Sampul Novel Kelahiran yang Menghancurkan

Kelahiran yang Menghancurkan

8.2 / 10.0
Menjelang persalinan, Alana justru disekap di ruang medis bawah tanah oleh suaminya sendiri, Alexander Santoso. Sang wakil kepala mafia tega menyuntikkan penahan kontraksi agar Alana tidak melahirkan sebelum Elisa, janda kakaknya. Terikat sumpah darah masa lalu, Alexander bertekad mengamankan warisan wilayah Teluk Barat Jaya untuk anak Elisa. Meski Alana memohon demi keselamatan bayinya dan menyatakan cintanya, Alexander yang buta konspirasi menuduhnya serakah. Penantian kejam semalam suntuk itu berakhir dengan kepedihan mutlak saat Alexander menyadari bahwa keputusannya telah merenggut nyawa istri dan anaknya sendiri.

Kelahiran yang Menghancurkan Bab 1

Saat usia kehamilanku sembilan bulan, aku sudah ada di penghujung masa kehamilan, tubuhku terasa berat dengan bayi yang bisa lahir kapan saja.

Tapi suamiku, Alexander Santoso, wakil kepala keluarga, justru mengurungku. Dia menahanku di sebuah ruang medis bawah tanah yang dingin dan steril, lalu menyuntikkan obat penahan kontraksi.

Saat aku berteriak kesakitan, dia menatapku dengan dingin dan berkata aku harus menahannya.

Karena pada saat yang sama, istri almarhum kakaknya, Elisa juga diperkirakan akan melahirkan.

Sebuah sumpah darah yang pernah dia buat dengan mendiang kakaknya menyatakan bahwa anak laki-laki sulung akan mewarisi wilayah keluarga di Teluk Barat Jaya yang begitu menguntungkan.

"Warisan itu milik anak Elisa," katanya.

"Davin sudah tiada, dia benar-benar sendirian dan tak punya apa-apa. Seluruh cintaku tetap untukmu, Alana. Aku hanya butuh dia melahirkan dengan selamat. Setelah itu, barulah giliranmu."

Obat itu membuat tubuhku terus-menerus tersiksa. Aku memohon padanya untuk membawaku ke rumah sakit.

Dia justru mencekik leherku, memaksaku menatap mata dinginnya.

"Berhenti berpura-pura! Aku tahu kau baik-baik saja. Kau cuma berusaha merebut warisan itu."

"Untuk mendahului Elisa, kau rela melakukan apa saja."

Wajahku pucat, tubuhku bergetar hebat. Dengan sisa tenaga, aku berbisik lirih, "Bayinya akan lahir... aku tidak peduli soal warisan. Aku hanya mencintaimu, dan aku ingin anak kita lahir dengan selamat!"

Dia mencibir. "Kalau kau memang sesuci itu, kalau kau benar mencintaiku, kau tak akan pernah memaksa Elisa menandatangani perjanjian pranikah yang membuat anaknya kehilangan hak warisan."

"Jangan khawatir, aku akan kembali padamu setelah dia melahirkan. Bagaimanapun, kau mengandung darah dagingku."

Sepanjang malam, dia berjaga di depan ruang bersalin Elisa.

Baru setelah melihat bayi itu di pelukan Elisa, dia teringat padaku.

Dia akhirnya menyuruh tangan kanannya, Raka untuk membebaskanku. Tapi ketika Raka menelepon, suaranya gemetar.

"Bos... nyonya dan bayinya... mereka sudah tidak ada."

Di saat itu juga, Alexander hancur.

Dengan perut yang sangat besar, aku menyeret diriku di lantai, merangkak menuju pintu baja yang berat itu.

Tepat saat pintu itu menutup dengan dentuman keras yang mengguncang, jariku terjepit di kusen.

Aku mendengar suara tulang yang patah, renyah dan mengerikan.

Rasa sakit baru menghantam, menenggelamkan siksaan obat dalam tubuhku. Aku menjerit sekuat tenaga, teriakan melengking merobek tenggorokanku.

Tapi pikiran Alexander hanya tertuju pada Elisa. Tangisku sama sekali tak terdengar olehnya.

Tiba-tiba, cairan hangat merembes turun. Aku tahu ketubanku sudah pecah.

Ketakutan yang dingin dan mutlak menelan seluruh diriku.

Satu-satunya cahaya hanyalah kilau hijau redup dari lampu darurat di atas pintu.

Aku berusaha menenangkan diri, menghantam pintu dengan tinju lemahku, berteriak minta tolong.

Tapi ini ruang operasi pribadi milik Alexander yang terisolasi, kedap suara, tanpa jendela.

Tidak ada seorang pun yang bisa mendengar rintihanku yang makin melemah.

Bayiku menendang keras-keras, seakan berusaha melepaskan diri dari penjara dingin ini.

Tubuhku basah kuyup, entah karena keringat atau darah.

Racun dari obat penahan kontraksi itu terus menyedot tenagaku, mencuri hidupku detik demi detik.

Dengan sisa kekuatan terakhir, aku menjerit sekali lagi, putus asa.

Akhirnya, kudengar langkah kaki di luar.

"Tolong aku!" Aku menjerit, suara serak. "Aku terkunci di ruang operasi! Aku mau melahirkan!"

Aku ulangi lagi dan lagi, yakin pertolongan sudah datang.

Tapi suara yang menjawab membuat darahku membeku, penuh kebencian sadis.

"Wah, Alana. Lihat dirimu yang menyedihkan. Alexander seharusnya sudah mengajarkanmu cara patuh sejak lama."

Itu suara Gianna, adiknya Alexander.

Aku memejamkan mata, berusaha menahan suara agar tetap tenang. "Gianna, kumohon... lepaskan aku. Bayinya mau keluar. Aku tak kuat lagi."

Gianna membuka pintu, menatapku dari atas dengan wajah penuh jijik.

Sesaat aku sempat berharap dia akan menolongku.

Namun di detik berikutnya, kakinya menghantam tulang rusukku. Nafasku seketika terhenti, bintik-bintik gelap mulai berputar di pandanganku.

Suaranya setajam pisau cukur.

"Melepaskanmu? Supaya kau merusak persalinan Elisa? Tetap di situ, Alana. Alexander menyuruhku mengawasi."

"Kau tidak pantas jadi istri Alexander. Dia ingin kau tetap di sini, merenungkan kesalahanmu. Alexander sudah cukup terbebani tanpa kau bikin masalah."

"Anak Elisa lah yang akan jadi pewaris keluarga ini. Trik murahanmu tidak akan mengubah kenyataan."

Kontraksi berikutnya menghancurkan tubuhku, membuat jeritan meluncur paksa dari bibirku.

Air mata mengalir deras. Aku terisak, terengah-engah.

"Anakku tidak akan ikut dalam urusan keluarga... aku akan menyerahkan semuanya! Tolong, sampaikan pada Alexander. Biarkan aku pergi. Aku akan lenyap dari keluarga ini, takkan menoleh lagi. Aku bersumpah."

Teriakanku hanya membuat Gianna makin marah.

Dia menyeringai jijik. "Perempuan murahan. Kau kira bisa merayu siapa dengan tangisan itu? Menyedihkan."

Dia menekan tombol radio komunikasi, menghubungi Alexander.

Siksaan dari obat dan rasa sakit melahirkan itu mencabik jiwaku sampai hampir hancur.

"Tenang saja, Alexander, jangan khawatir. Aku akan terus mengawasinya," jawab Gianna.

Saat mendengar suara Alexander, secercah harapan menyala di dadaku. Dia pasti peduli. Dia pasti peduli pada anak kami.

Aku menjerit sekuat tenaga, "Alexander! Bayinya mau lahir! Sekarang! Kumohon, suruh Gianna bawa aku ke rumah sakit! Tolong!"

Suara tangisku parau, bergetar tanpa kendali.

Gianna ragu. Aku mendengarnya berbisik ke radio komunikasi, "Alexander, aku mulai percaya ini sungguhan. Dia berteriak seperti itu, aku tidak percaya dia sedang berpura-pura. Mungkin sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit. Bagaimanapun juga, dia adalah satu-satunya anakmu. Kalau sampai terjadi sesuatu..."

Alexander terdiam beberapa detik, seolah mempertimbangkan.

Lalu suaranya melunak. "Baiklah, kalau begitu bawa saja dia..."

Namun tiba-tiba, suara lembut menggoda terdengar dari ujung sana.

"Alexander, sayang, aku haus. Bisa ambilkan aku sampanye? Dokter bilang aku harus rileks supaya kuat melahirkan pangeran kecil kita."

"Oh, Alana sedang melahirkan? Itu bukan apa-apa, sayang. Sama sekali tidak sakit. Sejujurnya, aku merasa seperti bisa berlatih maraton. Alana itu perempuan kuat, dia akan baik-baik saja."

Tentu saja Elisa tak merasakan sakit itu.

Seluruh tim medis keluarga dan fasilitas mewah dialihkan hanya untuknya. Dia diperlakukan bak ratu.

Beberapa kata dari Elisa saja sudah cukup untuk mengubah segalanya. Untuk mengubah pikiran Alexander.

Suaranya kembali membeku.

"Tidak ada yang akan terjadi. Dia cuma berpura-pura. Kalau kau sampai tertipu, kau hanya akan terlihat bodoh."

Sambungan mati.

Tersengat oleh hardikan Alexander, Gianna melampiaskan amarahnya padaku.

Dia merogoh kotak kulit dan mengeluarkan seekor ular, lalu melangkah mendekat ke arahku.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Kelahiran yang Menghancurkan

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel ASI untuk Pak Guru
8.5
Jenara Atmisly adalah siswi berprestasi yang mengidap galaktorea, sebuah kondisi hormon yang membuatnya memproduksi ASI meski belum pernah hamil. Suatu hari, rasa sakit akibat penumpukan cairan itu tak tertahankan hingga ia terpaksa meminta bantuan gurunya di sekolah. Kejadian tak terduga di ruang guru tersebut lantas mengubah segalanya. Berawal dari rahasia medis yang memalukan, hubungan mereka berkembang menjadi jalinan asmara yang rumit dan penuh risiko.
Sampul Novel En-PD158
8.7
Tiga tahun menikah, Zhou Yu'an mendadak meminta cerai dari istrinya demi menyelamatkan putra kandungnya bersama Lin Yanran yang menderita leukemia. Ia memohon izin untuk memiliki anak lagi dengan sang mantan agar sel bayi baru lahir itu bisa menjadi obat, sambil berjanji akan kembali setelah misi medis itu selesai. Namun, di tengah tangis kepedihan suaminya, sang istri menemukan pesan provokatif dari Yanran yang sudah menanti Yu'an untuk segera menghamilinya malam ini juga.
Sampul Novel Gairah Berbahaya Si Gadis Lugu
9.2
Rheina, gadis lugu yang terjebak dalam lingkungan beracun, awalnya berniat membebaskan sahabatnya dari cengkeraman tuan tanah. Namun, situasi memburuk saat ayahnya justru menikahi sahabatnya itu sebagai istri keempat. Konflik keluarga yang kelam ini akhirnya menyeret Rheina ke dalam lembah kenistaan. Ikuti liku perjalanan hidup Rheina saat ia terjerat dalam cinta segitiga rumit bersama dua pria di tengah tekanan hidup yang penuh kata kasar dan adegan dewasa.
Sampul Novel Godaan Liar Sang Ustazah
8.5
Kisah romansa dewasa khusus pembaca 21 tahun ke atas ini mengeksplorasi sisi tersembunyi kehidupan yang jarang terungkap. Di balik topeng kesucian, tersimpan luka, dilema, dan kerinduan yang kompleks. Melalui narasi yang realistis dan eksplisit, pembaca diajak merefleksikan jati diri di tengah kegelapan demi menemukan titik cahaya. Sebuah hiburan penuh makna tentang pencarian makna hidup dan cinta yang tidak selamanya berjalan lurus, memberikan perspektif baru bagi pembacanya.
Sampul Novel KhaRisma
9.0
Penyesalan mendalam menghantui setelah perpisahan yang tak terelakkan terjadi. Kesadaran yang datang terlambat hanya menyisakan duka, karena tangisan tak mampu mengubah kenyataan. Kehadiran sosokmu sebelumnya telah memberi warna dan mengajarkan arti kesetiaan serta pengorbanan yang tulus. Meski mengenalmu membawa rasa sakit dan kesedihan, di sana pula kutemukan kebahagiaan sejati. Kini, andai waktu bisa diputar kembali, aku hanya ingin mengulang setiap detik bersamamu.
Sampul Novel My Bad Boss
8.6
Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan