
JANDA, MARRY ME!
Bab 3
Melda mengguyur tubuhnya di bawah air shower. Tak peduli dengan baju yang basah kuyup. Tangisan yang dari tadi ia pendam terus menerus ia keluarkan. Beruntung tersamarkan dengan bunyi air yang jatuh sehingga sekeras apapun ia menangis dan berteriak takkan terdengar dari luar. Logikanya berpikir seperti itu.
Melda menangis bukan hanya karena ucapan sang calon suami yang kini berubah menjadi mantan calon suami. Namun, karena tidak sekali dua kali ia mendengarkan kata-kata buruk tentang dirinya. Ia lelah.
Bukan maunya. Sumpah demi apapun bukan mau Melda hidup dengan status yang kini ia sandang. Ia manusia biasa yang ingin bahagia, tertawa lepas dan berjalan mendongak meski status itu miliknya.
Namun, bisakah mereka menatap Melda seperti itu? Sebagai seorang wanita biasa? Sebagai seorang wanita pada umumnya? Sebagai masyarakat yang juga butuh teman dan sosialisasi? Bukan Melda orang sang janda, tapi perkataan orang-orang yang terus mencibir membabat habis rasa percaya dirinya hingga tak bersisa. Membatasi ruang gerak serta lingkup sosialisasinya.
Belum lagi tentang dirinya yang dianggap sebagai benalu di keluarga mertuanya. Iya, Melda memang hidup di rumah mertuanya. Sudah berkali-kali ia mencoba pergi diam-diam, tapi mertuanya selalu menahannya. Menyuruhnya untuk menetap dan menjadi anak angkat mereka. Bahkan mereka sampai bersujud memohon pada Melda untuk tetap tinggal. Lantas, apa ia tega? Tidak.
Melda paham kalau Aldo Bramantyo adalah anak tunggal, sehingga kini ia diangkat sebagai anak untuk menahan dirinya, tapi apa mertuanya tidak tahu diluar sana banyak orang yang membicarakannya? Menggunjingnya? Membuat cerita fiksi tentangnya?
Ia difitnah telah membunuh suaminya sendiri. Tidak sampai disitu, ia juga di tuduh sengaja membiarkan mertuanya hidup karena ia membutuhkan tanda tangannya untuk mendapatkan harta warisan. Tuduhan kejam tanpa bukti.
Dan sampai saat ini mereka terus berpandangan negatif pada Melda. Pada statusnya juga pada sikapnya. Meskipun jutaan kali Melda menampik. Benar apa kata pepatah 'Akan sia-sia menjelaskan tentang diri kita pada seseorang yang membenci kita.'
Melda mematikan shower, melepas bajunya dan berganti dengan handuk baju yang tersedia. Sudah cukup tangisannya hari ini. Ia tak mau membebani mertuanya yang sudah ia anggap seperti orang tua kandung. Pasti nanti akan ada pertanyaan kenapa kantung matanya menghitam.
"Mama!!" Melda begitu kaget saat melihat mertuanya sudah ada di ranjangnya. Menelan ludah susah payah.
"Kamu kenapa mandi?" tanya Rima. Melipat kening melihat menantu yang sudah ia anggap anak sendiri itu mandi. Wajahnya terlihat ramah dengan senyum tipis.
"Oh itu ... Ah iya, Melda gerah, Ma. Iya gerah." Melda menganggukkan kepalanya meyakinkan jawabannya sendiri. Karena jawaban itu keluar secara spontan. Ia belum menyiapkan jawaban atas pertanyaan yang pasti keluar saat melihat dirinya.
"Sini." Rima menepuk ruang di sebelah kanannya.
Menurut, Melda bergerak ke tempat yang diarahkan. Begitu terkejut ketika mertuanya tiba-tiba memeluknya. Bahkan tak lama setelah itu terdengar isakan. Air yang keluar merembet membasahi handuknya. Melda masih diam tak bergerak. Tak tahu harus apa. Jantungnya bertalu ingin ikut menangis.
"Maaf." Setelah beberapa menit kata itu terucap dari bibir mertuanya. "Maafkan Mama. Mama janji itu tadi yang pertama dan terakhir."
Tangisan itu semakin kencang. Melda hanya menatap kosong ruangan di depannya. Ia pikir hanya dirinya yang terluka akan ucapan Rendra. Ia pikir, mertuanya bersifat egois. Ia pikir mertuanya sudah lelah menampungnya. Ternyata ia salah. Mertuanya bisa merasakan kesakitan, kesedihan, kemarahan dan kekecewaannya.
"Maafkan Mama. Andai Mama tahu kalau dia sejahat itu, Mama tak akan menyetujui usul ini." Melda mengangkat tangannya mengelus punggung yang bergetar itu. Ternyata ini usul sahabat mertuanya.
