Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jatuh Bangun sang Pengacara Cantik

Jatuh Bangun sang Pengacara Cantik

Setelah delapan tahun bersama, Kaivan ingin menyingkirkan Adeline, cinta pertamanya. Tiga tahun berjuang membuat rasa cinta Adeline habis hingga ia memutuskan pergi. Kaivan meremehkan perpisahan ini dan yakin Adeline akan memohon kembali. Namun, ia justru dikejutkan oleh kabar pernikahan Adeline dengan pria lain. Saat melihat Adeline bersiap melangkah ke altar, Kaivan baru menyadari kehilangan besarnya. Ia berlutut memohon di hari pernikahan, tetapi Adeline memilih mengabaikannya demi memulai hidup baru.
Bab
Bagikan

Bab 3

Saat menyadari tatapan Adeline, Lesya segera mengulurkan tangan untuk menutupi gelang itu. Matanya berkilat panik dan dia tanpa sadar bersembunyi di belakang Kaivan.

Kaivan menariknya ke belakang dan menatap Adeline. "Buat apa kamu menatap Lesya?"

Mata Adeline sedikit memerah. "Kaivan, kenapa kamu kasih Lesya gelang yang sama? Kamu jelas-jelas bilang gelang itu dibuat khusus untukku."

"Lesya melihatmu memakainya dan bilang dia sangat menyukainya. Aku nggak mungkin kasih gelangmu padanya, 'kan? Lagian itu cuma sebuah gelang. Sejak kapan kamu jadi orang yang berhati sempit?"

Ekspresi Kaivan dipenuhi dengan ketidaksabaran, seolah-olah dia sedang membicarakan hal sepele.

Rasa tidak percaya terpancar di mata Adeline. "Tapi, waktu kamu memberikannya padaku, kamu bilang ...."

Sebelum Adeline selesai berbicara, Kaivan sudah menyela dengan kening berkerut, "Adeline, memangnya hidup di masa lalu itu menarik, ya? Kamu sendiri juga sudah bilang itu waktu itu."

Kaivan paling membenci ketika Adeline mengungkit masa lalu. Sebab, itu akan mengingatkannya pada dirinya yang berulang kali gagal dalam membangun usaha dan masa-masa kelamnya.

Adeline memang menemaninya melewati semua masa kelam dan kegagalan saat itu. Namun, setelah bisnisnya sukses, Kaivan pun tidak ingin lagi mengingat masa-masa sulit itu dan perlahan-lahan merasa bosan pada Adeline.

Adeline menatapnya dengan tatapan sedih, bagaikan kaca yang hampir pecah. "Jadi, janji yang kamu buat bisa berubah dan diingkari dengan begitu saja?"

Kaiva menatapnya dengan dingin, "Aku pernah janji untuk menikahimu, jadi karena kamu mau menikah denganku, aku sudah setuju. Apa lagi yang kamu inginkan? Adeline, satu-satunya kesalahanku padamu adalah, aku tak lagi mencintaimu. Memangnya aku nggak punya hak untuk ambil keputusan mengenai siapa yang kucintai?"

Adeline mengedipkan matanya dan air matanya pun menetes. Ternyata setelah hati seorang pria berubah, janji yang dibuatnya juga tidak berlaku lagi, bagaikan istana pasir yang bisa dengan mudahnya roboh tertiup angin.

Cinta Kaivan bisa kandas, tetapi bagaimana dengan Adeline? Apa yang harus dia lakukan? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk melupakan masa-masa ketika mereka masih saling mencintai? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk menerima perubahan hatinya? Bagaimana dia bisa meyakinkan dirinya untuk melepaskan Kaivan dan juga melepaskan dirinya ....

Melihat Adeline menggigit bibir pucatnya tanpa berkata apa-apa, Kaivan merangkul Lesya dan berjalan pergi. Sosoknya pun menghilang di belokan.

Adeline mengedipkan matanya yang perih dan berdiri di sana cukup lama. Setelah menenangkan diri, dia baru berjalan kembali ke ruang privat.

Makan malam ini baru berakhir pada larut malam. Sampai melihat rekan kerja terakhirnya meninggalkan restoran, Adeline baru melaju pulang. Ketika tiba di rumah dan membuka pintu, ruangannya masih gelap. Seperti dugaannya, Kaivan tidak kembali.

