Sampul Novel Bukan Bonekamu Lagi

Bukan Bonekamu Lagi

9.4 / 10.0
Sejak kecil, Vivian dijodohkan dengan Adriel, pewaris takhta Keluarga Mahendra. Namun, malam penyerahan dirinya yang dianggap suci justru menjadi lelucon bagi Adriel. Setelah mendengar Adriel merendahkannya dan berencana menikahi wanita lain demi ambisi, hati Vivian hancur. Sadar dirinya hanya dianggap mainan, Vivian menolak menjadi boneka lagi. Ia segera menghubungi Indra Wijaya untuk dipindahkan sejauh mungkin dari Adriel sebelum upacara promosi tiga hari lagi, bertekad memulai hidup baru.

Bukan Bonekamu Lagi Bab 1

Malam ketika Adriel diangkat menjadi bos Keluarga Mahendra, aku memberinya keperawananku. Dia adalah pewaris yang sudah dijodohkan denganku bahkan sebelum aku bisa bicara.

Kami berciuman di depan jendela besar yang menjulang dari lantai sampai langit-langit, tubuh kami saling terjerat dalam panas lembap senja itu.

Sentuhannya yang kasar dan tergesa-gesa membuatku sakit, tapi aku tidak menjauh.

Bahkan rasa sakit itu terasa suci, seperti pengorbanan yang rela aku lakukan demi cinta.

Tenggelam dalam panasnya momen itu, dia berjanji akan memberiku sepasang sepatu kristal paling indah, supaya aku bisa berdansa waltz pembuka bersamanya di upacara penobatannya keesokan hari.

Tarian pertama selalu dipersembahkan untuk bos baru dan calon pengantinnya.

Aku menangis bahagia, yakin bahwa tahun-tahun penantian diam-diamku akhirnya akan berakhir seperti dongeng.

Tapi aku salah. Teramat salah.

Keesokan paginya, aku memaksa tubuhku yang masih nyeri untuk keluar membeli ekspresso kesukaannya. Saat aku kembali, aku mendengar para lelaki bercanda.

"Jadi kamu akhirnya tidur dengannya? Bagaimana rasanya bersama Vivian di malam pertamamu sebagai bos?"

Suara Adriel terdengar malas penuh ejekan. "Wajahnya seperti malaikat, tubuhnya seperti iblis. Di ranjang, dia benar-benar seperti ular kecil yang menggoda."

Ruangan itu langsung riuh oleh siulan-siulan genit. "Jadi, kamu benar-benar akan menikahinya, Bos Muda?"

"Serius kamu pikir begitu?" Adriel mencibir. "Vivian cuma pemanasan. Setelah aku cukup berlatih, aku akan menaklukkan si putri es Keluarga Santoso. Kalau nanti aku bosan, aku selalu bisa kembali padanya dan menikahinya."

Aku berdiri terpaku di ambang pintu, pandanganku mulai kabur, cangkir kopi di tanganku bergetar.

Sebelum dunia gelap di mataku, aku sempat mengirim pesan sandi untuk Bos Indra Wijaya.

[Om Indra, untuk promosi yang akan berlangsung tiga hari lagi, tolong pindahkan aku. Sejauh mungkin dari Adriel.]

Malam ketika Adriel diangkat menjadi bos Keluarga Mahendra, aku memberinya keperawananku. Dia adalah pewaris yang sudah dijodohkan denganku bahkan sebelum aku bisa bicara.

Kami berciuman di depan jendela besar yang menjulang dari lantai sampai langit-langit, tubuh kami saling terjerat dalam panas lembap senja itu.

Sentuhannya yang kasar dan tergesa-gesa membuatku sakit, tapi aku tidak menjauh.

Bahkan rasa sakit itu terasa suci, seperti pengorbanan yang rela aku lakukan demi cinta.

Tenggelam dalam panasnya momen itu, dia berjanji akan memberiku sepasang sepatu kristal paling indah, supaya aku bisa berdansa waltz pembuka bersamanya di upacara penobatannya keesokan hari.

Tarian pertama selalu dipersembahkan untuk bos baru dan calon pengantinnya.

Aku menangis bahagia, yakin bahwa tahun-tahun penantian diam-diamku akhirnya akan berakhir seperti dongeng.

Tapi aku salah. Teramat salah.

Keesokan paginya, aku memaksa tubuhku yang masih nyeri untuk keluar membeli ekspresso kesukaannya. Saat aku kembali, aku mendengar para lelaki bercanda.

"Jadi kamu akhirnya tidur dengannya? Bagaimana rasanya bersama Vivian di malam pertamamu sebagai bos?"

Suara Adriel terdengar malas penuh ejekan. "Wajahnya seperti malaikat, tubuhnya seperti iblis. Di ranjang, dia benar-benar seperti ular kecil yang menggoda."

Ruangan itu langsung riuh oleh siulan-siulan genit. "Jadi, kamu benar-benar akan menikahinya, Bos Muda?"

"Serius kamu pikir begitu?" Adriel mencibir. "Vivian cuma pemanasan. Setelah aku cukup berlatih, aku akan menaklukkan si putri es Keluarga Santoso. Kalau nanti aku bosan, aku selalu bisa kembali padanya dan menikahinya."

Aku berdiri terpaku di ambang pintu, pandanganku mulai kabur, cangkir kopi di tanganku bergetar.

Sebelum dunia gelap di mataku, aku sempat mengirim pesan sandi untuk Bos Indra Wijaya.

[Om Indra, untuk promosi yang akan berlangsung tiga hari lagi, tolong pindahkan aku. Sejauh mungkin dari Adriel.]

Kata-kata Adriel terasa seperti hembusan udara kutub di tengah musim kemarau, membekukan darah di nadiku. Aku tak bisa berhenti gemetar.

Tanpa suara, aku mundur ke kamar tidur. Di luar jendela besar, cahaya neon kota mulai berkelap-kelip. Aku bersandar pada kaca dingin itu, air mata mengalir pelan di pipiku.

Kenangan semalam berputar kembali di kepalaku.

Sentuhan tangan Adriel di tubuhku, panas dan penuh hasrat untuk memiliki. Bibirnya menyentuh telingaku, suaranya serak berbisik, "Vivian, kamu milikku. Kamu akan selalu jadi satu-satunya."

Aku hampir meleleh di pelukannya. Aku pikir, sepuluh tahun pengabdian akhirnya terbayar.

Betapa konyolnya aku.

Baru sekarang aku mengerti, bagi pria seperti Adriel, intimasi, cinta, dan kekuasaan adalah tiga hal yang sama sekali berbeda. Ia bisa mengambil apa pun dari tubuhku, sementara di kepalanya ia merencanakan cara menaklukkan sang putri Keluarga Santoso. Semua bisikan manis itu hanya trik murahan, pelicin untuk sesi latihannya.

Ponselku bergetar. Pesan terenkripsi dari Tio, wakil Adriel.

[Bos bilang, urus dirimu sendiri. Paket ada di depan pintu.]

Aku menatap layar itu, pikiranku kosong.

Perlahan, aku membuka pintu kamar. Di ujung lorong, ada sebuah tas kecil berwarna hitam.

Isinya pil kontrasepsi darurat. Dan beberapa tumpuk uang seratus ribu.

Prosedur standar untuk membayar seorang pelacur.

Tanganku gemetar saat mengangkat tas itu. Semalam, dia memelukku dan berjanji akan mengurus semuanya. "Vivian, kamu cuma perlu menjaga diri. Biarkan pria yang urus sisanya."

Sekarang, mengurus sisanya ternyata cuma berarti satu pesan dingin dari wakilnya.

Dia bahkan tak sanggup menemuiku langsung.

Aku melangkah ke kamar mandi dan merobek kotak itu. Sebutir pil putih kecil tergeletak di telapak tanganku. Perhatian yang dulu kupikir tulus, ternyata hanya rutinitas.

Aku melempar pil itu bersama uang ke dalam toilet.

Lalu menekan tombol flush.

Semuanya lenyap ke pusaran air. Bersama sisa terakhir ilusi yang pernah aku miliki.

Kembali ke ruang tamu, aku terjatuh di atas karpet sutra yang dulu kucari sebulan penuh hanya demi dia. Sama seperti semua yang pernah kulakukan untuknya.

Aku baru berusia delapan belas tahun saat ayah menyerahkan urusan keuangan Keluarga Mahendra ke tanganku.

"Vivian," katanya. "Ingat, nilai kita ada pada kemampuan membuat setiap uang dari keluarga ini bekerja untuk kita."

Aku ingat.

Aku membangun kerajaan finansial yang membuka jalan Adriel menuju kekuasaan. Setiap transaksi melewati tanganku. Setiap angka terukir di kepalaku.

Aku yang mengubah Adriel dari prajurit biasa menjadi bos dengan kekayaan ratusan miliar rupiah.

Dan apa balasannya? Ia memanfaatkanku, di meja keuangannya dan di ranjangnya.

Layar ponselku menyala. Informasi penerbangan.

Tiga hari lagi. Tujuannya adalah Altenburgia.

Aku memberi diriku waktu 72 jam.

72 jam untuk mengucapkan selamat tinggal pada kota ini dan memutus semua ikatan dengan Adriel Mahendra.

Kota yang tak pernah tidur itu akhirnya tenang. Tapi bagiku, malam terasa tak berujung. Aku menatap jauh ke arah lampu-lampu yang padam satu per satu, seperti kehangatan di hatiku... perlahan memudar hingga tak bersisa.

Mulai saat ini, aku tak lagi menjawab pada siapa pun.

Kecuali pada diriku sendiri.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Bukan Bonekamu Lagi

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3 Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel CINTA DI MUSIM SEMI
8.0
Kisah romansa modern ini menyoroti perjalanan emosional antara David dan Arina saat mereka menemukan kebahagiaan sejati. Di tengah mekarnya bunga musim semi yang sangat berharga, keduanya belajar untuk saling memahami dan mengisi kekosongan hati satu sama lain. Hubungan mereka berkembang dengan indah seiring berjalannya waktu, membuktikan bahwa satu musim yang singkat mampu menyatukan dua jiwa dalam ikatan cinta yang tulus dan sangat mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Dari Saingan Menjadi Ipar
9.8
Josie Watson kembali menuntut cerai untuk ke-99 kalinya. Namun, Laurence Andrews justru mengusirnya dari mobil demi mengangkat telepon mantan kekasihnya, Rosalie Harris. Laurence terus merendahkan Josie dan yakin istrinya takkan sanggup pergi. Dia tidak menyadari bahwa pengabaian berulang ini telah mencapai batasnya. Di balik layar, saudara laki-laki Rosalie diam-diam terus mendesak Josie untuk segera berpisah dan meninggalkan negara ini selamanya.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku
8.6
Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Sampul Novel Light Of Love
8.1
Kayla Pratama, seorang yatim piatu, terpaksa menjalani hidup sebagai istri kedua dari pengusaha sukses bernama Raga Dirgantara. Terjebak oleh beban hutang budi di masa lalu, Kayla tidak memiliki pilihan selain menerima nasibnya yang pahit. Kehadirannya dalam pernikahan itu hanyalah demi memberikan keturunan bagi sang miliarder. Ia harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa dirinya cuma dianggap sebagai alat tanpa memiliki posisi yang sesungguhnya.
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan