Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Introvert Japanesegirl

Introvert Japanesegirl

Yoshida Yui, gadis blasteran Jepang-Indonesia yang pendiam, menarik perhatian di sekolah elit Jakarta karena poni panjangnya yang menutupi mata. Penampilannya yang misterius membuat Andre, sang ketua kelas populer, merasa penasaran. Namun, ketertarikan Andre memicu kecemburuan Rara, sahabatnya yang judes. Konflik semakin rumit saat Takeru Ryota, teman masa kecil Yui dari luar negeri, datang ke Indonesia demi mengejar cintanya. Persaingan pun pecah di antara mereka.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Yui! Yui! Bangun sayang, sudah jam setengah 6!” ucap ibu Yui pelan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Yui yang tertidur pulas. Yui pun terbangun mendengar suara lembut ibunya.

“Mmhh, Mama,” ucap Yui dengan nada seraknya.

“Ayo bangun, nanti telat lo!” ucap ibu Yui dengan suara lembutnya.

“Oke, Ma.”

Yui pun segera beranjak dari tempat tidurnya dengan rasa malas dan segera bersiap-siap untuk ke sekolah dan menyantap sarapannya.

“Yui, mau dianter Papa lagi?” ucap ayah Yui.

“Nggak usah Pa, Yui udah tahu jalan sekolahnya kok, lagi pula Yui suka jalan kaki.”

“Yui, kamu masih inget nggak, teman kamu waktu kecil? Mm….namanya….,” ucap ibu Yui sambil mengingat-ingat.

“Siapa, Ma?” tanya Yui penasaran, Yui juga mulai mengingat-ingat. Saat mulai mengingat, ada seseorang yang terlintas di benak Yui. Yui kaget “Jangan-jangan”.

“Mama lupa namanya, tadi pagi ibunya menelepon Mama, katanya dia ijin anaknya buat tinggal bareng kita, soalnya anaknya mau sekolah di SMA bareng Yui.”

“Siapa sih, Ma?” tanya ayah Yui sambil meminum segelas air.

“Itu ibu Ta-keru…..Takeru siapa ya?” ucap ibu Yui mengingat-ingat lagi sambil mengetuk –ngetuk pelipis dengan telunjuknya. Yui semakin kaget benar apa yang dipikirkannya. That is Takeru Ryota! Teman masa kecil Yui semasa SD.

“Takeru….Ryo..ta?” ucap Yui menebak pelan.

“Ah, iya, Takeru Ryota! Yui ingat?” tanya ibu Yui. Yui mengangguk pelan.

Karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.50, ayahnya segera menyelesaikan sarapan dan berpamitan dengan istrinya. “Ya udah, Ma. Papa berangkat dulu ya, udah hampir jam 7!”

“Yui juga, Ma!” ucap Yui sambil meminum segelas air putih dan segera mencium kedua pipi ibunya.

~~

Yui berjalan pelan menuju sekolah sambil mengingat-ingat wajah teman kecilnya itu, kalau nggak salah ingat temannya waktu itu agak gemuk dan pendek. Dia sering diejek teman-temannya karena fisiknya. Waktu itu Yui lah yang sering menghiburnya di kala Ryota sedih. Yui dan Ryota jadi sering main bareng di taman bermain dekat rumah mereka.

Teman-teman Ryota tidak berani menghina fisik Ryota lagi, karena Yui bersikap dingin, datar, dan terkesan menyeramkan saat menegur teman-teman Ryota. Apalagi rambutnya dan poninya yang panjang dari dulu, seperti hantu kata teman-temannya. Namun, Ryota tetap senang berada di dekat Yui.

Sampai suatu saat Ryota dan ibu Ryota berpamitan kepada Yui dan keluarga Yui untuk pindah ke luar negeri, karena Ayahnya dipindah tugaskan ke Amerika. Waktu itu Ryota memeluknya dengan sedih. Yui pun penasaran bagaimana keadaan Ryota saat ini. Masih gemukkah? Masih cengengkah dia?

~~

“Kringggggggggggg…!!!” Bel berbunyi tanda istirahat. Semua muridpun segera meninggalkan kelas.

“Bell, Rara, yuk, ke kantin! Dika, Andre, kuy!” ajak Irish.

“Oke,” ucap Rara sambil beranjak dari tempat duduk dan segera keluar kelas.

“Mau kemana loe, Ra?” tanya Andre dengan sigap menarik lengan Rara yang berada di belakang Rara.

