Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janji

Janji

Sebuah komitmen yang pernah terucap di masa lalu ternyata tidak memudar dimakan waktu. Di tengah kehidupan modern saat ini, kata-kata tersebut kembali muncul dan membayangi realitas yang ada. Rahasia besar mulai terkuak saat janji lama itu menuntut pembuktian, menjalin kembali benang merah yang sempat terputus. Di balik romansa yang bersemi, tersimpan misteri mendalam yang memaksa setiap orang menghadapi konsekuensi dari sumpah yang pernah mereka buat.
Bab
Bagikan

Bab 2

Angin bertiup semilir malam itu. Dingin menggigit tulang. Dewi Karunyan tidak bisa memejamkan matanya. Dia hampir gila.

Semua kejadian itu berjalan sangat cepat. Amat sangat cepat, dan hampir tidak bisa dipahaminya. Dia tidak bisa mencerna semua yang lewat di depan matanya.

Pagi itu dia bangun seperti biasa. Dia mandi pada pagi buta, berganti baju dengan baju yang sudah disediakan mbok Jum. Dia menyisir rambut panjangnya dan mengepangnya, ketika mendengar seruan-seruan marah itu. Dia segera berlari ke arah jendela dan melihat keributan itu.

"Kita cari Ammar! Kita harus membunuhnya!"

Dada Dewi bagaikan dipalu mendengar seruan-seruan marah senada. Berarti tadi malam ada yang melihat mereka berdua. Dewi terduduk lemas. Tapi aneh kalau tidak ada yang melihat mereka berdua. Mereka berdua pastilah sangat mencolok. Amamr yang bertampang kuli, dan Dewi yang sangat priyayi, pastilah mereka dilihat orang dengan jelas.

Pasti orang-orang itu telah melihat mereka. Pasti salah satu mbok emban atau jongos bapaknya yang melaporkannya, atau mungkin warga yang ingin dapat imbalan uang.

Air mata mengalir di pipi Dewi ketika melihat beberapa mobil boks berangkat mengangkut pekerja bapaknya menuju ke Parak. Mereka memakai baju hitam dan membawa berbagai senjata yang tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Dewi ada di dunia ini.

Kenapa butuh orang sebanyak itu untuk membunuh Ammar saja?

Hati Dewi berontak. Dia bangkit dan hendak berlari keluar kamar. Tapi pintu kamarnya terkunci dari luar. Dia berusaha mendobrak pintu itu, dia berteriak-teriak meminta bantuan. Tapi tetap saja sunyi yang menyambutnya.

Dia terlalu akrab dengan kesunyian. Dia terlalu dekat dengan kesendirian. Dewi terduduk di lantai dengan lemas. Dia menangis sejadi-jadinya, hatinya bagai diremas.

Setitik harapan kebahagiaan yang muncul di hatinya terhapus oleh badai besar. Bahkan titik itu belum lagi mewujud, belum lagi merebak menjadi bunga harapan.

Dia segera berlari ke jendela kamarnya, ingin melihat atau mendengar sisa setitik harapan itu, dan kemudian dia sadar. Jendela itu bisa dibuka dengan mudah. Dewi berseru gembira, dia segera membuka jendela itu dan melompatinya seperti tadi malam.

Dan Dewi berlari menembus dinginnya fajar.

****

Sebenarnya lari bukanlah pilihan, tapi Dewi tidak bisa menahan kesabarannya melihat apa yang akan dilakukan bapaknya pada Ammar, yang sekarang ditahbiskannya sebagai kekasih hatinya. Sehingga jadilah Dewi yang tidak pernah berjalan jauh, kini berlari. Tidak mempedulikan rambut dan bajunya yang tak menentu lagi.

Jarak rumahnya dengan dusun Parak agak sedikit jauh, dan belum lagi Dewi sampai di dusun itu, Dewi sudah bisa melihat bubungan api di cakrawala. Dari jarak sejauh itu dia bisa mendengar teriakan-teriakan warga dusun Parak.

Hatinya mencelos.

Kenapa semua warga berteriak-teriak? Pertanyaan itu tidak perlu jawaban. Sebentar saja orang-orang berlarian ke arahnya. Dewi segera bersembunyi dan dia mendengar teriakan-teriakan itu.

