Sampul Novel Es Batu

Es Batu

8.1 / 10.0
Dalam novel Es Batu, Relva Arilia berjuang menaklukkan hati Steven yang dingin. Romance novel ini mengikuti perjalanan penuh pengorbanan ego demi masa depan. Temukan kisah young adult fiction romance books tentang kegigihan yang mampu meruntuhkan benteng pertahanan paling kokoh sekalipun.
Ringkasan Es Batu
Relva Arilia adalah gadis konyol berhati tulus yang jatuh hati pada Steven Grellyn, pemuda sedingin es yang selalu mengabaikannya. Meski sering ditolak, kegigihan Relva perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Steven yang awalnya enggan menjalin hubungan. Kisah ini bukan sekadar romansa, melainkan perjuangan emosional penuh liku dan air mata demi masa depan. Keduanya harus mengorbankan ego demi cinta yang mampu mencairkan kebekuan hati dan mengubah hidup mereka.
Baca Selengkapnya

Es Batu Bab 1

"Cinta kadang memang gila. Percayalah, bahwa cinta bisa membuat orang gila dalam waktu satu detik saja."

Relva melangkah menjauh dari kerumunan orang-orang yang haus akan info. Tentu saja, bayangkan jika dia berada di tengah-tengah mereka, bisa dipastikan mereka semua akan mengeluarkan tinta beracunnya. Dan di sinilah Relva berada. Di belakang sekolah, sambil membayangkan kejadian seminggu yang lalu.

"Rel!" Teriakan super toa Olivia membubarkan pikiran Relva.

Gadis itu selalu membuat dirinya dekat dengan malaikat maut. Salah sedikit saja, dia akan berada di alam lain. Relva, kadang heran. Mengapa dia haruss mempunyai kakak modelan seperti itu.

"Nggak usah teriak-teriak nyet,"ucap Relva sinis.

"Hehe ... maaf. Gue mau tanya," ucap Olivia dan duduk di samping Relva.

"Lo pasti kepo kan? Kenapa tiba-tiba ada gosip gue sama Alvin."

"Kok tahu, Mbak?" tanya Olivia nyengir kayak kuda. Sepupunya itu selain kepo, dia juga haus akan info. Seperti cewek pada umumnya, bergosip adalah keahliannya. Jadi, tidak heran para cowok selalu menghosting-nya. Kadang membuat dirinya pusing dengan tingkah sepupunya. Tapi, mau heran. Kelakukan dirinya pun sama seperti kakaknya.

Banyak yang mengira mereka bukan anak dari keluarga kaya karena kelakukan mereka lebih mencerminkan remaja pada umumnya. Lebih suka main, jajan sembarangan. Bagi mereka makanan kaki lima atau di pinggir jalan, jauh lebih enak.

Dari pada di restoran ternama. Bukan hanya ramah dikantung. Namun, ramah untuk perut juga. Siapa yang tidak suka dengan makanan. Apa lagi yang mengandung lemak, sudah tahu tidak sehat. Masih saja dimakan, karena yang tidak baik itu kadang sering membuat nikmat.

"Gue udah tebak," ucap Relva mendengus.

"Yang masih gue pikirin. Kapan lo jadian sama Alvin? Kok tiba-tiba ada gosip, lo putus sama dia?" tanya Olivia kepo.

Keingintahuan kakaknya sudah mendarah daging. Sangat tidak ramah untuk dilanjutkan. Maka, jalan satu-satunya adalah. Menghindar dari pertanyaan-pertanyaan, yang akan membuat dirinya terjerumus dalam lubang kebingungan.

"Gue males bahas itu. Gue cabut," ujar Relva pergi dari hadapan Olivia yang sedang menahan amarah.

"Heran gue sama sepupu bangsat," ucap Olivia dan pergi dari tempat itu.

Kesal dengan sudaranya, Olivia lebih memilih ke kantin. Biarkan cacing di perutnya diberi asupan makanan terlebih dahulu, masalah sepupunya. Biar nanti antek-anteknya yang akan mencari info terbaru dan akurat, terpercaya.

***

Hari ini Relva dan Olivia berniat mengunjungi toko buku. Mereka sudah sangat lama tidak pernah mampir untuk membeli novel atau komik. Biasanya sekali satu minggu mereka selalu melakukan hal tersebut. Tapi, semenjak mereka ketahuan membeli novel dengan jumlah yang banyak. Membuat mereka dibatasi.

"Ingat, Rel. Lo harus beli dua, jangan kebablasan lagi." Peringat Oliv.

Sudah cukup kemarin mereka diceramahi habis-habisan. Kalau hanya satu tidak apa-apa. Tapi, ini malah seluruh rumah ikutan andil. Pekerja di rumah mereka pun ikut andil. Jadi, cari aman saja. Besok bisa beli lagi, kalau buku yang sudah mereka beli habis terbaca.

"Ya. Takut banget sih, Kak."

"Ya sih. Orang kayak lo kalau beli duka lupa waktu, yang disalahin bokap malah gue. Kan, kamvret lo. Pengen hujat, gak bisa." Kesal Oliv.

Pasalnya, gadis itu selalu membuat dirinya terkena masalah. Dan, itu selalu berdampak padanya. Ingin rasanya membuang adiknya itu. Tapi, sayang. Hatinya terlalu lembut.

Melihat foto-foto masa kecil, memperlihatkan betapa bahagia keluarganya dulu. Entah apa yang terjadi, sampai keluarga mereka seperti sekarang. Ingatan masa dulu, tidak pernah bisa diingatnya.

Entah kejadian apa yang membuat dia lupa akan hal masa kecilnya. Bahkan, dia tidak pernah tahu rupa ibu-nya. Kadang, dia merasa iri dengan keluarga temannya, yang selalu diantar oleh kedua orang tuanya. Tapi, dia hanya bisa melihat kebahagiaan keluarga bahagia itu.

"Kenapa? Ada masalah? Kalau kamu ada masalah cerita. Kenapa malah ke ruangan papa?" tanya Oliv, memperhatikan foto yang terpajang di sana. Hanya ada empat orang. Dirinya dengan Relva, dan dua laki-laki tangguh.

Rasa rindu dan sedih beradu satu dengan kamar yang sunyi. Mereka merindukan sosok bidadari di rumah ini. Oliv memperhatikan adik sepupunya, pasti gadis itu sangat merindukan pelukan seorang ibu. Namun, gadis itu lebih memilih memendamnya.

Delapan belas tahun tanpa merasakan kasih sayang seorang ibu, bukanlah hal yang mudah. 18 tahun tanpa pelukan ibu, bukanlah perkara biasa, 18 tahun tanpa sosok ibu, bukan tidak mungkin ada rasa kesepian dalam hati dan gadis di sampingnya ini, sungguh luar biasa kuatnya. Dari bayi, gadis itu tidak pernah merasakan kasih sayang ibu.

"Ayok keluar, Kak. Gue udah selesai lihat, Papa. Laper, enaknya makan ramen gak sih?"

"Ramen endasmu. Ayok beli telur gulung aja, ramen habis. Harus ke korea dulu buat beli," asal Oliv.

"Bilang aja males bikin, lagi pengen makan telur gulung, 'kan?" Cengiran Oliv, menjawab semuanya. Gadis itu tidak pernah jauh-jauh dari telur gulung. Bahkan, dia tidak pernah kapok, walau dia sampai bisulan.

Gadis itu selalu saja beli jajanan itu, kalau satu bungkus sih. Mungkin masih wajar, lah ini. 5 bungkus, dimakan sendiri, bagaimana tidak bisulan coba. "Ayo, gue udah kepengen makan telur gulung, Rel."

Relva memutar bola matanya malas, melihat kelakukan kakaknya itu tidak pernah ingin mengalah. Dan, selalu dia yang harus mengalah. Jika dipilih, ingin menukar sodara. Maka, dia orang paling terdepan ingin menukar sodaranya, tentunya yang penurut.

Setelah adegan cekcok yang cukup panjang, pada akhirnya mereka di sini. Menunggu pesanan mereka, yang beberapa menit lalu mereka pesan. Jangan tanya siapa yang paling bersemangat.

"Tadi katanya males makan telur gulung. Tapi, udah lima tusuk aja lo. Dusta banget," sindir Oliv. Pasalnya, gadis itu ngotot tidak ingin membeli telur gulung tapi sekarang malah dia yang bersemangat.

"Diem aja, Kak. Gue lagi menikmati ini."

"Serah deh."

Harus banyak-banyak bersabar memiliki sodara seperti Relva. Gadis nihil kepekaan, yang bisanya bikin emosi orang. Pantas saja laki-laki banyak yang tidak tahan dengannya, harus laki-laki berhati baja. Dan, tidak pekaan. Mungkin, itu baru cocok.

***

Relva menunduk, tak berani menatap sepasang mata yang terus saja melihatnya. Sedangkan Oliv, menahan tawa melihat ekspresi Relva. Gadis itu baru saja membuat ulah. Tidak ada kapok-kapoknya. Sambil meremas ujung bajunya, Relva terus saja merapalkan doa. Berharap papanya luluh.

Laki-laki yang masih mengenakan jas kantor itu, malah semakin memancarkan api amarahnya. Berjalan mendekat, sambil menatap putrinya yang sedari tadi terus menunduk.

"Siapa yang suruh kamu, main futsal lagi?"

Relva diam, dia masih tetap dengan posisinya. Dia tidak bisa membantah perkataan sang papa. Tapi, dia juga ingin kembali seperti dulu, ingin bermain seperti teman-temannya. Apa salahnya jika dia ingin bermain futsal, bukankah itu hal yang lumrah atau biasa.

"Papa udah bilang ke kamu. Gak boleh lagi main futsal, kamu ini cewek. Berapa kali papa harus ngasih tahu kamu." Perkataan Mahendra benar-benar membuat dirinya tertampar. Selama ini dia selalu melanggar perkataan papanya.

"Pa, sebaiknya istirahat dulu. Papa kan baru pulang. Biar Oliv yang urus masalah ini. Oliv janji. Relva gak akan main futsal lagi," ucap Olivia, berusaha meredakan emosi Mahendra.

Mahendra menghela nafas panjang, lalu berjalan meninggalkan mereka. Relva, menatap nanar punggung papanya. Dia tanpa sadar menangis, seharusnya dia tidak seperti ini. Pasti laki-laki itu sangat letih, dan dia selalu membuat ulah. Yang selalu membuat laki-laki itu lelah dengan tingkahnya.

"Lo mandi, terus temui papa. Minta maaf," ucap Oliv, menepuk pundak Relva. Walaupun gadis itu sering melanggar peraturan papanya. Tapi, gadis itu pasti akan menangis atas perbuatannya.

Memang dari dulu, dia tidak pernah diizinkan ikut futsal. Tapi, pada dasarnya Relva bar-bar. Jadi, mau bagaimana lagi. Susah untuk membuat gadis itu menmgerti.

Di ruangan yang kedap akan suara-suara bising, hanya ada satu bingkai foto dan lampu mini yang menerangi pengelihatan. Laki-laki itu berdiri, sambil mengelus foto itu. Mengembus kan nafas berkali-kali.

"Putri kita udah besar, bahkan dia sama keras kepalanya denganmu. Tapi, jika dimarahi, dia selalu menunduk," ucap Mahendra. Menatap wanita itu, yang selalu membuat dirinya kuat. Akan tetapi, sekarang wanita itu sudah tidak bersamanya lagi, meninggalkan dirinya dan putri kecilnya.

