
Istri Pelunas Hutang Mafia
Bab 3
Aurora duduk di kursi belakang mobil dengan jantung berdegup kencang. Perjalanan kembali ke rumah terasa begitu lambat, setiap detik yang berlalu semakin menyesakkan dadanya. Lucian duduk di sampingnya, diam, tapi keberadaannya begitu menekan.
Tangannya bertumpu pada pahanya, jari-jarinya mengetuk pelan, seolah sedang menahan emosi yang siap meledak kapan saja. Matanya menatap lurus ke depan, tetapi Aurora bisa merasakan amarahnya seperti api yang membakar udara di dalam mobil.
Aurora menelan ludah. Dia tahu Lucian marah-bukan, bukan hanya marah. Dia murka.
"Lucian..." suara Aurora terdengar pelan, hampir seperti bisikan.
Pria itu tetap diam, tidak mengalihkan pandangan.
Aurora menggigit bibirnya, mencoba mengatur napasnya. "Kau menembak Adrian."
Lucian akhirnya menoleh, tatapannya tajam seperti belati. "Dan itu masih terlalu ringan untuk seseorang yang mencoba mencuri istriku."
Aurora terkejut. "Mencuri? Aku bukan barang, Lucian!"
Lucian mencondongkan tubuhnya, membuat jarak mereka semakin dekat. "Kalau begitu, jangan bertingkah seperti seseorang yang bisa diambil oleh orang lain, Aurora."
Aurora ingin membantah, tapi tatapan pria itu begitu menusuk, membuat suaranya terhenti di tenggorokan.
Lucian melanjutkan, suaranya rendah dan berbahaya. "Aku sudah memberimu peringatan. Aku memberimu kesempatan untuk tidak menentangku. Tapi kau justru pergi menemui musuhku di belakangku."
Aurora mengepalkan tangannya. "Aku ingin kebebasan, Lucian. Aku ingin keluar dari pernikahan ini!"
Lucian tertawa kecil, tapi tidak ada kebahagiaan di sana. "Kebebasan? Dan kau pikir Adrian bisa memberikannya padamu?"
Aurora terdiam.
Lucian mendekat lagi, hingga napas hangatnya menyapu wajahnya. "Kau tidak tahu siapa Adrian sebenarnya, Aurora. Dia bukan pria baik yang kau kira."
Aurora menatapnya ragu. "Dan kau menganggap dirimu lebih baik?"
Lucian tersenyum miring. "Tidak. Tapi setidaknya, aku tidak berbohong padamu tentang siapa aku."
Aurora merasa perutnya mengerut. Lucian benar-dia tidak pernah berpura-pura menjadi pria baik. Sejak awal, dia sudah menunjukkan dirinya sebagai seseorang yang berbahaya, seseorang yang tidak akan ragu untuk menghancurkan siapa pun yang mengkhianatinya.
Mobil berhenti di depan rumah mereka.
Lucian keluar lebih dulu, lalu berjalan mengitari mobil dan membuka pintu untuknya. Tangannya terulur, tapi Aurora mengabaikannya dan keluar sendiri.
Dia mendengar Lucian mendengus kecil di belakangnya.
Mereka masuk ke dalam rumah, dan begitu pintu tertutup, Lucian berbalik menatapnya.
"Aku sudah lelah dengan semua ini," katanya dingin.
Aurora menatapnya curiga. "Maksudmu?"
Lucian melangkah mendekat, memerangkapnya di antara tubuhnya dan dinding. "Aku sudah memberimu waktu. Aku sudah bersabar. Tapi kau masih terus mencoba melawan."
Aurora meneguk ludah, tapi dia tidak mundur. "Aku tidak akan menyerah, Lucian. Aku tidak bisa hidup seperti ini."
Lucian menatapnya dalam-dalam, lalu tangannya terangkat, menyentuh dagunya dengan lembut.
"Tidak bisa, atau tidak mau?"
Aurora menggigit bibirnya, menolak menjawab.
Lucian mendekatkan wajahnya, hingga hanya beberapa inci yang memisahkan mereka. "Aku ingin kau memahami satu hal, Aurora. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi. Tidak sekarang, tidak pernah."
Aurora merasakan jantungnya berdetak kencang. "Dan jika aku tetap mencoba?"
Lucian tersenyum kecil. "Maka aku akan memastikan kau tidak punya tempat untuk lari."
Aurora merasakan bulu kuduknya berdiri. Ada ancaman di balik kata-kata itu, tapi yang lebih mengganggunya adalah fakta bahwa dia tidak takut seperti seharusnya.