"Ndara Kamawijaya ngamuk! Ndara Kamawijaya ngamuk! Ayo lapor polisi!"

"Tapi rumah kita bagaimana?"

Orang-orang itu berdiri melingkar, kebingungan.

"Tapi kita tidak bisa melawan ndara Kamawijaya sendiri!"

"Kalau kita lapor polisi apa polisi akan berani menangkap ndara Kamawijaya? Bukankah selama ini dia selalu mengkorupsi dana desa tapi tidak ada yang berani bertindak?"

"Tapi ini, kan, bukan korupsi! Ini pembunuhan!"

"Ya, ini pembantaian! Kita harus lapor polisi!"

Mereka berteriak setuju.

"Bapak! Bapak!" Seorang anak kecil berlari mendekati lingkaran lelaki risau itu. Anak itu menangis dalam diam dan langsung memeluk salah seorang lelaki yang ada di dalam lingkaran itu.

"Ibuk, Pak! Ibuk dibunuh, Pak!" Tangisnya sambil menunjuk ke arah dusun Parak.

Lelaki itu luruh. Dia langsung menggendong anaknya dan berlari kembali ke dusun Parak.

Sunyi.

Butuh beberapa waktu untuk menyadari semua itu, sekumpulan lelaki itu langsung berlari kembali ke dusun Parak, mereka melupakan semua kekhawatiran tentang perdebatan mereka tentang akankah mereka akan lapor polisi atau tidak. Mereka bergegas mencari keluarga mereka masing-masing, yang tadi mereka tinggalkan dalam keadaan baik-baik saja. Mereka takut keluarga mereka menjadi korban kemarahan ndara Kamawijaya

Dewi melihat dan mendengar semua adegan itu dengan lelehan air mata dan seruan tertahan. Jadi bapaknya memang sudah kelewatan. Sudah sangat kelewatan.

Dewi menangis terisak.

Dia menjerit dalam luka hati yang terkoyak. Dusun Parak sepertinya sekarang sudah hancur, sudah lebur. Bukan hanya secara fisik, bukan hanya dari luar, tapi dari dalam, dari dalam hati warganya.

Dewi tahu dia tidak perlu melihat semua itu. Dia pasti akan sendiri lagi. Dengan atau tanpa tindakan brutal bapaknya ini, dia pasti akan sendiri. Dia tahu kalau dia diciptakan untuk sendiri, untuk digunjing, untuk nelangsa, untuk berduka.

Akhirnya Dewi memutuskan untuk berjalan pulang ke rumahnya. Dia berjalan dengan tertatih, kakinya sakit, bahkan berdarah, dia baru menyadari dia tidak memakai alas kaki. Tapi Dewi tidak peduli.

Dia menangis, rambutnya yang acak-acakan dijambakinya sepanjang jalan sambil berteriak menahan lara.

Dia tahu sejak dulu orang-orang berbisik-bisik di belakangnya, menggunjingkan wajahnya yang berbeda. Dia ingat semua kata gunjingan mereka, tapi dia diam dalam lara.

"Dia, kan anak gundik ndara Kamawijaya!"

"Hush! Dia itu anak selingkuhan ndara Kamawijaya dengan Cik Lam!"

"Cik Lam yang jualan roti di pasar?

"Iya! Cik Lam sudah diusir keluarganya karena berselingkuh dengan ndara Kamawijaya, tapi ndara Kamawijaya menolak cik Lam di rumahnya! Ndara hanya ingin anaknya!"

Benarkah demikian?

Sampai sekarang Dewi tidak pernah menanyakan hal itu pada bapaknya.

****

Dewi memasuki rumahnya dengan hati hampa. Semuanya berjalan dengan sangat cepat, bagai kilatan gambar tak beraturan. Dia termangu di depan kamarnya yang terkunci dari luar.

Di lupa tadi dia keluar lewat jendela. Tapi Dewi tidak peduli. Dia duduk di kursi ruang tamu hingga malam tiba.

Dewi tidak mempedulikan keributan yang terjadi ketika bapaknya pulang. Dia menurut ketika Dewi diseret ke kamarnya dan sekali lagi dikunci di dalam kamar itu. Dewi membaringkan badannya dengan hati yang kebas dan mati.

