Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Janji

Janji

Sebuah komitmen yang pernah terucap di masa lalu ternyata tidak memudar dimakan waktu. Di tengah kehidupan modern saat ini, kata-kata tersebut kembali muncul dan membayangi realitas yang ada. Rahasia besar mulai terkuak saat janji lama itu menuntut pembuktian, menjalin kembali benang merah yang sempat terputus. Di balik romansa yang bersemi, tersimpan misteri mendalam yang memaksa setiap orang menghadapi konsekuensi dari sumpah yang pernah mereka buat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ajaib memang.

Jarak antara gua tempat Ammar menetap selama ini dengan rumah Dewi hanya beberapa ratus meter, bahkan dari sudut tertentu di sungai Ammar bisa melihat pagar rumah Dewi. Tapi Ammar tidak punya keberanian untuk melihat rumah itu. Dia tak punya hati.

Tapi pagi itu Ammar berdiri di sudut sungai terjauh. Di mana dia bisa melihat rumah Dewi dengan jelas. Dia bahkan bisa melihat Dewi yang sedang berjemur di depan rumahnya dengan mbok Jum dan bayi yang digendongnya.

Hati Ammar perih. Betapa dia ingin berada di sisi Dewi saat ini. Air matanya mengalir perlahan.

"Kuasai dulu ilmu alih rupa, baru datangi dia!" Bisik Agus.

Ammar menghela nafas panjang.

"Apa bisa, Pak?"

"Aku sering melakukannya," bisik Agus, "Jangan pergi dulu! Tetaplah di sini, belajar denganku!" Kata Agus lagi.

Ammar memejamkan matanya.

"Kamu bisa menepati janjimu pada Dewi," bisik Agus lagi.

Ammar diam. Tidak bisa menjawab perkataan Agus barusan, dia sebenarnya ingin, sangat ingin melakukan hal itu. Tapi...

"Kamu harus kuat! Perjuangkan cintamu! Jangan sampai kamu menyesal!"

Air mata itu menetes juga. Buliran demi buliran menetes terus tanpa henti. Dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

"Saya tidak bisa, Pak!" Bisik Ammar, "Saya tidak bisa!"

"Karena keluargamu?"

Ammar mengangguk.

"Saya mengkhianati ibu saya dan kakak saya kalau menemui Dewi!" Bisik Ammar.

"Kau tidak ingin membalaskan dendammu?"

Ammar memejamkan matanya. Berat hatinya ingin mengatakan kepada Agus bahwa dia tidak peduli lagi dengan dendamnya, dia hanya ingin melihat Dewi bahagia, itu saja.

Agùs melihat ketidakpastian di mata Ammar. Dia meninggalkan Ammar sendirian. Dia membiarkan Ammar berpikir dan meresapi apa yang dihadapinya sekarang. Agus tahu, Ammar sedang dilema.

****

Dewi Karunyan menimang anaknya yang lucu dan sehat. Mbok Jum prihatin melihat ndara putrinya yang berwajah begitu bergembira, begitu sumringah, begitu bahagia. Wajahnya begitu bercahaya. Tak terkira rasa di wajah itu. Mbok Jum belum pernah melihat wajah ndara putrinya begitu cerah.

"Ndara, pun panas, nggo mlebet riyin! (Ndara, sudah panas, ayo, kita masuk dulu!)" Kata mbok Jum.

Dewi mengangguk, mbok Jum segera menggendong bayi mungil itu. Dia juga gemas melihat bayi tiban itu. Dia juga jatuh cinta dengan bayi laki-laki itu.

"Dia lucu, kan, Mbok?"

Mbok Jum mengangguk.

"Lucu sekali! Gemes, aku! Pengen tak cubit! Pengen tak uyel-uyel!" Kata mbok Jum gemas.

Mereka berdua tertawa bahagia. Kedatangan bayi itu membuat rumah itu begitu berbeda, begitu bersemangat.

"Namanya Harjo Kusumo, kan, Ndara? Kalau saya panggil den Arjo apa Aryo, boleh, kan, Ndara?"

