dan juga menggemaskan. Tak heran diusianya yang matang sekarang, dia terlalu tampan untuk ukuran seorang pemuda dari desa.

Rasa penasaran untuk mengenalnya lebih dekat, tiba tiba saja menguasai pikiranku. Tak perlu izin untuk membongkar dan melihat lihat barang milik mas Evans. Toh, aku kini sudah sah menjadi istrinya?

Mas Evans rupanya seorang yang mencintai olahraga. Terbukti kamarnya penuh dengan alat alat fitness portabel, barbel, Sling tali dan juga deretan toples toples besar bekas suplement otot miliknya. Aku menyungging senyum.

Didalam sebuah tas gymnya juga ada beberapa obat obatan yang kutebak pasti suplemen pembentuk otot. Pil pil berwarna biru menjadi satu dengan benda lain yang membuatku membelalakkan mata.

"Kondom? Untuk apa mas Evans menyimpan kondom sebanyak ini?" Gumamku dengan mata terbelalak sambil mengaduk aduk tas berlogo Adidasi itu.

Mengenai keberadaan alat kontrasepsi di gymbag suamiku, rasanya sulit sekali menyimpulkan sesuatu yang baik, untuk apa suamiku menyimpan alat pencegah kehamilan sebanyak itu disana?

****

(PoV Evans)

Mobil Tante Lisna menjemputku tak jauh dari teras rumah, dimana aku dan istriku berada.

Nurul. Sebenarnya hatiku tak tega menikahi gadis desa yang polos seperti dirinya. Terlebih dia wanita baik baik yang kurenggut Keperawanannya dimalam pertama kami, usai sah sebagai sepasang suami istri dihadapan penghulu dan para saksi.

Berbeda denganku yang sejak remaja, sudah mengenal pengalaman s3x bebas, bahkan kini, berkat senjataku yang besar dan panjang berukuran 21cm ini, menjadikan s3x sebagai ladang uangku.

Yeah, aku adalah seorang gigolo pemuas nafsu yang berpetualang dari satu lubang ke lubang yang lainnya demi mendapatkan uang! Ditunjang dengan penampilan fisikku yang tampan nan gagah, membuatku banyak diburu wanita wanita tua kaya raya dan juga janda kesepian berkantong tebal untuk menghangatkan ranjang mereka.

Tapi benar kata pepatah, uang yang dihasilkan dari sesuatu yang tidak berkah selalu habis begitu saja tak ketahuan rimbanya.

Seperti dua tahun lalu, setelah uang yang kukumpulkan  dari menjadi seorang gigolo cukup banyak. Aku terjun kedunia bisnis perhotelan. Sayang sekali aku ditipu oleh sahabatku sendiri.

Aku berusaha lagi dari 0 untuk mengumpulkan pundi pundi rupiah agar bisa membangun sebuah rumah di ibukota. Namun disaat yang sama aku tergiur dengan bisnis investasi yang menawarkan keuntungan berlipat lipat. Setelah aku menyetor sejumlah uang yang rencananya akan kupakai membangun rumah, perusahaan investasi itu dinyatakan pailit atau scam, bahwa sang owner kabur keluar negeri membawa dana para nasabah.

Aku bahkan terlibat hutang yang cukup besar dengan seorang lintah darat yang terus saja memburuku. Puncaknya para debt colektor itu bahkan menyatroni rumah keluargaku dan mengancam akan membvnuhku jika hutang hutangku tak segera dilunasi.

Bapakpun mencari cara, beliau menemukan ide menikahkan ku dengan anak pak Yusuf, tetangga kami lalu dengan dalih menjadi besan, bapak meminta kerja sama mengelola sawah milik pak Yusuf. Tanpa mertuaku ketahui kalau lahan sawah yang dikelola orang tuaku sudah digadai ke juragan Baron, orang paling kaya dan berkuasa dikampung kami.

Berkat uang dari juragan Baron itulah aku terbebas dari lintah darat dikota. Namun bukan berarti masalah selesai. Aku masih harus melunasi hutang hutangku pada juragan Baron agar sawah milik pak Yusuf kembali ketangan Bapak.

"Sayang, kok dari tadi kamu melamun?" Ujar Tante Lisna yang duduk disampingku sembari menyetir mobil Avanza silver miliknya.

"Enggak kok sayang, aku hanya lagi kepikiran sama bapak aja," kilahku.

"Lho, kenapa dengan bapak kamu sayang? Sakit dan butuh uang lagi buat berobat?" Tanya wanita berumur hampir lima puluhan namun masih sexy itu.

Aku seketika memasang wajah murung dan sedih. Lalu mengangguk.