****

Ammar terbangun dari tidurnya yang resah. Dia merasakan tubuhnya diseret melewati jalan tanah yang tak rata. Sakit. Sakit. Sakit. Perih dan lara. Hanya itu yang bisa dirasakannya.

Ammar tersadar sepenuhnya. Dia berusaha membuka matanya. Tapi tidak bisa sempurna. Hanya sedikit cahaya yang bisa dilihatnya. Ammar tidak tahu dia mau dibawa ke mana. Dia hanya merasa letih dan remuk. Hatinya remuk mengingat mbakyunya dan simboknya.

Mbakyunya yang pertama akan menikah lagi, dan mbakyunya yang kedua juga akan menikah. Ah, di mana mereka sekarang, ya? Di mana simboknya yang akan diantarkannya ke sawah dengan sepedanya.

Mengingat sepeda hati Ammar mencelos.

Bukankah tadi malam dia memboncengkan Dewi dengan sepeda itu. Tiba-tiba dia sangat membenci Dewi, kenapa Dewi mesti tersenyum padanya kemarin. Kenapa Dewi harus menggodanya? Kenapa Ammar harus tergoda? Kenapa Ammar mau mengantarkan Dewi?

Air mata duka meleleh di pipi Ammar. Sakit sekali. Perih.

****

"Dia menangis!"

"Kasihan dia! Yang satu ini jangan dikorbankan saja!"

"Kenapa? Jarang ada orang mati sebanyak ini? Pancasona pasti senang!"

"Aku merasa ada sesuatu pada dirinya, Nyai! Dia memiliki kekuatan yang sangat besar dalam dirinya!"

"Kekuatan yang lebih besar dari pada kekuatan kita?"

"Ya! Jauh lebih besar daripada kekuatan kita bertiga digabungkan!"

"Jangan ngawur kamu! Dia tidak memiliki kekuatan ilmu hitam! Tapi aku bisa merasakannya kekuatan itu!"

"Kekuatan apa itu, Nyai?"

"Kekuatan dendam dan kebencian!"

Kata-kata itu terngiang-ngiang di telinga Ammar yang timbul tenggelam dalam kesadarannya. Dia hanya merasa janggal. Berarti dia tidak diseret oleh ndara Kamawijaya. Dia diseret oleh orang lain. Entah siapa. Dia tidak tahu.

****

Ammar terbangun dalam sebuah gua besar. Hal pertama yang dilihatnya adalah tumpukan tulang di tengah gua. Tulang-tulang itu sangat banyak sehingga menutup pandangan Ammar sepenuhnya.

Ammar merasakan letih dan sakit mendera tubuhnya. Dia berusaha bangkit. Tapi gagal. Tubuhnya lemah. Kemudian dia mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Ammar waspada, tapi juga pasrah, dia masih belum bisa menggerakkan tubuhnya.

Seorang wanita muda mendekatinya.

"Kamu sudah bangun?" Tanya wanita itu lirih.

Ammar mengangguk.

"Nyai! Agus! Pemuda itu sudah bangun!" Teriak sang wanita.

Dia membantu Ammar duduk di dipan yang ditidurinya. Seorang wanita dan laki-laki mendekatinya.

"Oh! Untunglah! Kukira dia tidak akan pernah bangun lagi!"

"Apakah kamu baik-baik saja, Nak?"

Ammar mengangguk.

"Kamu pasti lapar, kan? Haus?"

Ammar mengangguk. Mereka bertiga dengan cekatan membantu Ammar dan melayaninya dalam diam. Hingga Ammar akhirnya tertidur lagi. Kelelahan.

****

Dewi tidak pernah menolak apapun yang diberikan oleh mbok Jum padanya. Dia tidak pernah menolak perintah bapaknya. Dia selalu menurut dan tidak pernah satu kalipun menyangkal bapaknya.

Dewi menarik dari dari dunia kenyataan. Dia menyendiri dalam kepompong kesendirian. Dia bukan lagi Dewi yang dulu. Dia adalah Dewi yang baru, Dewi yang sudah tidak menganggap dirinya ada.

