Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadilah Milikku, Nona Sekretaris

Jadilah Milikku, Nona Sekretaris

Julian Evans, CEO tampan nan kaya, menghadapi satu penolakan besar dari sekretarisnya sendiri, Mia Sanders. Meski saling mencintai, Mia yang merupakan anak pelayan keluarga Evans memilih memendam rasa demi balas budi dan status sosial. Ia menganggap hubungan mereka mustahil. Namun, Julian tidak menyerah dan menantang keraguan Mia untuk membuktikan keseriusannya. Mampukah kegigihan Julian meluluhkan hati Mia dan meyakinkannya bahwa cinta mereka layak diperjuangkan?
Bab
Bagikan

Bab 3

“Apakah kau tidak pernah sedikit pun mencintaiku?” tanya Julian dengan nada rendah dan penuh penekanan.

Sembari mengepalkan tangan, Mia memaksakan kepalanya yang kaku untuk bergerak. “Ya, saya tidak pernah mencintai Anda, Tuan.”

“Omong kosong!” hardik sang pria sukses membuat sang gadis menahan napas. “Kau jelas menyimpan perasaan yang sama denganku, Mia. Beberapa kali, aku melihatnya di matamu. Tapi kenapa kau selalu saja menyangkal?”

“Itu hanya imajinasi Anda, Tuan. Saya tidak pernah memiliki perasaan semacam itu. Hubungan kita hanya sebatas anak buah dan atasan.”

“Bohong!”

Sedetik kemudian, Julian mencengkeram kepala dan meringis. “Kalau kau tidak pernah mencintaiku, lalu kenapa kau selalu setia berada di sisiku?” erangnya lirih.

“Karena saya berutang budi pada keluarga Evans. Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Anda dalam segala kesulitan.”

Mendengar alasan semacam itu, sang pria menggeleng dan mendesah. “Tidak mungkin. Kau bahkan menangis saat aku hampir mati dulu. Kebaikan dan perhatianmu bukan hanya karena patuh, Mia, tapi karena cinta,” ucapnya dengan nada memelas. Pria itu telah tunduk pada emosi yang menyerupai roller coaster.

Tanda terduga, sang sekretaris mulai tertawa hambar.

“Saya heran kenapa Tuan bersikeras memercayai hal yang tidak nyata. Cinta di antara kita hanyalah angan-angan. Kalau Anda menganggap perhatian saya selama ini sebagai bentuk kasih sayang, maaf, Tuan. Anda salah. Ketimbang cinta, itu lebih mendekati iba,” ucap sang sekretaris dengan mata berkaca-kaca. Butuh segenap tenaga untuk gadis itu mampu melontarkan kata yang begitu kejam.

“Iba? Kau merasa kasihan padaku?” gumam Julian dengan alis melengkung maksimal.

Sambil mengeraskan rahang, Mia mengangguk. “Ya. Karena itu juga, saya tidak pernah mengutarakan alasan mengapa saya tidak bisa menerima Anda. Sudah jelas bahwa Tuan akan terluka, seperti saat ini. Maaf jika saya menyakiti perasaan Anda, tapi begitulah kenyataannya.”

Dalam keheningan, Julian menatap mata sang gadis lekat-lekat. Ia tidak melihat kejujuran di dalamnya. Namun mengapa, kata-kata sang sekretaris terdengar begitu mantap?

“Apa yang membuatmu merasa iba kepadaku?” tanya pria itu dengan suara pelan. Ia masih berharap menemukan celah untuk mendobrak pertahanan hati sang gadis.

“Seperti yang Anda katakan, kita sudah saling mengenal sejak kecil. Baik buruknya sifat Anda telah terdata dalam otak saya,” jawab Mia lancar.

“Kalau begitu, katakanlah. Bagaimana sosok Julian Evans di matamu? Apa saja yang membuatmu merasa iba?”

