
JERAT PESONA PRIA 21 CM
Bab 3
Didalam kamar hotel, Tante Lisna merebahkan kepalanya dipangkuan Evans. Wanita tua paruh baya dengan dandanan menor itu memonyongkan bibir merah cabainya ke arah wajah pria tampan yang berusia jauh lebih muda dari dirinya.
Evans tanpa ragu mengecup bibir Tante Lisna sembari tangan kekarnya menyusup kedalam blouse berbelahan dada rendah, lalu meremas gundukan pepaya besar yang sudah kisut dimakan usia.
Keduanya berciuman dengan hangat dan ketat. Hal itulah yang paling disukai Tante Lisna dari seorang Evans. Pria itu memiliki lidah yang mampu menari nari dalam rongga mulutnya. Menyentuh langit langit mulutnya, lalu memilin milin lidah tuanya hingga membuat Tante Lisna merasa sesak karena kehabisan nafas.
Puas saling bercumbu, Tante Lisna bangkit dari rebahannya. Lalu satu persatu mulai melepas pakaian yang dia kenakan. Wanita sexy bertumbuh sedikit berisi itu, nyatanya sudah memiliki gelambir gelambir disekujur tubuhnya. Namun karena demi uang, Evans rela mencumbu tubuh yang sebenarnya sudah layak disebut bau tanah itu.
Tubuh Tante Lisna sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menutupi area sensitifnya. Wanita itu memiliki dua payudara besar yang bentuknya sudah meleyot turun kebawah, gumpalan dan gelambir lemak diperut hingga menutupi bulu bulu lebat di area va9inanya yang rimbun.
Tante Lisna mengambil posisi rebahan dengan melebarkan kedua pangkal pahanya hingga bibir Va9inanya terekspose liar.
Evans segera membuka pakaiannya satu persatu, hingga tubuh kekar dan bidangnya yang ditumbuhi bulu bulu halus itu terekspose jelas. Membuat gairah Tante Lisna membumbung tinggi. Apalagi saat melihat senjata kelelakian Evans yang teramat besar bentuknya, menggantung dipangkal paha lelaki itu dengan urat uratnya yang bersumbulan.
Evans segera beraksi dibagian bawah tubuh wanita paruh baya itu. Meskipun jijik, demi uang Evans rela melakukan apapun demi kepuasan sang pelanggan.
Dengan intens Evans menyapukan lidahnya dibagian bibir Miss V Tante Lisna yang sudah melewati masa menopause itu. Wanita itu mengerang dan merintih.
"Aaah, sayaaang, aaah, uuuuh, aaaaah, nikmatnyaaa," Tante Lisna melenguh tertahan sembari memejamkan matanya. Kedua tangannya menahan kedua kaki ke atas.
Sapuan lidah Evans semakin menggila. Lidah itu terasa menusuk nusuk goa darba dengan papila papila yang membuatnya terasa geli dan menggetarkan tubuh Tante Lisna hingga wanita itu menggelinjang dan kelojotan.
"Haaaah, aaaah, aaah, sayang, baby, uuuh, aaah..." bibir kisut Tante Lisna tak berhenti menceracau menikmati setiap sentuhan Evans dibagian paling sensitif tubuhnya.
Setelah puas bermain main dibagian intim Tante Lisna, kini saatnya wanita tua itu melancarkan aksinya pada senjata kelelakian Evans yang selalu membuatnya lemas lunglai hampir pingsan tiap kali digagahi senjata tumpul gigolonya itu.
Tante Lisna mulai mengulum tongkat bulat panjang berukuran 21cm itu perlahan masuk kedalam mulutnya.
Awalnya, hanya bagian kepalanya saja yang masuk kedalam mulut wanita tua itu hingga bibir Tante Lisna membentuk hurup 'O' besar. Wanita itu mencoba memasukan lebih dalam lagi batang kejantanan Evans, hingga separuh rudal Evans sudah berada dalam mulut Tante Lisna.
Wanita itu mulai mengeluarkan masukkan benda besar itu kedalam mulutnya meskipun sulit dan membuatnya hampir kehabisan nafas.
Mata Tante Lisna memerah, gincu merah dibibirnya sudah luntur oleh air liurnya sendiri karena baru setengah saja rudal milik Evans berada dalam mulutnya. Benda itu sudah menekan kerongkongan dan juga saluran nafasnya.
