Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadi Suamiku Ya, Om?

Jadi Suamiku Ya, Om?

Nindya terobsesi mengejar Andy, guru SMA sekaligus teman ayahnya, meski pria itu sudah memiliki kekasih bernama Raya. Nindya terus mendesak Andy menikahinya, mengklaim posisi istri di masa depan. Andy menganggap Nindya bocah pengganggu, sementara Raya sangat membenci kehadirannya. Persaingan sengit terjadi antara Raya yang temperamental dan Nindya yang pandai bersandiwara seolah teraniaya. Di antara keduanya, siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hati Andy?
Bab
Bagikan

Bab 1

"Om, jadi suamiku ya? mau nggak?" tanya Nindya pada Andy. Gadis itu tengah asik menghisap permen lolipop merk x, yang sesekali ia lepaskan dari mulut mungilnya.

"Uhuk ... uhuk ...." sontak saja, pertanyaan itu membuat pria gagah dan bertubuh kekar itu terbatuk seketika. Bagaimana tidak, gadis cantik yang terbilang masih sangatlah muda itu, secara terus terang meminta dirinya untuk menjadi calon suaminya.

"Kenapa, Om? Aku serius loh, Om," ucap Nindya lagi.

"Nindya, berhentilah mengganggu Om Andy, sana masuk. Masih kecil kok sudah berani menggoda pria. Papa tidak suka ya!" tegur Rendy, papa Nindya.

"Baik, Pa ...." Dengan langkah gontai Nindya masuk kembali ke dalam rumah. Masuk menuju kamarnya, lalu menutup pintu dengan sedikit membantingnya.

"Maafkan Nindya ya, An," ucap Rendy seraya menyuguhkan secangkir kopi panas di hadapan rekan bisnisnya itu.

"Santai saja, Bang. Bukankah itu sudah biasa dilakukan Nindya, padaku," jawab Andy seraya terkekeh geli, kemudian ia menyeruput kopi panas yang baru saja diletakkan Rendy di atas meja.

Andy Wiguna, 30 tahun, pria sederhana yang memiliki karier sukses, melejit bak roket. Dirinya sudah menjadi seorang PNS sejak usianya menginjak angka 25 tahun, tepatnya seorang guru di sekolah Nindya, SMA Pelita Bangsa.

Pria yang terbilang tampan diantara pria-pria seusianya itu sudah menjadi rebutan para gadis, termasuk para siswi di sekolah tempatnya mengajar. Begitupun Nindya, yang tak mau kalah mengejar cinta sang guru, Andy Wiguna.

Andy sudah mengenal Rendy, papa Nindya, sejak lama, sejak pria muda itu belum menjadi apa-apa. Rendy yang mengenalkannya kepada bisnis yang kini mereka geluti bersama. Bisnis sederhana yang setiap bulannya tetap menghasilkan pundi-pundi rupiah. Mengelola kos-kos'an khusus untuk siswa-siswi ataupun mahasiswa, juga mengontrakkan beberapa bangunan yang di sewa pemilik usaha.

Dari sanalah Andy mengenal Nindya, gadis polos yang dulunya ingusan kini sudah beranjak remaja, bahkan sudah berani menggodanya. Bukan cuma sekali, tapi entah sudah berapa kali ucapan itu ia lontarkan dari bibirnya.

"Astaga, Om Andy? Jadi, Om Andy seorang guru? Tidak pernah Nindya sangka, akan bertemu dengan Om disini. Apakah ini pertanda kita akan berjodoh, Om?" Begitulah kata Nindya saat pertama kali mereka bertemu di sekolah yang sama.

Bahkan dari sejak dulu, Nindya selalu memvonis dirinyalah yang akan jadi istri Andy.

Nindya baru saja menyelesaikan sekolahnya ditingkat SMA. Sesuai dengan titah sang papa, ia akan melanjutkan lagi kuliahnya. Cinta-citanya ingin menjadi seorang guru, bukan karena ia suka, tapi ingin di sukai oleh Andy, laki-laki yang sudah membuatnya jatuh cinta dari sejak kecil.

"Oh ya, bagaimana hubunganmu dengan gadis itu?" tanya Rendy pada Andy.

"Siapa? Raya? Masih, Bang," jawab Andy.

"Kapan kamu akan menikahinya? Jangan tunggu lama, sudah waktunya, lo," tegur Rendy lagi.

"Dianya belum siap, Bang. Masih fokus kuliah katanya, mungkin aku butuh kesabaran yang lebih untuk menikahinya," jawab Rendy, ia memainkan ponselnya sesekali kemudian menoleh ke arah papa Nindya.

"Makanya, Om. Nikah sama aku saja, aku sudah siap kok, jadi istri Om," celetuk Nindya yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Gadis itu mempercepat langkahnya menuju ke luar rumah.

