Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris

Jadilah Milikku, Nona Sekretaris

Julian Evans, CEO tampan nan kaya, menghadapi satu penolakan besar dari sekretarisnya sendiri, Mia Sanders. Meski saling mencintai, Mia yang merupakan anak pelayan keluarga Evans memilih memendam rasa demi balas budi dan status sosial. Ia menganggap hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak menyerah dan menantang keraguan Mia untuk membuktikan keseriusannya. Mampukah kegigihan Julian meluluhkan hati Mia dan meyakinkannya bahwa cinta mereka layak diperjuangkan?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ketika keluar dari ruangan, mata Julian otomatis terbuka lebar. Untuk pertama kalinya, ia tidak menemukan sang sekretaris di meja kerja.

“Apakah Mia sudah pulang? Kenapa dia tidak menungguku?” gumam pria itu sambil memeriksa kolong meja. Sesuai dugaan, tidak ada satu pun tas yang tergantung di sana. “Mia benar-benar meninggalkanku?”

Selang perenungan singkat, Julian terkesiap. Sesuatu telah melintas dalam benaknya. Tanpa membuang waktu, ia berjalan cepat, berusaha untuk menemukan sang sekretaris.

“Mia sudah terbiasa menghadapi ledakan emosiku. Tidak mungkin dia marah,” gumam sang pria, menyangkal pemikiran sendiri. Ia tidak bisa membayangkan jika kesabaran sang gadis tidak bersisa. Bagaimana cara mendapatkan hati Mia jika gadis itu tidak lagi mau mendengarkan kata-katanya?

Tepat ketika Julian berbelok, matanya menangkap bayangan sang sekretaris. Gadis itu baru saja memasuki lift.

“Mia!” panggil sang CEO tanpa memperhatikan volume suaranya. Sedetik kemudian, pria itu berlari menghampiri. “Mia!”

Malangnya, ketika ia tiba, pintu telah menutup dan angka pada layar mulai bergerak turun.

“Ck, kenapa dia tidak menggubris panggilanku?” gerutu Julian dengan napas yang mulai menderu. “Apakah dia benar-benar marah?”

Sambil berdecak kesal, sang CEO bergegas masuk ke lift sebelah. Ia tidak tahu bahwa sang sekretaris juga sedang memikirkan hal yang sama tentang dirinya.

“Apakah Tuan Julian marah karena aku pulang begitu saja?” batin sang gadis dengan alis berkerut. Sembari mencengkeram tali tasnya lebih erat, ia menghela napas cepat. “Tidak, tidak. Aku tidak boleh goyah. Mulai sekarang, aku harus bersikap lebih tegas. Tidak boleh ada perhatian lagi. Jangan sampai Tuan Julian menaruh harapan. Pemikirannya tentang aku menyukai Tuan Max sudah melampaui batas. Semua ini harus segera dihentikan sebelum timbul pemikiran lain yang lebih menyesatkan.”

Tiba-tiba, lift berdenting. Begitu pintu terbuka, dua orang staf perempuan masuk sambil tertawa lepas. Namun, begitu melihat sang sekretaris, mereka langsung tertunduk dan bungkam.

“Kenapa dia bisa menggunakan lift umum?” bisik staf yang berambut lebih panjang.

“Mungkin dia sedang bertengkar dengan Tuan CEO,” sahut rekannya sambil melihat pantulan wajah Mia di pintu lift yang mengilap. “Atau mungkin, dia sudah bosan mengejarnya. Dia gagal mendapatkan Tuan Max. Lalu sekarang, sudah dua tahun lebih, Tuan Julian masih belum juga melamarnya. Dia pasti kecewa karena hubungan mereka digantungkan.”

Mendengar omongan semacam itu, hati Mia mendadak panas. Namun, sebisa mungkin, ia mempertahankan tampang datar.

“Kudengar, dia anak seorang pelayan keluarga Evans,” bisik staf yang berbibir tipis itu lagi.

“Benarkah?”

“Entahlah. Tapi, jika itu benar dan dia masih berusaha mendekati Tuan CEO, dia sungguh tidak tahu malu. Sekalipun jabatannya adalah sekretaris, tetap saja dia berasal dari kasta rendah. Derajat keluarga Evans bisa jatuh jika Tuan Julian menikahinya.”

Tanpa memikirkan perasaan Mia, staf yang berambut panjang langsung mengangguk. “Benar. Lihatlah Tuan Max sebagai contohnya. Setelah menikahi gadis miskin itu, dia langsung ditendang dari perusahaan oleh ayahnya sendiri. Meskipun sekarang dia mulai bangkit, tetap saja, derajatnya sudah turun di mata semua orang di Quebracha.”

“Tapi, aku bisa memaklumi jika Tuan Max jatuh cinta kepada Gabriella. Apakah kau pernah melihatnya secara langsung? Dia benar-benar cantik. Kudengar, dia juga seorang jenius. Wajar jika Tuan Max menjadikannya seorang istri.”

“Benar juga. Dan putra mereka ... apakah kau sudah melihatnya? Dia sangat lucu. Aku mengikuti kesehariannya lewat media sosial. Dia sangat menggemaskan,” sahut wanita yang mulai lupa mengontrol suara. Ia seakan tidak peduli jika Mia dapat mendengar.

