
Introvert Japanesegirl
Bab 2
Hari sudah mulai gelap Pukul 18.10 ayah Yui pulang dan ibunya segera menyiapkan makan malam untuk mereka. Ibu Yui sangat pandai memasak. Lauk pauk yang disajikan sangat beragam dan semuanya lezat. Yui, Kenichi, dan Imelda makan malam bersama dan sesekali mereka menanyakan keadaan Yui di sekolah.
Ayah Yui mengambil nasi dan lauk dengan porsi cukup banyak. Yang membuat ibunya heran, Yui tidak biasanya mengambil porsi nasi dan lauk sedikit, biasanya ia sangat lahap dan mengambil porsi makan besar untuk menyantap masakannya.
“Yui, kamu makan sedikit sekali sayang?” ucap ibu Yui heran. “Apa kelihatannya masakan ibu tidak enak?” tanya ibu Yui lagi sedikit kecewa.
“Ah….no, Mama!” ucap Yui sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Yui pengen makan ini,” ucap Yui sambil menunjuk video kuliner vlog di sosial media miliknya.
Ayah dan Ibu melihat video yang ditunjukkan Yui, dengan seksama mereka melihatnya, memang video kuliner vlog tersebut terlihat sangat menggiurkan. Video tersebut tidak sengaja muncul dan lewat di beranda sosial media milik Yui. Yui memang hobby mencicipi jajanan yang belum pernah ia makan sebelumnya. Jajanan yang berbalut kulit lumpia dan telur tersebut sukses membuat Yui ngiler dan ngidam. Ya, martabak telur, yang Yui belum pernah merasakannya selama di Jepang.
“Makanya Yui makan sedikit, takut kekenyangan. Habisnya… dari tadi Yui ngiler banget!” ucap Yui sambil memelas sambil melirik-lirik ibu dan ayah Yui. Ayah dan ibu Yui melihat muka memelasnya dan ayah Yui tiba-tiba tertawa.
“Hahaha…, mengapa kamu tidak bilang ke Papa kalau ingin makan martabak telur? Papa bisa membelikannya saat pulang.”
“Yui, kalau emang kamu pengen, kamu berangkat sama Papa, ya!” ucap ibu Yui khawatir, karena tidak ingin anak perempuan satu-satunya itu pergi sendiri.
“Mmm…..di seberang apartemen, sepertinya Yui melihat abang jualan martabak. Yui bisa pergi sendiri, Ma, Pa,” bujuk Yui kepada orang tuanya.
“Baiklah, Mama dan Papa ijinkan, tapi kamu langsung pulang ya!”
“Haik!” ucap Yui dengan logat bahasa Jepangnya sambil tersenyum dan menganggukkan cepat kepalanya tanda mengerti.
“Wah, jatah makan malam Papa jadi banyak, nih! Hahahaha…,” ucap ayah Yui tertawa senang dengan sedikit menggoda ibunya.
Yui segera menyelesaikan makan malamnya dan bersiap-siap pergi keluar rumah. Ini pertama kalinya Yui keluar malam sendiri. Sebelumnya selama sebulan ini, Yui selalu diantar ayahnya kemana-mana, karena Yui belum tahu jalan. Di seberang apartemen tempat Yui tinggal, memang ada sebuah mal yang di dalam area malnya terdapat ruko-ruko yang menjual makanan. Yui segera menyeberangi jembatan penyeberangan dan menuju area mal tersebut.
Sesampai di sana Yui akhirnya menemukan ruko yang menjual martabak telur. Yui segera memilih menu yang ditampilkan di depan gerobak penjual martabak tersebut.
“Bang, beli martabak telur spesial 1 ya, yang pedas!”
“Oke neng!” ucap abang penjual.
Yui duduk di bangku yang disediakan abang penjual martabak telur tersebut. Sambil menunggu pesanan, Yui men-scroll sosial medianya agar tidak bosan. Sekitar 5-7 menit Yui scroll, abang penjual martabak tersebut memanggil Yui.
“Neng….Neng….!” ucap abang tersebut memanggil Yui. Yui yang dari tadi tertunduk dan scroll sosial media tidak menyadari kalau yang dipanggil abang penjual adalah dia. Yui memang mendengarnya, tetapi Yui benar-benar tidak tahu kalau yang dimaksud panggilan ‘Neng’ tertuju kepadanya.
Akhirnya abang penjual tersebut menggerutu dan ngomel pelan, “Buset, budek banget tuh, cewek! Ketutupan rambutnya kali, ya?” Lalu abang itu pun mencoba mendekati Yui dan menepuk pundak Yui pelan. “Neng, maaf ini martabaknya udah jadi.”
Yui pun menoleh.”Ah, maaf saya tidak tahu. Mmm…maaf, apa maksud Anda panggil saya Neng?” Yui bertanya sambil mengkerutkan alisnya tanda tidak paham. Abang penjual itupun bingung, apakah Yui benar-benar nggak tahu atau tersinggung dengan panggilan neng tersebut? “Maaf, saya benar-benar tidak tahu apa artinya neng,” ucap Yui seraya menjelaskan.
“Ohhh…. Neng nggak tahu artinya, neng itu panggilan perempuan yang masih muda, di sini biasa kalau nggak tahu namanya, biasanya manggilnya neng, kaya saya nih, dipanggil abang, itu panggilan buat laki-laki, gitu Neng,” jelas abang penjual martabak dengan mengayun-ayunkan tangannya dan melihat Yui sambil heran. Yui mengangguk pelan seraya paham.
“Bukan orang sini ya, Neng?”
“Mm..bukan, saya dari Jepang,”
“Ohhh….dari Jepang, pantes Neng nggak tahu artinya. Di sini juga banyak kok, Neng, orang bule datang kemari beli martabak. Pokoknya jangan diragukan lagi deh, Neng, kalau beli di martabak telur MANG ASEP dijamin ketagihan!” ucap abang penjual martabak sambil menunjukkan spanduk tulisan martabak telur ‘Mang Asep’. Yui hanya mengangguk-angguk saja sambil pamit untuk pergi.
Yui beranjak dari tempat duduknya dan berdiri sejenak di depan ruko penjual martabak telur tersebut. Yui penasaran dan mencoba mencicipi sedikit martabak telur itu. Saat Yui mencicipi sedikit, Yui takjub dengan rasanya. Ingin rasanya Yui menghabiskan saat itu juga. Sepertinya harus masuk nih, ke list langganan jajanan Yui! Namun saat Yui menikmati martabak telur tersebut, tiba-tiba Yui melihat pintu mal dan melihat orang-orang yang nggak asing Yui lihat tadi di sekolahnya. Ya, siapa lagi kalau bukan Andre dan teman-temannya, Dika, Rara, Irish, dan Bella. Yui melihat mereka sedang asyik mengobrol tertawa bersama dan berjalan menuju tempat parkir mobil.
Yui melihat mereka cukup lama dan saat mereka pergi ke arah mobil mereka, tiba-tiba tas salah satu dari mereka dicopet.
“Copet!” teriak salah satu teman Andre, Rara.
“Hah, mana…mana copet?” kata Bella gugup.
“Itu copet ngambil tas gue!!” teriak Rara sambil menunjuk copet tersebut. Mereka pun mengejar.
Yui yang dari tadi melihat mereka dari depan ruko martabak, langsung reflek mengambil bangku tempat duduk abang penjual. Abang penjual martabak tersebut terkejut sambil ingin menghalangi apa yang akan dilakukan Yui terhadap bangku miliknya. “Eh, Neng, Neng…buat apa Neng!” teriaknya panik.
Yui tiba-tiba saja melempar bangku milik abang penjual martabak dan tepat mengenai kaki pencopet itu. Pencopet itu pun tersandung bangku kursi dan terjatuh, hingga tas yang digenggam pencopet itu lepas dan jatuh ke jalan juga. “Yatta!” Yui teriak senang, karena bangku tersebut mengenai pencopet yang hampir saja merenggut tas milik teman sekelasnya itu.
Yui segera mengambil tas Rara. Pencopet tersebut jatuh lemas dan tidak mampu untuk berdiri karena kesakitan. Andre, Dika, Rara, Irish, dan Bella segera menghampiri Yui. Yui pun segera mengembalikan tas milik Rara. “Ini tas kamu,” ucap Yui sambil tertunduk dan menyodorkan tas tersebut ke Rara. Rara sempat speechless, karena gadis pendiam tersebut menolongnya. Rara mengambil tas miliknya dan tidak sempat berkata apa-apa. Yui segera berbalik arah dan lari meninggalkan mereka berlima. Andre yang melihat pencopet tersebut yang masih tersungkur kesakitan, segera memanggil satpam.
“Pak, tolong amankan orang ini, dia tadi nyopet tas milik teman saya!”
“Baik, mas!” ucap satpam tersebut dengan sigap menyekap pencopet.
Anda Mungkin Juga Suka