Setiap hari dia berdiri mematung di depan jendela kamarnya. Dia akan berdiam di sana sampai malam tiba. Dia tidak pernah bicara, jarang sekali berpindah dari posisinya.

Sampai hari itu tiba.

Beberapa petugas polisi mendatangi rumah ndara Kamawijaya. Mereka membawa mobil besar. Mereka hendak menangkap bapaknya. Dewi hanya memandang tak berdaya ketika melihat perdebatan itu. Dia memandang kosong.

"Mbak! Mbak Dewi!" Sebuah suara lembut mengalun di telinga Dewi.

Dewi menolehkan kepalanya.

"Mbak Dewi ingat kejadian malam itu?" Tanya seorang wanita yang berada di sebelah Dewi. Dewi mengangguk dan kemudian dia menjawab lirih.

"Ammar berjanji padaku malam itu. Dia berjanji akan mengajakku menonton wayang pada malam Sabtu. Hanya kami berdua. Tidak ada larangan bapak lagi! Bapak tidak akan pernah marah lagi!" Bisik Dewi lirih, matanya masih kosong.

Sang penanya terkejut. Dia melonjak kaget.

"Ndara putri memang selalu bilang seperti itu sejak kejadian malam itu, Bu," kata mbok Jum, "Dia tidak pernah mengucapkan kata lain, selain Ammar berjanji, Ammar berjanji..." isak mbok Jum.

"Ammar itu siapa, Mbok?" Tanya sang polisi wanita itu dengan sabar.

"Ammar adalah pemuda dari Parak, Bu. Dia sering jadi buruh musiman di sini saat panen. Kalau sehari-hari dia jadi kuli panggul di pasar besar."

"Ceritanya bagaimana, Mbok?" Tanya polisi itu lagi.

Dengan deraian air mata mbok Jum menceritakan kejadian malam dan pagi hari itu. Dengan mata kepalanya sendiri, mbok Jum melihat bagaimana Dewi melompati jendela, membonceng Ammar dan pergi ke sawah bersama Ammar.

"Saya seharusnya melarang ndara putri waktu itu, ya, Bu. Tapi saya diam saja. Saya membiarkan ndara putri ikut dengan Ammar," isak mbok Jum, "Dan sekarang semua malah jadi korbannya! Satu dusun jadi korbannya!" Seru mbok Jum histeris.

Polisi wanita itu memeluk mbok Jum dengan lembut. Dia ikut merasakan kegetiran yang dirasakan oleh mbok Jum. Dia sendiri ngeri mendengar kabar bahwa ada seorang kepala desa yang mengamuk dan membakar dusun di kawasan desanya. Dia membunuh banyak orang dan meratakan dusun itu dengan tanah. Dan setelah mendengar cerita itu sendiri, polisi itu tambah merinding dan bergidik.

Tadi dia sudah mengunjungi dusun tersebut bersama dengan teman-temannya dan atasannya. Dusun itu jadi begitu menyeramkan. Sisa-sisa rumah yang masih berantakan, belum selesai dibersihkan, banyak benda-benda yang terbengkalai dan tidak ada orang satu pun di sana. Sepi. Menegangkan dan menakutkan. Begitu tintrim.

Atasannya mengatakan bahwa seharusnya dusun itu diubah namanya menjadi Tintrim saja.

****

Ammar sudah sehat sekarang.

Setahun sejak kejadian mengerikan pada saat fajar itu. Dan Ammar berubah menjadi orang yang kuat luar dalam. Dia menjadi seorang yang tabah, sabar, tapi sayang tidak pernah tersenyum.

Dia tinggal di dalam gua di bukit kapur dekat sungai bersama dengan tiga orang sahabat yang cukup ganjil. Seorang wanita berumur empat puluhan, tubuhnya tinggi kurus bernama Lasmi, wajahyha nampak galak dan menantang. Wanita kedua bertubuh kecil pendek, berambut panjang dan cantik, bernama Lasiyem, dialah yang disebut nyai oleh kedua sahabatnya itu, sementara yang satu lagi adalah seorang pria tinggu besar dan rupawan, bernama Agus.