"Boleh, Mbok!" Jawab Dewi kegirangan. Dia juga gemas melihat anak kecil yang terkantuk-kantuk itu. Dia merasa bayi mungil itu adalah kiriman dari Ammar, dia sangat ingin tahu tentang hal itu.

"Mbok Jum, boleh saya minta tolong?" Tanya Dewi.

"Nggih, Ndara?"

"Mbok Jum bisa mencarikan saya orang pintar tidak, Mbok? Saya ingin tahu Arjo ini dari siapa," kata Dewi lirih.

Mbok Jum terkejut. Dia heran kenapa Ndaranya itu malah ingin mencari masalah baru.

"Buat apa, Ndara? Ini, kan mencari masalah baru!" Protes mbok Jum.

Dewi membuang mukanya. Dia menitikkan air mata.

"Apa benar bayi ini dari Ammar, mbok?"

Mbok Jum melengak mendengar pertanyaan Dewi.

"Darimana ndara Dewi bisa berpikir seperti itu?" Seru mbok Jum.

Dewi terisak.

"Karena itu aku ingin tahu siapa yang mengirim bayi ini, Mbok!" Jawab Dewi dengan sedih.

Mbok Jum memejamkan matanya. Dia hampir mengatakan bahwa Dewi tidak perlu lagi mencari tahu siapa yang mengirim bayi itu, karena mungkin dia nanti akan kecewa.

"Bisakah, Mbok?" Tanya Dewi lagi.

Mbok Jum menghela nafas panjang. Dia mengangguk juga. Dia memang tidak bisa menolak perintah ndaranya.

****

"Kurasa kita terlalu lama di sini," kata Lasmi kepada Lasiyem dan Agus, "Kita harus berpindah tempat," kata Lasmi lagi.

"Benar juga! Kurasa kita harus mencari tempat baru dan ilmu baru!" Kata Lasiyem.

Agus diam saja. Dia masih punya satu misi yang harus diselesaikannya.

"Aku akan di sini dulu sementara waktu," jawab Agus pendek.

Lasmi dan Lasiyem memandangnya tak percaya.

"Mau apa? Apa karena Ammar?" Tanya Lasmi.

Agus mengangguk.

"Kenapa?"

"Aku kasihan melihatnya dilema dengan kehidupan cintanya."

Lasmi memejamkan matanya tak percaya.

"Kamu perlahan berubah jadi orang yang baik, Gus! Lihat saja! Pertama Ammar! Kamu kasihan padanya yang selalu berdiri di tepi sungai sambil melihat rumah gadis itu. Besok lagi, kau akan menolong orang lain, orang lain, orang lainnya lagi dan tiba-tiba saja kamu berubah jadi Agus yang baik hati dan berhati lurus! Kamu lupa tujuan kita berkelana selama ini!" Kata Lasmi.

"Sudah kuduga sejak awal itu yang akan kamu lakukan!" Desis Lasmi menahan marah.

"Kamu juga pernah melakukan hal itu, kan?" Kata Agus tak mau kalah, "Kamu malah pernah jadi gundik seorang lelaki hidung belang! Dan bilang tidak akan ikut lagi berkelana! Tapi lihat sekarang! Kamu malah yang paling bawel mengingatkan perjalanan kita!" Kata Agus marah.

Lasmi sudah siap hendak menyemprot Agus, ketika Ammar berdiri di depan mereka.

"Saya akan pergi ke rumah Dewi besok. Terima kasih sekali sudah mengajari saya banyak hal selama ini," kata Ammar lirih, dia takut mengganggu percakapan ketiga sahabat itu.

Mereka bertiga berpandangan kebingungan.

"Mau apa kamu ke sana, Mar? Kamu belum menguasai ilmu beralih rupa, kan?" Tanya Agus panik.

Ammar menggelengkan kepalanya.

"Saya tidak butuh itu. Saya hanya ingin melihat Dewi dari dekat, setelah itu saya akan pergi jauh," jawab Ammar.

Mereka semua terdiam.

"Duduklah, Mar! Sabar sebentar, ambil nafas dulu," kata Agus membujuk Ammar agar lebih tenang.

Ammar menurut dia duduk di samping Agus.

"Apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Agus.

Ammar tersenyum.

"Saya dengan kabar di pasar bahwa ndara Kamawijaya mencari orang pintar. Saya akan mencoba berpura-pura menjadi orang pintar dan akan ke rumah ndara Kamawijaya," jawab Ammar pendek.

Lasiyem tersenyum lebar.

"Aku percaya padamu, Mar! Kamu bisa dibilang sudah ahli dalam ilmu hitam dalam waktu singkat, aku sangat terkesan!" Kata Lasiyem lagi.

"Kamu yakin kamu tidak perlu ajian alih rupa?" Tanya Agus memastikan.

Ammar menggelengkan kepalanya.

"Setiap hari saya ke pasar, dan sepertinya tidak ada seorang pun yang mengenali saya," kata Ammar.

"Tapi kalau Dewi apa tidak mengenalimu, Mar?" Tanya Agus.

Ammar tersenyum.

"Kalau dia memang mengenali saya, dia pasti mau menyimpan semua rahasia itu," bisik Ammar sambil berwajah cerah.

Agus menghela nafas panjang. Seperti Ammar memang sudah memahami apa yang akan dihadapinya kini. Agus menganggukkan kepalanya.

"Baiklah! Pergilah, Mar! Aku percaya kamu pasti bisa menaklukkan hati Dewi," kata Agus.

Ammar mengangguk penuh rasa syukur, dia sangat senang mendapay restu dari guru-gurunya.

****

Malam beranjak larut.

Lasmi, Lasiyem dan Agus masih mengitari perapian. Mereka diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.

"Apa kamu yakin Ammar akan selamat?"

"Ammar memiliki kekuatan yang tidak kita punya!"

"Sepertinya dia terlalu lembut untuk balas dendam, kan?"

Agus tersenyum.

"Kamu benar sekali, Mi! Dia tidak ingin balas dendam. Dia hanya ingin bertemu dengan Dewi."

Mereka diam lagi.

"Jadi kekuatan apa yang ada pada diri Ammar?"

Agus menoleh ke arah Lasiyem dan Lasmi.

"Kekuatan itu bernama cinta!"

****

Agus melihat dari kejauhan bagaimana Ammar mengetuk pintu rumah ndara Kamawijaya. Dia melihat Ammar masuk ke rumah itu dengan mudah. Dia merasa Ammar akan baik-baik saja.

Agus menoleh ke arah Lasiyem dan Lasmi.

"Kurasa kalau kalian ingin melanjutkan perjalanan inilah saat yang paling tepat," kata Agus.

Dua sahabatnya menghela nafas panjang.

"Kenapa kamu masih mau menunggui pemuda itu?" Tanya Lasmi.

"Melihat pemuda itu seperti melihatku dalam cermin. Dulu aku tidak berani mengejar cintaku. Dan sekarang aku menyesalinya. Aku tidak ingin Ammar menyesali pilihan hidupnya," kata Agus pelan.

Lasiyem menghembuskan nafas panjang.

"Kamu ingin melindungi pemuda itu, kan, Gus?"

Agus menoleh, dan mengangguk.

"Sejak pertama aku melihat luka-luka di tubuhnya, aku teringat pada diriku sendiri," bisik Agus, "Ketika melihat dia bisa bertahan aku tahu, Ammar bisa bertahan menghadapi apapun di dunia ini!"

Lasmi dan Lasiyem termenung. Mengingat bagaimana mereka dulu bertemu. Situasinya hampir sama ketika mereka bertemu dengan Agus, seorang pemuda yang hampir tewas dikeroyok warga karena mencuri. Mereka membantu Agus, merawat Agus atas dasar kasih sayang dan mengajari berbagai macam ilmu hitam, hingga mereka menjadi sahabat sampai sekarang. Entah sudah berapa puluh tahun mereka berkelana bersama.

Lasmi merasa sedih.

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Gus! Aku akan menemanimu di sini!" Kata Lasmi. Lasiyem mengangguk setuju.

"Ya! Kurasa tempat ini cukup seram! Aku akan menggunakan tempat untuk mencari makan!" Kata Lasiyem sambil tertawa.

Tawa itu menular. Mereka bertiga tertawa. Dan merasa bahwa persahabatan mereka memang tidak bisa tergoyahkan oleh apapun.

