Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Untuk Suamiku

Istri Untuk Suamiku

Fatma menghadapi cobaan berat saat divonis menderita kanker rahim stadium lanjut yang memupus harapannya memiliki anak. Demi kebahagiaan Satria, ia rela meminta suaminya menikah lagi. Namun, kenyataan pahit terungkap bahwa Satria selama ini tidak pernah mencintainya. Meski Satria sempat menolak karena enggan menyakiti hatinya, Fatma tetap memohon dengan penuh air mata agar permintaan terakhirnya dipenuhi sebagai bentuk pengorbanan cinta yang tulus.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Kenapa Mas? Kok kamu kaget gitu?" heran Fatma saat melihat reaksi suaminya.

"Tidak papa, sayang. Hanya saja, itu adalah desa temanku," bohong Satria.

Tiba-tiba saja pikirannya menyelami masa lalu, dimana dia pernah tinggal di desa itu sampai SMA. Akan tetapi, sudah lama dia meninggalkan desa itu, karena menghindari kenangan yang begitu menyakitkan.

"Ya sudah, kamu tidur yah. Aku masih mau cek pemasukan bulanan dulu," ujar Satria.

Fatma mengangguk, namun saat dia akan membaringkan tubuhnya, tiba-tiba saja ia merasakan sakit yang teramat sangat di bagian perut bawahnya sampai ke punggung bawah.

"Aawwh! Sshh!" ringisnya sambil meremas seprei dengan kuat.

Satria yang baru saja akan bangkit dari ranjang, tiba-tiba menatap panik pada Fatma. "Kamu kenapa? Sakit lagi ya?" Fatma hanya mengangguk dengan raut wajah kesakitan.

Pria itu langsung mengambilkan obat pereda nyeri milik Fatma, lalu membantu wanita itu untuk meminumnya.

"Sebaiknya sekarang kamu istirahat, ya!" Fatma kembali mengangguk, lalu dia membaringkan tubuhnya di ranjang dan menutup matanya.

Satria menatap miris ke arah wanita yang sudah menemaninya selama 5 tahun. Tubuhnya semakin hari semakin kurus, berbeda dengan 4 tahun yang lalu, saat Fatma belum di diagnosa penyakit mematikan itu.

"Hatiku semakin berat untuk menikah lagi. Rasanya aku tidak sanggup semakin menyakitimu, Fatma. Tapi, itu adalah permintaanmu, dan aku tak bisa menolaknya." Satria bermonolog di dalam hatinya dengan air mata yang mulai menggenang.

.

.

Pagi hari Fatma sudah siap menghidangkan sarapan untuk suaminya, dan tak lama Satria turun menuju meja makan.

"Ya ampun, Fatma! Sudah berapa kali aku bilang, jangan cape-cape. Kamu gak ingat apa kata dokter, hm?"

"Iya Mas, maaf. Lagian aku di bantu bi Siti kok," jawab Fatma sambil tersenyum pucat walau bibirnya sudah di kasih pemerah bibir.

"Ya sudah, tapi jangan mengerjakan yang berat-berat, oke!" Fatma mengangguk paham, lalu mereka pun sarapan bersama.

"Mas, nanti siang kamu pulang ya!" Fatma menatap sekilas pada sang suami.

"Memangnya ada apa?"

"Nanti siang kita akan ke butik buat beli jas buat acara esok," terang Fatma dengan mata berbinar.

Satria hanya mengangguk pelan tanpa menjawab. Setelah sarapan Fatma pun mengantarkannya ke depan pintu, dan setelah melihat Satria memasuki mobil wanita itu pun berbalik hendak menuju kamar. Akan tetapi, tiba-tiba saja tubuhnya limbung.

"Aawwhh! Ya Allah, sakit sekali." Fatma meremas perutnya yang kembali berdenyut nyeri. Dia berjalan sedikit tertatih.

"Astagfirullah! Buk Fatma!" panik bi Siti, kemudian dia membantu Fatma menuju kamar.

"Saya mau ke kamar mandi, Bi," ujar Fatma.

"Perlu bibi bantu, Bu?"

"Nggak usah, Bi. Aku bisa sendiri kok," tolak Fatma yang tak mau menyusahkan pembantunya.

Dia pun menuju kamar mandi, namun saat dia sedang buang air kecil, terasa sangat sakit, bahkan uri-nenya bercampur dengan darah.

"Ya Allah, kuatkan hamba, sampai hamba melihat mas Satria bahagia," lirihnya.

Sementara selama di cafe, Satria terlihat melamun. Dia memikirkan ucapan Fatma semalam tentang wanita yang akan menjadi iatri keduanya nanti.

