Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Pelunas Hutang Mafia

Istri Pelunas Hutang Mafia

Demi melunasi utang pamannya, Aurora terjebak dalam pernikahan paksa dengan mafia kejam, Lucian Moretti. Tak disangka, Lucian ternyata sudah lama mencintainya secara rahasia. Namun, saat benih cinta mulai tumbuh, rahasia masa lalu muncul mengguncang hubungan mereka. Di tengah ancaman musuh yang mengintai, Aurora justru menyembunyikan penyakit mematikan yang mengancam nyawanya. Kini Lucian harus berjuang melawan maut demi menyelamatkan wanita yang ia cintai.
Bab
Bagikan

Bab 2

Malam itu, Aurora tidak bisa tidur. Pikirannya terus dipenuhi oleh kata-kata Adrian Vasquez.

"Aku bisa membantumu keluar dari pernikahan ini."

Kalimat itu bergema di kepalanya, seperti godaan yang sulit diabaikan. Jika Adrian benar-benar bisa membebaskannya, bukankah itu adalah kesempatan yang selama ini dia tunggu?

Tapi di sisi lain, ada Lucian.

Pria itu adalah belenggu sekaligus pelindungnya. Kejam, dingin, dan penuh rahasia. Tapi, ada sesuatu tentang Lucian yang membuatnya ragu untuk benar-benar menghancurkannya.

Aurora menatap langit-langit kamar yang luas. Tempat tidur king-size yang dia tiduri terasa terlalu besar, terlalu kosong. Lucian tidak tidur di sini. Dia bahkan tidak masuk ke kamar sejak mereka pulang dari pesta tadi.

Pikirannya melayang ke pertemuan mereka di balkon. Saat Lucian muncul, tatapannya penuh dengan amarah tersembunyi. Dia tidak mengatakan apa pun setelah Adrian pergi, hanya menggenggam pergelangan tangannya dan menariknya kembali ke dalam rumah, seolah ingin menunjukkan bahwa dia adalah miliknya.

Aurora meremas selimut.

Apakah dia benar-benar hanya alat bagi Lucian?

Atau ada sesuatu yang lebih dalam yang pria itu sembunyikan?

Pagi datang dengan keheningan yang mencekam.

Aurora duduk di meja makan, menatap roti panggang dan kopi di hadapannya tanpa nafsu makan. Suasana di rumah ini begitu dingin, tidak seperti rumah pada umumnya. Tidak ada suara pelayan yang bercakap-cakap, tidak ada tawa, hanya keheningan yang menusuk.

Lucian muncul dari pintu dengan pakaian formal yang sempurna. Kemeja putih yang digulung hingga siku dan rompi hitam yang melekat di tubuhnya membuatnya terlihat begitu berwibawa. Mata gelapnya mengunci tatapan Aurora begitu dia duduk di kursi seberang.

"Kau tidak makan?" tanyanya sambil menuangkan kopi ke cangkirnya.

Aurora menggeleng pelan.

Lucian menyandarkan punggungnya ke kursi, menyesap kopinya dengan tenang sebelum akhirnya berbicara, "Tentang tadi malam. Apa yang dikatakan Adrian padamu?"

Aurora mengangkat dagunya sedikit. "Kenapa? Kau takut dia akan membujukku untuk mengkhianatimu?"

Lucian tersenyum tipis, tapi tidak ada kehangatan di sana. "Aku tahu siapa dirimu, Aurora. Kau bukan tipe wanita yang mudah dipengaruhi. Tapi Adrian adalah manipulator ulung."

Aurora menatapnya tajam. "Dan kau tidak?"

Lucian terdiam. Untuk pertama kalinya, dia tidak langsung menjawab.

Aurora mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapnya dalam-dalam. "Kenapa kau menikahiku, Lucian?"

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Lucian mengamati wajahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Kau tahu alasannya."

Aurora mendengus. "Karena utang pamanku?"

Lucian tidak mengangguk, tapi tidak juga membantah.

Aurora menggigit bibirnya, mencoba meredam emosi yang bergolak. "Kalau hanya karena itu, kau bisa saja membayar utang mereka tanpa harus menikahiku."

Lucian meletakkan cangkir kopinya dengan pelan, lalu menatapnya lurus. "Aku ingin memastikan kau tetap di sisiku."

Aurora terkejut. Itu bukan jawaban yang dia harapkan.

Dia membuka mulut, ingin bertanya lebih jauh, tapi sebelum sempat berbicara, pintu ruang makan terbuka dan seorang pria bertubuh besar masuk.

"Boss, ada masalah."

Lucian menoleh, wajahnya langsung berubah serius. "Apa?"

Pria itu-salah satu anak buahnya-melangkah mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Lucian.

Aurora melihat rahang pria itu mengeras.

"Siapkan mobil," perintah Lucian.

Pria itu mengangguk dan segera pergi.

Lucian beranjak dari kursinya, tapi sebelum pergi, dia menatap Aurora. "Tetap di rumah. Jangan pergi ke mana-mana."

Aurora mendecak pelan. "Dan kalau aku pergi?"

Lucian mencondongkan tubuhnya, wajahnya begitu dekat hingga Aurora bisa merasakan napas hangatnya di kulitnya. "Aku akan menemukanku. Dan aku tidak suka mengejar sesuatu yang sudah menjadi milikku."

Aurora tertegun.

Dia menatap Lucian saat pria itu pergi, meninggalkan lebih banyak pertanyaan di benaknya.

Aurora tidak mengikuti perintahnya.

Begitu Lucian pergi, dia segera mengambil mantel dan keluar dari rumah.

Dia tidak tahu ke mana harus pergi, tapi satu hal yang pasti: dia tidak bisa terus terkurung dalam sangkar emas ini.

Dia berjalan di trotoar kota dengan pikiran kacau. Sejak pernikahannya, dia nyaris tidak memiliki kendali atas hidupnya. Lucian mengawasi setiap gerak-geriknya, seolah dia adalah properti yang tidak boleh disentuh orang lain.

Aurora menggigit bibirnya.

Mungkin sudah waktunya dia menemui Adrian.

Jika pria itu benar-benar bisa membebaskannya, maka dia harus mempertimbangkan tawarannya.

Aurora berbelok ke sebuah gang sempit, tempat yang sudah dikiriminya alamat oleh Adrian tadi pagi.

Saat dia masuk lebih dalam, seorang pria dengan jas hitam berdiri di ujung gang.

"Kau datang."

Aurora menelan ludah. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang tawaranmu."

Adrian tersenyum. "Masuklah. Kita bicara di dalam."

Aurora melangkah masuk ke dalam gudang tua, tapi sebelum dia sempat berbicara lebih jauh, suara tembakan bergema di udara.

DOR!

Aurora menjerit.

Seketika, tubuh Adrian tersungkur ke lantai. Darah mengalir dari bahunya.

Aurora menoleh panik dan menemukan Lucian berdiri di ambang pintu dengan pistol di tangannya.

Matanya gelap, penuh dengan kemarahan yang tak terbendung.

"Aku bilang jangan pergi ke mana-mana, Aurora."

Aurora terdiam, tubuhnya gemetar.

Lucian melangkah mendekat, menatap Adrian dengan penuh kebencian sebelum mengalihkan pandangannya ke Aurora.

"Kau benar-benar membuatku marah."

Suaranya begitu dingin, membuat bulu kuduknya meremang.

Aurora menelan ludah. "Aku hanya ingin bebas, Lucian."

Lucian mencengkeram dagunya dengan kuat, membuat Aurora menatap langsung ke matanya.

"Kau ingin bebas?" gumamnya. "Sayangnya, itu tidak akan terjadi."

Aurora merasakan hatinya mencelos.

Lucian menoleh ke anak buahnya. "Bawa Adrian keluar dari sini. Aku akan berbicara dengan istriku."

Anak buahnya segera menyeret tubuh Adrian yang masih setengah sadar.

Kini, hanya ada mereka berdua di ruangan itu.

Lucian menatapnya, ekspresinya tak terbaca. "Kau pikir aku akan membiarkanmu pergi?"

Aurora menggigit bibirnya. "Lucian, aku-"

Lucian tidak membiarkannya berbicara.

Dia menarik Aurora ke dalam pelukannya, membuat napas gadis itu tercekat.

"Kau milikku, Aurora," bisiknya di telinganya. "Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu lari dariku."

Aurora ingin melawan, ingin berteriak. Tapi sesuatu dalam dirinya melemah.

Karena saat Lucian menahannya seperti ini, dia merasa lebih aman daripada sebelumnya.

Dan itu adalah hal yang paling menakutkan dari semuanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku
9.7
Terjebak di pusaran mafia yang kelam, aku merindukan kehidupan damai di balik layar. Namun, segalanya berubah saat ibuku menikahi mantan bos mafia. Kaelion Verez Montefalco, pewaris takhta kejam dari Italia Selatan, kini menjadi saudara tiriku yang obsesif. Dia mengontrol setiap gerak-gerik dan napas yang kuhela. Di saat aku berjuang mempertahankan kebebasan, Kaelion justru menggunakan kekuasaannya untuk menjeratku dalam dominasi yang dingin dan tak terelakkan.
Sampul Novel Belenggu Cinta Sang Pangeran Mafia
8.1
Pernikahan Belleza dan Rafaele hanyalah aliansi bisnis antar klan mafia yang menghancurkan impian Bella akan cinta sejati. Terjebak dalam dunia gelap, Bella terpaksa tunduk pada dominasi Rafaele demi melindungi keluarganya. Namun, kematian mendadak ayahnya di wilayah Jefferie memicu dendam membara. Di tengah kehamilan dan intrik pengkhianatan yang terungkap, Bella harus mencari kebenaran. Akankah cinta tumbuh di balik kebencian, atau justru dendam yang menghancurkan segalanya?
Sampul Novel Devil Beside You
8.1
Sergio Blanco menganggap nyawa manusia tak berharga hingga ia ditugaskan membunuh putri seorang miliarder. Rencana sang pembunuh bayaran goyah saat bertemu Hazel Afford, wanita bermata indah yang memikat hatinya. Meski Hazel awalnya jatuh cinta, ia kini muak dan berusaha kabur setelah tahu identitas asli Sergio. Namun, Hazel justru terjebak dalam permainan gairah yang berbahaya. Akankah Sergio menuntaskan misinya atau justru menyerah pada perasaan?
Sampul Novel Dijual Ibu Tiri Dijadikan Tuan Putri
9.7
Zhea Logari, seorang siswi SMA, harus menghadapi kenyataan pahit saat ibu tirinya tega menjualnya kepada seorang germo sekaligus bos Mafia penguasa Malta. Namun, takdir berkata lain ketika sang Mafia justru memperlakukannya layaknya seorang putri terhormat. Perubahan nasib Zhea yang drastis ini memicu kecemburuan mendalam pada kakak tirinya. Kini, sang kakak mulai menyusun rencana licik dan melakukan segala cara demi merebut posisi istimewa tersebut dari tangan Zhea.
Sampul Novel Gadis Barbar dan Cowok Cupu
9.3
Seorang putri bos mafia yang menawan terbiasa menjalani hidup bebas tanpa kekangan aturan siapa pun. Di sekolah, ia justru menaruh hati pada teman sebangkunya sendiri. Pemuda tersebut dikenal sebagai sosok yang sangat culun dan sering kali menjadi sasaran perundungan siswa lain. Meski kepribadian mereka sangat kontras, sang gadis barbar tetap terpikat pada cowok cupu tersebut di tengah kerasnya lingkungan kehidupan dunia bawah dan sekolahnya.
Sampul Novel Jatuh Cinta Pada Luka
7.9
Damian Verano, bos mafia tangguh, nyaris tewas setelah dikhianati dalam perebutan wilayah. Terhanyut di sungai selama tiga hari, ia ditemukan oleh Alira, gadis desa berusia delapan belas tahun yang sangat sederhana. Meski Damian masih terbayang sosok Sierra, pesona polos Alira justru memicu getaran cinta yang tak terduga di hatinya. Akankah sang penguasa dunia bawah tanah yang kejam mampu bersatu dengan gadis dusun yang buta akan masa lalunya yang kelam?