Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jejak Cinta di Atas Abu

Jejak Cinta di Atas Abu

Tiga hari pascakematianku, Sandi Subowo menerima panggilan telepon untuk mengidentifikasi jasadku. Alih-alih peduli, dia justru asyik merangkul wanita lain di pelukannya dan dengan dingin memerintahkan agar tubuhku langsung dikremasi sebelum dia dihubungi kembali. Setelah jasadku hangus terbakar menjadi abu di dalam tungku, petugas medis kembali menghubungi Sandi. Dengan nada tidak sabar dan enggan, pria itu akhirnya setuju untuk datang ke lokasi kremasi.
Bab
Bagikan

Bab 2

Aku membelalak tidak percaya. Baru sekarang aku sadar, Sandi ternyata membenciku sedalam ini.

Begitu bencinya sampai kematianku menjadi hal yang layak dirayakan baginya.

Namun, Sandi, aku benar-benar sudah mati, hanya saja kamu tidak percaya.

Mobil berhenti di depan sebuah toko gaun pengantin. Sandi melangkah masuk dengan langkah lebar dan cepat.

Dia terlihat begitu antusias, persis seperti hari ketika kami diam-diam menikah, lalu dia mengajakku ke toko gaun pengantin ini.

Saat itu, dia tidak sabar ingin melihatku mengenakan gaun pengantin.

Dia memelukku dengan penuh semangat, berkata bahwa aku adalah pengantin tercantik di dunia ini.

Namun kini, dia memandang Irene yang mengenakan gaun pengantin dengan tatapan lembut yang sama.

Dia menyibakkan rambut yang jatuh di telinga Irene dengan penuh perhatian, lalu berkata dengan suara lembut, "Cantik."

Irene menunduk malu-malu dan tersenyum. Ketika dia mendongak, matanya sudah penuh dengan air mata.

"Sandi, penantianku berakhir."

Aku terpana menyaksikan Irene mencium pipi Sandi.

Aku ingin segera menghentikan semua ini.

Namun, tanganku justru menembus tubuh Sandi, dan aku hanya bisa menatapnya dengan linglung saat dia menyematkan cincin ke jari tengah Irene.

Bagaimana bisa?

Kenapa harus Irene?

Bukannya Irene yang menyebabkan kematian ibu Sandi?

Sandi!

Aku membuka mulut, suara serakku dipenuhi kemarahan dan kesedihan.

Namun tubuhku terasa mati rasa. Aku hanya bisa menyaksikan semua ini dengan putus asa.

Irene dengan penuh semangat memandang cermin, lalu tiba-tiba bertanya, "Omong-omong, Sandi, dia nggak apa-apa, 'kan?"

Kita semua tahu siapa "dia" yang dimaksud.

Ekspresi Sandi berubah dingin, bahkan tampak agak jengkel.

"Bisa apa dia? Itu cuma trik kecil."

"Kalau begitu, apa kita akan mengundangnya ke pernikahan kita?"

Sandi menundukkan pandangannya, menyembunyikan emosi di dalamnya. Lalu, senyum jahat tiba-tiba muncul di sudut bibirnya.

"Tentu saja harus diundang. Dia orang penting, 'kan."

Saat itu aku langsung mengerti, Sandi ingin aku menyaksikan pernikahannya dengan mata kepalaku sendiri.

Bagaimanapun, ini adalah adegan yang selama ini aku nantikan.

Dulu, karena belum mendapatkan restu dari ibunya, kami hanya menikah tanpa mengadakan pesta pernikahan.

Kemudian, pesta pernikahan pun menjadi harapan yang terlalu mewah bagiku.

Karena ibunya meninggal terkena serangan jantung dan tidak tertolong.

Pada malam saat ibunya meninggal, panggilan telepon terakhirnya adalah untukku.

Karena itu, Sandi merasa wajar mencurigai bahwa akulah yang menyebabkan kematian ibunya.

Pada hari pemakaman ibunya, Sandi memaksaku berlutut di depan makam selama sehari semalam.

Hari itu hujan sangat deras. Kami saling menatap di bawah hujan.

Matanya penuh dengan kekecewaan dan kebencian.

Dia berkata, "Yulia, mulai sekarang, kamu dan aku tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita mati."

Sejak saat itu, aku yang sebelumnya menjadi kekasihnya, berubah menjadi musuhnya.

Dia membenciku, mempermalukan aku, tetapi tidak mengizinkanku pergi darinya.

Bahkan dia membawa wanita lain pulang untuk bermalam.

