
ISTRI KESAYANGAN PRESDIR
Bab 3
“Well, bagaimana kalau aku antar kamu ke kamar?”
Wajah Jessica merona sudah. Ia sangat malu, tapi mau bagaimana lagi. Karena pikirannya yang sedang sempit membuat Jessica tak bisa berpikir dengan jernih.
Jessica mengangguk. “Tapi aku harus segera pergi. Ada hal yang harus aku selesaikan.”
“Maaf jika aku lancang. Tadi malam kamu terus merancau memanggil nama pria lain. Apa dia suami kamu?”
Deg!
‘Hal bodoh apa lagi yang sudah aku lakukan? Bahkan di saat aku ingin melupakan segalanya. Aku justru memanggil nama laki-laki yang sudah mengingkari janjinya.’
Jessica menundukkan wajahnya. Mencoba menahan buliran crystal yang sudah menumpuk di kedua kelopak matanya.
Tidak ingin mengingat hal gila itu lagi. Tapi lagi dan lagi bayang-bayang suaminya bercinta dengan wanita lain kembali terlintas. Istri mana saja yang melihat kenyataan pahit itu, sudah pasti mereka akan sama merasakan sakit yang luar biasa.
Jessica melangkahkan kakinya lagi. Ia baru ingat jika lorong ini memang sama saat ia mendatanginya untuk pertama kalinya.
Jessica jadi merasa berdebar saat jalan bersama dengan pria yang sudah membuat malamnya menjadi indah. Jessica sendiri tak pernah membayangkan kenapa ia bisa melakukan hal gila seperti ini. Sampai detik ini, ia tidak percaya jika dirinya sudah tidur dengan pria lain.
Padahal, sudah pasti suaminya lebih dari satu kali melakukan hal menjijikan ini. Tapi sepertinya pria itu tidak pernah merasa puas. Apa karena mereka belum memiliki seorang anak?
William terus memerhatikan wanita yang ada di sampingnya. Mengikuti setiap langkah ke mana pun wanita itu pergi. Ia tahu pasti telah terjadi sesuatu. Apa lagi ucapannya tidak di jawab wanita itu. William sendiri tidak mengerti kenapa hatinya tergerak saat melihat Jessica sedih seperti ini.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. William langsung memeluk Jessica.
Jessica diam, ia tidak membalas dekapan William. Hanya saja, ia merasa aman dan nyaman. Buliran crystal yang sejak tadi ia tahan. Akhirnya mengalir sudah. Jessica meluapkan semua kesedihannya. Ia mulai menangis dengan tubuh yang bergetar.
William mengusap punggung kecil Jessica. Ia ikut merasa sakit atas apa yang dirasakan Jessica saat ini.
“Jika tidak keberatan. Kamu boleh menceritakannya padaku. Siapa tahu, aku bisa membantu memecahkan permasalahan kamu. Tapi jika tidak ingin mengatakannya juga tidak apa-apa. Tapi berjanjilah untuk tidak pergi ke club malam lagi. Aku takut nanti ada orang lain yang akan menyakiti kamu.”
Usapan di punggungnya membuat Jessica merasa sangat nyaman. Perlahan-lahan ia merasa sangat tenang. Sebelumnya Jessica tidak pernah merasakan senyaman ini saat dipeluk seseorang. Bahkan saat ia didekap oleh suaminya sendiri. Jessica merasa biasa saja. Tapi dengan William, ia seperti menemukan tempat untuk meluapkan segalanya. Seolah pria ini akan selalu melindunginya.
William mengambil card pintu kamar hotel milik Jessica. Ia membukanya dan mengajak Jessica untuk masuk ke dalam. Tidak enak jika ada yang melihat mereka di luar nanti.
William mengurai dekapannya. Ia mengajak Jessica untuk duduk di sofa. Lalu pria itu mengambil minum untuk wanita cantik yang sedang bersedih itu.
Jessica mengambilnya lalu meminumnya sedikit. Ia menatap William yang sedang menatapnya juga.
“Aku baik-baik saja. Hanya masalah kecil.” Jessica mencoba untuk tetap tenang. Biar bagaimana pun, tidak mungkin ia menceritakan masalah rumah tangganya pada orang lain.
“Baiklah, kalau gitu aku tidak akan bertanya lagi.”
Jessica tersenyum. “Terima kasih.”
“Kalau gitu aku permisi dulu. Aku akan menghubungi kamu lagi. Tidak masalah bukan?”
“Tidak, kamu jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Terima kasih sudah mengantar.”
William mengangguk. Ia pun langsung pergi meninggalkan kamar Jessica.
William mengeluarkan ponselnya. Ia langsung menghubungi seseorang yang sangat dipercayainya.
“Cari tahu soal wanita yang sudah saya kirim fotonya.”
William tersenyum senang. Ia akan berusaha untuk mendapatkan wanita itu. Bersama dengan Jessica, tidur malamnya menjadi sangat nyenyak. William akan mencobanya malam ini, tanpa ada Jessica di sampingnya. Apa akan terasa sama seperti malam-malam sebelumnya?
William memasuki lift. Sebenarnya ia tidak ingin berpisah dari wanita rapuh itu. Tapi sepertinya, William harus memberikan waktu untuk Jessica menenangkan dirinya. Lagi pula, William tidak ingin dicap sebagai pria yang tidak sabaran seperti ini.
Di kamar Jessica.
Setelah puas dengan tangisan yang hanya membuang waktu saja. Jessica mengeluarkan ponselnya. Ia menghubungi pengacaranya. Sudah tidak ada yang perlu dipertahankan lagi bukan? Untuk apa mempertahankan rumah tangga yang memang sudah tidak harmonis lagi?
Setelah menceritakan semuanya yang terjadi. Jessica segera berkemas. Ia akan segera kembali ke London. Tidak mungkin ia berlama-lama di tempat ini. Kehidupannya bukan di negara ini. Apa lagi tempat yang ia kunjungi ini sudah menjadi saksi di mana suaminya pergi menghianatinya.
Begitu juga Jessica sendiri, ia juga sudah berhianat pada suaminya sendiri dengan melakukan one night stand dengan pria asing. Jadi lebih baik, sudahi saja semua ini dengan begitu, mereka bisa memiliki kehidupan yang bebas.
Jessica mengambil kopernya. Ia menariknya keluar dari dalam kamar hotel. Meninggalkan semua lukanya di sini. Karena sesampainya di London. Jessica tidak ingin lagi mengingat semua yang sudah terjadi di negara ini.
Di sisi lain.
“Baby, kamu mau ke mana?”
“Mandi, ini sudah pagi.”
Menarik pinggang wanitanya hingga tubuh polos mereka saling bersentuhan.
“Hari ini tidak ada meeting. Untuk apa buru-buru?”
“Tidak, aku merasa sangat lapar. Jadi aku ingin bangun.”
“Aku juga lapar, tapi maunya makan kamu,” goda pria itu.
Pria itu meraup bibir manis wanita yang ada di hadapannya. Mencecapnya setiap inci, merasakan betapa manisnya bibir yang sudah menjadi candu baginya.
“Mmmm, sudah. Kau nyalakan ponselmu, sejak kemarin kau sudah mematikannya. Apa nanti istrimu tidak curiga?”
“Ayolah Baby. Kita sudah melakukan ini lebih dari satu tahun, masa kamu masih harus mencemaskannya? Dia itu istri patuh dan penurut, tidak pernah mencurigai aku juga.”
“Iya tapi, aahhh. Kamu nakal ya,” ucap wanita itu sambil meremas lengan pria yang sudah ada di atas tubuhnya.
Wanita itu mulai mengerang, bergeliat tak karuan saat merasakan bibir pria itu mulai menikmati bagian tubuhnya yang sensitive.
Denis … dia adalah suami Jessica. Saat ini, ia sedang menikmati pagi yang panas dengan sekretarisnya. Diam-diam mereka sudah merajut kasih tanpa sepengetahuan Jessica.
Entah apa yang membuat Denis berubah menjadi pria brengsek seperti ini. Bahkan wanita selingkuhannya itu tidak memiliki apa-apa. Sedangkan Perusahaan yang di pimpin oleh Denis merupakan usaha milik Jessica. Delapan puluh persen saham yang ada di Perusahaan itu adalah milik Jessica. Kedua orang tuanya menaruh saham di Perusahaan Denis karena saat itu kedua orang tua Denis hampir bangkrut.
Tapi sayangnya pria yang sudah ditolongnya itu tidak tahu terima kasih, tidak tahu diri dan sangat egois. Tidak memikirkan wanita yang selama ini selalu menjadi penyemanagatnya. Menjadi sosok yang selalu mendoakan kesuksesan suaminya.
Dan kini tanpa Denis tahu jika istrinya sudah mengetahui semuanya. Wanita itu akan segera mengambil haknya. Dan pria itu akan kembali terjatuh ke dalam jurang yang sama.
Anda Mungkin Juga Suka





