
Istriku Yang Seksi
Bab 3
Saskia melenguh, mengerjapkan mata yang terasa lengket. Ia baru saja ingin menggeliat, ketika merasakan tubuhnya remuk redam. Apalagi di bagian pangkal pahanya, yang entah kenapa terasa begitu nyeri.
Wanita itu memutuskan bangun, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati seseorang di sebelahnya. Yang lebih mengejutkan, tubuhnya polos tanpa tertutup sehelai benang pun.
Ingatan demi ingatan tiba-tiba menyerbu pikirannya, membuat kepalanya mendadak menjadi pusing. Wanita itu segera menarik selimut untuk menutupi tubuh, dan segera beranjak dari ranjang.
Mencari cermin, Saskia mengamati dirinya sendiri. Dan saat itu juga, tangisnya pecah. Bekas-bekas kecupan di leher dan juga dadanya, menjadi bukti jika mahkotanya telah terenggut semalam oleh lelaki yang sama sekali tak ia kenal.
Tubuh Saskia merosot, tangisnya semakin histeris. Dia terduduk, dengan salah satu tangan memeluk lututnya. Wanita itu gemetar mendapati kenyataan jika dirinya sudah tak lagi berarti.
Entah sudah berapa lama Saskia menangis, wanita itu mendongak ketika mendengar suara gumaman. Ia menoleh, dan beringsut ketakutan melihat lelaki yang ada di ranjang sedang mengigau.
Saskia panik, menoleh ke sana-sini dengan gugup. Lalu pandangannya terarah ke balkon, cepat-cepat dia bangun dan membuka pintunya kasar.
Hal ini tentu saja membuat tidur Aiden terganggu. Tak mendapati wanita yang semalam bersamanya di ranjang, membuatnya segera mengamati ruangan sekelilingnya.
"Sial, apa dia kabur?" gumam Aiden bertanya.
Lelaki itu turun, mengambil pakaiannya yang terletak di lantai. Dahinya mengernyit, saat mendapati ada pakaian wanita di dekat kakinya.
Kelegaan menguar dalam hati Aiden, ia tak jadi panik dan segera memakai celana panjangnya semalam. Dia yang haus, mengambil minum dari nakas meja. Tahu jika pintu balkon terbuka, ia menganggap wanita itu ada di sana.
Namun, baru saja Aiden menenggak minumannya sekali, ia harus tersedak saat mendapati wanita yang semalam bersamanya, naik ke atas undakan pagar pembatas balkon.
"Gila, apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Aiden memekik.
"Jangan mendekat, kalau kamu mendekat, aku akan loncat dari sini!" ancam Saskia dengan tubuh gemetar.
Aiden mengerutkan dahi, melongok ke bagian luar pagar pembatas, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. "Jika lompat, lompat saja. Aku tak akan menahanmu," kata Aiden santai, tak terpengaruh orang yang akan bunuh diri di depannya.
Melihat Saskia melongok ke bawah tampak panik, membuat Aiden terkekeh. Lelaki itu kembali mendekat, dan memilih duduk di sofa yang ada di balkon. Sungguh, sikapnya begitu acuh. Bahkan menganggap sikap Saskia seperti sebuah tontonan.
"Kamar ini ada di lantai lima belas, di bawah terdapat sebuah taman yang banyak dengan bebatuan kecil. Jika kamu loncat, maka waktu yang dibutuhkan tak lebih dari tiga menit. Dan ketika tubuhmu menghantam ke bawah, aku pastikan tubuhmu bercerai berai. Jika kamu tak mati, kamu pasti akan merasakan sakit karena seluruh tubuhmu pasti akan mengalami patah tulang," tutur Aiden panjang lebar, dengan kaki saling tindih dan juga tangan menyilang di dada.
Napas Saskia tampak tercekat mendengar hal tersebut. Kepanikan mendera dirinya yang membuat tubuhnya bergetar hebat. Lagi-lagi, ia melongok ke bawah, lalu menoleh ke arah lelaki di depannya.
Andaikan ia langsung mati, itu akan menjadi lebih mudah. Namun, bagaimana jika dia tidak mati? Siapa yang akan bertanggung jawab dengan dirinya nanti jika mengalami patah tulang. Sungguh, kini Saskia merasa bimbang dengan hal apa yang harus dilakukannya.
"Aku tahu kamu wanita pintar, Saskia. Kemarilah, turun sekarang."
Ucapan lelaki itu membuat Saskia segera menoleh, tak menduga jika lelaki itu sudah berdiri begitu dekat dengannya dengan tangan terulur. Sesaat, Saskia merasa ragu untuk menyambutnya. "A-apa … a-apa jika aku turun, kamu mau membantuku?" tanyanya ragu.
"Kita bisa membicarakan ini dengan santai, jika kamu mau turun," sahut Aiden masih tetap santai.
