
Istriku Yang Seksi
Bab 2
Bab 02 : Mendapatkan Mangsa
Aiden ingin melampiaskan semua amarahnya kali ini, sungguh ia masih tidak menyangka dengan apa yang dia lihat tadi, perempuan yang selama ini Aiden cintai membuat dirinya sakit hati, ini benar-benar menyakitkan sekali.
Mobil yang sejak tadi Aiden kendarai sekarang sudah berhenti di salah satu kelab ternama yang berada di kota ini. Dengan langkah lebar lelaki itu masuk ke dalam kelab dan hingar bingar di dalam sana menyambut kedatangan Aiden.
Aiden semakin melangkahkan kakinya ke dalam kelab, bergabung dengan orang-orang yang mungkin sudah sejak tadi menikmati suasana di dalam sini, ditemani beberapa teman atau malah wanita penghibur yang mereka bayar untuk sekadar menemani selama di sini.
“Berikan aku minuman yang paling enak di sini!”
Aiden meminta kepada sang bartender untuk memberikan minuman, ia ingin menikmati malam ini tanpa memikirkan apa yang terjadi beberapa waktu lalu. Semua itu hanya membuat Aiden geram saat mengingatnya.
Sang bartender segera membuatkan minuman paling populer di kelab ini, memberikannya kepada Aiden dan langsung diteguk habis oleh lelaki itu, Aiden terus meminta minuman tersebut sampai akhirnya lelaki itu benar-benar mabuk.
Aiden sudah menikmati waktunya sekarang, lelaki itu kemudian memilih untuk beranjak dari kursi, tentu saja tidak lengkap kalau dirinya hanya sendiri saja menikmati suasana di sini. Aiden menginginkan seorang wanita yang menemaninya kali ini. Dengan langkah sempoyongan lelaki itu berjalan menjauhi meja bartender tadi, seakan yang dia lakukan sekarang adalah mencari mangsa.
Di tengah pencarian wanita yang Aiden inginkan, samar-samar Aiden mendengar suara isakan seseorang membuat lelaki itu mencari asal suara tersebut, yang ternyata berasal dari salah satu sudut kelab.
Aiden melihat seorang gadis muda yang tampak diseret secara paksa oleh dua orang berperawakan bodyguard, gadis itu ditarik menuju salah satu ruangan di sini dan entah kenapa mencuri perhatian Aiden.
"Tolong, tolong lepaskan saya, Tuan!"
Teriakan gadis itu semakin membuat Aiden penasaran, ingin Aiden mengabaikan keberadaan mereka tetapi teriakan dan isakan itu benar-benar mengganggu dirinya, Aiden tidak bisa mengabaikan begitu saja dan memilih untuk mendekati dua orang bodyguard yang membawa gadis tersebut.
Sebelum menghampiri mereka, Aiden terus memerhatikan gadis tersebut yang memiliki perawakan mungil sekali, rambut berwarna cokelat bergelombang dengan kuncir kudanya. Lalu dua bodyguard tersebut membawa gadis asing itu ke salah satu ruangan yang berada di sini, membuat Aiden melangkahkan kakinya untuk mengikuti mereka.
“Apa dia barang baru?” tanya Aiden tanpa basa-basi membuat orang-orang yang berada di dalam ruangan menatap ke arahnya. Suara dari luar ruangan memang samar-samar terdengar, membuat suara Aiden didengar dengan jelas oleh mereka.
Bodyguard tadi melirik ke sisi lain, di mana seorang perempuan dewasa tampak sedang menyesap sigaretnya, mengembuskan asap berbentuk bulan di udara. Kemudian menatap ke arah Aiden.
“Iya, Tuan, dia masih sangat baru di sini,” jawab perempuan cantik itu sebelum meneguk satu gelas berisi minuman keras miliknya.
“Mau memakainya, Tuan?” lanjut perempuan itu kepada Aiden.
Aiden melirik ke arah gadis tadi yang masih tertunduk lesu di lantai, pakaiannya sobek di beberapa bagian, ada lebam masih segar di sudut bibirnya. Aiden kembali menatap perempuan yang Aiden pikir bisa disebut Madam dan berkata, “Berapa yang harus aku bayar untuk memiliki gadis ini?”
Perempuan pemilik kelab itu menyeringai dan menyunggingkan senyumnya sedikit. “Sepertinya saya akan memberikan harga khusus untuk yang satu ini, Tuan. Karena dia masih bersegel.”
Aiden mengangguk dan menatap wanita paruh baya itu. "Aku tak peduli soal harga, yang penting berikan gadis itu padaku!" perintahnya pada Madam tersebut. Meskipun cahaya dalam ruangan temaram, Aiden dapat melihat wajah sang gadis semakin memucat dan pancaran mata yang penuh luka.
Sang Madam memerintah anak buahnya yang sedang memberikan pelayanan pada Aiden untuk duduk di depannya. Setelah sepakat dengan harga, Aiden menunjukkan layar ponsel kepada perempuan itu sebagai bukti bahwa Aiden telah mentransfer sejumlah uang yang diminta Madam sebagai kesepakatan telah membeli gadis berperawakan mungil yang sekarang ia inginkan.
“Siapa namanya?” tanya Aiden yang kembali melirik gadis tersebut. Ia tidak sabar untuk segera membawanya dan memiliki perempuan itu.
“Dia Saskia, Tuan.” Madam tersebut menjawab kemudian beranjak dari tempat duduk dan menghampiri gadis yang bernama Saskia tadi.
"Saskia cepat bangun dan ikuti orang itu, dia telah membelimu. Dia tuanmu sekarang!" ucap Madam pada Saskia yang masih terlihat tak berdaya.
Gadis itu menggeleng sebagai tanda penolakan, Saskia terlihat takut sekali melihat ke arah Aiden. Tidak ada pergerakan dari Saskia membuat Madam menyuruh dua bodyguardnya itu bergerak cepat dan menyeret Saskia keluar dari ruangan ini, membawa pergi bersama dengan Aiden yang berjalan di belakang mereka begitu santai.
Aiden masih mendengar isakan dan raungan Saskia yang meminta dilepaskan, gadis itu mati-matian memberontak, menggigit tangan bodyguard bertubuh kekar itu dan mengentak-entakkan kakinya, gadis itu meronta minta dilepaskan. Hingga tiba di sebuah kamar, gadis itu dihempaskan kasar oleh kedua bodyguard tadi hingga gadis itu terjerembap ke atas tempat tidur.
Madam memang mengikuti bodyguardnya di belakang juga diikuti Aiden yang melangkah bersama perempuan tersebut. Madam melirik arah Aiden, matanya melotot sebelum berkata-kata kasar pada gadis itu. "Tuan ini sudah membelimu dengan harga sangat fantastis, Saskia. Berikan pelayanan terbaikmu sekarang atau aku tidak akan mengampunimu dan akan aku potong tangan dan kakimu!!"
Gadis itu masih terpaku sampai para bodyguard dan Madam tersebut yang menyeret tadi menghilang di balik pintu. Kini tinggal Aiden dan dirinya dalam satu kamar mewah di Kelab terkenal milik Madam.
Secepat kilat gadis itu beringsut, dia memeluk kaki Aiden sambil memohon untuk dilepaskan. "Tuan … Tuan tolong lepaskan saya. Saya bukan wanita penghibur, kakak saya menjual saya kepada wanita tua yang kejam itu," lirihnya disertai isak tangis memelas, berharap lelaki di depannya luluh.
Namun Aiden bergeming, tatapannya pada gadis itu datar. Jika gadis itu berpikir menangis akan membuat tuan tersebut merasakan kasihan pada dirinya, itu salah besar. Karena kini Aiden malah menyeringai tampak menyeramkan yang membuat gadis itu bergidik ngeri melihatnya. Dia langsung memalingkan pandangan pada tuannya itu.
Aiden berjongkok hingga posisinya hampir sejajar dengan gadis itu. Tangannya terangkat melepaskan kacamata milik sang gadis hingga menampakkan wajah manisnya yang polos.
"Hmm, ternyata gadis kecil ini lebih manis tanpa kacamatanya." Aiden membatin dalam hati.
"Melepaskanmu? Hah?!" Lelaki itu tiba-tiba terkekeh-kekeh, kemudian menghembuskan napasnya pelan.
"Aku akan melepaskanmu jika kamu bisa memuaskanku di ranjang ini." Aiden mengerlingkan matanya dan membelai wajah gadis itu.
Anda Mungkin Juga Suka





