
ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir
Bab 2
Malam menyelimuti desa dengan sunyi yang mencekam. Di langit, bulan tertutup mendung tipis, hanya menyisakan cahaya pucat yang tak mampu menghangatkan. Angin malam menusuk kulit, membawa serta bisikan ketakutan yang tak terlihat.
Bella berdiri di balik pintu rumahnya yang reyot, mengenakan jaket lusuh milik ayahnya dan membawa tas ransel kecil berisi dua potong baju, satu pasang sandal cadangan, dan sedikit makanan kering. Di tangannya yang bergetar, terselip amplop berisi sisa uang dari hasil penjualan motor Chiko. Uang itu tak banyak, tapi cukup untuk satu tiket kereta ekonomi dan harapan baru.
Dari balik jendela, Bella menatap ayahnya yang tertidur pulas di dipan, napasnya berat karena mabuk. Sang ibu duduk di pojok dapur, memandangi putrinya dengan mata sembab, seolah tak mampu menahan segala beban yang menimpa keluarga mereka.
"Ma... aku pergi," bisik Bella, suaranya tercekat.
Ibu mengangguk perlahan, lalu berdiri dan memeluk Bella erat. Tak ada kata-kata yang diucapkan, hanya pelukan dan air mata yang cukup untuk mewakili perpisahan.
Di luar, Chiko sudah menunggu dengan motor pinjaman. Jaketnya lusuh, ransel di punggung dan helm cadangan tergantung di setang. Tatapannya tegang tapi penuh tekad.
"Cepat," katanya singkat begitu melihat Bella keluar.
Bella melompat ke atas motor dan memeluk pinggang Chiko dari belakang. Tangannya gemetar, tapi ia tak berkata apa pun. Ini bukan saatnya ragu. Ini tentang menyelamatkan dirinya sendiri. Tentang memperjuangkan hidup yang lebih dari sekadar takdir muram di bawah ancaman lelaki keparat bernama Tuan Jo.
Mereka melaju dalam gelap, melewati jalanan desa yang berkelok dan sunyi. Suara jangkrik berpadu dengan deru motor tua, menjadi simfoni perpisahan antara Bella dan dunia kecil yang telah lama mengekangnya.
Di perempatan terakhir sebelum menuju stasiun, Chiko berhenti sejenak. Ia menoleh ke belakang, menatap wajah Bella yang setengah tersembunyi di balik helm.
"Aku bakal kangen kamu," ucapnya pelan.
Bella menarik napas panjang. "Aku juga... Tapi aku harus pergi. Kalau aku tetap di sini, hidupku habis."
Chiko mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Jaga dirimu, ya? Di kota banyak orang jahat. Jangan mudah percaya siapa pun."
"Termasuk cowok?" Bella mencoba tersenyum.
Chiko tertawa pendek, lalu menggenggam tangan Bella. "Termasuk cowok. Kecuali aku."
Motor kembali melaju, kali ini lebih cepat. Menembus angin, menembus kecemasan yang menggumpal di dada mereka berdua. Hingga akhirnya, lampu-lampu stasiun kota kecil itu mulai terlihat dari kejauhan.
Stasiun tampak lengang. Jam menunjukkan pukul 03.45 dini hari. Tak banyak orang yang berlalu-lalang. Beberapa penumpang duduk terkantuk-kantuk di kursi tunggu, membawa koper atau buntalan kain. Kereta ekonomi ke Jakarta dijadwalkan berangkat pukul 04.10.
Bella berdiri di dekat peron, menggenggam tiket kereta dengan tangan gemetar. Chiko berdiri di belakangnya, tak berkata-kata. Saat pengumuman keberangkatan mulai terdengar dari pengeras suara, suasana makin menyesakkan.
"Waktunya," gumam Chiko.
Bella menoleh. Mereka saling berpandangan.
"Kalau kamu udah dapat kerjaan... kabarin aku," pinta Chiko. "Aku janji, aku akan kejar kamu. Aku akan lulus jadi tentara. Kita nikah, Bella."
Bella menggigit bibir bawahnya. "Aku percaya kamu."
Kereta berhenti dengan derit besi yang panjang. Bella memeluk Chiko untuk terakhir kalinya, pelukan yang lama dan erat, seolah mereka tak ingin melepaskan.
"Aku pergi, Chik..."
"Jangan lupa aku."
Kereta mulai bergerak. Bella naik dengan langkah tergesa, menoleh ke arah Chiko yang masih berdiri di ujung peron. Lelaki itu melambaikan tangan, dan Bella membalas dengan senyum penuh air mata.
Pintu menutup. Dunia di luar menjauh.
Dan Bella... resmi melarikan diri dari neraka kecilnya.
Di dalam kereta, Bella duduk di bangku keras kelas ekonomi, memandangi jendela gelap. Di luar, pepohonan dan rumah-rumah mulai tertinggal. Masa lalunya juga. Tapi entah kenapa, hatinya justru semakin berat.
Ia tak tahu apa yang menantinya di kota. Ia hanya tahu satu hal: ia harus bertahan hidup.
Dengan atau tanpa cinta.
Dengan atau tanpa keluarga.
Dengan atau tanpa dirinya yang lama.
Kereta terus melaju, berganti menjadi bus ekonomi saat Bella turun di stasiun transit dan mencari tumpangan menuju pusat kota. Hari mulai terang, namun langit tetap kelabu. Seperti suasana hatinya yang penuh kekhawatiran dan was-was. Ia baru saja melarikan diri dari satu bahaya, kini melangkah ke dunia yang sama sekali asing.
Bella duduk di bangku tengah, merapat ke jendela. Ransel kecilnya dipeluk erat, satu-satunya yang ia punya kini. Bus perlahan terisi. Udara pengap dan suara deru mesin membuat matanya berat. Tapi ia berusaha tetap terjaga.
Seseorang duduk di sampingnya. Seorang pria berkemeja lengan panjang, tampak rapi dan cukup berumur, mungkin awal empat puluhan. Wajahnya terlihat ramah. Senyumnya hangat.
"Kamu sendiri aja, Dek?" tanyanya, suaranya lembut.
Bella mengangguk singkat tanpa menoleh. Ia tak ingin memulai percakapan. Namun pria itu terus mencoba.
"Kamu dari desa ya? Kota ini keras, harus hati-hati. Banyak orang jahat."
"Ya," jawab Bella pelan.
"Kalau butuh bantuan, Om tinggal nggak jauh dari sini. Bisa bantu cariin tempat tinggal. Atau kerja ringan..."
Bella hanya mengangguk sopan. Dalam hatinya, ia mulai waspada. Tapi saat bus mulai berguncang, kepalanya tiba-tiba terasa berat. Pandangannya berbayang, suara orang-orang mulai menjauh, seperti terendam air.
"Nggak... enak... badan..." gumamnya.
Pria di sampingnya menyambut tubuh Bella yang limbung. "Tidur aja, Dek. Kamu kecapekan."
Wajah pria itu menjadi kabur, seperti bayangan di balik kaca berkabut. Lalu semuanya menjadi gelap.
***
Bella terbangun dengan kepala berdenyut hebat. Udara pengap memenuhi rongga napasnya. Sekelilingnya asing. Ia berada di bangku bus yang kini kosong, hanya tersisa beberapa penumpang di ujung. Pria tadi sudah menghilang. Tasnya masih di pangkuan, tapi saat ia membuka, dompet kecil berisi uang tunai... hilang. HP-nya pun lenyap.
Tangan Bella menggenggam dadanya. Napasnya tercekat. Ada rasa tak nyaman di tubuhnya, perasaan dingin dan lengket, seperti habis disentuh tanpa izin. Tubuhnya bergetar. Ia menunduk, berusaha mengingat.
Sekilas ingatan muncul - tangan kasar menyentuh pipinya, suara napas memburu, lalu kegelapan dan rasa takut yang membekas di balik kulit.
Air mata Bella jatuh tanpa suara.
Ia tidak ingin mengingat lebih banyak.
Ia merasa kotor.
Dilecehkan.
Dan sekali lagi, dikhianati dunia yang bahkan belum sempat ia kenal.
Dengan tangan gemetar, Bella turun dari bus di terminal terakhir. Langkahnya lemah, tapi ia tetap berjalan. Seperti hantu yang kehilangan arah.
Ia sendiri.
Tanpa uang.
Tanpa HP.
Tanpa siapa-siapa.
Namun di kejauhan, kerlap-kerlip lampu kota masih menyala - seolah menyiratkan bahwa di balik gelap, masih ada ruang untuk bertahan.
Dan Bella, dengan sisa harga diri dan tekadnya, bersumpah dalam hati:
"Aku akan hidup. Apa pun caranya."
Anda Mungkin Juga Suka