****

Desa Parak Ageng memiliki tiga buah dusun. Ada dusun Parak, Parak Wetan dan Parak Kulon.

Sejak peristiwa pembakaran dusun Parak oleh kepala desa mereka sendiri, sebagian besar warga dusun Parak meninggal menjadi korban, dan sisanya yang masih hidup, memilih untuk pergi sejauh-jauhnya, menghilangkan luka dan trauma. Sementara warga dusun lain pun melarikan diri ketakutan. Mereka takut kepala desa mereka akan membakar dusun mereka juga.

Akhirnya desa Parak Ageng menjadi desa yang begitu sepi dan seram. Rumah-rumah banyak yang kosong dan ditinggalkan begitu saja. Pasar pun menjadi sepi, sawah terbengkalai, balai desa pun ditinggal begitu saja, berbagai fasilitas di desa itu menjadi mangkrak, berdebu, berlumut dan mulai rusak, menciptakan keseraman baru. Hal itu membuat warga desa yang masih bertahan lebih memilih untuk tinggal di dalam rumah ketika senja mulai datang. Mereka tidak ingin dihantui oleh warga desa Parak yang sudah meninggal karena kebakaran setahun yang lalu.

Berita hantu gentayangan itu membuat warga desa semakin ketakutan. Mungkin berita itu memang benar adanya, atau hanya berita bohong belaka, tapi Agus menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

Agus menyamar menjadi seorang yang baik-baik dan melamar menjadi seorang carik, yang langsung diterima dengan baik oleh pak Kades yang saat itu sedang kebingungan, karena hanya sedikit orang yang mau menjadi pamong desa.

Lasmi lebih memilih pergi ke pasar dan melihat-lihat keadaan pasar besar dan bekas kejayaan pasar itu. Lasmi memutuskan untuk menjadi pedagang saja. Dia membeli sebuah rumah dan tak lama kemudian menikah dengan seorang juragan sapi bernama Sastro Raharjo. Lasmi diam-diam masih terus belajar ilmu hitam dengan sahabat-sahabatnya.

Lasiyem memilih tetap menjadi dukun. Dia tidak peduli dengan dengan pandangan sinis orang-orang di sekitarnya. Dia tetap menjadi dukun. Sebuah obsesi yang dimilikinya sejak dulu.

Dan itulah jalan kehidupan tiga sahabat pencari ilmu hitam. Desa Parak Ageng yang berubah nama menjadi Tintrim pun menjadi pengikat baru persahabatan mereka.

****

Ammar berhasil memasuki keluarga Kamawijaya dengan mudah. Tidak ada seorang pun yang menyangka dia adalah Ammar. Atau memang ndara Kamawijaya tidak benar-benar tahu seperti apa wajah Ammar. Mereka hanya meminta bantuan kepada Ammar untuk melindungi rumah mereka dari ilmu hitam dan meminta perlindungan diri mereka dari ilmu hitam.

Tapi kemudian pagi itu Dewi melihat senyum samar Ammar ketika melihatnya bermain dengan Arjo yang sudah mulai belajar berjalan. Dewi tahu dia adalah Ammar.

Dewi mendekati Ammar yang saat itu baru memasang sesaji di kamar bapaknya.

"Mas Ammar, apakah Arjo adalah kiriman dari mas Ammar?"

Ammar mendelik kaget. Dia hampir terlonjak. Dewi tersenyum geli melihat Ammar.

"Sudah kuduga!" Bisik Dewi lirih, "Aku tahu kamu adalah Ammar. Terima kasih sudah mau datang ke sini, Mas," bisik Dewi lagi.

Ammar akhirnya sadar, orang yang akan mengenalinya, pastilah Dewi. Ammar tersenyum dan mengangguk.

"Kamu bisa mengenaliku, Wi," bisik Ammar pelan.

Dewi mengangguk.

"Menikahlah denganku, Mas," bisik Dewi dengan lelehan air mata, "Aku akan membantumu membalaskan dendammu pada bapakku."

Ammar menghela nafas panjang. Menikah? Pasti Agus akan tertawa mendengarnya. Tapi biarlah, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan balas dendam ini. Dia kemudian menyanggupi keinginan Dewi.

