Sampul Novel Jauhkan kain putih itu Dariku

Jauhkan kain putih itu Dariku

9.2 / 10.0
Dalam novel horror Jauhkan kain putih itu Dariku, Alana harus menyingkirkan setiap kain putih yang memicu kejadian di luar nalar. Baca mystery story ini untuk mengungkap teror yang mengancam nyawanya. Temukan ketegangan dalam horror novel ini hanya di platform read novels online kami.
Ringkasan Jauhkan kain putih itu Dariku
Alana terbangun dengan napas memburu dan tubuh gemetar akibat teror mimpi buruk. Tatapannya terpaku penuh ketakutan pada kain putih di sudut kamar saat keringat dingin membasahi wajahnya. Bagi Alana, objek itu bukan sekadar benda biasa, melainkan pemicu berbagai kejadian mistis di luar nalar. Ia bertekad menjauhkan kain itu dari hidupnya karena kehadirannya selalu membawa petaka, meski orang lain menganggap warna putih sebagai simbol kebaikan yang murni.
Baca Selengkapnya

Jauhkan kain putih itu Dariku Bab 1

Di dalam bangunan rumah dua lantai yang tidak terlalu besar, Alana tinggal bersama kedua orang tuanya, dan kedua adiknya, Adzriel dan Qiara.

Alana Ramdhani, itu adalah nama lengkapnya, Alana sekarang berusia 23 tahun, dia sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi negeri jurusan Arsitektur, semester Akhir.

Suara derap langkah Alana terdengar di atas lantai kayu jati, dia sedang menuju kamarnya untuk tidur, dia segera mematikan lampu kamar dan membaringkan badannya di atas ranjang, jarum jam menunjukkan pukul 02.33 malam, remang cahaya bulan menerobos menuju kamar Alana melewati jendela kamarnya yang tiba-tiba terbuka,

“Praak!”

“Wush.”

Suara napas Alana terengah-engah, sekali lagi Alana mengalami mimpi buruk, keringat mengalir deras dari pelipisnya menuju leher, badannya bergetar hebat, kepala Alana bergerak ke kiri dan ke kanan secara terus-menerus,

“Aku sedang berada di mana?” ucapnya.

Alana berjalan melewati sebuah lorong panjang rumah sakit menuju jalan raya, kepulan asap putih menghalangi jarak pandangnya, angin berhembus kuat di sekeliling Alana, membuat jendela rumah sakit terbuka dan tertutup dengan tiba-tiba, pandangan Alana tertuju pada papan nama rumah sakit yang terlihat kotor di penuhi debu dan beberapa bagiannya sudah penyok, terlihat tanaman liar menjalar di papan nama rumah sakit,

Rumah Sakit Permata. “Mengapa rumah sakit ini sangat sepi tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini?” gumamnya sambil berjalan menuju gerbang rumah sakit, mobil ambulan yang bertandang di parkiran rumah sakit tampak kotor dan penyok di bagian belakang.

Alana memegang tengkuknya yang meremang, tiupan angin terasa berhembus di telinganya.

“Astagfirullahal’adzim.” Dengan sigap dia menoleh ke belakang, namun tidak ada siapapun yang berada di sekitarnya. Alana mengedarkan pandangannya dengan liar, sesosok wanita bergaun putih lusuh rambut panjang menjuntai aur-auran berdiri di sudut rumah sakit. Belum sempat memperhatikan wajahnya, Alana berbalik dan berjalan secepatnya menuju gerbang. Perasaan takut menyelimuti Alana, tubuhnya gemetar, sosok bayangan putih sekilas melintas dari hadapan Alana, tidak jauh dari posisi Alana memijakkan kakinya, di depannya, seorang anak kecil berdiri dengan pakaian lusuh memeluk boneka. Anak perempuan itu melambaikan tangannya memanggil Alana, wajahnya sangat pucat, kedua matanya bolong, dalam sekejap mata anak itu berpindah posisi ke depan Alana, dan memegang tangan Alana,

“Aaaaa!”

Saat Alana sedang berusaha melepaskan pegangan anak perempuan itu dari tangannya, anak itu tiba-tiba menghilang dari hadapan Alana, dengan napas terengah-engah, dia berusaha berlari menjauh dari rumah sakit kosong tak terpakai.

***

“Alana! Alana bangun!” ucap ibunya, sambil menggoyangkan tubuh Alana. “Qiara tolong ambilkan air minum!” ucap ibu kepada Qiara-adik perempuan Alana.

“Baik, Bu,” ucapnya sambil berjalan menuju dapur.