"Butuh berapa sayang. Ngomong aja. Tiga juta? Lima juta, cukup?" Ujar Tante Lisna lagi dengan mimik wajah khawatir. Aku menyungging senyum miring.

"Sepuluh juta Tante.." lirihku sambil pura pura mengelap air mata. Ya, aku hanya perlu berpura pura ekting dihadapanya, dan uang mengalir lancar.

"Ya sudah, nanti malam Tante transfer ya? Tapi kamu harus temenin Tante dulu malam ini sampai puass!" Ucapnya lagi sambil membelai pipiku dan melempar tatapan nakal ke arah pangkal pahaku.

"Iya Tante.." desahku lagi. Wanita itu terus membawa aku menuju Jakarta. Hanya dua jam jarak rumah ku dirangkas Bitung ke jakarta. Pukul lima sore hari, Tante Lisna menghentikan mobil bututnya didepan sebuah hotel bintang empat.

Tanpa canggung, kami berdua turun lalu melangkah masuk kedalam menuju meja resepsionist.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya tewas tragis setelah dikhianati keluarga dan tunangannya demi mendonorkan hati secara paksa. Kini, ia terlahir kembali dengan ambisi membalas dendam dan merebut haknya yang dirampas. Namun, rencananya terusik oleh kehadiran Randy Logan, CEO angkuh nan dingin yang mendadak terobsesi padanya. Di tengah misi pembalasan, pria kaya raya itu justru mengepung Viona dengan kelembutan posesif yang membuat sang wanita merasa sangat terdesak.
Sampul Novel Dikejar Mantan Posesif
9.6
Tujuh tahun silam, Farel Zay Amanta mendadak lenyap dari hidup Refa Aletta Zafana tanpa sepatah kata pun. Kepergian misterius itu meninggalkan luka mendalam bagi Refa. Kini, Farel kembali hadir secara tak terduga dengan sikap yang sangat posesif. Tanpa memedulikan masa lalu mereka yang penuh tanda tanya, pada pertemuan pertama setelah sekian lama, Farel langsung melontarkan tuntutan mengejutkan agar Refa segera menjadi istrinya saat itu juga.
Sampul Novel DUNIA MAYA
9.2
Aruni Maya adalah wanita tangguh yang hancur setelah kehilangan ibu dan anak angkatnya. Di tengah duka, dia harus menghadapi kekejaman Toni, suaminya yang ternyata hanya mendekati Maya demi membalas dendam masa lalu. Namun, sebuah rahasia besar terungkap bahwa Maya bukanlah anak kandung dari orang tua yang dibenci Toni. Penyesalan datang terlambat saat Maya berjuang bangkit dari pengkhianatan, menemukan jati diri aslinya, dan menghadapi ujian hidup baru yang mendewasakan.
Sampul Novel HATE BEING A RICHMAN
8.3
Tsabit adalah yatim piatu sukses di Woodela yang tetap rendah hati meski kaya raya. Namun, dunianya hancur saat rahasia kelam orang tuanya terungkap. Ia terjebak cinta terlarang dengan Shakeela yang ternyata adalah saudara sedarahnya sendiri. Kenyataan pahit ini membuat Tsabit membenci kekayaannya dan menyesali pertemuan mereka. Meski dosa masa lalu memisahkan keduanya, ikatan tulus yang telah terjalin lama membuat mereka sangat sulit untuk saling melepaskan.
Sampul Novel Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam
9.7
Divonis kanker otak dengan sisa hidup 72 jam, protagonis novel modern misteri Jika Hidupmu Tinggal 72 Jam ini harus menyaksikan suaminya, Zafran, dan keluarganya merebut kesempatan hidupnya demi adik angkatnya, Halida. Di sisa waktunya, ia melepaskan naskah novelnya, menandatangani surat cerai, bahkan merelakan putrinya memanggil Halida ibu. Namun, saat kebohongan kejam Halida akhirnya terbongkar, mereka semua kembali bersujud memohon pengampunannya di saat semuanya sudah terlambat.
Sampul Novel Keluarga Sewaan
8.0
Prima Jayashree, CEO muda Jayashree Company, menghadapi tekanan besar untuk segera menikah demi kelangsungan takhta perusahaan. Dalam keputusasaan, ia berlibur ke Tokyo dan menemukan jasa sewa keluarga. Prima memutuskan menyewa seorang istri serta anak untuk menemaninya. Namun, saat masa sewa berakhir, muncul ide nekat untuk membawa mereka ke Indonesia. Mampukah Prima mengubah sandiwara ini menjadi kenyataan tanpa terbongkar oleh sang ayah?