Ketika dia melihat mataku memerah, dia hanya tertawa kecil sambil menepuk wajahku dengan mengejek, "Yulia, rasanya sakit, ya? Tapi, ini semua salahmu sendiri. Siapa yang bisa kamu salahkan?"

Aku berusaha menjelaskan, tetapi itu hanya membuat Sandi makin kejam.

Dia tidak pernah meragukan kesimpulannya, karena dia tahu ibunya tidak menyukaiku.

Bahkan ibunya pernah berkata bahwa seumur hidup aku tidak akan pernah diizinkan masuk ke rumah Keluarga Subowo.

Untuk itu, Sandi sering bertengkar dengannya, bahkan rela memutus hubungan dengan Keluarga Subowo, hanya demi bersamaku.

Namun, wanita yang dia cintai menjadi penyebab kematian ibunya.

Bagaimana mungkin Sandi bisa menerima itu?

Tak lama, Irene pun pergi.

Sandi seperti baru teringat padaku.

Dengan baik hati, dia menghapusku dari daftar hitamnya. Lalu, dengan satu tangan mengetuk-ngetuk setir, dia menekan nomorku dengan tangan yang lain.

Beberapa saat kemudian, aku melihat alisnya yang tadinya santai kini mulai berkerut.

Dia memukul setir dengan kesal untuk melampiaskan amarahnya.

"Yulia, berani-beraninya kamu nggak menjawab teleponku. Apa kamu cari mati?"

Namun, dia tidak tahu, aku bukan tidak ingin menjawab teleponnya.

Aku sudah tidak bisa menjawabnya lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masih Bocil, Om
9.5
Ulang tahun ke-18 yang seharusnya indah berubah menjadi kenyataan pahit bagi seorang gadis muda. Ia terpaksa menikah dengan David, pria dewasa yang asing baginya. Alih-alih romantis, interaksi mereka justru diwarnai perdebatan konyol soal kartu kredit versus uang tunai untuk membeli jajanan. Di tengah ketidakpastian masa depan pernikahannya, sosok Dinar muncul dan terang-terangan menanti status jandanya. Akankah ia menemukan bahagia atau justru terjebak sengsara?
Sampul Novel Ceo suamiku (season 2)
9.7
Hidup Tasya mendadak berubah menjadi penuh gangguan sejak kehadiran Revan dalam kesehariannya. Sebagai CEO baru yang mengambil alih takhta kepemimpinan perusahaan dari sang ayah, Revan kerap bertindak menyebalkan dan mengusik ketenangan Tasya secara konstan. Hubungan profesional antara atasan dan bawahan ini pun diwarnai dengan berbagai momen menjengkelkan yang membuat Tasya sulit bernapas lega karena ulah bosnya yang terus mengejar dan mengganggunya.
Sampul Novel Cinta masa kecil
9.0
Dina dan Arga berbagi masa kecil yang indah sebelum akhirnya terpisah oleh jarak dan ambisi. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di kota besar. Dina kini menjadi desainer gigih, sementara Arga telah bertransformasi menjadi pengusaha sukses. Meski kehidupan mereka telah berubah, perasaan lama yang terpendam perlahan muncul kembali. Di tengah keraguan masa lalu, mereka harus mencari tahu apakah ikatan masa kecil ini adalah jodoh sejati.
Sampul Novel Do Not Love Me
9.4
Hari pertama Kayla Prawijaya di sekolah baru menjadi kacau sejak bertemu Mexsi Megantara, murid pindahan asal Singapura. Hubungan mereka diawali kebencian karena Kayla tak mengerti alasan Mexsi begitu memusuhinya. Namun, fakta mengejutkan terungkap bahwa mendiang kakak Mexsi adalah cinta pertama Kayla. Rasa benci itu berubah jadi cinta saat Mexsi mengetahui Kayla mengidap kanker darah. Mampukah Mexsi tetap bertahan mendampingi Kayla di tengah ujian pilu ini?
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Istri Yang Tak Dianggap
9.6
Kebahagiaan Arshella setelah akhirnya memiliki Dion sepenuhnya kini terancam oleh kemunculan sosok dari masa lalu. Kehadiran pria tersebut membawa komplikasi besar dalam kehidupan rumah tangga mereka. Situasi semakin memanas dan tak terkendali ketika sang pria secara mengejutkan mengklaim dirinya sebagai ayah kandung dari anak Arshella. Kini, Arshella harus menghadapi dilema berat yang menguji kesetiaan serta keutuhan cintanya bersama Dion.