"Nindya!" pekik sang papa.

Nindya berlari cepat. Ia buru-buru membuka gerbang rumah lalu menutupnya lagi setelah berada di luar.

"Yang diomongin sudah telepon. Panjang umur," ucap Andy, ia memperlihatkan ponselnya ke arah Rendy. Terlihat nama Raya disana, kekasih Andy yang sudah menemani hari-harinya selama beberapa tahun terakhir.

"Halo, sayang," sapa Andy pada wanita di seberang telepon.

"...."

"Baiklah, aku kesana sekarang. Tunggu ya, sayang." Andy mengakhiri panggilan teleponnya, ia bersiap hendak pamit, dimasukkannya benda kecil yang baru saja digenggamnya ke dalam saku celana.

"Aku pamit dulu ya, Bang?" ucap Andy.

"Oke," jawab Rendy singkat.

Andy bergegas memakai sepatu ket berwarna biru miliknya, lalu melangkah meraih mobil kesayangannya yang terparkir di luar gerbang rumah Rendy. Kebetulan, rumah mereka berhadap-hadapan, garasi mobil mereka sengaja dijadikan satu untuk menghemat tempat.

Andy melirik gadis manis dengan rambut panjang sepinggang, hitam dan tergerai itu, ia duduk di kursi plastik milik pedagang cilok.

Tangan kirinya memegang plastik bening yang berisikan cilok pedas, terlihat dari warnanya, merah menyala, penuh dengan batu cabe. Tangan kirinya memegang tusukan cilok, sedangkan bibirnya terlihat penuh mengunyah.

"Om, mau pulang ya? Sini makan cilok dulu, enak loh, Om," ucap Nindya melirik ke arah Andy yang tergesa-gesa.

"Om mau jemput pacar dulu, Nindya," jawab Andy jujur.

"Eleh, kayak ratu saja, dijemput, manja. Masih saja mau sama cewek kayak gitu. Nindya lebih baik, Om, suer deh," ucap gadis itu sambil terkekeh.

"Nindya, sudah ya, Om pamit. Itu lihat ke bawah, pakai sandal saja tidak benar, sudah mau jadi calon istri Om segala, bye ...." Andy masuk ke dalam mobilnya sambil mengulum senyum, ia menahan tawanya melihat kelakuan Nindya.

Nindya refleks, ia menoleh ke arah kakinya, dan amazing, gadis cantik itu menggunakan sandal yang berbeda pada kaki kiri dan kanannya.

"Sial, kenapa sih, bisa salah gini pakai sandalnya," gerutu Nindya.

"Non, itu saya sudah lihat dari tadi, non pakai sandal kok bisa beda-beda gitu, sih?"

"Aduh ... Mas, kok tidak bilang, sih, dari tadi? Kan aku jadi malu sama Om ganteng," gerutu Nindya, ia mengentakkan kedua kakinya berkali-kali. Memasang wajah cemberut, bibirnya di monyongkan 5 cm ke depan.

"Mana saya tahu, Non," jawab tukang cilok, ia terkekeh melihat reaksi pelanggan setianya itu.

"Nih, Mas. 10 ribukan? Besok datang lagi ya," ucap Nindya, ia menyerahkan uang 5 ribuan sebanyak 2 lembar kepada pedagang cilok keliling dan bergegas kembali masuk ke dalam rumah.

****

"Lama sekali, sih, jemputnya? Aku telat nih, sayang," gerutu Raya. Gadis manja itu terlihat emosi melihat kedatangan Andy yang terlambat 10 menit menjemputnya.

"Maaf, sayang. Jalanan macet," jawab Andy tenang. Ia membukakan pintu untuk Raya, kemudian kembali duduk di kursi kemudi.

Raya, terlahir sebagai anak konglomerat, gadis itu sudah terbiasa dengan kehidupan yang glamour. Berlimpah harta kekayaan dari kedua orang tuanya yang seorang pengusaha terkaya di Bali. Apapun keinginannya, akan selalu terpenuhi, dan itulah yang membuatnya menjadi wanita manja juga egois. Termasuk mengatur kehidupan Andy.

Laju mobil Andy mengantarkan Raya menuju salah satu kampus elite di kota Denpasar, tempat Raya menempuh pendidikan S1'nya yang baru berjalan 2 tahun lamanya.

"Nanti bisa jemputkan?" tanya Raya, ia melirik Andy sebelum ia benar-benar keluar dari mobil pria itu.

"Iya, nanti aku jemput, sayang." Begitulah, sosok Andy. Ia tak pernah sekalipun menolak keinginan Raya.

Setelah Raya menghilang dari pandangan matanya, Andy kembali melajukan kendaraannya, tujuannya adalah pergi ke sekolah. Ada berkas yang tertinggal di meja kerjanya, berkas siswa-siswi yang baru saja tercatat lulus dari sekolah. Andy sebagai wali kelas diwajibkan untuk mendata ulang kembali para siswa dan membantu mereka untuk mendaftar pada perguruan tinggi bagi yang hendak melanjutkan pendidikannya.