"Oahhh,,, haaa, haaahh, punyamu besar sekali Vans. Tante sampai tak sanggup mengulumnya.." desah Tante Lisna sambil terengah engah.
Evans tersenyum miring. Dia merasa bangga dengan senjata miliknya yang berukuran luar biasa besar hingga membuat para wanita tergila gila dan menyerah sebelum waktunya.
Evans merebahkan tubuh gempal wanita itu lalu mengangkat kedua kakinya ke atas. Evans memulai serangan digua darba milik Tante Lisna yang rimbun ditumbuhi semak belukar.
"Aaah, aaaw, pelan pelan saja sayang! Aaahak!" Tante Lisna yang rebahan miring sambil mengangkat satu kaki, merasakan rudal besar milik Evans mulai merangsek masuk kedalam gua darba'nya yang kisut itu.
Evans memajukan bokongnya perlahan lalu hingga senjata miliknya masuk seluruhnya kedalam Ciput embem' Tante Lisna yang sudah kendor itu.
"Aaaaah, aaaw, saakiit Van. Pelan pelan..." rengek Tante Lisna seperti anak kecil minta boneka. Evans dengan sabar menggoyang pantat. Mengaduk aduk rahim wanita tua itu hingga Tante Lisna mulai merasakan sensasi nikmat yang luar biasa.
"Aaah, aaaah, terus sayang.. nikmat sekali. Terus goyang... aaah, huuuhh, aaaaah" Tante Lisna terus menceracau dengan mata merem melek menikmati setiap penetrasi burung milik Evans dalam Ciput embemnya. Tubuh wanita itu ikut terayun ayun dan terhempas sambil kedua tangannya meremas kedua gunung kembarnya yang sudah kendor dan melorot.
Evans terus memacu bokongnya dengan ritme dan irama beraturan.
Dua puluh menit Evans membolak balikkan tubuh janda tua semox itu dengan berbagai gaya hingga Tante Lisna hampir pingsan menghadapi gairah Evans, tubuh keduanya menegang. Evans bahkan mencengkram kuat kuat dua pepaya Tante Lisna yang besar dan kisut itu saat merasakan tubuhnya bergetar dan menegang.
"Aaah, aaaaah,"
Crot!
Crot!
Crot!
Evans segera menyemburkan cairan kental putihnya ke wajah Tante Lisna, hingga cairan itu membasahi seluruh wajah wanita tua.
Tante Lisna menjulurkan lidahnya, sambil menjilati sisa sisa cairan kenikmatan dibagian kepala senjata kelelakian Evans dengan rakus.
"Aaah, tantee.. aaah" Evans mengerang, sesaat setelah cairannya tumpah, dirinya merasakan geli luar biasa akibat sapuan lidah wanita tua itu.
Evans terkulai lemas diatas ranjang. Namun karena senjatanya terus menerus di Jilatin Tante Lisna, membuat rudalnya yang semula mengkerut kembali bangkit. Terlebih Evans sudah minum pil biru sebelum bercinta dengan wanita tua itu.
Tante Lisna menyeringai. Dia memang wanita hipersexs yang tak puas hanya dengan sekali ronde. Hanya Evans lah pemuda luar biasa yang mampu memuaskan hasratnya berkali kali.
Evans sudah tau akan hal itu. Dirinya kembali bersiap siap dengan permainan ronde kedua.
***
(PoV Nurul)
"Nurul, boleh ibu bicara sesuatu nak?" Tanya Ibu mertuaku yang tiba tiba saja sudah berdiri di ambang pintu kamarku yang setengah terbuka. Aku masih sibuk menyetrika baju baju milikku yang tadi siang ku jemur.
"Iya Bu, masuk aja. Maaf ya Bu, Nurul sedang sibuk nyetrika baju," ucapku sambil terus menyapukan benda panas berbentuk kerucut itu diatas baju baju dinasku.
Tanpa ragu, Bu Ningsih masuk dan duduk ditepian ranjang. Dia mengamati sekeliling ruangan kamarku yang sekarang jauh lebih rapi dan tertata.