Bayangan Kaivan dan Lesya yang berciuman di wastafel kembali muncul di benaknya. Rasa sakit yang mendalam juga muncul di hatinya. Dia memejamkan mata dan menahan air matanya.

Adeline berjalan ke meja rias, lalu membuka kotak perhiasan dan mengeluarkan gelang emas tulip dari dalam. Gelang yang dulunya membuat hatinya berbunga-bunga setiap kali melihatnya kini malah membuat hatinya terasa sakit. Berhubung gelang itu tidak lagi eksklusif, dia juga tidak perlu menyimpannya lagi.

Adeline menggigit bibirnya dengan perasaan getir dan melepaskan genggamannya. Gelang itu terlepas dari tangannya dan jatuh ke tempat sampah di bawahnya dengan mengeluarkan suara dentuman, tepat seperti dentuman kosong di dadanya saat melihat Lesya mengenakan gelang itu.

Selama beberapa hari selanjutnya, Kaivan tidak pulang. Adeline mengiriminya pesan setiap hari untuk mengingatkannya mencoba gaun pengantin pada hari Sabtu, tetapi Kaivan tidak membalas.

Pada Sabtu pagi, Adeline bangun, mandi, dan sedang merias wajah ketika menerima pesan dari Kaivan.

[ Aku sudah sampai di toko gaun pengantin. ]

Adeline pun bergegas pergi ke toko gaun pengantin. Ketika melihat Lesya yang sedang merangkul lengan Kaivan dengan manja, mata Adeline tanpa sadar menjadi dingin. "Kaivan, hari ini kita mau coba gaun pengantin. Buat apa kamu membawanya kemari?"

Kaivan terlihat santai, seolah-olah tidak merasa ada yang salah. "Setelah coba gaun pengantin, aku dan dia mau pergi bahas kerja sama. Buat apa kamu permasalahkan hal sepele seperti ini?"

"Hal sepele? Di matamu, ini benar-benar cuma masalah sepele?"

Pada hari mereka mencoba gaun pengantin, Kaivan membawa datang selingkuhannya untuk membuatnya sakit hati. Apakah dia juga akan membiarkan Lesya menghadiri resepsi pernikahan mereka?

Lesya melepaskan lengan Kaivan dan bersikap agak panik. "Pak Kaivan, sudah kubilang aku nggak seharusnya datang .... Sebaiknya aku kembali ke perusahaan dulu .... Habis kamu selesai coba gaun pengantin, aku baru ...."

"Nggak perlu." Kaivan berbalik untuk menatap Adeline suaranya menjadi dingin. "Kamu mau coba atau nggak? Aku sangat sibuk dan nggak punya waktu untuk dihabiskan bersamamu di sini."

Adeline mengenal Kaivan dengan baik. Ketika dia mengerutkan kening, itu berarti dia sudah sangat tidak sabar. Jika Adeline mengatakan dirinya tidak ingin mencoba sekarang, Kaivan pasti akan langsung berbalik dan pergi.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Adeline berbalik dan berjalan masuk ke toko gaun pengantin. Begitu dia melangkah masuk, karyawan toko segera menghampirinya dengan senyum lebar. Saat melihat Kaivan di belakang Adeline dan Lesya di samping Kaivan, ada sedikit keterkejutan di matanya, tetapi dia masih tetap tersenyum.

"Pak Kaivan, Bu Adeline, selamat pagi. Gaun pengantin yang kalian pesan sudah sampai. Mari kubawa kamu pergi mencobanya."

Adeline pernah belajar sedikit tentang desain sebelumnya. Dia menghabiskan setengah tahun untuk menyelesaikan desain gaun pengantin ini di bawah bimbingan seorang desainer ternama dalam negeri. Upaya yang dicurahkannya dalam hal ini sangatlah banyak.

Namun, semua harapannya sudah pupus saat dia melihat Lesya. Sekarang, dia hanya berusaha untuk menyelesaikan tugasnya. Dia mengangguk dengan lelah. "Oke."

Kemudian, Adeline mengikuti karyawan toko pergi ke area pengantin dan langsung melihat gaun pengantinnya di tengah ruang pameran.

Gaun pengantin itu bermodel kemban. Bagian atasnya dihiasi bordir bunga tulip favoritnya yang disulam di atas renda Prancis. Bunga-bunga itu terlihat nyata, seolah-olah tumbuh di permukaan renda.