Dia seharusnya membenci Lucian.
Dia seharusnya takut padanya.
Tapi yang dia rasakan saat ini adalah sesuatu yang lebih berbahaya-ketertarikan.
Aurora tidak bisa tidur malam itu.
Dia berbaring di tempat tidur, menatap langit-langit, pikirannya penuh dengan kejadian hari ini.
Lucian mengancamnya. Tapi di saat yang sama, dia juga melindunginya.
Dia menembak Adrian, tapi dia juga menunjukkan bahwa dia tidak bisa kehilangan Aurora.
Siapa sebenarnya pria itu?
Aurora memejamkan matanya, mencoba mengabaikan semua pikirannya. Tapi baru beberapa menit kemudian, pintu kamarnya terbuka.
Aurora membuka matanya dan langsung menegang saat melihat Lucian berdiri di ambang pintu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya waspada.
Lucian tidak menjawab. Dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu berjalan mendekati tempat tidur.
Aurora menegakkan tubuhnya. "Lucian-"
Pria itu duduk di tepi tempat tidur, mengamatinya dengan mata gelapnya.
"Kenapa kau terus melawanku, Aurora?"
Aurora mengepalkan tangannya. "Karena aku tidak bisa menerima ini."
Lucian tersenyum tipis. "Tidak bisa menerima pernikahan kita?"
Aurora menatapnya tajam. "Tidak bisa menerima kenyataan bahwa aku hanya alat bagimu."
Lucian menghela napas. "Kau bukan alat, Aurora."
Aurora tertawa sinis. "Lalu apa? Trofi? Boneka?"
Lucian menatapnya dalam diam selama beberapa detik, lalu akhirnya berkata, "Kau adalah milikku."
Aurora menahan napas.
Lucian melanjutkan, suaranya lebih lembut. "Aku menikahimu bukan hanya karena utang pamanku. Aku sudah menginginkanmu jauh sebelum itu."
Aurora menatapnya, terkejut.
Lucian menyentuh dagunya dengan lembut, mengangkat wajahnya hingga mereka saling menatap. "Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi satu hal yang harus kau pahami... aku tidak akan pernah melepaskanmu."
Aurora merasakan napasnya tercekat.
Matanya menatap dalam ke mata Lucian, mencoba mencari kebohongan di sana. Tapi yang dia temukan hanyalah kebenaran yang menakutkan.
Lucian benar-benar menginginkannya.
Dan itu membuat semuanya semakin berbahaya.
Keesokan paginya, Aurora terbangun dengan kepala berat. Dia nyaris tidak tidur semalaman, pikirannya terus dipenuhi dengan kata-kata Lucian.
Saat dia turun ke ruang makan, Lucian sudah duduk di sana, menyesap kopinya dengan tenang.
Aurora ragu sejenak, lalu berjalan mendekat dan duduk di kursi seberangnya.
Lucian menatapnya sekilas. "Tidur nyenyak?"
Aurora mendengus pelan. "Kau tahu jawabannya."
Lucian tersenyum kecil, lalu meletakkan cangkir kopinya. "Hari ini, aku ingin kau menemaniku."
Aurora mengernyit. "Ke mana?"
Lucian tidak langsung menjawab. "Ada sesuatu yang ingin kutunjukkan padamu."
Aurora menatapnya curiga, tapi dia tahu bahwa menolak bukanlah pilihan.
Mereka berkendara selama hampir satu jam sebelum akhirnya berhenti di sebuah vila besar di tepi pantai.
Aurora turun dari mobil, mengagumi tempat itu dengan bingung.
"Ini tempat apa?"
Lucian berdiri di sampingnya, tangannya berada di saku celana. "Rumah kita."
Aurora menoleh cepat. "Apa?"
Lucian menatapnya dengan tenang. "Aku membelinya untukmu."
Aurora terdiam.
Lucian mendekat, suaranya lebih lembut. "Kau ingin kebebasan, Aurora. Ini caraku memberikannya padamu."
Aurora tidak tahu harus berkata apa.
Lucian menatapnya dalam-dalam. "Aku tidak bisa membiarkanmu pergi. Tapi aku bisa memberimu tempat di mana kau merasa tidak terjebak."
Aurora menatap pria itu, hatinya berdebar.
Mungkin, Lucian bukan hanya pria yang mengikatnya.
Mungkin, dia juga seseorang yang sedang belajar bagaimana mencintai.
Anda Mungkin Juga Suka