"Kenapa harus dari desa sana? Kenapa tiba-tiba saja aku ingat dia?" gumamnya dengan tatapan sendu.

Satria membuka laci kerjanya, lalu dia mengeluarkan sebuah foto yang mulai lusuh. Senyumnya terpantri penuh kerinduan saat melihat foto itu dan mengusapnya dengan lembut.

"Bagaimana kabarmu saat ini? Apa kamu sudah menikah?" Dia berkata pada foto itu.

Saat Satria sadar jam sudah menunjukan pukul 11.00 siang, dia pun bergegas untuk pulang, sebab mereka akan ke butik. Dan sesampainya di rumah, ternyata Fatma sudah siap, lalu mereka pun keluar menuju mobil.

"Pelan-pelan," ucap Satria sambil melindungi kepala Fatma agar tak terpentok mobil.

Fatma tersenyum lalu duduk. Perlakuan itulah yang ia suka dari Satria, walaupun ia tahu jika Satria belum bisa mencintainya, tapi perlakuannya yang begitu lembut dan menghargainya sudah membuat Fatma sangat senang.

Sesampainya mereka di butik, Fatma langsung memilihkan jas yang cocok untuk acara ijab nanti. Walaupun memang pernikahan kedua Satria tidak di ramaikan.

"Mas, kayaknya ini cocok deh," ucap Fatma sambil memperlihatkan Jas dan kemeja berwarna putih. Lalu, dia meminta Satria untuk mencobanya.

Setelah beberapa saat, Satria keluar dari ruang ganti. Melihat itu Fatma menatap kagum ke arah suaminya. Tak terasa dadanya sesak saat membayangkan jika sebentar lagi dia akan berbagi suami dengan wanita lain.

"Kamu sangat tampan, Mas. Jas ini cocok sekali untuk kamu," puji Fatma sambil tersenyum manis. "Gimana Mas, kamu suka?"

"Aku terserah pilihanmu saja," jawab Satria dengan pasrah.

Dia terlihat tidak bersemangat, dan hanya bisa pasrah dengan pernikahannya nanti. Dan setelah selesai mereka pun menuju rumah sakit terlebih dahulu untuk cek-up penyakit Fatma.

"Dok, apa kemungkinan istri saya bisa sembuh?" tanya Satria dengan tatapan penuh harap sambil melihat keadaan Fatma yang terbaring di ranjang pasien.

"Kemungkinan sangat kecil, Pak. Kankernya bahkan sudah menyebar," jawab Dokter tersebut.

Satria menghela nafas dengan berat, kemudian Fatma bangkit dan duduk di samping sang suami. "Jagan khawatir, Mas. Aku baik-baik saja kok." Fatma mencoba kuat di hadapan Satria

Akan tetapi, Satria tahu sakitnya Fatma seperti apa. "Jangan pura-pura kuat di hadapanku." Lalu dia mengajak Fatma untuk pulang.

"Kamu mau makan apa?" tanyanya saat berada di jalan.

"Aku mau martabak telor, Mas!" pinta Fatma.

Satria langsung mencari pedagang martabak. Dia membeli 1 bungkus untuk Fatma. Satria pikir, dengan prilakunya yang baik dan menghargai Fatma sebagai istrinya, bisa menebus kesalahannya yang tak bisa membalas cinta Fatma.

Sesampainya di rumah, Satria meminta bi Siti untuk menyiapkan martabak itu. Mereka duduk di ruang tamu dengan Fatma yang bersandar di sofa.

"Boleh aku melihat rupa dari istri keduaku?" pinta Satria, sebab ia sangat penasaran.

"Tunggu besok Mas. Sebentar lagi kamu akan melihatnya," kekeh Fatma.

"Apa dia berjilbab?"

"Ya. Tentu saja. Aku sudah bilang bukan, bahwa aku akan mencarikan istri terbaik untuk suamiku," papar Fatma sambil mencubit pipi Satria.

Pria itu terdiam, kemudian dia menatap lekat keadah Fatma, "apa dia tahu jika aku sudah mempunyai istri? Apa dia tahu, akan menjadi istri kedua?"

Entah kenapa felling Satria mengatakan, jika wanita yang akan ia nikahi tidak tahu menahu tentang statusnya itu. Dan mendengar hal tersebut, Fatma memnggelengkan kepalanya.

"Dia tidak tahu, Mas. Nanti saat sudah ada di sini, baru kita akan menjelaskannya," jawab Fatma.