"Ruli, ibu mau minjam uang buat bayar sekolah Tiwi. Sebentar lagi kan Tiwi ujian semester. Dia tak diperkenankan mengikuti ujian kalau tunggakan SPPnya belum dilunasi..." Bisik ibu mertuaku dengan suara pelan dan wajah menunduk.
Deg! Aku terkesiap mendengar permintaan ibu mertuaku kali ini. Lagi lagi masalah uang, setelah kemarin mas Evans juga meminjam uang padaku.
"Memangnya Tiwi butuh uang berapa Bu? Nurul sih ada uang simpanan. Tapi jumlahnya enggak banyak. Yah, namanya juga Nurul cuma pegawai honorer Bu...." sahutku. Terus terang, aku sebenarnya memiliki tabungan yang aku simpan di Bank. Namun uang itu rencananya akan kugunakan untuk membangun usaha dimasa depan, dan akupun tak pernah mengganggu gugatnya.
"Hanya sembilan ratus ribu saja Ruli. Seharusnya Tiwi tak ada tunggakan SPP, karena setiap bulan bapaknya selalu memberikan uang SPP. Tapi rupanya Tiwi memakai uang itu untuk membeli skincare, bedak dan parfume. Bapak mau marah juga percuma, toh uangnya sudah tak ada lagi. Semuanya baru ketahuan, saat Tiwi akan ujian semester ini, bapakmu mendapat surat panggilan dari pihak sekolah agar melunasi tunggakan SPP Tiwi." Papar Bu Ningsih dengan wajah sedih dan tertunduk. Aku menatap lekat lekat wajah tuanya. Tak ada kebohongan disana.
Sejenak aku menghela nafas berat. Belum juga seminggu aku menjadi bagian dari keluarga ini, tapi aku harus dihadapkan dengan masalah masalah yang cukup pelik. Apalagi ini menyangkut uang. Segalanya akan sensitif jika sudah menyangkut uang.
"Ya sudah, Nurul ada kok Bu simpanan uang segitu. Tapi memang itu uang sering Nurul pakai disaat saat mendesak, seperti misal saat sakit dan lainnya..."
"Ibu usahakan secepatnya mengembalikan uang kamu Nurul. Doakan saja bulan depan, bapak bisa menjual hasil panen sawah kami. Ibu pasti akan langsung mengganti uang kamu, nak..." lirih Bu Ningsih. Aku mengangguk lalu menghentikan sejenak aktivitas menyetrika. Aku mengambil uang dalam dompet yang tersimpan dalam lemari baju.
"Ini Bu, uangnya," aku menyerahkan sembilan lembar uang berwarna merah ketangan ibu mertuaku. Senyum lebar mengembang dari bibirnya. Sontak, beliau langsung memelukku.
"Terima kasih ya nak. Kamu benar benar penyelamat Tiwi. Entah harus cari pinjaman dimana ibu, andai kamu tidak ada..." ucapnya sembari mengelus jilbab instan dikepalaku.
"Iya sama sama Bu. Yang penting sekarang Tiwi bisa ujian. Mengenai uang ini, ibu bisa mengembalikannya kapan saja...." pungkasku. Bu Ningsih keluar dari kamarku dengan wajah cerah.
Hari ini masa cuti ku habis, karena aku hanya mendapat jatah cuti tiga hari dari sek0lah tampatku mengajar, lalu besok aku akan kembali mengajar seperti semula.
Harusnya pasca menikah, aku bisa menghabiskan waktuku bersenang senang dengan mas Evans. Tapi bahkan baru sehari mas Evans menikahiku, dirinya langsung pergi ke Jakarta meninggalkan ku sendiri dirumah orang tuanya.
Namun sebagai seorang istri yang baik, aku akan berusaha bersabar. Aku tahu ujian rumah tangga setiap orang akan berbeda beda. Termasuk diriku yang mendapatkan sosok suami tampan dan sempurna secara lahir, namun sikapnya masih dingin dan tak acuh terhadapku. Biarlah waktu yang akan merubah semua, begitu pikirku.
Satu hal yang masih mengganjal dalam pikiranku dan aku harus mencari tahu langsung dari mas Evans. Yaitu mengenai banyaknya alat kontrasepsi yang dia simpan didalam tasnya...
(Bersambung)
Anda Mungkin Juga Suka