Ammar mengagumi mereka bertiga. Dia dirawat dan diberi makan mereka bertiga. Setelah dia sembuh sepenuhnya, mereka bertiga mengajari Ammar ilmu kanuragan dan ilmu hitam. Dan, inilah bagian yang paling disukai Ammar. Dengan belajar ilmu itu, perlahan Ammar melupakan semua kejadian yang dialaminya setahun yang lalu.

"Kamu tidak ingin pulang, Mar?" Tanya Agus pada suatu malam.

Ammar tersenyum tipis.

"Saya malah ingin pergi dari sini saja," jawab Ammar pendek. Dia tidak mau membayangkan pulang ke rumahnya, ke dusunnya, yang jaraknya hanya sepelemparan batu. Dia menyunggingkan senyum.

"Tapi sebelum pergi saya ingin minta tolong pada Pak Agus dan nyai berdua," kata Ammar.

Mereka bertiga berpandangan.

"Minta tolong apa, Mar?"

Lasiyem yang bisa membaca pikiran menyunggingkan senyum. Dia tahu maksud Ammar.

"Saya akan menepati janji saya pada Dewi," bisik Ammar pelan.

Tiba-tiba Lasiyem menjengit. Dia menatap Ammar tak percaya.

"Apa yang kamu pikirkan itu sangat berbahaya, Mar!" Seru Lasiyem.

Ammar tertawa.

"Dari semua ritual mengumpulkan mayat orang Parak, membakarnya, meminum darah mereka dan memanggil Pancasona, saya rasa permintaan saya tidak seberapa ngerinya, Nyai," jawab Ammar tenang.

"Apa maksudnya, Nyai?" Tanya Lasmi dan Agus hampir bersamaan kepada Lasiyem.

"Ammar minta tolong kita melakukan pujon!" Desis Lasiyem.

Lasmi terlonjak. Dia belum pernah melakukan pujon sebelumnya. Agus tersenyum lebar.

"Aku suka caramu balas dendam! Aku mau membantumu!" Jawab agus mantap dan penuh percaya diri. Agus pernah melakukan pujon.

Ammar pun tersenyum. Dia tahu pasti mereka tidak bisa melawan godaan melakukan pujon. Dia tahu mereka pasti akan menolongnya.

"Tolong carikan saya bayi dari dukun yang paling sakti! Agar bayi itu kelak bisa membalaskan dendam saya pada Kamawijaya dan Dewi!" Bisik Ammar miris.

Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia masih mengharap dia dan Dewi bisa bersatu, walaupun mereka sudah dilerai oleh takdir yang begitu kejam, tetap saja Ammar masih memiliki secercah harapan.

Agus, Lasmi dan Lasiyem menyanggupinya, mereka butuh waktu satu bulan untuk melakukan semua prosesi pujon itu.

****

Malam itu udara dingin. Sekarang menjelang musim kemarau. Udaranya dingin menggigit tulang.

Dewi menutup jendelanya. Dan terduduk di tempat tidurnya. Dia sekarang tidak sendiri lagi. Bapaknya sudah dikeluarkan dari penjara, bapaknya hanya dipenjara selama tiga bulan, tidak lebih tidak kurang. Dari semua kebengisan yang dilakukan bapaknya dia hanya dihukum tiga bulan penjara.

Dan sekarang bapaknya, Ndara Kamawijaya, sudah melakukan semua aktivitas biasa. Dewi Karunyan menangis. Dia sedih dan menyesal kenapa dia masih hidup dan tidak menyusul Ammar mati saja. Dia tidak ingin hidup.

Dewi membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya yang empuk. Dewi merasakan belaian angin diperutnya. Aneh! Angin itu terasa agak hangat, tidak dingin seperti seharusnya.

Dewi resah. Hembusan angin hangat itu membuatnya tidak bisa tidur. Dan Dewi mulai merasakan perubahan pada perutnya.

****

Keesokan harinya terdengar teriakan keras dari rumah ndara Kamawijaya. Dewi Karunyan melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat. Yang menjadi buah bibir warga sekitarnya. Menjadi bahan pergunjingan warga Parak, yang sekarang sudah diubah namanya menjadi Tintrim karena sepi dan seramnya.