Mengetahui bahwa sang pria sedang menguji, Mia pun meninggikan dagu. “Bukankah tadi sudah saya sebutkan? Anda tidak memiliki keberanian. Dalam satu hari saja, jari tangan ini tidak cukup untuk menghitung berapa kali Anda meminta konfirmasi saya dalam pengambilan keputusan. Anda terlalu takut menghadapi risiko ataupun kesalahan.”

Belum sempat Julian menanggapi, sang sekretaris telah kembali menyambung bicara. “Selain itu, Anda juga tidak memiliki pengendalian diri. Apakah Tuan pernah menghitung berapa kali Anda meluapkan emosi dalam satu hari?”

“Kau selalu saja menyinggung dua hal itu. Apakah tidak ada yang lain?” tantang Julian yang masih menaruh harapan.

“Ada,” sahut Mia tanpa terduga. Padahal, sang pria mengira bahwa gadis itu akan tergagap atau kebingungan mencari alasan. “Julian Evans adalah pria paling egois yang pernah saya temui.”

Mendengar julukan baru tersebut, alis sang CEO otomatis berkerut. “Tunggu dulu. Aku terima jika dikatakan sebagai pengecut ataupun memiliki kontrol emosi yang rendah. Kau pasti tahu bahwa aku sedang berusaha memperbaiki dua hal itu. Tapi, egois? Sejak kapan kata itu menempel pada diriku?”

“Sejak Anda memaksakan kehendak terhadap saya. Apakah Tuan sadar setiap kali mengklaim bahwa cinta Anda berbalas? Kurasa sudah lebih dari ratusan, atau bahkan ribuan kali. Bukankah itu hanyalah keinginan Anda semata? Salah satu bentuk dari keegoisan.”

Tiba-tiba, Julian tertawa getir. Kegilaan dalam otaknya sudah hampir teraktifkan. “Aku berusaha menyadarkanmu agar menerima kenyataan, tapi kau malah menyebutku egois?” Sambil menggeleng tak percaya, pria itu mendengus. “Sungguh tidak adil,” gumamnya sembari menyalakan mesin.

“Jika Anda tidak ingin dipanggil egois, berhentilah mendesak saya untuk menerima cinta Anda,” pinta Mia lantang meski kerongkongan telah menyempit. Tekadnya untuk bertahan jauh lebih besar dari gejolak dalam dada.

Tanpa memberi jawaban, Julian menginjak pedal gas. Ia tidak peduli jika mesin mobilnya belum panas. Darahnya yang mendidih telah mencapai kepala. Jika perdebatan dilanjutkan, dirinya tidak akan mampu mengendalikan gemuruh napas dan air mata.

Mengetahui kemarahan sang pria, Mia akhirnya terdiam. Dengan tatapan lurus menembus kaca depan, ia mempertahankan tampang dingin. Sesungguhnya, jantung gadis itu juga berdetak tak karuan. Namun, keresahannya bukanlah sesuatu yang bisa diungkapkan.

“Inilah jalan terbaik,” batinnya menenangkan hati yang meronta-ronta. “Mia Sanders bukanlah gadis yang tidak tahu diri. Aku tegar dan mandiri. Rasa ini pasti akan berlalu asalkan Tuan Julian tidak mengungkitnya lagi. Aku hanya perlu bertahan sedikit lebih lama.”

***

“Halo, Pangeran Kecil!”

Seorang wanita yang sedang memegangi putranya dalam bak mandi pun menoleh. Begitu melihat kehadiran Julian, ia langsung melambaikan jari-jari mungil sang bayi. “Halo, Paman,” ucapnya meniru suara anak kecil.

Begitu tangannya lepas dari genggaman sang ibu, Cayden langsung menepuk-nepuk air dengan gembira.

“Kenapa dia mandi malam-malam begini?” tanya Julian sembari ikut duduk di tepi bak mandi.

“Max memberinya sekotak es krim,” jawab Gabriella tanpa perlu menyertakan detail. Sang kakak ipar sudah bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya.

“Di mana adikku itu?” tanya Julian setelah mengangguk-angguk sejenak.

Sambil mengangkat sang bayi keluar dari air hangat, wanita itu menjawab, “Di ruang kerja, sedang menerima telepon dari klien.”