"Mama mohon jangan pergi. Hanya kamu yang kami miliki setelah kepergian Aldo."
Mata Melda mengembun. Ia juga tak punya siapapun semenjak kepergian Aldo. Ia yang sebatang kara bertemu dengan Aldo yang sempurna. Lalu, Aldo pergi menghadap sang pencipta dan ia tak punya siapapun lagi di dunia ini. Namun, ia salah, ia masih punya mertua yang menganggapnya seperti anak kandung.
"Melda nggak akan ninggalin Mama apapun yang terjadi. Melda janji."
"Terima kasih, Sayang."
Ia juga butuh sandaran dan kasih sayang, di sini ia mendapatkan semuanya.
"Sekalipun ia bersujud padamu, Mama tidak akan merestui. Dia bukan pria baik dan Mama tidak ingin kamu hidup bersamanya."
"Iya, Ma. Sekarang Mama tidur, ya. Ini sudah larut," ucap Melda. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. "Ingat kata dokter, Mama tidak boleh terlalu capek dan tidur terlalu malam. Mama harus istirahat yang banyak."
"Mama takut ...."
"Melda janji, besok pas Mama bangun, Melda tetap di rumah ini."
Mertuanya butuh seseorang untuk menjaga dan merawat mereka. Menyayangi sepenuh hati dan selalu menghormatinya. Melda butuh orang tua untuk berbagi keluh kesah dan seseorang yang menguatkan hatinya. Mereka saling membutuhkan dan mereka memilih bertahan setelah kehilangan.
Mertuanya menurut dan pergi tidur. Melda menyeka air matanya. Bergerak ke lemari hendak mengambil piyama. Namun urung saat tangannya malah bergerak mengambil kemeja milik suaminya yang masih tertata rapi di lemari. Menarik baju itu dan mencium aroma suaminya lalu memakai kemeja itu hingga tertidur dengan lelap. Ia yakin akan bermimpi indah.
Ia kembali menangis. Andai bukan wasiat, ia akan memilih pergi jauh dan memulai hidup baru. Meski status janda tetap ia sandang, setidaknya ia akan nyaman dengan lingkungan baru. Bukan di lingkungan lama yang penuh dengan manusia bertopeng.
❄❄❄
"Pagi, Pa, Ma."
"Pagi, Sayang."
"Pagi juga, Mel." Rudi meminum kopinya. Memerhatikan menantunya yang tengah mengolesi roti dengan selai. "Gimana pabrik, Mel?"
Meletakkan pisau yang di gunakan untuk mengolesi, Melda mengesah pelan. "Kayaknya Melda mau pakai tepung lain deh, Pa. Tepung yang biasanya kita pakai itu semakin lama semakin naik harganya. Belum lagi kualitas juga menurun. Efeknya ke kita besar, Pa."
"Tapi Mel, kalau kamu mau pakai tepung lain, kamu harus melakukan test pada semua jenis roti, cocok tidak?"
Rima tersenyum hangat. Melihat keakraban antara suami dan menantunya membuat hatinya menghangat. Mungkin dia memang kehilangan Aldo anak kandungnya, tapi Melda sang menantu bisa bersikap baik pada dirinya. Mencintai dirinya seperti ibu kandung.
Ia memang sengaja menahan Melda supaya tidak pergi. Selain ia menyayangi wanita itu, ia sangat percaya padanya. Bahkan setelah dua tahun memegang pabrik, keuangan selalu bergerak naik dan tak pernah ada kesalahan. Bagi Rima menantunya itu wanita spesial yang dikirimkan tuhan untuknya. Menggantikan peran Aldo dengan sangat baik. Rima berjanji akan melakukan apapun untuk kebahagiaan sang menantu, untuk menahannya untuk tetap di sisinya.
"Sarapan, Sayang. Bukan bicara pekerjaan," sela Rima kala melihat roti di hadapan mereka masih utuh. "Pa, anakmu itu harus sarapan. Jangan ajak bicara terus."
"Maaf," lirih Rudi. "Makan dulu, Mel."
"Masih nunggu nasi goreng dari Mbok Nunik Pa, Ma."
"Lha, kenapa nggak bilang Mama, Mel? Tahu gitu Mama yang buatin," ucap Rima beranjak ke dapur berniat mengambilkan nasi goreng menantunya.
"Nggak usah ke dapur, Ma. Di tungguin aja. Melda juga nggak keburu, kok." Melda tersenyum hangat.
"Mel, apapun yang mengganggu hatimu katakan pada kita. Kita akan selalu mendengarkan dengan baik. Jangan simpan sendiri."
"Iya, Pa."
"Papa janji kejadian tadi malam tak akan terulang lagi."
"Terima kasih."
Anda Mungkin Juga Suka