Tapi tentu saja dengan syarat. Dan syarat itu langsung dipenuhi oleh Dewi tanpa banyak bertanya. Salah satu syaratnya adalah menjadikan ndara Kamawijaya sebagai tumbal mereka yang pertama.

****

Agus hampir tak percaya mendengar kabar ndara Kamawijaya akan mantu. Apalagi ketika calon menantunya itu adalah Ammar. Dia tertawa terbahak-bahak. Ada-ada saja.

Tapi Agus mafhum, sepertinya Ammar memiliki rencana lain. Agus tahu Ammar pasti akan balas dendam.

****

Sepuluh tahun berlalu. Ndara Kamawijaya sudah lama meninggal, tapi rumahnya masih seperti dulu. Tertutup rapat dari luar, karena itu adalah salah satu syarat yang diajukan oleh Ammar kepada Dewi Karunyan sebelum mereka menikah. Rumah mereka harus tertutup rapat dan tidak boleh dimasuki oleh orang asing, karena rumah mereka akan dijadikan tempat belajar ilmu hitam oleh semua anggota keluarganya, termasuk Harjo Kusumo dan para pembantu mereka.

Setiap orang yang hendak menjadi pembantu mereka pasti disumpah untuk bersedia belajar ilmu hitam. Dan tidak ada satu pun orang yang keberatan. Mereka semua hidup bahagia dengan ilmu hitam mereka, dengan pilihan hidup mereka.

Ammar yang sudah mengubah namanya menjadi Wardoyo Kusumo ternyata sangat pintar berbisnis, sekali lagi keluarga kuno itu menjadi salah satu keluarga terkaya di Tintrim, selain itu kepandaiannya dalam meramu ilmu hitam membuatnya terkenal hingga ke berbagai daerah, dan membuatnya sering pergi ke berbagai tempat untuk menjadi dukun.

Dewi Karunyan pun tak beda jauh. Dia berguru langsung pada suaminya dan menjadi seorang wanita penggila ilmu hitam. Dia sangat menyukai berbagai macam ajian dari laut selatan. Dewi menjadi semacam kolektor jimat dari laut selatan.

Anak mereka Harjo Kusumo atau yang kemudian sering dipanggil dengan Aryo Kusumo pun demikian. Dia sangat suka belajar ilmu hitam walaupun masih kecil, dia kadang ikut bapaknya hingga ke tempat yang jauh untuk bertirakat dan mendapat ilmu baru.

Tapi Aryo Kusumo bertumbuh menjadi anak yang pendiam dan tidak suka bicara. Dia lebih suka melihat, mengamati dan kemudian mengambil sikap. Dia tumbuh nyaris sama seperti Ammar, bapak yang mengirimkannya ke rahim Dewi Karunyan. Dia sangat mengidolakan bapaknya.

****

Wardoyo Kusumo atau Ammar menghela nafas panjang. Dia memandang wanita muda di depannya.

"Kamu tidak bohong, kan?"

Wanita itu menggelengkan kepalanya.

"Apa kamu hanya berhubungan dengan aku?" Tanya Wardoyo Kusumo lagi.

Wanita itu menitikkan air matanya. Wajah cantiknya terlihat sendu.

"Njih, Ndara. Saya tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain," jawab sang wanita itu pilu.

Wardoyo Kusumo menggigit bibirnya kuat-kuat. Inilah pertama kalinya dia tidak berhati-hati ketika bermain dengan wanita, sehingga wanita itu hamil. Dia menghela nafas berat.

"Baiklah, aku akan menanggung semua biaya dan kebutuhan hidupmu dan anak yang akan kamu lahirkan! Tapi kalau kamu ketahuan bohong, aku akan membunuh kalian berdua!" Kata Wardoyo Kusumo dengan bengis.

Wanita itu mengangguk takut. Dia takut ketahuan kalau dia sebenarnya bukan wanita baik-baik.

****

Sembilan bulan kemudian lahirlah seorang bayi laki-laki yang sehat dan lucu, ibunya meninggalkan bayi itu di puskesmas Tintrim sendirian, dan kemudian bayi itu diangkat oleh seorang janda bernama Sumirah yang bekerja di rumah Wardoyo Kusumo atau Ndara Kusumo.