"Jika kamu melihatnya, pasti kamu akan heran. Kenapa dia sangat mirip denganmu. Baik dalam tingkah laku, ataupun kesukaan. Dia seperti membawa dirimu kembali, bahkan untuk memarahinya aku tidak sanggup. Seharusnya kamu bersamaku, membesarkan dia. Tapi, kita ditakdirkan untuk tidak bersama," kata Mahendra, menghapus air mata yang lolos ke pipi.

Sekali lagi dia mengusap foto itu, seakan hanya hal itu yang bisa membuat hatinya lega. Setiap waktu, hanya itu yang mampu membuat dirinya tenang. Mau selama apa pun orang itu pergi, kenangannya masih membekas dalam hati. Sampai kapan pun, akan tetap sama.

Terkadang hati itu tidak pernah bisa bohong, kita boleh mengucap hal sebaliknya. Tapi, di hati kecil kita. Tersirat kata sebaliknya. Karena itu, hati tidak pernah salah. Ikutilah kata hati, maka kamu akan damai menjalani kehidupan ini.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Es Batu

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder
9.7
Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Gundik Alpha-ku, Makam Tak Bertanda Putraku
8.9
Kehancuran menyelimuti hatiku saat mengetahui Alpha Damian, pasanganku, menyembunyikan keluarga rahasia. Pengkhianatannya berujung maut; putraku tewas karena ketakutan melihat aksi bejatnya. Tak cukup membunuh anakku, Damian dan ibunya menyiksaku, membuang abu putraku, lalu membiarkanku mati di tangan Rogue. Aku berhasil selamat dari maut, namun alih-alih membalas dendam, aku memilih sihir terlarang untuk menghapus seluruh memori menyakitkan tentangnya.
Sampul Novel Rahim Yang Mengkhianati
8.4
Rafif hancur saat dokter memvonisnya mandul, memupus harapannya menjadi ayah. Namun, kejutan datang ketika Lina, istrinya, tiba-tiba mengumumkan kehamilan. Di tengah kebingungan itu, sang ibu muncul membawa bukti foto Lina bersama lelaki lain yang memicu kecurigaan besar. Rafif kini terjebak dalam pusaran pengkhianatan dan misteri. Apakah istrinya benar-benar berselingkuh, atau ada rahasia gelap lain di balik kehamilan yang mustahil ini?
Sampul Novel Sayang, Beri Aku Kesempatan Lagi!
9.0
Selama menikah, Satya selalu memandang rendah Tamara sebagai wanita hina hingga akhirnya mereka bercerai. Namun, setelah berpisah, Satya justru menyadari bahwa ia telah membuang sosok yang sangat berharga. Kini, ia memohon kesempatan kedua dengan penuh penyesalan. Sayangnya, Tamara yang sudah terluka akibat perlakuan buruk suaminya kini telah bangkit dan menutup pintu hati. Meski Satya berjanji untuk tidak menyerah, Tamara hanya memberikan penolakan keras.
Sampul Novel Suamiku Memilih Maduku
9.0
Demi menarik kembali perhatian Radwan, Arlisa nekat meminta sang suami berpoligami. Ia berharap kehadiran orang ketiga memicu rasa cemburu dan kerinduan Radwan padanya. Namun, rencana itu menjadi bumerang saat Radwan justru jatuh cinta pada istri barunya. Arlisa kini terjebak menyaksikan kemesraan yang dulu miliknya kini berpindah tangan. Di tengah rasa sesak dan pengkhianatan, akankah Arlisa tetap bertahan atau mencari kehangatan di pelukan pria lain?
Sampul Novel Suamiku, ternyata cinta masa lampauku
8.3
Nadine mengakhiri hidupnya di sungai deras dengan sebuah janji terakhir untuk kembali memperjuangkan Logan di masa depan. Tak disangka, ia terbangun dalam raga baru bernama Raisa di zaman yang berbeda. Nadine menyadari bahwa dirinya telah bereinkarnasi, namun tantangan besar menantinya. Apakah Logan juga terlahir kembali di era yang sama? Raisa kini harus memulai pencarian demi menepati sumpah cintanya di tengah ketidakpastian waktu dan identitas barunya.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan