
Istri Pengganti Yang Tak Dicintai
Bab 2
Keira terbangun oleh suara keras yang berasal dari ruang tengah. Jantungnya berdegup cepat, seakan tubuhnya langsung waspada begitu mendengar kegaduhan di tengah malam. Dengan ragu, ia bangkit dari tempat tidur, mengenakan jubah tipis yang tergantung di belakang pintu, dan berjalan pelan menuju sumber suara.
Ketika ia tiba di ruang tengah, ia melihat Ezra duduk di sofa, botol anggur setengah kosong di tangannya. Sebuah gelas kristal pecah berserakan di lantai, dan wajah Ezra terlihat merah, mungkin karena amarah, atau mungkin karena efek alkohol.
"Ezra?" panggil Keira dengan hati-hati.
Ezra menoleh, matanya yang penuh kebencian menatap lurus ke arahnya. "Apa yang kau lakukan di sini? Kembali ke kamarmu."
Keira mengabaikan nada tajam itu dan mendekat. "Aku mendengar suara. Kau... kau tidak apa-apa?"
Ezra tertawa kecil, suara tawa yang terdengar pahit. Ia mengangkat botol anggur itu, seolah mengajak Keira untuk bersulang. "Tidak apa-apa? Kau pikir aku baik-baik saja, Keira? Hidupku hancur. Orang yang kucintai sudah mati. Dan sekarang, aku terjebak denganmu. Kau pikir aku baik-baik saja?"
Keira menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang memuncak. "Aku tahu kau membenciku, Ezra. Tapi aku tidak pernah meminta untuk berada di sini. Aku tidak pernah meminta untuk menggantikan Rachel."
Ezra mendadak bangkit, langkahnya goyah karena mabuk. "Tapi kau di sini, kan? Kau berdiri di rumah ini, mengenakan nama keluargaku, tidur di kamar yang seharusnya untuk Rachel. Kau mengambil semuanya dariku!"
"Cukup!" Keira akhirnya kehilangan kendali. Ia tahu ia akan menyesalinya, tapi rasa sakit yang selama ini ia pendam meledak begitu saja. "Kau pikir hanya kau yang kehilangan, Ezra? Rachel adalah saudariku! Aku mencintainya! Dan aku tidak pernah ingin dia meninggal! Aku juga kehilangan dia, setiap hari aku dihantui oleh malam itu!"
Ezra terdiam. Kemarahan di matanya tidak sepenuhnya hilang, tapi untuk pertama kalinya, ia tampak sedikit goyah.
Keira melanjutkan, suaranya melemah karena air mata yang mulai menggenang di sudut matanya. "Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan tentangku. Aku tidak tahu apa yang kau yakini terjadi malam itu. Tapi aku tidak membunuh Rachel. Aku tidak mengambil cincinnya. Dan aku tidak pernah meminta untuk menikah denganmu. Kau pikir aku bahagia di sini? Kau pikir aku ingin hidup dengan seseorang yang membenciku setiap hari?"
Ezra tidak menjawab. Ia hanya berdiri di sana, memandang Keira dengan tatapan kosong yang sulit ditebak.
Keira menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya. "Aku akan kembali ke kamarku," katanya akhirnya. "Tapi jika kau ingin terus menyalahkanku atas sesuatu yang bukan salahku, itu urusanmu. Aku tidak bisa mengubah cara berpikirmu. Tapi aku tidak akan terus menjadi sasaran amarahmu, Ezra. Aku juga manusia."
Ia berbalik dan berjalan menuju tangga, meninggalkan Ezra yang masih berdiri di ruang tengah. Langkah kakinya terdengar menggema di rumah besar itu, setiap langkah terasa lebih berat daripada sebelumnya.
Keira menutup pintu kamar dengan perlahan dan bersandar di belakangnya, membiarkan air mata yang tadi ia tahan akhirnya mengalir deras. Ia tidak pernah merasa sehancur ini. Pernikahan ini adalah mimpi buruk, dan Ezra adalah luka yang terus-menerus menganga di hatinya.
Namun, jauh di dalam dirinya, ia tahu bahwa Ezra tidak hanya dipenuhi oleh kebencian. Ada sesuatu di balik sikap dingin dan amarahnya-sesuatu yang lebih rapuh, lebih menyakitkan. Ezra tidak pernah benar-benar membicarakan Rachel, kecuali untuk menyalahkan Keira. Tapi Keira bisa melihat bahwa kehilangan Rachel meninggalkan luka yang dalam di hati pria itu.
Keira menghapus air matanya dan berjalan menuju jendela. Bulan purnama tampak bersinar samar di langit malam, sinarnya menyentuh lembut taman belakang rumah yang sepi. Ia memandang ke luar dengan tatapan kosong, bertanya-tanya apakah ia akan pernah menemukan cara untuk keluar dari situasi ini.
Di saat yang sama, di bawah sana, Ezra berdiri di tengah ruang tamu yang sepi. Botol anggur masih di tangannya, tapi ia tidak lagi meminumnya. Kata-kata Keira terus terngiang di pikirannya.
"Rachel adalah saudariku! Aku mencintainya!"
Ezra menggeram pelan, melempar botol itu ke dinding hingga pecah berkeping-keping. Suara keras itu menggema di ruangan kosong, tapi tidak ada yang memperhatikannya.
Ezra berjalan ke rak buku di sudut ruangan, mengeluarkan sebuah kotak kecil yang terkunci. Tangan gemetarnya membuka kotak itu, memperlihatkan foto-foto Rachel. Di salah satu foto, Rachel tersenyum cerah, mengenakan gaun merah muda yang terlihat pas di tubuhnya. Ezra mengusap foto itu dengan pelan, matanya basah oleh air mata yang enggan jatuh.
"Aku merindukanmu," bisiknya pelan.
Namun, bayangan Rachel berganti menjadi wajah Keira-wajah yang mirip, tapi penuh dengan rasa sakit yang berbeda. Ezra mengerutkan kening, mencoba mengusir pikiran itu. Ia membenci Keira. Ia harus membencinya. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang salah.
Keesokan harinya
Keira bangun dengan mata yang bengkak. Ia nyaris tidak tidur semalam, pikirannya terus-menerus terganggu oleh pertengkarannya dengan Ezra. Ia melangkah keluar dari kamar, berharap bisa menghindari pria itu untuk sementara waktu. Tapi ketika ia tiba di ruang makan, Ezra sudah duduk di sana, menatap secangkir kopi di tangannya tanpa minat.
"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan," kata Ezra tiba-tiba, suaranya terdengar lebih tenang daripada biasanya.
Keira menegang. "Apa?"
Ezra mengangkat pandangannya, menatap lurus ke arah Keira. "Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi malam itu."
Keira terdiam. Kata-kata Ezra terasa seperti harapan kecil, tapi juga ancaman. Apakah ini awal dari akhir kebencian mereka, atau justru awal dari sesuatu yang lebih menghancurkan?
Anda Mungkin Juga Suka





