
ISABELLA: Dibelai Maut, Dicintai Takdir
Bab 3
Langkah Bella makin gontai saat matahari tenggelam sepenuhnya di balik gedung-gedung tua kota. Kaki kurusnya terus menapaki trotoar yang lembab, tubuhnya bergetar bukan hanya karena dingin, tapi juga rasa takut yang terus menggerogoti pikirannya. Tubuhnya masih terasa asing bagi dirinya sendiri, masih menyimpan jejak kejadian di bus yang tak ingin ia ingat.
Ia tersesat di sebuah kawasan yang tak dikenalnya, lampu jalan remang-remang, suara kendaraan sayup dari kejauhan. Tempat ini... suram. Seperti dunia yang tak lagi punya tempat untuk gadis sepertinya.
Perutnya perih. Sudah lebih dari satu hari ia tak makan. Ia duduk sejenak di bangku taman kecil di pinggir jalan, mencoba menarik napas, menenangkan diri. Tapi suara langkah dan tawa menggema dari sudut gelap membuat bulu kuduknya meremang.
Empat pria mabuk muncul dari gang sempit, berjalan sempoyongan namun tatapan mereka tajam, liar. Salah satu dari mereka menunjuk Bella.
"Eh, ada cewek sendirian, bro..."
Bella berdiri cepat, bersiap kabur. Tapi langkah mereka lebih cepat. Salah satu dari mereka menahan lengan Bella kasar. "Mau kemana, manis? Malam-malam begini sendirian? Bahaya, tau."
"Lepaskan aku!" teriak Bella, panik, matanya membelalak mencari jalan keluar.
Mereka tertawa, aroma alkohol menyengat. Tangan-tangan kasar mulai merenggut kerudung dan menarik lengan bajunya. Bella berteriak. Ia mencakar, menendang, tapi tenaganya tak cukup.
"Berisik amat sih... kita temenin aja biar hangat malam ini."
Tangannya diseret ke gang gelap, tubuhnya dijepit ke tembok lembab. Air matanya mengalir deras. Kali ini tak ada harapan. Tak ada siapa pun...
Sampai sebuah suara berat memecah udara.
"Lepaskan dia."
Suara itu seperti petir di tengah malam.
Para preman menoleh. Seorang pria berdiri beberapa meter dari mereka. Tegap, berwajah tampan dengan rahang tegas dan mata tajam. Jaket kulit hitamnya memantulkan sinar lampu jalan. Pria itu melangkah pelan, satu tangan di saku, satu lagi menggenggam sesuatu.
Salah satu preman mencibir, "Siapa lo? Mau sok jadi pahlawan?"
Tanpa menjawab, pria itu mengayunkan tongkat baja teleskopik dari balik punggung. Gerakannya cepat, tegas. Dalam hitungan detik, dua preman tersungkur, meringis kesakitan. Yang lain mencoba melawan, tapi dengan satu tendangan keras, pria itu menjatuhkannya ke tanah.
Pria terakhir kabur terbirit-birit.
Bella terduduk di tanah, tubuhnya menggigil hebat. Rambutnya berantakan, baju kusut, bibirnya pecah. Ia menatap pria itu dengan campuran takut dan lega.
Pria itu menyimpan tongkatnya. Ia jongkok di hadapan Bella, matanya tak lepas dari wajah gadis yang terluka itu. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya, suaranya tenang namun serius.
Bella hanya menggeleng, air mata kembali tumpah. Ia mencoba bicara, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ayo, aku antar kamu ke tempat aman," katanya lembut.
Bella duduk di kursi penumpang mobil sedan hitam milik pria itu. Jaket pria itu kini menutupi tubuhnya. Mobil melaju tenang, musik jazz mengalun pelan. Bella masih diam. Ia menatap tangannya yang gemetar di pangkuan.
"Namaku Reno," ucap pria itu tanpa menoleh.
Bella akhirnya bicara pelan. "Bella..."
"Hidup sendiri di kota sebesar ini berbahaya," lanjut Reno. "Kamu kabur dari rumah?"
Bella menatap keluar jendela. "Ada hal yang... nggak bisa aku tinggal diamkan. Tapi sekarang aku bahkan nggak punya apa-apa lagi."
Reno menoleh cepat, sekilas menyapu wajah Bella yang pucat. "Kalau kamu mau, aku bisa bantu. Aku kenal seseorang yang bisa kasih tempat tinggal sementara. Dia perempuan, jadi kamu nggak perlu khawatir."
Bella mengangguk pelan. Dalam hatinya, dia tak tahu harus percaya atau tidak. Tapi dia tahu satu hal: untuk pertama kalinya hari itu, dia merasa... aman.
"Terima kasih," bisiknya pelan.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pelariannya, Bella bisa memejamkan mata di atas kasur. Meskipun asing, meskipun penuh luka, tapi setidaknya... tidak sendirian lagi.
Dan pria bernama Reno itu - entah siapa dia sebenarnya - telah menjadi penyelamat pertamanya di tengah gelap dunia.
***
Malam semakin larut saat Reno memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah kecil dua lantai yang tampak rapi dan hangat dari luar. Bella menatap bangunan itu dengan mata sembab. Emosinya campur aduk-masih ada sisa takut, masih ada trauma dari bus dan preman tadi, tapi di balik semua itu, juga muncul rasa hangat dari sosok pria yang kini duduk di belakang kemudi.
"Ini alamat yang kau maksud, kan?" suara Reno memecah keheningan. Lembut, penuh perhatian. Mata tajamnya menatap Bella, bukan dengan keingintahuan, tapi dengan kekhawatiran yang dalam.
Bella menunduk, membenarkan letak handuk kecil yang tersampir di pangkuannya-satu-satunya peninggalan dari tante yang memberinya alamat ini sebelum ia kabur dari desa. "Iya... ini rumah Tante Rani."
"Bagus." Reno membuka pintu dan bergegas menghampirinya. "Aku antar sampai pintu."
Bella ingin menolak, merasa sungkan. Tapi langkahnya goyah. Kakinya masih lemas sejak insiden tadi. Maka dia hanya mengangguk, membiarkan Reno menuntunnya dengan satu tangan di punggungnya.
Sentuhan itu hangat. Tegas namun hati-hati, seolah Reno tahu betul kalau dirinya rapuh. Di titik itu, Bella merasa hatinya bergetar aneh. Sudah lama sekali sejak ada pria yang menyentuhnya dengan tulus, bukan dengan maksud kotor.
Mereka berdiri di depan pintu. Bella hendak menekan bel ketika Reno berbicara lagi, pelan namun mantap. "Kalau tidak ada orang, atau kau butuh waktu, kau bisa menginap di tempatku malam ini. Aku tahu kau takut. Aku hanya ingin kau aman."
Bella menatapnya. Dalam cahaya lampu teras, wajah Reno terlihat berbeda. Tidak hanya tampan-ada semacam keteduhan yang sulit dijelaskan. Dahi yang kokoh, mata yang tajam namun menyimpan luka, dan senyum samar yang entah kenapa membuat dada Bella sesak.
"Aku... terima kasih," ucapnya lirih, lalu menekan bel.
Tunggu punya tunggu, tidak ada jawaban. Bella menekan bel lagi. Masih sepi.
"Dia tidak ada," bisik Bella akhirnya, suara patah.
Reno diam sejenak. Kemudian dia menarik napas dan berkata, "Oke. Kamu ikut aku malam ini. Tenang saja. Rumahku tidak jauh. Kamu bisa mandi, tidur, dan besok kita pikirkan langkah selanjutnya."
Bella membuka mulut untuk menolak, tapi kelelahan telah membuatnya tak punya kekuatan. Akhirnya, dia hanya mengangguk pelan.
***
Rumah Reno berada di area perumahan elit, namun tidak megah seperti istana-justru terasa sangat hangat dan tenang. Saat masuk, Bella langsung mencium aroma kopi dan wangi kayu manis samar dari pengharum ruangan.
"Aku tinggal sendiri," ujar Reno sembari menyalakan lampu ruang tamu. "Jadi kau tak perlu cemas. Ada kamar tamu di atas."
Bella berdiri kikuk di ambang pintu, merasa kotor dengan pakaian yang belum berganti, tubuh yang lelah, dan pikiran yang kacau. Reno menyadari itu.
"Aku siapkan air panas untukmu. Mungkin mandi bisa bantu kau merasa lebih baik."
Bella menunduk, mengangguk. "Makasih, Mas Reno..."
Namanya keluar begitu saja dari bibir Bella. Reno menoleh, sejenak terdiam. "Panggil aku Reno saja. Tanpa embel-embel."
Bella mengangguk lagi, kali ini dengan senyum tipis.
Beberapa saat kemudian, Bella berdiri di ambang kamar mandi dengan handuk terbalut di tubuhnya. Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Ada lebam di bawah matanya, rambutnya awut-awutan, tapi ada juga secercah cahaya baru di sana-semacam harapan yang ditanamkan oleh seseorang bernama Reno.
Saat membuka pintu, Bella terlonjak. Reno berdiri tepat di depan kamar mandi, membawa secangkir teh hangat.
"Maaf, aku tak bermaksud mengagetkan." Reno buru-buru menunduk, lalu memalingkan wajahnya. "Ini... teh. Biar kamu lebih tenang."
Bella tersipu. Dia mengambil teh itu dengan tangan bergetar. Saat jarinya menyentuh tangan Reno, ada percikan hangat aneh yang menari di tulang-tulangnya. Reno juga tampak terdiam sesaat, namun cepat-cepat menarik tangannya.
"Aku taruh di meja saja, ya." Suaranya berat.
Bella menatap punggung Reno yang menjauh ke ruang tamu. Entah kenapa, dia ingin mengikuti. Dia ingin berada di dekat pria itu, meski hanya untuk malam ini.
Dia duduk di ujung sofa, memeluk teh di tangan. Reno sedang membaca sesuatu di laptop, tapi saat menyadari kehadiran Bella, dia menutupnya dan menoleh.
"Sudah mendingan?" tanyanya.
Bella mengangguk. "Mas... eh, Reno... kenapa nolongin aku?"
Reno tersenyum kecil. "Aku tahu wajah orang yang sedang takut. Aku pernah ada di posisi itu juga."
Bella menatapnya dalam. "Kamu pernah ditakuti?"
"Lebih parah," ucapnya pelan, "aku pernah kehilangan segalanya dalam satu malam. Jadi... aku tahu rasanya butuh seseorang untuk hanya... hadir."
Hening. Hanya suara detik jam yang terdengar.
Kemudian Reno menggeser duduknya, hanya sedikit lebih dekat. "Tapi sekarang kamu aman, Bella. Kamu boleh percaya itu."
Bella menunduk. Jantungnya berdetak cepat. Satu sentuhan lembut menyentuh pundaknya-tangan Reno, memberi kekuatan tanpa banyak bicara.
Ketegangan menggelayuti udara. Pandangan mereka bersitatap beberapa detik terlalu lama. Ada sesuatu yang menari di udara-bukan cinta, tapi semacam magnet yang belum bernama. Bella ingin menangis, ingin bicara, ingin menyentuh balik... tapi ia hanya duduk membeku dengan jantung yang gemetar.
"Kamu boleh tidur sekarang," bisik Reno akhirnya, menarik tangannya perlahan. "Kalau ada apa-apa, panggil aku saja."
Bella mengangguk, tak sanggup berkata-kata. Saat masuk ke kamar tamu, ia menyadari satu hal-untuk pertama kalinya sejak pelariannya, ia merasa... aman. Dan mungkin, tanpa disadari, hatinya mulai membuka sedikit celah untuk pria bernama Reno.
Anda Mungkin Juga Suka