Andy berinisiatif hendak melanjutkan pekerjaannya di rumah sembari bersantai.

"Pak Dio, apakah ruang guru terkunci?" tanya Andy pada sosok yang tengah berkeliling di sekitar sekolah, ia bertugas sebagai penjaga sekolah. Pihak sekolah memberikannya fasilitas berupa hunian sederhana atau rumah dinas, yang menjadi satu halaman dengan sekolah SMA Pelita Bangsa.

"Oh, iya ini, Pak Andy, kuncinya." Andy mengambil alih kunci ruang guru kemudian bergegas masuk dan menuju meja kerja miliknya. Ia terkesima melihat sebuah amplop berwarna biru muda di sana.

[Om, I Love You, jadi suamiku ya, Om? Aku sudah lulus, lo ....] ucapan tanpa nama. Andy tersenyum membaca isi pesan itu, ia sudah jelas tahu siapa pengirimnya.

Bersambung....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Bonekamu Lagi
9.4
Sejak kecil, Vivian dijodohkan dengan Adriel, pewaris takhta Keluarga Mahendra. Namun, malam penyerahan dirinya yang dianggap suci justru menjadi lelucon bagi Adriel. Setelah mendengar Adriel merendahkannya dan berencana menikahi wanita lain demi ambisi, hati Vivian hancur. Sadar dirinya hanya dianggap mainan, Vivian menolak menjadi boneka lagi. Ia segera menghubungi Indra Wijaya untuk dipindahkan sejauh mungkin dari Adriel sebelum upacara promosi tiga hari lagi, bertekad memulai hidup baru.
Sampul Novel Desire of Love CEO
8.0
Hidup Alana Handoko hancur seketika saat ia harus bertanggung jawab atas kecelakaan fatal yang menewaskan seorang gadis kecil. Tragedi ini memicu kemarahan besar Reynar Adiwangsa, CEO tampan yang kehilangan sosok paling berharga dalam hidupnya. Dipenuhi dendam membara, Reynar bertekad membalas kematian tersebut dengan menyiksa Alana. Ia merancang segala cara untuk mengubah dunia Alana menjadi neraka tanpa ampun demi melampiaskan rasa sakit hatinya.
Sampul Novel Finally, I Love You
9.3
Hidup Hellena berubah drastis layaknya roller coaster akibat penderitaan yang diberikan keluarganya sendiri. Di tengah tekanan orang tua yang memaksanya segera menikah, ia justru menemukan jalan keluar tak terduga. Pertemuan singkat dengan seorang pria asing menjadi awal kebahagiaan baru baginya. Sosok misterius itu hadir bak malaikat penyelamat yang mengubah nasibnya. Hellena pun nekat memutuskan untuk menikah dengan pria yang baru saja ia kenal tersebut.
Sampul Novel Istri Keempat
9.2
Airin dikenal sebagai putri penurut yang tak pernah membantah titah orang tuanya. Namun, kepatuhannya diuji saat ia dipaksa menikahi Saka Januar Pradipta, pengusaha kaya yang telah memiliki tiga istri. Menjadi istri keempat bukanlah akhir bagi Airin. Di balik wajah polosnya, tersimpan sisi manipulatif dan licik yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat. Meski mampu mengelabui dunia, Airin tak berkutik di hadapan Saka yang sanggup melihat jati diri aslinya.
Sampul Novel Kalau Jodoh Takkan Kemana
8.1
Dunia Asmitha Nindiva runtuh saat tunangannya, Saga Anggara, berpaling demi Marcella Anggita. Di tengah kehancuran hati itu, Fahri Mahendra hadir sebagai pelipur lara yang membantu Asmitha bangkit. Namun, saat Asmitha mulai menata hidup, hubungan Saga dan Cella justru kandas. Saga pun kembali untuk mengejar cinta Asmitha. Kini Asmitha terjebak dilema besar: memaafkan masa lalu bersama Saga atau menerima ketulusan Fahri yang selalu ada untuknya. Siapa pilihannya?
Sampul Novel Kutukar Hidupku untuk Kalian
8.7
Menghadapi gagal ginjal stadium akhir, harapan wanita ini pupus saat ginjal yang cocok untuknya justru diberikan sang suami kepada adiknya. Ia memilih keluar dari rumah sakit dan menyerahkan seluruh hartanya pada sang adik demi senyum orang tuanya. Ia bahkan membiarkan suaminya merawat adiknya, dan merelakan anaknya memanggil sang adik dengan sebutan "ibu". Ketika semua keinginan mereka telah terpenuhi, mengapa kini penyesalan justru datang menghampiri mereka?