Kedua mata Alana terbuka lebar, ia terbangun dari mimpinya dengan napas yang tersengal-sengal dan badan yang bergetar.

“Bu ….” Suaranya terdengar lemah dan serak. “Alana mimpi buruk lagi,” ucapnya.

“Ya, ibu tahu, suara mengigau kamu terdengar sampai ke kamar ibu dan Qiara,” ucap ibu sambil memeluk anak sulungnya.

Qiara berjalan memasuki kamar Alana membawa satu gelas air putih, dan langsung memberikannya kepada Alana, dia segera meminumnya hingga tetesan terakhir.

“Ya sudah, lebih baik sekarang kamu mengambil wudhu dan salat malam,” ucap ibunya seraya berjalan keluar dari kamar Alana.

“Ya, Bu,” jawab Alana.

Alana berjalan menuju kamar mandi dengan rasa takut yang masih menyelimutinya, memutar keran lalu membasuh mukanya hingga kaki, dengan berwudhu dengan tertib, lalu berdo'a di luar kamar mandi. Dia mengambil mukena miliknya yang tergantung di dalam lemari, kemudian menunaikan salat tahajjud.

“Allahuakbar.”Seruan takbir menjadi tanda bahwa Alana sudah memulai salatnya, sekitar 15 menit berlalu, dua rakaat salat tahajjud sudah selesai Alana laksanakan. Setelah berdo' a dia menyimpan kembali mukenanya ke dalam lemari.

Alana melihat ke arah jendela yang terbuka lebar. "Rasanya aku sudah menutup jendela dengan rapat sebelum aku beranjak tidur, tapi kenapa jendela ini bisa terbuka dengan sendirinya,” ucapnya bergumam.

Alana segera menutup jendela dengan rapat, dia melihat ke luar jendela, tapi hanya terdengar gonggongan anjing yang terdengar sangat mengerikan.

“Auuuuu!”

Tidak mau berlama-lama di dekat jendela dia beranjak ke tempat tidur untuk berbaring dan menarik selimutnya. Alana menatap ke arah kain berwarna putih yang tergantung di sudut ruangan. Dia merasa seolah seseorang sedang memperhatikannya dari balik kain warna putih, dia memberanikan diri untuk kembali menuju stop kontak dan menyalakan lampu kamarnya. Kain berwarna putih itu adalah sarung yang di gantungnya tadi sore.

“Ada apa dengan kain putih ini, mengapa aku merasa seolah ada energi negative yang menyerap energiku, setiap kali ada kain putih ini di sekitarku. Entah itu mimpi buruk atau kejadian mistis,” ucap Alana sambil menggantung kembali kain putih itu ke tempat semula.

“Hah, tidak mungkin, pikiranku pasti salah, bagaimana mungkin kain putih membawa energi negative untukku, sementara kain ihram untuk ibadah haji saja berwarna putih. Lebih baik aku membuang jauh pikiran burukku mengenai kain putih ini, dan melanjutkan tidurku,” ucap Alana dalam hati.

Alana kembali ke tempat tidur tanpa mematikan lampu kamar. Dia mengambil ponsel yang di letakkannya di atas meja dekat ranjang, satu pesan masuk dari Citra belum terbaca oleh Alana, citra adalah teman satu kampus dan satu kompleks dengannya, “Alana sore ini aku berangkat ke rumah keluargaku di Sukamulya untuk empat hari ke depan,” ucapnya.

“Bukankah tadi malam aku berjalan bersama Citra di gang sebelah? Kalau citra ke rumah keluarganya sore tadi, lantas aku bersama siapa tadi malam?” ucap Alana dengan mulut menganga, bagaimana bisa?

Alana ingin menelepon Citra, namun ini masih waktu tengah malam, jam menunjukan tepat pukul 03.00 dini hari.

“Ehem!”

“Ehem!”

Suara orang berdehem terdengar keras dari luar kamar Alana, dia menajamkan pendengarannya. Namun suara itu sudah tidak terdengar lagi, rambut tangan Alana berdiri, bulu kuduknya meremang. Dengan lampu yang masih menyala, dia tidur bersembunyi di balik selimut.

“Kukuruyuk!”

“Kruyuk!”

Suara kokok ayam tetangga sebelah membangunkan Alana dari tidurnya, ponselnya masih berada dalam genggaman tangannya, suara azan subuh terdengar dari speaker masjid, dia melihat jam di layar ponselnya sudah menunjukkan waktu subuh,

“Alana ayok bangun, salat subuh Nak, kita salat berjama'ah sama bapak,” ucap ibunya terdengar dari balik pintu.

Alana mengumpulkan semua keberanian, berjalan menuju pintu dan memutar gagang pintu kamarnya.