Deretan mutiara sehalus bintang melingkar di bagian pinggang dan berkilauan indah di bawah cahaya lampu. Bagian depan roknya terbuat dari satin berkualitas tinggi, sedangkan bagian belakangnya terdiri dari tiga lapis ekor panjang yang mengombinasikan satin dan renda sehingga terasa ringan dan anggun. Adeline hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya.

"Bu Adeline, gaun pengantin ini baru saja diantar kemari pagi ini. Waktu melihatnya, ada beberapa pelanggan yang ingin mencobanya. Kamu pasti akan terlihat sangat cantik waktu memakainya."

Lesya juga melirik gaun pengantin itu. Matanya berbinar dengan keterpukauan sekaligus iri. Dia menimpali, "Iya, cakep banget! Dengar-dengar, Bu Adeline yang mendesain gaun pengantinnya. Bu Adeline benar-benar berbakat! Benar nggak, Pak Kaivan?"

Saat mendengar suara mentel Lesya, Adeline pun merasa mual. Baru saja dia berbalik untuk berbicara, dia malah melihat Kaivan menunduk dan menatap Lesya dengan lembut, lalu mengulurkan tangan untuk mengelus kepalanya.

"Kamu juga nggak buruk. Kalau nggak, mana mungkin kamu bisa jadi sekretarisku."

Lesya memelototinya. "Kamu cuma mengolok-olokku."

Dalam sekejap, Adeline tiba-tiba tidak ingin mengatakan apa-apa. Apa lagi yang bisa dia katakan? Lesya bisa datang ke tempat ini untuk membuatnya muak sebenarnya karena Kaivan yang memberinya keberanian itu.

Ini jelas adalah pertama kalinya karyawan toko menghadapi situasi memalukan seperti ini. Dia dengan hati-hati bertanya, "Bu Adeline ... apa kamu masih mau coba gaun pengantinnya?"

Adeline berbalik dan menjawab dengan tenang, "Mau."

Karyawan toko itu dengan hati-hati melepas gaun pengantin dari gantungan dan membawa Adeline ke ruang ganti. Berhubung ada renda dan tali di bagian belakang gaun pengantin, gaun ini lebih rumit untuk dikenakan hingga butuh waktu lebih dari sepuluh menit.

Adeline sangat cantik. Dengan kulit putih dan fitur wajahnya yang indah, dia terlihat anggun dan memikat layaknya bunga teratai yang mekar sempurna. Jika tidak, Kaivan tidak akan jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Dia yang mengenakan gaun pengantin bahkan terlihat lebih memukau lagi.

Karyawan toko membantunya merapikan ujung gaunnya sambil berkata, "Bu Adeline, kalau aku ini bukan seorang perempuan, aku pasti akan terpesona olehmu."

Adeline menunduk dan memaksakan seulas senyum. "Terima kasih."

Melihat suasana hatinya sedang buruk, karyawan toko itu menghela napas dalam hati dan tidak berani berbicara lagi.

Ketika tirai ruang ganti dibuka, Kaivan sedang menunduk untuk membalas pesan pelanggan di LINE, sedangkan Lesya entah pergi ke mana.

Karyawan toko pun memanggil Kaivan. "Pak Kaivan, Bu Adeline sudah selesai kenakan gaun pengantinnya."

Kaivan mengangkat kepala tanpa minat dan melirik Adeline. "Biasa saja."

Dia benar-benar merasa tidak ada yang terlihat istimewa. Bagaimanapun juga, sekarang dia tidak menaruh perasaan apa pun pada Adeline. Meskipun Adeline berdiri telanjang di depannya, dia juga sama sekali tidak tertarik.

Adeline merasa sedikit kecewa.

Di tahun pertama mereka bersama, mereka sudah mendiskusikan gaun pengantin seperti apa yang akan dia kenakan saat menikah nanti. Kaivan berkata bahwa Adeline adalah wanita paling cantik tidak peduli apa pun yang dikenakannya. Ketika Adeline mencoba gaun pengantin, dia pasti akan sangat terharu hingga berlinang air mata. Sebab, dia akhirnya bisa menikahi Adeline.

Itu hanyalah masalah sepele. Kaivan seharusnya sudah melupakannya sejak lama.