Melihat ketenangan lelaki itu, akhirnya Saskia bisa memutuskan. Ia menarik napasnya dalam-dalam, lalu menyambut tangan Aiden. Saat itu juga, ia merasa tubuhnya ditarik dengan keras sampai menabrak dada lelaki itu. Dalam jarak yang begitu dekat seperti ini, entah kenapa Saskia menjadi tegang. Tatapannya terpaku pada wajah tampan lelaki di depannya itu.
"Good, aku bangga kamu tidak memilih mati," ungkap Aiden tulus, tersenyum begitu manis.
Lelaki itu menggandeng Saskia masuk kembali ke dalam kamar. Lalu menyuruh wanita itu untuk duduk di tepi ranjang. "Kita akan bicara, asalkan kamu ganti baju lebih dulu. Sungguh aku tidak nyaman melihatmu seperti itu, yang ada kita bukan bicara, malah bercinta lagi seperti semalam."
Ucapan Aiden, membuat wajah Saskia merasa panas. Dengan gugup, ia mengangguk. Ia mengambil pakaiannya lagi yang berserakan di lantai, cepat-cepat berlari ke kamar mandi untuk memakainya.
Tak berselang lama, Saskia keluar. Dia mendapati lelaki itu tengah berdiri di dekat pintu, sambil membawa sebuah paper bag dengan nampan dorong yang berisi banyak makanan.
"Pakai ini, bajumu bau!"
Saskia tergagap, ketika lelaki itu melemparkan tas tadi padanya. Cepat-cepat dia menangkapnya, dan tersenyum tipis saat melihat isinya. Ia kembali masuk ke kamar mandi, mengganti bajunya dengan baju baru yang diberikan oleh Aiden.
"Kemarilah, duduk."
Saat Saskia keluar, ia sudah disambut oleh Aiden. Lelaki itu sudah duduk di sofa, menikmati kopi dan juga roti panggangnya. Saskia tampak gugup, dan memilih duduk berjauhan dengan lelaki itu.
"Makanlah!" perintah Aiden dengan tegas.
"Terima kasih, Tuan." Saskia mengangguk sopan, dan segera meraih makanan di depannya dengan sedikit rakus. Perutnya begitu lapar setelah kemarin malam dia lupa tak makan.
"Jadi, apa bantuan yang kau mau dariku?" tanya Aiden, di sela-sela sarapannya.
Hal ini membuat Saskia menghentikan aktivitasnya. Dia terdiam sebentar, sebelum akhirnya memilih turun di lantai untuk bersujud di kaki Aiden. "Aku hanya meminta agar Tuan bisa mengeluarkanku dari sini. Aku tidak mau hidup di tempat terkutuk seperti ini, Tuan. Aku bukan wanita malam seperti anggapanmu, aku hanyalah timbal dari keserakahan kakakku sehingga bisa terjerumus di tempat ini. Aku ingin keluar, Tuan, tolong aku."
Aideen terkejut, Saskia yang histeris penuh permohonan di bawahnya, membuat tubuhnya sedikit menegang. Sentuhan tangan wanita itu di lututnya, entah mengapa membuat gelenyar aneh menerpa tubuhnya. Wajah manis nan cantik dengan mata basah yang menatapnya lekat itu, terasa menggelitik hatinya.
Lelaki itu berdehem, menetralkan diri agar tak gugup. Lalu berpura-pura mengalihkan pandang, seolah tak memperdulikan Saskia. "Apa yang kudapat jika berhasil membawamu keluar dari sini?" tanyanya angkuh.
Saskia terdiam beberapa saat, ia bingung untuk menjawab. Jika lelaki itu meminta uang, ia yakin dirinya tak akan punya. Jika ia bersikeras mencicilnya, ia juga tidak tahu akan bekerja apa setelah keluar dari sini. Satu-satunya hal yang bisa ditawarkan, hanyalah tubuhnya. Namun, sanggupkah Saskia menawarkan diri sebagai budak?
"Aku tak akan melakukan hal yang tidak menguntungkan," kata Aiden, mengingatkan.
Hal ini membuat Saskia benar-benar bingung, tanpa sadar dia menggigit kecil bibir bawahnya. "A-aku … A-aku tak mempunyai apapun untuk ditawarkan padamu, Tuan. Hanya diriku sendiri yang kumiliki saat ini. Dan hanya itu satu-satunya hal yang bisa membuatku bernegosiasi denganmu. Dengan ini, aku menawarkan sebuah pengabdian padamu. Kau bebas, menyuruhku melakukan apapun. Aku akan menjadi milikmu, setelah Anda mengeluarkanku dari sini."
Aiden menarik bibirnya ke satu sisi, membentuk sebuah senyuman miring yang begitu sinis. Tawaran itu sangat menggodanya, dan spontan membuatnya kepikiran untuk menggunakan Saskia, dalam rencana balas dendamnya pada Synthia.
Anda Mungkin Juga Suka





