Sampul Novel Hati yang Kau Sakiti

Hati yang Kau Sakiti

9.5 / 10.0
Dalam novel Hati yang Kau Sakiti, Kiran menghadapi pengkhianatan Arka saat ia tengah hamil. Menemukan fakta bahwa suaminya memiliki anak dari wanita lain, ia harus memilih antara bertahan atau pergi. Temukan kisah perjuangan hidup dalam modern romance novel ini di situs read novels online.
Ringkasan Hati yang Kau Sakiti
Kebahagiaan Kiran saat mengetahui kehamilannya seketika sirna oleh kenyataan pahit. Arka, suami yang ia percayai, ternyata telah lama mengkhianatinya bahkan memiliki anak dengan wanita lain. Hati Kiran hancur berkeping-keping di tengah runtuhnya rumah tangga yang selama ini ia jaga. Kini, ia harus berjuang menghadapi perihnya pengkhianatan tersebut. Mampukah Kiran bangkit dari keterpurukan ini ataukah rasa cintanya pada Arka telah benar-benar mati selamanya?
Baca Selengkapnya

Hati yang Kau Sakiti Bab 1

Diajeng Kirana Ardani, wanita yang kerap disapa Kiran itu segera berdiri dari lantai yang dingin ketika ia mendengar suara pintu kamar terbuka. Wanita yang berusia 27 tahun itu mengangkat pandangannya dari lantai, melihat ke arah suaminya, Arka, yang telah pulang kerja. 

 "Mas, kamu sudah pulang?" 

 "Malam ini banyak pekerjaan yang harus diurus. Jadi, aku baru sempat pulang sekarang," jawab Arka sambil menaruh tas dan ponselnya di meja.

 Arkana Wirasena, anak tunggal dari almarhum Wirasena itu bekerja sebagai seorang manajer proyek di sebuah perusahaan konstruksi besar. Tanggung jawabnya besar, mulai dari mengawasi pembangunan hingga memastikan segala sesuatu berjalan sesuai jadwal. Hari-harinya sering kali dihabiskan di lokasi proyek, yang membuatnya selalu pulang larut malam, bahkan kadang tak pulang ke rumah.

 "Mas, aku ingin bicara," ujar Kiran, sambil mengangkat pandangannya, menatap ke arah Arka begitu gelisah.

 Arka yang sedang melepas kancing kemejanya, sejenak menghentikan aktivitasnya, dan menatap Kiran yang sedang berjalan ke arahnya. "Apa yang ingin kamu bicarakan?"

 Tepat di hadapan suaminya, Kiran menyodorkan sebuah alat tes kehamilan ke arah Arka. 

 Arka yang melihat itu, segera meraih alat berbentuk panjang tersebut dari tangan Kiran dengan wajah bingung. "Apa ini?"

 "Aku hamil, Mas."

 Wajah Arka seketika berubah menjadi marah mendengar itu. "Kenapa bisa kamu hamil? Bukannya kita sudah berjanji untuk menunda kehamilanmu?"

 Selama ini, Arka selalu meminta agar mereka menunda memiliki momongan terlebih dahulu, meskipun mereka sudah menikah selama lima tahun. 

 Sorot mata Arka yang berwarna coklat tajam menembus dinding hati Kiran. Tak ayal, Kiran selalu takut dengan sorot mata tersebut. Dia terdiam, bibirnya terkatup rapat, tubuhnya bergetar ketika mendapatkan tatapan tajam dari suaminya.

 "Ayo jawab, kenapa kamu diam saja? Bukannya aku juga selalu menyuruhmu untuk minum pil KB?" Lagi, suara Arka semakin menggema di malam yang sudah larut.

 Kiran menundukkan kepalanya, ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjawab pertanyaan suaminya itu. "Maaf, Mas. Aku sudah tidak minum obat itu lagi. Perutku kram bila minum obat itu."

 Arka terkejut mendengar penjelasan Kiran. "Kenapa kamu tidak bilang? Kenapa kamu diam saja?"

 "Aku takut, Mas," jawab Kiran, suaranya nyaris hampir tak terdengar. "Aku takut kamu marah, aku tidak tahu harus bagaimana."

 "Tapi seharusnya kamu bilang bila tidak minum obat itu lagi, setidaknya aku bisa mencegahnya!"

 Dengan perasaan kesal, Arka menjatuhkan bobot tubuhnya di tepi ranjang. Ia membuang test pack ke sembarang arah, tangannya segera menyanggah kepalanya yang terasa berat. Bagaimana tidak, beban di pundaknya semakin bertambah, belum lagi pekerjaan yang menguras tenaga, dan juga tagihan yang semakin membengkak.

 Baru sekitar tiga bulan lalu, ia membeli mobil impiannya dengan kredit, belum juga hutang bank, dan tagihan lainnya yang membuatnya pusing. Sekarang ditambah lagi dengan kehamilan dari istrinya.

Kiran memandang suaminya yang terlihat frustrasi. "Mas, kenapa kamu seperti ini? Seharusnya kamu bahagia, bukan? Kita akan memiliki anak." 

 Bukannya ucapan Kiran membuat Arka bahagia, tapi malah membuat lelaki itu murka. Arka mengangkat pandangannya ke arah Kiran dan menatapnya tajam. "Kamu tahu, aku ini sedang pusing! Aku sedang memikirkan bagaimana caranya membayar tagihan yang sudah membengkak, dan sekarang ditambah lagi dengan beban kamu yang sedang hamil," sergah Arka, tanpa ia sadari, ucapannya itu begitu menyakitkan di telinga Kiran.

 Kiran tertegun, ia tidak habis pikir dengan perkataan suaminya itu. Beban? Apakah suaminya menganggap anak yang dikandungnya itu adalah beban?

 "Mas, kenapa kamu bilang begitu? Anak itu adalah anugerah yang Tuhan kasih untuk kita. Seharusnya kamu bahagia, bukan kesal seperti ini. Kamu tahu, Mas, semua suami temanku merasa bahagia ketika tahu istrinya sedang hamil. Tapi kenapa dengan kamu?" Suara Kiran mulai terdengar putus asa. Wanita itu melanjutkan perkataannya lagi dengan kesal. "Di luar sana banyak orang yang mendambakan keturunan bahkan harus mengeluarkan uang banyak agar bisa memiliki anak. Harusnya kamu bersyukur!"

 Arka menghela napas panjang, mencoba untuk tenang, tetapi rasa frustrasi dan beban yang menghimpitnya masih terlalu besar. "Kiran, kamu tidak mengerti. Aku tidak bilang aku tidak bersyukur, tapi situasi kita sekarang ini ... semuanya sangat berat. Aku hanya tidak tahu bagaimana kita akan menghadapinya."

 Kiran meraih tangan suaminya, ia berjongkok di hadapan Arka, berharap suaminya mau menerima anak yang ada dalam kandungannya itu.

 "Aku tahu, Mas, kita sedang menghadapi banyak masalah. Tapi kita bisa melaluinya bersama. Aku butuh kamu dan anak kita juga akan membutuhkan kamu." 

 Arka menarik napas dalam-dalam, ia begitu frustrasi, bagaimana caranya agar Kiran bisa mengerti posisinya. Arka menggenggam tangan Kiran, lelaki itu menundukkan kepala, sebelum akhirnya berkata dengan suara bergetar. "Kiran, mungkin lebih baik kalau kita menggugurkan saja anak itu."

 Deg!

 Kiran tercengang, wajahnya memucat mendengar perkataan suaminya. Murka menguasai hatinya, jelas. Dia menarik tangannya dari genggaman Arka dan berdiri dengan cepat. "Apa?! Bagaimana bisa kamu mengusulkan hal seperti itu, Mas? Anak ini adalah darah daging kita! Darah daging kamu!"

 "Kiran, dengarkan aku dulu." Arka mendongak menatap Kiran yang sudah marah. "Aku hanya berpikir tentang bagaimana kita akan menghadapi semua ini. Kita tidak siap secara finansial, dan aku tidak ingin melihat kita semakin terpuruk."

 Kiran menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kamu tidak berpikir tentang aku, tentang anak kita. Kamu hanya berpikir tentang dirimu sendiri dan masalahmu. Bagaimana bisa kamu meminta aku untuk menggugurkan anak yang baru hadir di rahimku?"

 "Bukan begitu, Kiran." Suara Arka mulai melemah. "Aku hanya ingin memastikan kita bisa memberikan yang terbaik untuk anak kita di masa depan. Jika kita tidak siap sekarang, aku takut kita akan gagal sebagai orang tua."

 Kiran menggelengkan kepala, satu tetes air matanya akhirnya jatuh menggelinding menyatu dengan bibir tipisnya. Ia tak pernah menyangka bila suaminya akan berkata demikian. "Mas, tidak ada waktu yang sempurna untuk memiliki anak. Setiap orang tua pasti menghadapi tantangan. Tapi itu bukan alasan untuk menyerah sebelum kita mencoba. Anak ini adalah berkah, dan aku akan berjuang untuknya, dengan atau tanpa dukunganmu."

 Arka merasa terpukul oleh kata-kata Kiran. "Kiran, aku ...."

 "Aku tidak ingin mendengar alasanmu lagi, Mas. Jika kamu tidak bisa mendukungku dalam hal ini, maka aku akan melakukannya sendiri. Tapi aku harap kamu bisa melihat bahwa anak ini adalah bagian dari kita berdua, dan dia berhak mendapatkan kesempatan untuk hidup."

 "Terserah kamu mau bilang apa, aku capek!" Arka berdiri dan langsung pergi dari hadapan Kiran. 

 "Mas, kenapa kamu seperti ini?"

 Kiran menatap kepergian suaminya dari hadapannya. Lelaki yang berusia 30 tahun itu memasuki kamar mandi, meninggalkannya dalam diam yang menyesakkan. 

 Sudah lima tahun mereka menikah, tapi suaminya itu terus saja meminta agar mereka menunda memiliki anak. Alasannya tetap sama, karena banyak tagihan yang harus dibayar. Namun, itu tidak membuat Kiran kehilangan harapan dan keinginan untuk menjadi seorang ibu.