Selang keheningan sejenak, Gabriella akhirnya menoleh ke arah pintu. “Lalu, di mana Mia? Kupikir kalian akan ke sini bersama-sama.”

Mendengar nama itu, helaan napas lelah langsung berembus dari mulut sang pria. “Itulah yang ingin kubahas denganmu. Kami bertengkar hebat tadi, dan dia akhirnya mengatakan alasannya enggan menerima cintaku.”

Sembari membungkus Cayden dengan handuk, sang wanita menaikkan alis. “Apa alasannya?”

“Karena aku pengecut, tidak bisa mengendalikan diri, dan egois. Tapi aku yakin, itu semua hanya karangan. Dia pasti masih menyimpan alasan yang sesungguhnya.”

“Mia berkata seperti itu?” tanya Gabriella dengan nada tak percaya. Setelah berkedip-kedip cepat, ia berjalan menuju kamar dengan bayi yang asyik memainkan bulu-bulu halus di sekeliling tubuhnya.

“Ya. Dia bahkan mengatakan bahwa kebaikan dan perhatiannya kepadaku selama ini adalah bentuk dari rasa iba. Apakah kau bisa membayangkan kondisi hatiku?”

Tanpa berpikir panjang, Gabriella menggeleng cepat. “Aku tidak percaya seorang Mia bisa berkata seperti itu. Kita tidak sedang membicarakan Amber, ‘kan?” celetuknya sembari membaringkan Cayden di atas ranjang.

Mendengar nama yang telah lama hilang, raut Julian mendadak kaku. “Apa mungkin ... Mia bersikap begitu karena Amber telah kembali? Dia mengancam Mia lagi?”

“Tidak mungkin. Amber baru saja melakukan live video di media sosialnya. Dia sedang bermain seluncur salju entah di negara mana. Mungkin, perempuan itu mulai bisa melupakanmu.”

“Mustahil,” celetuk pria yang mulai asyik menemani keponakannya bermain handuk selagi Gabriella membuka lemari. “Perempuan licik seperti Amber tidak boleh mudah dipercaya. Dia mempunyai sejuta cara untuk mendapatkan keinginannya. Apakah kau tidak ingat betapa gigihnya dia saat mengincar suamimu?”

Sedetik kemudian, tawa kecil terlepas dari mulut Gabriella. “Ya, dia memang terlalu gigih. Tapi kau jangan lupa. Pada akhirnya, dia melepas Max dan beralih kepadamu. Setelah itu, tidak ada kabar tentang laki-laki lain di sekitarnya. Jadi, kemungkinan besar, dia masih menginginkanmu.”

Bosan membahas tentang sang mantan kekasih, Julian pun menghela napas. “Bagaimana kalau kita kembali fokus pada masalah utama. Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku merasa kalau Mia semakin jauh dariku.”

“Yayayaya ...” oceh Cayden sukses menguraikan kerutan di pangkal alis pamannya.

“Benar. Kau harus mendengarkan perkataan Pangeran Kecil, Julian. Anak seusianya saja tahu harus bagaimana,” timpal Gabriella sembari mengoleskan lotion pada tubuh putranya.

Menyaksikan kerja sama ibu dan anak itu, sang pria pun mengerjap. “Memangnya, apa yang Cayden katakan?”

“Jangan menyerah dan teruslah berusaha.”

Mendapat jawaban yang begitu umum, Julian spontan meringis. “Aku sudah mencoba semua cara dan hasilnya malah seperti ini, Gabriella,” ucapnya hampir putus asa. “Kurasa, sebelum alasan Mia yang sebenarnya terungkap, aku akan tetap berada di titik yang sama.”

“Bagaimana kalau kau mengabaikan kecurigaanmu? Anggaplah alasan yang dijabarkan oleh Mia tadi sebagai suatu kejujuran. Apa yang akan kau lakukan?” tanya wanita itu sembari memakaikan popok sang bayi.

“Kalau itu alasan yang sesungguhnya, maka aku harus segera memperbaiki diri.”