Delapan tahun memang waktu yang lama, juga cukup lama bagi seseorang untuk jatuh cinta pada orang lain. Namun, waktu Itu juga cukup lama untuk perlahan-lahan menghilangkan rasa suka seseorang terhadap orang lain.

Karyawan toko menyadari suasana aneh di antara keduanya dan hendak menengahinya. Tiba-tiba, tirai ruang ganti di seberangnya pun terbuka. Lesya yang mengenakan gaun pengantin tersenyum dan menatap Kaivan dengan santai.

"Pak Kaivan, aku nggak nyangka gaun pengantin yang kamu pilih begitu pas. Gimana?"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel ARE YOU DONE, MY DEAR?
8.4
Dahulu, Kinara egois merebut suaminya dari wanita lain demi kepuasannya sendiri. Kini, ia harus menelan pil pahit karma saat rahasia kelam terungkap. Kehadiran seorang anak yang mengaku sebagai darah daging suaminya dari masa lalu menghancurkan segalanya. Merasa dikhianati dan tidak sanggup menerima kenyataan tersebut, Kinara akhirnya memutuskan untuk bercerai. Ia pun memulai langkah baru demi menuntut keadilan dan melancarkan aksi balas dendam.
Sampul Novel Bias: Dari Uncle, Jadi Daddy
9.0
Alexandria Serenata Atmadya pindah ke megapolitan demi pekerjaan baru, namun sifatnya yang sulit menolak justru menjebaknya dalam skema Ragnala Firaz Himawan. Ragnala yang manipulatif memaksa Alexandria masuk ke pernikahan berkedok kesepakatan rahasia. Di tengah persaingan kecerdikan mereka, muncul fakta mengejutkan tentang seorang anak berusia empat tahun. Alexandria pun harus menghadapi taktik manis Ragnala demi memperjuangkan cinta di tengah pahitnya masa lalu.
Sampul Novel Cintaku Berakhir di Malam Pertamaku
8.7
Kisah dalam novel modern misteri Cintaku Berakhir di Malam Pertamaku berawal di malam bulan madu. Sang suami bersikeras meminta manajer hotel mengganti seprai mereka di tengah malam. Ternyata, manajer tersebut adalah mantan kekasihnya yang langsung histeris dan menuduhnya sengaja ingin menyakiti hatinya. Setelah menyiram sang istri dengan air panas dari teko, wanita itu pergi. Alih-alih menolong istrinya yang terluka, sang suami justru memilih mengejar mantannya dengan alasan takut gelap.
Sampul Novel Dimadu Saat Koma
9.0
Pasca koma setelah melahirkan, Inara mendapati kenyataan pahit. Suaminya telah berpoligami, dan sang anak pun bersikap dingin padanya. Di tengah luka itu, Dokter Feri yang merupakan mantan kekasihnya hadir memberikan kenyamanan. Inara yang terkhianati akhirnya terjebak dalam hubungan gelap sebagai bentuk balas dendam. Kini ia harus memilih antara bertahan dalam pernikahan yang hancur atau mengakhirinya demi harga diri. Siapa yang harus memikul beban kesalahan ini?
Sampul Novel Istri Manis Tuan Jicko
9.8
Demi menuruti ambisi ibunda yang mendambakan cucu tanpa harus terikat pernikahan, Jicko menolak perjodohan dan memilih jalan pintas. Ia menawarkan sebuah kesepakatan khusus kepada Ameera untuk mengandung buah hatinya. Jicko yakin kontrak ini akan menguntungkan kedua belah pihak tanpa ada komitmen emosional. Namun, rencana yang semula tampak sederhana ini berubah menjadi pelik saat realitas hubungan mereka ternyata jauh lebih rumit dari dugaan.
Sampul Novel Lima Tahun Kebohongan
9.6
Damon dan Aurelia terikat pernikahan kontrak demi warisan dan stabilitas finansial. Setelah lima tahun berpisah, Damon kembali untuk bercerai, namun ia terkejut menemukan Aurelia membesarkan seorang putra yang sangat mirip dengannya. Di tengah tuntutan komitmen dari kekasihnya, Mira, Damon harus memilih antara rencana masa lalunya atau tanggung jawab sebagai ayah. Rahasia besar mulai terungkap, memaksa Damon mempertaruhkan segalanya demi keputusan yang benar.