Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadi Suamiku Ya, Om?

Jadi Suamiku Ya, Om?

Nindya terobsesi mengejar Andy, guru SMA sekaligus teman ayahnya, meski pria itu sudah memiliki kekasih bernama Raya. Nindya terus mendesak Andy menikahinya, mengklaim posisi istri di masa depan. Andy menganggap Nindya bocah pengganggu, sementara Raya sangat membenci kehadirannya. Persaingan sengit terjadi antara Raya yang temperamental dan Nindya yang pandai bersandiwara seolah teraniaya. Di antara keduanya, siapakah yang akhirnya berhasil memenangkan hati Andy?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Kamu serius mau kuliah di Universitas Mahadewa? Benar kamu mau cari jurusan keguruan?" tanya Rendy kepada Nindya, putri satu-satunya.

"Seriuslah, Pa. Masak Nindya main-main? Nindya mau jadi guru nanti, Pa, kalau sudah lulus," celetuk Nindya. Kali ini ia benar-benar terlihat begitu serius.

"Setahu Papa, bukannya kamu tidak suka jadi guru, ya?" tanya Rendy, pria itu memicingkan kedua matanya, ia mencurigai gelagat putri tunggalnya yang tiba-tiba ingin kuliah dibidang yang sama sekali tidak disukainya.

"Setiap orang kan berhak berubah, Pa. Begitupula dengan Nindya. Aku akan melupakan harapanku menjadi seorang model, rasanya menjadi guru itu lebih mulia, ya kan, Pa?" ucapnya, gadis itu sembari mengulum senyumnya.

"Nindya, jangan bilang semua karena Andy? Jujur sama Papa." Akhirnya Rendy menyadari sesuatu. Ia menghela nafas pelan saat mengingat putrinya yang tergila-gila dengan Andy.

"Om Andy sudah punya calon istri, Nindya. Berhentilah mengejar sesuatu yang tidak pasti. Kamu masih muda, lo, raih cita-cita dulu. Jodoh akan datang kalau sudah waktunya," tegur Rendy.

"Pa, selama janur kuning belum melengkung, semua cewek masih punya harapan kok, untuk memiliki Om Andy," ucap Nindya.

"Nindya juga tahu, dulu Mama juga ngejar-ngejar Papa kan? Padahal Papa sudah punya pacar juga, kenapa Papa akhirnya memilih mama?" Sindir Nindya, ia meninggalkan sang Papa yang terdiam, terpaku tak mampu lagi mencari alasan untuk menghentikan putrinya.

Rendy bingung, kenapa juga almarhum istrinya harus menceritakan itu pada putri mereka.

Almira, sosok keibuan itu meninggal 2 tahun lalu. Rendy maupun Nindya begitu kehilangan, mereka tak pernah menyangka, Almira meninggal tanpa diduga sebelumnya. Perempuan hebat itu tak pernah mengeluh sakit, tak pernah bercerita apapun. Tiba-tiba terjatuh tak sadarkan diri, kemudian menghembuskan napas terakhirnya sebelum sampai di Rumah Sakit.

"Pa, Nindya mau pergi dulu." Gadis itu meraih tangan kanan Rendy, mencium punggung tangannya dengan cepat kemudian berlari, tergesa-gesa. Ia pergi setelah menerima pesan dari temannya.

"Nindya, hati-hati," teriak Rendy, ia menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah anak gadisnya yang sedikit bar-bar.

Nindya meraih sepeda motor maticnya, memakai helm yang bergambar kupu-kupu. Kemudian bergegas menuju cafe lanila, cafe kecil tempat para muda mudi berkumpul.

"Ada apa? Ada kejutan apa?" Nindya meletakkan helm yang dipegangannya di kursi sisi kiri, ia duduk disalah satunya, berhadapan dengan Wina, teman 1 kelasnya semasa SMA.

"Calon suamimu, tuh liat, lagi sama ayang bebnya." Wina memberi kode dengan sedikit menaikkan dagunya mengarah ke sepasang kekasih yang tengah memadu kasih, di sudut ruang cafe.

"Ehmmm ... Tunggu di sini, saksikanlah pertunjukan menarik dariku, Wina." Nindya mulai beraksi, dengan sengaja gadis itu melangkah mendekat ke arah meja Andy dan Raya. Tangannya tengah memegang air mineral yang sudah terbuka tutupnya.

"Aduh ...." Dan byurrrr!! Nindya pura-pura tersandung, air mineral yang dipegangnya tumpah mengenai badan Raya, membuat sekujur tubuh gadis itu basah kuyup.

"Sialan! Apa-apaan kamu? Gadis gila!" pekik Raya mengumpat Nindya, matanya memerah penuh amarah.

"Ya ampun, Tante. Maaf ya, Tante, aku benar-benar tidak sengaja. Aku minta maaf ya, Tante ...." ucap Nindya, ia memasang ekspresi penuh dosa di hadapan Raya, kekasih Andy.

"Cih! Dasar kamu, ga punya akhlak!" umpat Raya lagi.

"Cukup, Raya! Kemana sopan santunmu?" Andy tidak tahan mendengar Raya mencaci maki Nindya, bahkan ia menarik lengan Nindya, menjauhkan gadis itu dari kekasihnya.

"Nindya, kamu tidak apa-apakan? Jangan kamu pikirkan ucapannya, ok?" Andy membantu Nindya membersihkan pakaiannya yang basah dengan tissu yang ada di atas meja.

"Sejak kapan kamu membela gadis ini, Andy? Apakah dia sudah berhasil menaklukan hatimu? Bisa-bisanya kamu membela dia." Raya meradang, ia tak pernah menyangka jika Andy membela Nindya di depannya.

"Tuh kan, Om. Tante marah-marah terus," rengek Nindya dengan ekspresi teraniayanya.

"Apa kamu bilang? Tante? Dari tadi kamu panggil aku tante, tante. Kamu fikir aku tantemu? Cih! Tak sudi aku puya keponakan nakal sepertimu, dasar penggoda laki orang!" Lagi-lagi Raya mengumpat.

"Raya, cukup!" pekik Andy lagi.

"Nindya, pergilah, biar, Om yang akan bicara dengan Raya. Sekali lagi, maaf ya?" Andy sedikit mendorong tubuh Nindya pelan, mengisyaratkan agar gadis itu segera pergi dari hadapan mereka.

Nindya membalikkan badannya, gadis itu berjalan pelan, ia mengulum senyum menahan tawanya yang hampir saja tak mampu ia sembunyikan. Tangan kanannya menutup bibirnya. Ia bergerak cepat, melangkah menuju ke meja Wina.

"Gila kamu, Nin. Bisa-bisanya kamu bikin mereka bertengkar seperti itu," ucap Wina terheran-heran dengan kelakuan temannya itu.

"Apa sih, yang tidak bisa aku lakukan, Nindya gitu loh," ucap Nindya memuji dirinya sendiri.

****

Raya, gadis itu mengenal Nindya, sekedar kenal. Ia sangat tahu, jika Nindya begitu tergila-gila dengan kekasihnya, Andy. Sudah berkali-kali ia menegur Nindya, namun gadis itu tak pernah mendengarkan ucapan Raya, selalu saja diabaikan.

Entah sudah berapa banyak moment indah mereka hancur karena ulah Nindya. Kelakuan barbar gadis itu kerap kali mengubah suasana romantis Andy dan Raya menjadi malapetaka, selalu akan berujung dengan pertengkaran keduanya.

"Dia masih bocah, sayang ... Nanti lama-lama juga akan berhenti, bosan dengan sendirinya."

"Namanya juga masih ABG, coba aja kalau sudah ketemu yang lain, pasti dia berhenti."

2 kalimat itu selalu menjadi jawaban terampuh yang diucapkan Andy saat Raya memintanya bertindak tegas kepada Nindya.

Sama halnya dengan hari ini, kejadian yang sama terulang lagi. Lagi-lagi Nindya merusak moment indah Andy dan Raya.

"Ini sudah yang keberapa, sayang? Aku benar-benar tidak paham, kenapa gadis itu selalu muncul tiap kali kita bersama? Kamu juga, selalu saja membela dia, jujur, An, apa kamu mulai memiliki perasaan padanya?" beberapa pertanyaan dilontarkan secara bersamaan oleh Raya, hatinya benar-benar sudah tidak mampu lagi menahan rasa kecewanya.

"Dia masih bocah, Raya, berhentilah cemburu padanya," jawab Andy, pria satu-satunya yang begitu sabar menghadapi keegoisan Raya.

"Selalu itu jawaban kamu, dia sudah dewasa, sayang, coba kamu lihat itu, lihat, dia tertawa lepas setelah membuatku berantakan seperti ini. Yakin kalau dia tidak sengaja? Yakin? Jujur aku capek, aku pergi!" Raya berdiri begitu saja, ia bergegas berlalu meninggalkan Andy, melewati meja Nindya, berhenti dan menatap gadis itu penuh amarah.

"Puas kamu? Dasar jalang!" umpatnya seraya mengambil gelas di hadapan Nindya dan byur!! Segelas ice lemon tea berhasil mendarat di wajah Nindya.

"Dasar tante tante gatel," pekik Nindya seraya membersihkan wajahnya dengan selembar tissu.