Mereka menggunjingkan bahwa Dewi Karunyan selama ini berpura-pura gila dan sering tidur dengan banyak pria. Ada juga yang mengatakan bahwa Dewi Karunyan dikirimi bayi secara gaib, karena selama ini memang tidak pernah terlihat hamil. Berita simpang siur itu begitu heboh, tapi Dewi Karunyan tidak peduli. Bayi itu malah membuatnya kembali sadar akan dirinya sendiri, membuatnya kembali kepada Dewi Karunyan yang dulu.

Dewi Karunyan merawat bayi itu dengan penuh kasih sayang dan memberinya nama Harjo Kusumo.

****

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Memaafkanmu
9.1
Alea diadopsi oleh pasangan konglomerat, Reynald dan Marina, sejak kecil. Namun di usia dewasa, ketenangan rumah mereka terusik saat Reynald mulai menaruh perasaan terlarang pada putri angkatnya itu. Di tengah ketidaktahuan Marina yang fokus pada terapinya, Alea merasa tertekan oleh obsesi sang ayah. Segalanya berubah saat rekaman rahasia mengungkap skandal yang mengancam keutuhan keluarga mereka. Haruskah Alea bicara atau tetap diam demi membalas budi?
Sampul Novel Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
8.4
Aryan Adhitama, CEO berhati dingin, terpaksa menikahi Alana Shafira setelah sebuah jebakan obat perangsang membuatnya merenggut kesucian perawat kakeknya itu. Pernikahan ini digelar demi tanggung jawab dan nama baik keluarga, meski Aryan hanya menganggap Alana sebagai beban. Alana pun terjebak dalam penderitaan batin bersama pria yang membencinya. Di tengah perbedaan status dan rahasia kelam, mampukah cinta tumbuh dari paksaan dan kesalahpahaman?
Sampul Novel Dia Pikir Aku Akan Menderita dalam Diam
7.8
Lima tahun menikah, aku menemukan rahasia kelam suamiku lewat sebuah USB. Isinya membuktikan bahwa aku hanyalah pengganti cinta pertamanya. Puncaknya, dia memberikan proyek impianku kepada wanita itu dan mempermalukanku di depan umum saat gala perusahaan. Dia mengira aku akan menerima pengkhianatan ini dengan diam dan hancur dalam kesedihan. Namun, dia salah besar. Di hadapan semua kolega, aku menyiramkan sampanye ke kepalanya sebagai tanda perlawananku.
Sampul Novel Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari
8.9
Delapan tahun pernikahan rahasia Risa hancur saat Teguh melamar Selia. Merasa dikhianati, Risa memilih bercerai dan meninggalkan restoran mereka. Teguh yang angkuh justru mengusir Risa dan adiknya, Heru, demi wanita simpanannya. Namun, saat bisnisnya hancur akibat ulah Selia, Teguh menyusul Risa ke Swiss untuk memohon maaf. Risa kini bangkit dan mengungkap kebenaran pahit tentang malam yang menjebaknya di masa lalu, membiarkan Teguh menyesal dalam kehancuran.
Sampul Novel Ghost Boyfriend
8.0
Arka terpaksa menjadi arwah penasaran setelah kecelakaan maut merenggut nyawanya di waktu yang salah. Mendapat peluang terakhir untuk kembali ke dunia, ia meminta bantuan Zulfi, seorang pengangguran, demi menuntaskan urusan yang tersisa. Arka ingin memastikan kekasihnya, Ziva, tetap bahagia meski ia telah tiada. Mampukah Arka pergi dengan tenang setelah melihat kedekatan Ziva dan Zulfi? Bisakah ia mengubah hidup Zulfi menjadi lebih baik sebelum waktu habis?
Sampul Novel Love Over Everything
9.2
Zanara melarikan diri demi menghindari rahasia kelam suaminya, lalu bertemu Jayme yang tulus mencintainya. Meski trauma masa lalu membuatnya menutup diri, ia justru terjebak dalam romansa rumit saat orang-orang dari masa lalunya kembali mengusik. Kini, keselamatan putri semata wayangnya, Marion, menjadi taruhan utama. Zanara dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menyendiri dan kehilangan Marion, atau menerima pinangan pria demi melindungi sang buah hati.