"Apa! Bagaimana mungkin bisa dia tidak tahu, Fatma. Sama saja kamu, umi dan abi menjebaknya? Bagaimana perasannya nanti? Dia pasti akan sangat terluka." Satria mengusap wajahnya dengan kasar.

"Tidak akan, Mas. Walau mungkin iya, tapi umi dan abi akan menjelaskannya. Lagi pula, kedua orang tuanya juga sudah tahu."

"Terserah saja." Satria berujar dengan nada frustasi. Dia sangat yakin jika wanita itu nanti akan sangat syok.

BERSAMBUNG.......

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95ENU" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95ENU
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Mata Bintang, Akhir Pengabdianku
8.9
Sepuluh tahun mengabdi dalam bayang-bayang, pengorbanan istri Daffa Prawirodirdjo hancur saat melihat suaminya pamer kebahagiaan dengan Leni, cinta lamanya. Puncaknya, Daffa tega menelantarkan Bintang yang terluka di hari ulang tahunnya demi membela putri Leni. Muak dengan pengkhianatan itu, sang istri membawa Bintang pergi dan memulai hidup baru sebagai seniman sukses. Saat Daffa kembali memohon ampun tiga tahun kemudian, pintu maaf telah tertutup selamanya.
Sampul Novel Andai Cinta Datang Lebih Awal
8.4
Setelah didorong ke timbunan longsor oleh Julia, Siena ditinggalkan begitu saja oleh kekasihnya, Billy, yang memilih menyelamatkan sepupunya itu. Terkubur selama tujuh hari, Siena justru disalahkan dan diancam penundaan pernikahan setelah diselamatkan. Namun, Billy tidak tahu bahwa Siena telah membuat kesepakatan dengan Dewa Bulan. Dalam enam hari, ia akan menukarkan seluruh ingatan dan cintanya pada Billy demi memulai hidup baru. Siena yang dulu sangat mencintainya kini telah tiada.
Sampul Novel Balas Dendamnya Adalah Kecerdasannya
9.4
Evelin selalu dianggap sebagai itik buruk rupa yang diasingkan keluarga. Saat Paramita, saudari tirinya yang sempurna, hendak menikahi CEO Carlos, kejutan besar terjadi ketika Carlos justru memilih menikahi Evelin. Di tengah cemoohan publik, Evelin membongkar rahasia besarnya sebagai ahli keuangan, genius AI, hingga penyembuh ajaib. Saat para pembencinya bersujud memohon maaf, Carlos memamerkan kecantikan asli Evelin yang memukau dunia tanpa perlu persetujuan siapa pun.
Sampul Novel Bayangan Pengantin yang Terlupakan
9.0
Menjadi kekasih Ronan Leach, CEO kaya Grup Leach, selama lima tahun ternyata membawa luka mendalam. Meski mengaku cinta, Ronan justru diam-diam menikahi janda sahabatnya dan meresmikan wanita itu sebagai Nyonya Besar Keluarga Leach di depan publik. Setelah berkali-kali memaafkan pengkhianatan Ronan—termasuk saat pria itu menghamili istrinya—sang protagonis akhirnya memilih pergi selamanya. Dia melangkah pergi membawa rahasia kehamilan dirinya sendiri, meninggalkan Ronan yang terlambat menyesali hilangnya sang kekasih dan calon pewaris tunggalnya.
Sampul Novel Istri Tanpa Suami
8.7
Aminarsih, gadis yatim piatu, dinikahi seorang CEO kaya demi menangkal kutukan nasib buruk pria itu, yang mana semua istrinya selalu meninggal dua hari setelah menikah. Alih-alih diperlakukan layak, Aminarsih justru disembunyikan di dalam rumah kosong yang menyeramkan. Di tengah kesendirian dan kengerian tempat itu, ia harus bertahan hidup dengan hanya mengandalkan bantuan dari sebatang pohon apel serta hewan-hewan seperti tikus, kecoak, dan semut yang kini ia anggap sebagai keluarganya.
Sampul Novel Karena Anak Hatiku Melunak
9.4
Tanti dijual keluarga tirinya kepada Darian demi melunasi utang, hingga berujung pada kehamilan. Enam tahun berselang, mereka bertemu kembali saat putra Tanti, Ade, berjuang melawan penyakit sumsum tulang belakang. Darian terkejut saat tes DNA membuktikan Ade adalah anaknya. Ia pun berusaha menebus kesalahan masa lalu dengan menjadi donor bagi sang putra. Kini Tanti terjebak dilema antara benci pada Darian atau menerima bantuannya demi nyawa buah hatinya.