 Setelah suaminya tak terlihat lagi dan menghilang dibalik pintu, tiba-tiba terdengar satu notifikasi dari ponsel Arka yang tergeletak di atas meja. 

 Pandangan Kiran tertuju pada layar ponsel yang sudah menyala, ia meraih ponsel tersebut. Mata coklatnya melebar ketika melihat sekilas pesan yang masuk. Tanpa sengaja, matanya menangkap beberapa kata yang membuat hatinya berdegup kencang.

 "Mas, kamu di mana? Kamu jadi ke mari, 'kan? Cleo demam, kita harus membawanya ke rumah sakit."

 Deg!

 Jantung Kiran terasa berdenyut nyeri ketika membaca pesan tersebut. "Siapa ini? Kenapa dia mengirim pesan seperti ini?" gumam Kiran, suaranya bergetar saat membaca pesan tersebut.

Lanjutkan Membaca

Daftar Isi Hati yang Kau Sakiti

Ch. 1 Ch. 2 Ch. 3
Ch. 4
Ch. 5
Ch. 6
Ch. 7
Ch. 8
Ch. 9
Ch. 10
Ch. 11
all

Anda Mungkin Juga Suka

Novel Rilisan Terbaru

Sampul Novel Ahli Waris yang Terlupakan
9.6
Dikhianati oleh keluarga dan tunangannya sendiri, sang protagonis dipaksa menjadi sandera kelompok mafia saingan demi menebus kesalahan fatal adik tirinya, Emily. Sadar akan kelicikan mereka, ia memutuskan memutuskan hubungan selamanya. Sebelum diserahkan dalam lima hari, ia membagikan seluruh asetnya—kasino, uang, hingga cincin pertunangan—kepada mereka yang serakah. Saat keluarganya tersenyum puas menerima hadiah tersebut, mereka tidak menyadari bahwa kepergian sang ahli waris adalah awal kehancuran total mereka.
Sampul Novel Before After: Marriage
7.8
Crystal Winter Oberoi tak pernah paham mengapa Austin, kakaknya, selalu bersikap kasar dan dingin hanya kepadanya. Di balik perlakuan buruk tersebut, Austin sebenarnya berusaha menekan perasaan terlarang yang tumbuh di antara mereka. Meski Austin sudah bertunangan demi mengendalikan emosinya, benih cinta tetap muncul tanpa bisa dicegah. Kini, dua saudara ini terjebak dalam dilema dosa dan rasa rumit yang mengancam komitmen serta hubungan darah mereka sendiri.
Sampul Novel Bujang Kaya Jadi Budak Cinta
9.4
Erhan adalah bujangan kaya yang ramah namun ceroboh dalam urusan asmara. Ia sering memicu konflik keluarga karena terang-terangan menggoda kekasih para sepupunya agar berpaling padanya. Namun, tantangan sesungguhnya muncul saat ia jatuh hati pada seorang wanita dingin yang sinis terhadap pernikahan dan cinta. Kini, Erhan harus berjuang keras membuktikan ketulusannya. Mampukah sang miliarder meyakinkan wanita itu bahwa ia telah menjadi budak cinta sejatinya?
Sampul Novel Dosa Yang Indah - Zina
8.8
Zina lahir dari rahim seorang wanita yang penuh noda masa lalu. Sebagai anak yang tercipta dari perbuatan terlarang, ia tumbuh di tengah penderitaan hidup yang tiada henti. Sang Ibu, yang menyimpan luka mendalam akibat siksaan seorang pria, bertekad melakukan segalanya demi membalas dendam. Dalam kisah romansa modern ini, Zina menjadi simbol dari dosa indah sekaligus alat untuk menuntaskan amarah ibunya terhadap sosok yang telah menghancurkan mereka.
Sampul Novel Istriku Sibuk, Hatiku Kosong
8.2
Kehidupan rumah tangga Damien kini terasa hampa. Sejak naik jabatan, Nadine Larasati jarang pulang dan terus menolak permintaan Damien karena alasan kelelahan bekerja. Dengan penghasilan lebih rendah, Damien pun terpaksa menjadi bapak rumah tangga sepenuhnya. Namun, kecurigaan muncul saat Nadine tiba-tiba membawa seorang asisten rumah tangga muda ke rumah mereka. Kedatangan gadis misterius itu membawa firasat buruk yang membuat hati Damien kian sesak dan gelisah.
Sampul Novel Jerat CEO Tunangan Paksa
8.3
Pasca membalas pengkhianatan mantan kekasih, Melinda Arum tak sengaja bertemu Reyhan Azrael karena insiden salah masuk toilet. Reyhan, CEO ternama di Jakarta, menolong Melinda keluar dari masalah besar yang mengancamnya. Namun, bantuan tersebut menuntut imbalan berat: Melinda harus bersedia menjadi tunangannya. Terjepit antara rasa bimbang dan amarah, Melinda terpaksa masuk ke dalam hubungan penuh ketegangan, kebohongan, serta luka emosional yang mendalam.
Bab
Baca Sekarang
Bagikan