
Istri Muda Untuk Suamiku
Bab 2
“Ini selendang kesayangan ibu Bang Burhan, Bel. Dulu beliau sendiri yang mengenakan padaku. Hari ini dia lagi datang bulan bawaannya ingin mengomeli ku saja.” Nana mengeluarkan selendang dari dalam tasnya dengan senyum manis yang membuat buat Burhan bertekuk lutut tak lepas menghiasi wajahnya cantiknya.
Nana tidak berkedip melihat polesan wajah ayu Bella begitu teduh dan menyejukan. Kali pertama Nana melihat wajah gadis itu secara langsung.
Bella tidak pernah melepaskan cadarnya meski mereka tinggal serumah. Kecuali didalam kamar saat sendirian. Bella yang taat agama sangat menjaga auratnya.
“Kamu cantik sekali, Bel. Sayangnya kamu tutupi dengan itu.” tunjuk Nana pada kain cadar yang di genggaman Bella.
“Ah, sudahlah kamu memang lebih baik dariku,” lanjut Nana mengibaskan tangannya di udara tanpa memberikan kesempatan untuk Bella berkata.
“Apa kakak bahagia?” Nana mendelik mendengar ucapan Bella.
Bella pun tak menyangka pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir tipisnya.
“Aku bahagia, aku sudah tidak sabar menjadikanmu saudaraku.” Nana mengalihkan pandangan keluar jendela.
“Kakak boleh batalkan pernikahan ini kalau memang berubah pikiran, toh selama ini aku juga sudah menjadi bagian dari kalian.” Bella meraih tangan Nana.
“Aku ini tidak sempurna, Bel. Aku ingin seperti wanita lain. Memiliki banyak anak.” Nana menatap mata gadis yang berbalut pakaian pengantin yang beberapa menit lagi gadis itu akan resmi menjadi adik madunya.
“Apa kakak sudah pernah periksa, benarkah kakak tidak memiliki rahim," tanya Bella.
Nana menggeleng, selama ini hanya tahu tidak memiliki rahim dari ibu tirinya. Ia sangat sayang pada ibu tirinya sehingga apapun yang dikatakan akan dipercayai sepenuh hati.
“Aku percaya pada Mama, bahwa saat usia lima tahun Aku terjatuh dari sepeda. Karena benturan keras rahimku rusak, harus segera diangkat demi menyelamatkan nyawaku.” cerita Nana bersemangat.
Bella merasa cerita Nana sedikit tidak masuk akal. Namun, itu bukan ranahnya mencampuri terlalu jauh. Cepat atau lambat kebenaran akan terungkap.
“Jika ternyata Aku juga tidak bisa hamil, apa Kakak akan kembali memaksa Bang Burhan menikah untuk ketiga kalinya.” senyum Bella mengembang kala melihat Nana kebingungan menjawab pertanyaannya.
“Entahlah, semoga saja kau cepat hamil.” Nana berdiri dari tempat duduknya meraih minuman dan camilan yang telah disiapkan.
Nana menggelengkan kepalanya mengingat pertanyaan bella. Terbayang olehnya Burhan memiliki banyak istri.
“Apa yang Aku pikirkan, satu ini saja susah payah aku wujudkan,” batin Nana.
Bella terbahak melihatnya sikap Nana yang ngedumel sendiri.
“Lupakan ucapanku barusan, Kak.” Bella menghampiri Nana.
Nana sedikit terlonjak saat Bella menepuk pundaknya. Lamunan yang terlalu dalam membuat lupa saat ini berada dimana.
“Ayo kita kedepan acara akan dimulai,” ajak Nana.
“Kakak jangan terlalu jauh dariku. Aku takut kak,” rengek Bella berfirasat Nana akan meninggalkannya.
“Aku akan duduk dibelakang pria yang sebentar lagi akan menjadi suami kita.” Mendengar itu Bella sedikit tenang, minimal dia masih bisa mengawasi Nana.
Bella begitu menyayangi Nana baginya Nana adalah peri pelindungnya. Setelah kedua orang tuanya berpulang menghadap sang khalik setahun yang lalu.Orang tuanya meninggal akibat ditabrak orang yang tidak bertanggung jawab.
Bella tidak dendam pada si pelaku hanya dia ingin tahu saja siapa orang yang telah membuatnya menjadi yatim piatu dalam waktu bersamaan.
Nana dan Burhan yang kebetulan dikenalnya bersedia menampungnya saat semua sanak saudara kompak mengacuhkannya.
Waktu itu Nana dan Burhan menemukannya tengah duduk menekan perutnya. Uang ongkos untuk kembali ke pesantren telah berikan pada anak pemulung sehari sebelumnya.
Bella sangat peduli pada kesusahan dan penderitaan orang lain sampai lupa jika ia juga butuh bantuan. Bermodal yakin bahwa Allah akan selalu memberi pertolongan dan tidak akan membiarkannya kesusahan seorang diri.
Dengan terpaksa memilih ikut bersama Nana dan Burhan demi sebungkus nasi kucing mengisi lambungnya sudah sangat perih. Hingga Nana menawarkannya untuk tinggal bersama mereka.
Nana butuh partner dalam mengelola panti asuhan miliknya yang belakang jumlah anak-anak panti meningkat setiap bulannya.
Hingga setahun berlalu, tiba-tiba Nana menginginkan dirinya menjadi adik madu, ibu untuk anak-anak suaminya.
Ambisi Nana yang menginginkan anak dari benih Burhan mengharuskan Bella menerima permintaan Nana sebagai tanda balas Budi.
Nana memberikan kasih sayang seperti seorang kakak pada adiknya. Juga membebaskan menggunakan semua fasilitas yang ada.
Bella yang merupakan anak tunggal begitu bahagia atas sikap Nana padanya. Bagai menemukan oase ditengah padang pasir.
“Kau dimana Kak, mengapa kau tinggalkan aku sendiri. Bukannya kau sudah berjanji padaku untuk tetap bersamaku. Kembalilah kak, aku tidak ingin pernikahan ini. Tapi demi kau aku rela. Demi kebahagiaanmu, aku kuburkan harapan untuk hidup bersama pria yang selalu kusebut dalam doa," lirih Bella tengah terisak dalam toilet.
Bella keluar dari toilet menuju Burhan yang sibuk menyalami tamu undangan yang memberi selamat atas pernikahan keduanya.
“Hei, kau ini kenapa mirip miss kunti,” ucap Burhan saat Bella telah duduk mematung di sampingnya.
“Kau punya telinga ‘kan? Aku bertanya padamu. Tampilanmu sangat memalukan. Oh, Tuhan mengapa Nana memberi kan aku istri sepertimu,” lanjut Burhan kesal, pertanyaan diabaikan oleh Bella.
Bukannya menjawab justru Bella semakin menangis karena tidak dapat membendung sesak. Ia begitu ketakutan kehilangan Nana. Terdengar bisik-bisik dari tamu undangan.
“Kasian pelakor, paling habis dihajar istri pertama.”
“Tau, udah tau suami orang masih saja mau.”
“Dasar tidak tahu malu.”
“Tampilan alim, tapi akhlak nol.”
“Asal banyak uang, suami orang pun di sikat.”
“Hu hu ...”
“Yang lakinya juga punya istri cantik masih ngembat yang model gituan.
“.....”
“.....”
“.....”
Telinga Burhan memanas mendengar hujatan mereka.
Burhan meraih microphon “Kalian tidak berhak menghakimi kami. Kalian semua tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Bijaklah berkomentar agar tidak melukai siapapun.”
Lalu menarik tangan bella, menyeretnya hingga di parkiran. Membuka pintu mobil, dan melemparkan tubuh Bella kebangku belakang.
“Hallo, Kau urus semua. Aku harus pulang. Ada urusan mendadak.” Burhan menelpon asistennya untuk mengurus kekacauan yang ditimbulkannya oleh tingkah Bella.
“Astaga, Nana dimana?”
“Bukan sudah abang ingatkan berkali-kali, pernikahan ini pada akhirnya akan menyakitimu. Kenapa kau sangat keras kepala dan tidak mau mendengar ucapan suamimu ini.” Burhan bermonolog menyesali sikap keras kepala dan egois Nana dan pada akhirnya menyusahkan semua orang
Burhan memutar balik mobil yang sudah separuh jalan meninggalkan tempat itu. Dengan kecepatan penuh melajukan kendaraan keluaran terbaru yang seharga dua koma lima milyar itu.
Yang dibelinya sebagai kado pernikahan mereka yang ke tujuh tahun. Dan juga membuatnya mengalami kejadian waktu itu.
“Kak Nana, tolong aku. Selamatkan aku dari lelaki ini. Dia sepertinya sangat membenciku. Kak, kenapa kakak jahat meninggalkan aku, kakak usah berjanji untuk terus bersamaku. Kak pulang lah, aku sangat membutuhkanmu saat ini.” Bella membatin dengan mata yang terpejam.
Anda Mungkin Juga Suka