“Krieet ….”

Ibunya berdiri di depan pintu dengan wajah yang basah, “Ya Bu, sekarang Alana segera menyusul ke mushalla (masjidul bait),”ucap Alana sambil melangkah menuju lemari untuk mengambil mukena.

“Cepat Alana, bapak sudah menunggu kita,”ucap ibunya seraya berjalan menuju mushalla.

Alana segera mempercepat langkahnya untuk mengambil air wudhu dan mengenakan mukenanya, dan menunaikan salat berjama'ah bersama keluarganya.

“Assalamu'alaikum warahmatullah.”

“Assalamu'alaikum warahmatullah.”

Pagi menjelang, fajar mulai tampak, Alana sedang membantu ibunya memotong sayur yang sedari tadi sedang mencuci piring. “Yang cepat sedikit Nak masaknya, bentar lagi bapak berangkat kerja, dia harus sarapan,” ucap ibunya.

“Bu, tadi malam waktu Alana sedang membaringkan badan, suara orang berdehem terdengar dari luar kamar Alana, apa semalam ibu berjalan melewati kamar Alana?”tanya Alana.

“Tidak Alana, selesai membangunkan kamu dari mimpi buruk, semalam ibu langsung masuk ke dalam kamar, ibu tidak kemana-mana lagi,”jawab ibu yang sedang sibuk mencuci piring di wastafel.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Jauhkan kain putih itu Dariku

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Cintaku T'lah Mati
9.3
Setelah lima tahun terjebak dalam pernikahan paksa, Karen akhirnya memutuskan untuk mengajukan perceraian dari Mark. Keputusan ini disambut dengan sangat antusias oleh sang suami yang langsung menyiapkan berkas kesepakatan demi memperoleh kebebasannya kembali. Saat proses perceraian berlangsung, Mark bahkan tega membawa kekasih sejatinya untuk memamerkan kebahagiaan sekaligus mencemooh nasib malang Karen. Di tengah pandangannya yang mulai mengabur, Karen meratapi kepedihan tersebut dan bertekad tidak akan menjalani kehidupan yang menyedihkan lagi di masa depan.
Sampul Novel Forced Marriage
9.2
Joan Arkan Rivenno, CEO sukses yang jatuh hati pada pandangan pertama, dijodohkan dengan aktris jelita Liza Nathalia Hope. Sayangnya, Liza menolak karena menganggap Joan hanya kakak dan ia sudah memiliki kekasih. Meski Liza terang-terangan menentang, obsesi Joan justru makin menguat. Suatu malam, Joan melakukan tindakan nekat yang merenggut kesucian Liza hingga ia hamil. Pernikahan paksa pun terjadi, meski hati Liza penuh dengan penolakan dan rasa benci.
Sampul Novel Iblis Suci
9.1
Limdong tumbuh dalam kesendirian setelah orang tuanya tewas demi publik. Ia dikucilkan karena kekuatan dahsyat di tubuhnya sering meledak tanpa kendali, membuat siapapun tak berdaya melawannya. Demi mencari perhatian yang tak pernah ia dapatkan, Limdong sering bertingkah jahil, namun hal itu justru membuatnya kian dijauhi. Di tengah pengasingan sosial tersebut, ia memendam ambisi besar untuk menjadi Raja. Mampukah sosok yang dianggap aneh ini meraih mimpinya?
Sampul Novel Kepingan Hati
9.5
Rafa Dwindra Athaya harus menghadapi kenyataan sulit saat jatuh hati pada gurunya sendiri, Khafa Aseanda Zayn. Meski Khafa terus menolak karena perbedaan usia dan status sosial, takdir justru menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan yang tak terduga. Kini, Rafa berjuang keras memenangkan hati sang istri yang masih menutup diri. Baginya, mencintai Khafa adalah pilihan hidup, namun membangun masa depan bersama perempuan itu adalah tujuan akhirnya yang paling utama.
Sampul Novel Love In Bandung
9.2
Bandung menyimpan rahasia di balik romatismenya. Lisa memendam cinta pada sahabatnya, Reyhan, hingga Louis datang dari Singapura dan merebut hatinya. Saat Lisa dan Louis menjalin kasih, Reyhan justru baru menyadari perasaannya. Namun, sebuah kenyataan pahit muncul menghalangi penyatuan Lisa dan Louis meski keduanya saling memuja. Walau Reyhan mencoba masuk, posisi Louis tak tergantikan. Akankah Lisa memilih salah satu dari mereka, atau justru kehilangan keduanya?
Bab
Baca Sekarang
Bagikan