
JANDA, MARRY ME!
Bab 2
Rendra melajukan mobilnya dengan kencang. Tak peduli dengan rambu rambu dan berbagai cacian atau umpatan dari pengendara lainnya. Yang terpenting baginya kini ia bisa segera sampai di rumah dan membicarakan masalah ini dengan Mamanya. Jika bisa, ia ingin istirahat dan bicara keesokan harinya. Karena dengan begitu amarah yang meletus menjadi padam.
Baginya ini adalah masalah sekaligus musibah yang sangat besar. Jika mereka pikir pernikahan adalah mereguk kebahagiaan, maka bagi Rendra ini adalah tempat menyelami kesedihan.
Tadi Rendra keluar lebih dulu dari rumah wanita yang akan menjadi calon menantu dari Mamanya. Di belakang, Mamanya mengejar dengan mobil yang dikendarai sopir. Sudah seperti arena balapan saja. Keduanya saling salip dan berlomba cepat sampai di rumah. Bukan untuk meraih kemenangan, tapi untuk meluapkan kekesalan. Kekesalan akan pembicaraan yang belum selesai dan berujung kemarahan.
Yuanita sangat geram dengan ucapan dan tindakan putranya. Secara tidak langsung juga menjatuhkan harga dirinya. Memperlihatkan seolah tidak bisa mengurus anak seorang diri. Memperlihatkan hasil didikannya yang menjadi sangat tidak terpuji.
Sampai di halaman rumah, keduanya turun dengan tergesa. Jika Rendra ingin masuk kamar dan melepaskan penat dengan tidur, tidak dengan Yuanita yang ingin memaksakan kehendaknya.
“Rendra!” Berlari mengejar Rendra yang hendak menaiki tangga. Berteriak dengan sangat keras supaya putranya itu mau menghentikan langkah. “Berhenti, Rendra!”
“Mama bilang berhenti, Rendra!!”
Mengesah pelan, Rendra memilih tak melanjutkan langkahnya. Semarah apapun ia pada sang ibunda tercinta, ia tetap menghormatinya meaki kecewa kali ini terlalu dalam. Memilih berhenti dan mendengarkan perkataannya. Meski ia tahu ini akan lama dan menguras emosi, tapi ini harus ada kejelasan. Ia harus menegaskan pilihannya.
“Apa lagi sih, Ma?” Raut wajah malas bercampur kesal yang sangat kentara tentang isi hatinya. Bahkan nada suaranya menguat karena kejengkelan.
“Mama belum selesai berbicara.”
“Kalau Mama mau bahas soal tadi, sorry, aku nggak berminat."
“Tapi dia terbaik buat kamu, Rendra!”
Wajah Rendra mengeras. Mempertemukan giginya sambil menahan geram. Entah kenapa Mamanya tidak mau mengerti. Dia tidak suka dan tidak cinta. Jadi, kenapa masih dipaksa?
“Terbaik?” Rendra tertawa mencemooh. “Ma, dia janda dan aku seorang perjaka. Kita nggak sepadan! Dia bukan level Rendra, Ma.”
Kali ini Mamanya yang tertawa sumbang, membalikkan perkataan Rendra dengan telak hingga membuat Rendra bungkam menyisakan bola matanya yang bergerak gusar, “Perjaka?” kembali tawa mengejek itu keluar dari wanita itu. Kini kemenangan berbanding terbalik. “Yakin kamu masih perjaka?”
Yuanita mengitari Rendra, putranya tahu dia salah bicara. “Apa perlu Mama bantu menghitung berapa hotel dan villa yang kamu datangi bersamanya? Atau …,” ucap Nyonya Yuan sengaja menggantung ingin melihat reaksi putranya.
“Oke, fine!” Rendra kalah. Ia sadar selama ini Mamanya tahu kelakuan buruknya hanya saja memilih diam. Kembali ia menghadap sang Mama. Ia tahu pembicaraan ini akan semakin lama karena ucapannya sendiri. Membuka tabir yang ia pikir tertutup baik.
“Mama belum selesai bicara, Rendra.”
“Aku tahu aku salah ngomong. To the point saja.” Wajahnya sudah pasrah. Ia lelah. Apalagi pembahasan berat seperti ini harus segera diakhiri dengan sebuah keputusan mutlak.
“Kamu bukan orang suci yang tidak pernah melakukan dosa sama sekali, Rendra. Jadi kamu tidak berhak menghakimi Melda seperti itu.” Yuanita melangkah mundur. Menatap putranya dari jauh. Sekadar ingin tahu dimana ia melakukan kesalahan sampai Rendra berbuat seperti ini.
“Apa pernah Mama mengajari kamu bersikap buruk dan tidak sopan pada orang lain? Apa pernah Mama mengajarimu menilai sesuatu dengan sekali lihat? Apa pernah Mama berbuat kasar padamu sehingga kamu kasar kepada mereka?”