Tiba-tiba, wanita berbibir tipis menepuk lengan rekannya. “Lalu, apakah kau bisa membayangkan jika Tuan Julian menikahi Nona Sekretaris? Tidak ada yang hebat darinya. Anak mereka pasti tidak akan selucu putra Tuan Max dan Gabriella. Apa yang bisa mereka andalkan untuk mempertahankan derajat?”

Udara dalam paru-paru Mia semakin bergemuruh, sementara air mata telah bersiap melapisi penglihatan. Gadis itu tidak tahu berapa lama lagi ia sanggup bertahan.

Beruntung, lift tiba-tiba berdenting. Begitu pintu terbuka, segerombolan pegawai langsung menyerbu masuk.

Berada di dekat orang sebanyak itu, omongan miring tentang Nona Sekretaris pun tidak dilanjutkan. Kesedihan perlahan mulai memudar. Mia akhirnya dapat menarik napas panjang dari mulutnya.

“Syukurlah,” batinnya sembari melirik ke arah para wanita yang memasang tampang polos. Kedua orang itu sama sekali tidak merasa bersalah. Mereka tidak peduli jika di balik ekspresi dingin sang sekretaris, tersimpan kesedihan yang mendalam.

Setibanya di lobi, Mia berjalan dengan langkah gontai. Pikirannya masih tertuju pada perkataan para staf, hingga tiba-tiba, seseorang menyentak lengannya.

“Kenapa kau pergi tanpa mengabariku?”

Hanya dalam sekejap, mata sang gadis terbuka lebar. Dengan desah napas tak percaya, ia memeriksa keadaan sekitar. Orang-orang sedang heboh menyaksikan kelakuan CEO mereka. Julian harus segera disadarkan.

“M-maaf, Tuan. Tapi, saya sedang terburu-buru,” ucap Mia datar. Dengan raut kaku, ia mendorong tangan sang pria agar melepasnya.

“Memangnya kau mau ke mana?”

Secepat kilat, Mia mengarang alasan. “Menemui ibu saya, Tuan.”

“Ada apa dengan Bibi?” tanya Julian tanpa memedulikan keadaan sekitar.

“Tidak ada apa-apa, Tuan. Saya berjanji untuk meluangkan waktu berbincang dengannya sepulang kerja. Akhir-akhir ini, saya terlalu sibuk dengan pekerjaan,” ucap Mia dengan wajah yang agak tertunduk. Tidak biasanya ia khawatir jika kebohongannya terdeteksi.

“Kalau begitu, ayo pergi bersama. Aku juga harus ke sana. Cayden sudah menungguku,” ajak Julian dengan anggukan tegas.

Mia spontan melirik ke sekelilingnya. Banyak mata masih mengamati gerak-gerik mereka. Jika ia menolak, pasti akan terjadi keributan ataupun kesalahpahaman. Dengan kondisi semacam itu, sang gadis akhirnya terpaksa menerima tawaran. “Baiklah.”

Tanpa menunggu Julian, Mia berjalan ke lift khusus CEO. Gadis itu tidak ingin menjadi tontonan lebih lama. Semakin cepat ia menghilang dari tatapan sinis para pegawai wanita, semakin cepat pula dirinya dapat memarahi sang CEO atas tindakan yang sangat tidak rasional.

“Kenapa Anda melakukan itu, Tuan?” serang Mia begitu Julian masuk dan menutup pintu mobilnya.

Dengan alis melengkung tinggi, pria itu membalas, “Melakukan apa?”

“Menghentikan langkah saya di lobi dan terang-terangan menawarkan tumpangan,” sahut sang gadis bersamaan dengan gemuruh napas yang meningkat.

“Apakah ada yang salah?” timpal Julian sama sekali tanpa beban.

Mendapat respon semacam itu, sang sekretaris spontan melepas kekesalan di udara. “Tentu saja salah. Apakah Anda lupa sudah menjadi seorang CEO?”

Tanpa berpikir panjang, sang pria menggeleng. “Tidak.”

“Lalu kenapa Anda tidak menjaga reputasi seperti tadi?”

Tiba-tiba, mata Julian menyipit. “Apakah kau berpikir bahwa menawarimu tumpangan dapat merusak reputasiku?”

“Tentu saja. Semua yang melihat pasti akan berpikiran macam-macam tentang kita.”

Mendengar nada bicara yang mulai naik, sang pria menggeleng tak mengerti. “Selama dua tahun terakhir, kita selalu pulang bersama. Kenapa sekarang kau mendadak berpikir demikian dan keberatan?”

“Karena saya baru sadar. Seorang CEO tidak seharusnya terlalu dekat dengan sekretaris. Itu bisa menimbulkan rasa iri dalam hati pegawai lain,” jawab sang gadis dengan kerutan kecil di pangkal alis.

“Perkataanmu sungguh tidak masuk akal, Mia. Siapa pun pasti tahu bahwa seorang CEO memang paling dekat dengan sekretarisnya.”