Tapi sebenarnya semua memang sudah diatur. Ibu sang bayi sudah dibun*h, dan kemudian bayi itu diangkat oleh pembantu ndara Kusumo agar semua mudah diatur dan ndara Kusumo bisa juga mewariskan ilmu hitamnya pada anak laki-lakinya yang diberi nama Sapto Aji.

****

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tidak Akan Memaafkanmu
9.1
Alea diadopsi oleh pasangan konglomerat, Reynald dan Marina, sejak kecil. Namun di usia dewasa, ketenangan rumah mereka terusik saat Reynald mulai menaruh perasaan terlarang pada putri angkatnya itu. Di tengah ketidaktahuan Marina yang fokus pada terapinya, Alea merasa tertekan oleh obsesi sang ayah. Segalanya berubah saat rekaman rahasia mengungkap skandal yang mengancam keutuhan keluarga mereka. Haruskah Alea bicara atau tetap diam demi membalas budi?
Sampul Novel Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
8.4
Aryan Adhitama, CEO berhati dingin, terpaksa menikahi Alana Shafira setelah sebuah jebakan obat perangsang membuatnya merenggut kesucian perawat kakeknya itu. Pernikahan ini digelar demi tanggung jawab dan nama baik keluarga, meski Aryan hanya menganggap Alana sebagai beban. Alana pun terjebak dalam penderitaan batin bersama pria yang membencinya. Di tengah perbedaan status dan rahasia kelam, mampukah cinta tumbuh dari paksaan dan kesalahpahaman?
Sampul Novel Dia Pikir Aku Akan Menderita dalam Diam
7.8
Lima tahun menikah, aku menemukan rahasia kelam suamiku lewat sebuah USB. Isinya membuktikan bahwa aku hanyalah pengganti cinta pertamanya. Puncaknya, dia memberikan proyek impianku kepada wanita itu dan mempermalukanku di depan umum saat gala perusahaan. Dia mengira aku akan menerima pengkhianatan ini dengan diam dan hancur dalam kesedihan. Namun, dia salah besar. Di hadapan semua kolega, aku menyiramkan sampanye ke kepalanya sebagai tanda perlawananku.
Sampul Novel Dibuang Seperti Sampah, Kini Dicari
8.9
Delapan tahun pernikahan rahasia Risa hancur saat Teguh melamar Selia. Merasa dikhianati, Risa memilih bercerai dan meninggalkan restoran mereka. Teguh yang angkuh justru mengusir Risa dan adiknya, Heru, demi wanita simpanannya. Namun, saat bisnisnya hancur akibat ulah Selia, Teguh menyusul Risa ke Swiss untuk memohon maaf. Risa kini bangkit dan mengungkap kebenaran pahit tentang malam yang menjebaknya di masa lalu, membiarkan Teguh menyesal dalam kehancuran.
Sampul Novel Ghost Boyfriend
8.0
Arka terpaksa menjadi arwah penasaran setelah kecelakaan maut merenggut nyawanya di waktu yang salah. Mendapat peluang terakhir untuk kembali ke dunia, ia meminta bantuan Zulfi, seorang pengangguran, demi menuntaskan urusan yang tersisa. Arka ingin memastikan kekasihnya, Ziva, tetap bahagia meski ia telah tiada. Mampukah Arka pergi dengan tenang setelah melihat kedekatan Ziva dan Zulfi? Bisakah ia mengubah hidup Zulfi menjadi lebih baik sebelum waktu habis?
Sampul Novel Love Over Everything
9.2
Zanara melarikan diri demi menghindari rahasia kelam suaminya, lalu bertemu Jayme yang tulus mencintainya. Meski trauma masa lalu membuatnya menutup diri, ia justru terjebak dalam romansa rumit saat orang-orang dari masa lalunya kembali mengusik. Kini, keselamatan putri semata wayangnya, Marion, menjadi taruhan utama. Zanara dihadapkan pada pilihan sulit: tetap menyendiri dan kehilangan Marion, atau menerima pinangan pria demi melindungi sang buah hati.