Kapok? Tidak, bukan Nindya namanya jika gadis itu jera. Ia tidak pernah jera, berapa kalipun ia disakiti Raya, itu bukanlah perkara yang sulit baginya. Obsesinya memiliki Andy lebih tinggi daripada rasa sakit yang diberikan Raya padanya.

"Nindya, kamu tidak apa-apa? Pulanglah, bersihkan dirimu, Om minta maaf, ya? Raya memang begitu, jangan terlalu dimasukkan ke hati." Setelah menegur Nindya, Andy bergegas pergi menyusul kekasihnya.

Nindya hanya tersenyum getir, memperhatikan lelaki yang ia puja pergi begitu saja meninggalkannya dalam keadaan basah. Beberapa kali ia mengibas-nginaskan tissu di bajunya, berharap segera kering.

"Sudah ah, kita pulang saja, daripada kamu masuk angin," tegur Wina.

"Ya sudah, yuk, pulang. Ga enak banget pakai baju basah." Nindya menarik lengan Wina, mengajak gadis itu bergegas pergi dari Cafe Lanila.

Bersambung...

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikahi Paman Mantanku
8.8
Dikhianati Carsten Morgan di hari pernikahan demi perundung masa lalunya, hidupku hancur saat dia menekan kasus pelecehan yang kulaporkan. Aku menjadi sasaran hinaan karena luka fisikku dianggap menjijikkan olehnya. Carsten merasa tak terkalahkan berkat dukungan paman miliardernya. Namun, segalanya berbalik saat sang paman justru merangkulku. Dia menawarkan pembalasan dengan menjebloskan mereka ke penjara, asal aku bersedia menjadi miliknya selamanya.
Sampul Novel CEO Iblis Azhar
9.3
Citra terjebak dalam dilema antara kebencian mendalam atas perlakuan kejam Azhar dan ketakutan kehilangan pria itu saat benih cinta mulai tumbuh. Di sisi lain, Azhar yang awalnya hanya ingin memperbudak Citra demi memuaskan nafsunya, justru mulai dikuasai naluri untuk melindungi. Hubungan penuh luka ini berubah menjadi ikatan yang rumit, membuktikan bahwa mereka adalah perasaan yang tepat namun hadir di saat yang tidak seharusnya bagi satu sama lain.
Sampul Novel Gairah Cinta
9.6
Billie dikenal sebagai sosok pria yang memiliki kehidupan harmonis dan terlihat sempurna. Namun, di balik itu semua, ia justru merasa hampa. Ia terus terbayang masa lalu yang liar dan penuh gairah bersama para mantan kekasihnya. Saat Celine mendadak muncul kembali, Billie terjebak dalam dilema besar. Ia harus memilih antara menjaga kestabilan hidupnya saat ini atau mengejar kembali api asmara masa lalu yang tak pernah benar-benar padam dari ingatannya.
Sampul Novel Ikatan Yang Ditakdirkan
9.6
Zayyad, CEO muda penderita gynophobia, terpaksa menikah demi menepis rumor miring. Di sisi lain, Alina yang misandris merelakan prinsipnya demi sang nenek. Pertemuan antara rasa takut dan benci ini membawa mereka ke dalam ikatan pernikahan yang kontradiktif. Zayyad mendambakan keluarga normal selamanya, sementara Alina justru merencanakan perceraian setelah tugasnya usai. Akankah takdir menyatukan hati mereka atau justru berakhir tragis sesuai rencana awal Alina?
Sampul Novel Jodoh Wasiat Nenek
9.4
Persahabatan masa kecil Jingga dan Davin berujung pada pernikahan karena wasiat nenek mereka. Sayangnya, Davin tak punya rasa cinta dan memilih mengejar karier di luar negeri. Saat kembali, ia membawa wanita lain dan menuntut cerai. Jingga yang terluka akhirnya setuju untuk berpisah. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka lagi. Namun, Jingga kini membawa seorang anak kecil yang wajahnya sangat mirip Davin. Siapakah sebenarnya identitas bocah itu?
Sampul Novel Mengejar Cinta Pak Dosen
8.2
Agatha meyakini cinta sejati akan hadir secara alami, namun takdir justru membawanya ke dalam perjodohan dengan Bintang. Meski pria itu awalnya menolak tradisi ini, Agatha tetap gigih berjuang meluluhkan hatinya. Tantangan besar muncul saat bayang-bayang Aera, cinta pertama Bintang, terus membayangi hubungan mereka. Akankah Agatha berhasil memenangkan kasih sayang tulus Bintang, atau ia selamanya hanya menjadi sosok pengganti yang tak pernah diinginkan?