Tiba-tiba, Gabriella menjentikkan jari. “Itulah jawabannya. Mengapa tidak kau tunjukkan kesungguhanmu untuk memenuhi kriterianya? Mungkin saja, Mia bisa tersentuh dan mau membuka hati. Kalau perlu, pintalah tantangan darinya.”

“Tantangan?”

Sang wanita spontan menyunggingkan senyum penuh makna meski matanya terus tertuju pada Cayden.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menunggumu, Cintaku
8.9
Natalia gagal meluluhkan hati dingin Kenzo dan memilih pergi saat mengandung. Ia menghilang tanpa jejak, membuat Kenzo yang putus asa memperluas bisnisnya ke kancah global demi mencarinya. Pencarian buntu itu hampir membuat Kenzo gila hingga ia mengacaukan seisi kota. Bertahun-tahun berlalu, Natalia kembali sebagai sosok wanita berkuasa dan kaya raya. Namun, takdir kembali menjeratnya dalam pusaran emosi bersama Kenzo yang belum berhenti mengejarnya.
Sampul Novel HARMONI BULAN DAN MATAHARI
8.0
Hidup Arlyna Aira berubah gelisah sejak bertemu Gideon Bastian, pria blasteran tampan yang ternyata bukan orang sembarangan. Sebagai pewaris tunggal keluarga terpandang, Gideon telah jatuh hati pada Arlyna sejak awal. Namun, hubungan mereka tidaklah mudah karena rintangan rumit terus membayangi setiap langkah. Di tengah tekanan keadaan yang memaksa untuk menyerah, mampukah Arlyna dan Gideon mempertahankan ikatan cinta tulus mereka hingga akhir?
Sampul Novel ISTRI ORANG
8.2
Ayana terjebak dalam kesepian akibat sikap dingin Devaro, suaminya. Di tengah kehampaan itu, kehadiran Javier sang bos memberikan warna baru hingga Ayana jatuh hati. Tanpa disadari, hubungan terlarang mereka adalah bagian dari rencana balas dendam Javier terhadap Devaro. Namun, niat jahat itu perlahan terkikis oleh cinta tulus yang tumbuh tak terduga. Akankah Devaro sanggup menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah berpaling pada pria yang sangat membencinya?
Sampul Novel Kariermu Ada di Tanganku
8.2
Nayara Devanka adalah putri tunggal keluarga Mahendra yang berkuasa. Hidupnya sempurna bersama Rafael, mantan staf sang ayah yang ia angkat derajatnya, serta putri mereka, Isolde. Namun, pengorbanan Naya dibalas pengkhianatan keji. Rafael diam-diam menikahi masa lalunya dengan restu keluarga besarnya sendiri. Mereka menikmati kemewahan dari Naya sambil menikamnya dari belakang. Kini, Naya tak akan tinggal diam dan siap menghancurkan karier serta hidup mereka.
Sampul Novel Kau Akan Mencariku, Saat Dia Menghilang
8.4
Cantika Putri menjalani kehidupan pernikahan yang harmonis bersama Ardi Permana. Hubungan mereka dibangun di atas fondasi cinta yang tulus, di mana Ardi sangat mengagumi pesona fisik dan kesempurnaan sang istri. Sementara itu, narasi lain mengikuti sosok miliarder ternama, Reza Dirgantara. Sang konglomerat tengah menjalin hubungan asmara dengan Luna Amara, seorang gadis desa yang memiliki paras cantik namun tetap mempertahankan kesederhanaan dalam dirinya.
Sampul Novel My Possessive Family
8.5
Amelia hidup dalam kemewahan sebagai anggota keluarga konglomerat, namun harta melimpah tak mampu menghapus duka di hatinya. Di balik citra sempurna itu, ia memendam trauma mendalam serta rasa bersalah yang menghantui selama tujuh tahun terakhir. Meski dikelilingi kasih sayang keluarga, luka lama tetap menganga. Mampukah Amelia mengungkap rahasia masa lalu dan berdamai dengan dirinya sendiri? Ikuti perjuangan emosionalnya dalam My Possessive Family.