Rentetan pertanyaan itu meluncur dari mulut Yuanita. Ia tak menyangka putra kesayangannya mampu berkata sekejam itu pada seorang wanita. Padahal ia selalu mengajari untuk selalu melindungi dan menjaga wanita dengan baik.
“Oke kalau kamu tidak cinta dan tidak suka dia, tapi apa pantas kamu berkata seperti itu? Oke, dia memang janda, tapi apa pantas dia menerima penghinaan itu? Menyakiti hati mereka dengan lidahmu?”
Suara Yuanita mengecil. Dadanya sesak. Tangis yang dari tadi ia pendam akhirnya meluber. Lalu jatuh terduduk memegangi dadanya. Sibuk menenangkan hatinya sendiri. Dulu ia bisa mengatasi penghinaan ini sendirian. Namun, entah kenapa sekarang tidak. Hatinya ikut sakit melihat Melda diperlakukan seperti itu.
“Mama.” Rendra menghampiri Mamanya, tapi berhenti ketika satu tangan wanita itu diangkat yang mengartikan tak ingin didekati.
Masih belum mau bicara, Yuanita terus menangis mengeluarkan semua beban yang mengimpit dada. Sedangkan di depannya Rendra menatap takut. Ada perasaan sedih dan juga marah. Berpikir ini semua karena ulah Melda. Jelas salah Melda.
Semua pembantu hanya berani melihat dari jauh. Pertengkaran majikannya kali ini yang terbesar. Melihat nyonya menangis seperti ini adalah yang pertama kali setelah sekian lama.
“Ma ….”
“Jangan mendekat.”
“Mama.”
“Jangan mendekat!” teriaknya sambil menunduk. Alasan Yuanita marah bukan karena perjodohan ini batal, tapi pada Rendra yang menghina dirinya secara tidak langsung.
Rendra hanya menelan ludah. Bingung harus berbuat apa. Padahal ia sudah berjanji takkan membuat Mamanya menangis lagi, tapi kini ia ingkar. Sekali lagi mamanya menangis karena dirinya. Mata Rendra mulai berembun. “Ma ….”
“Sekarang Mama tahu bagaimana rasanya ditolak oleh seorang laki laki karena status kita. Meski alasan yang dilontarkan tidak sama tapi setidaknya mereka masih menghargai Mama.”
“Ma.”
“Mama dan Melda sama-sama tidak ingin menjadi janda, Rendra. Kita ingin akhir hidup yang bahagia. Kita ingin bisa menatap dunia dengan kepala terangkat. Bukan menunduk karena status kita yang selalu menjadi gunjingan. Kita ingin bisa tertawa lepas menghilangkan status kita meski sementara. Tapi, ucapan kamu menampar Mama, Rendra. Menyadarkan Mama bahwa janda tidak berhak bahagia. Janda tidak berhak mendapatkan kesempatan kedua dan bahwa janda cukup sadar diri bahwa dirinya janda.”
Melangkah menaiki tangga, Yuanita memilih meninggalkan Rendra yang tergugu pada ucapannya sendiri. Ia baru sadar ia telah salah besar. Menyakiti yang bukan hanya Melda dan keluarganya, tapi juga hati mamanya.
“Terima kasih karena menyadarkan Mama. Mama baru tahu bahwa seorang perawan yang tidak suci ketika malam pertama lebih mulia dibanding Janda terhormat seperti Melda di hadapan kamu.”
Mengusap wajahnya kasar, Rendra segera berlari memeluk mamanya dari belakang dan membisikkan kata maaf. Menyesal atas ucapannya. Ia tak sadar jika ucapannya berakibat sangat fatal. Niatnya hanya menolak perjodohan ini. Tidak lebih dari itu.
Rendra baru sadar ucapannya lebih menyakiti hati mamanya daripada calon pengantin itu sendiri. Tidak menikah hingga ia dewasa seperti sekarang adalah hal paling berat. Karena bukan hanya diharuskan kuat, Mamanya harus tegar di setiap cobaan, hinaan dan gunjingan. Merawat dan membesarkan seorang diri. Hanya memikirkan kebahagiaannya tapi lupa dengan dirinya sendiri.
“Maaf, maaf, maaf,” lirih Rendra. Ia sungguh menyesal, tapi menyesalpun tak bisa mengubah apa yang terjadi.
“Tidak apa, Nak. Perkataanmu membuat Mama sadar, bahwa janda tidak berhak bahagia.”
“Tidak! Tidak, Ma. Mama berhak bahagia,” ucap Rendra di sela tangisnya. “Rendra minta maaf, Ma. Rendra menyesal.”
“Tidak apa, Sayang. Mama memaafkanmu. Malah, Mama berterima kasih.” Rendra mendongak tidak paham yang dibalas senyuman kecil oleh Mamanya. “Setidaknya Mama jadi tahu apa pemikiran mereka ketika menolak Mama. "
"Tidak, Ma. Bukan begitu."
"Pergilah. Menikahlah dengan wanita pilihanmu. Tapi jangan harap mama akan datang."
Anda Mungkin Juga Suka