“Tapi jam kerja telah berakhir, begitu pula dengan tugasku sebagai sekretaris. Sikap Anda tadi bisa menimbulkan kecurigaan dan kabar miring tentang kita. Mereka akan berpikir kalau kita sedang menjalin hubungan. Anda bisa dicap sebagai CEO yang tidak profesional dan berselera rendah,” sanggah Mia tegas.

Keheningan seketika mencekam. Julian baru saja membaca sesuatu dari bola mata sekretarisnya, sesuatu yang sejak dulu ia cari di sana. Kejujuran.

“Apakah itu alasanmu menolakku selama ini?” desah sang pria tak percaya. “Kau takut kalau hubungan kita menghancurkan reputasiku?”

Hanya dalam sekejap, Mia tersentak. Bibirnya bergetar tanpa kata. Ia telah mengatakan sesuatu yang tidak seharusnya diketahui oleh Julian.

Demi menutupi isi hati yang telanjur terungkap, gadis itu menggeleng cepat. “Tidak. Jelas bukan itu alasannya.”

“Lalu apa?”

“Karena Anda bukan selera saya, Tuan. Seorang pria yang tidak memiliki keberanian ataupun pengendalian diri sama sekali tidak dapat diandalkan. Hal itu sering membuat saya muak.”

Mendengar pernyataan tersebut, napas Julian sontak menderu. Hatinya tercabik-cabik oleh gejolak rasa yang sulit untuk dideskripsikan.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata di Antara Bunga
8.8
Setelah dikhianati oleh Bastian Wicaksono yang membatalkan pertunangan demi Sarah Laksmana, hidup Vanya Devara hancur total akibat kebangkrutan keluarga dan kematian ayahnya. Rangga Mahardika kemudian muncul menjadi penyelamat yang melunasi seluruh utang dan mendampinginya selama tiga tahun. Namun, tepat sebelum pernikahan mereka, Vanya tidak sengaja mendengar rahasia kelam. Rangga ternyata adalah sosok yang menghancurkan keluarganya. Vanya menyadari bahwa kebaikan sang miliarder hanyalah penebusan dosa atas konspirasi yang ia ciptakan sendiri.
Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, gadis dari latar belakang sederhana, mendadak jadi pusat perhatian setelah Nyonya Silviana mengangkatnya sebagai ahli waris tunggal. Perubahan status sosial yang drastis ini memicu penolakan keras dari orang-orang di sekitarnya yang meragukan kepantasannya. Di tengah kepalsuan dan intrik keluarga kaya, Lucyana harus berjuang mempertahankan diri. Mampukah ia bertahan menghadapi tekanan tersebut sembari mencari sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel Cinta yang Kukira Abadi, Ternyata Ilusi
8.0
Tiga belas tahun membina hubungan sejak masa sekolah hingga pernikahan, Valen rela menentang keluarganya sendiri demi memberikan sebuah perusahaan publik kepada sang suami. Namun, ilusi pernikahan bahagia itu hancur saat sebuah buku catatan usang jatuh dari laci rahasia. Di dalamnya tertulis kalimat menyakitkan bahwa suaminya sangat muak dengannya. Valen akhirnya menyadari cinta sejati yang ia percayai hanyalah dusta. Kini, ia mulai mempertanyakan ketulusan suaminya, termasuk motif di balik kepemilikan perusahaan tersebut.
Sampul Novel Karier Magang Putri Presdir
8.4
Memulai hari pertama kerja di kantor baru, sang protagonis langsung dihadapkan pada situasi absurd. Seorang rekan kerja baru dengan percaya diri mengeklaim dirinya sebagai putri dari presdir, membuat seluruh kantor sibuk menjilatnya demi keuntungan pribadi. Di sisi lain, sang protagonis justru difitnah kejam sebagai simpanan dari seorang pria tua. Merasa geram dan tidak terima dengan tuduhan palsu tersebut, ia memutuskan untuk langsung menelepon sang presdir yang sebenarnya adalah ayahnya sendiri.
Sampul Novel KUBALAS KAU DENGAN ELEGAN
8.2
Dunia Sahira yang tenang runtuh seketika saat ia memergoki suaminya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Di tengah kehancuran hati akibat pengkhianatan ganda tersebut, harapan muncul dari arah yang tak terduga. Seorang miliarder dari masa lalu kembali hadir dalam hidupnya, menawarkan perlindungan dan mengajak Sahira untuk menyembuhkan luka bersama. Akankah momen ini menjadi awal kebahagiaan baru bagi Sahira setelah dikhianati secara menyakitkan?
Sampul Novel Love my adoptive father
7.9
Alexander Lux mengadopsi Bella Laurent dari panti asuhan sejak usia tiga belas tahun untuk mengobati luka hatinya. Meski awalnya Alex berjanji tak ingin menikah lagi, kebersamaan mereka justru menumbuhkan benih cinta terlarang yang sangat mendalam. Kehadiran Bella membawa warna baru bagi Alex hingga hubungan mereka menjadi sangat intim. Namun, romansa ini terancam saat orang tua Alex memaksanya dijodohkan dan sang mantan kekasih kembali muncul mengusik mereka.