“Kenapa sih?” tanya Rara heran sambil mengkerutkan alis.

“Loe lupa sama janji loe waktu malam minggu kemarin?” ucap Andre dengan melihat wajah Rara yang memasang wajah males.

“Say thank you!” ucap Andre kepada Rara. Rara yang melihat wajah Andre serius, segera menepis tangan Andre yang dari tadi mengenggam lengan tangannya.

“Ya udah, loe semua cabut duluan!” ucap Rara ke semua teman-temannya.

Waktu malam minggu, saat Yui menolong Rara, Andre memang sempet melihat Rara tidak berkata apa-apa ke Yui. Maka dari itu, Andre teman masa kecil Rara, mengirim pesan teks ke Rara saat semua sudah tiba di rumah.

“Ra, besok Senin ajak Yui ngobrol dan say thanks to her,okey?”

Rara yang mendapat pesan teks dari Andre tersebut, hanya bilang “Ya”, singkat, padat, dan jelas. Sebenarnya itu juga taktik Andre agar Rara bisa menerima Yui sebagai temannya dan mau mengajak Yui buat ngobrol dan kumpul bareng mereka berlima. Andre memang cowok supel, tetapi dia nggak biasanya ngomong serius tentang cewek dan seperhatian ini.

Bella, Irish, Andre, dan Dika segera menuju ke kantin sekolah untuk makan siang. Mereka akhirnya setuju buat ninggalin Rara. Tetapi, Andre masih penasaran apa yang akan dilakukan Rara dan apa yang diomongin Rara ke Yui. Andre masih kepikiran saat akan berjalan menuju kantin, tiba-tiba aja Andre nyeletuk.

”Temen-temen, kalian cabut duluan ya! Gue mau ke toilet dulu,” ucap Andre sambil berbalik arah dan berlari sambil melambaikan tangan ke teman-temannya. Sesampainya di depan pintu kelas, Andre yang penasaran, mengintip di balik pintu kelas dan berusaha mendengar obrolan Rara dan Yui.

“Yui, gue mau ngomong sama loe,” ucap Rara sedikit canggung dan suaranya yang datar sambil sesekali melihat sekitar.

“Eh, iya, gue?” ucap Yui bertanya-tanya sambil mengernyitkan alis.

“Iya, loe!” Rara sambil menunjuk ke arah Yui.

“Gu…e, loe..?” ucap Yui masih tidak paham dengan ucapan Rara. Rara sampai kesal dibuatnya. Rara pun menarik kursi di depan Yui sambil mengeja apa yang diucapkannya barusan.

“Gue…I…Loe….You,” ekspresi Rara dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arahnya dan ke arah Yui.

“Gue… mau ngomong… sama loe….., paham?” ucap Rara mengeja dengan penuh penekanan dan sedikit kesal. Dalam hati Rara pun ngomong, “Lemot banget nih, cewek!”

“Ah, ya…ya…mau ngomong apa?” ucap Yui paham.

“Gue mau berterima kasih ke loe, soal tas gue yang dijambret."

“Jam…bret?” tanya Yui kebingungan lagi. Rara yang kesabarannya setipis tissue dibagi 100 semakin kesal dibuatnya.

“Duu-uuuhhh, loe lemot banget sih! Maksud gue jambret itu maling, PEN-CU-RI!” ucap Rara kesal.

“Ah,ya. Ma-maaf aku nggak begitu tahu,” ucap Yui sambil tertunduk.

Tiba-tiba Rara mengulurkan tangannya kepada Yui untuk mengajaknya berkenalan.

”Gue Rara,” ucap Rara mengulurkan tangan sambil sedikit cuek dengan nadanya yang judes.

“Yo…shida Yui,” ucap Yui sambil mengulurkan tangannya juga, seraya bersalaman dengan Rara.

“Oke, itu aja yang pengen gue omongin ke loe. Gue nggak mau banyak basa-basi,” ucap Rara sambil beranjak dari tempat duduknya. Andre yang tahu Rara sudah selesai ngobrol langsung pergi juga.

Di kantin Andre baru saja mengambil makanan gratis di sekolahnya disusul Rara. Seperti biasa Andre duduk di samping Dika.

“Lama banget loe, Ndre. Boker loe? Sakit perut?” tanya Dika sarkas.

Andre yang bingung mau menjawab apa, langsung disela oleh Rara,”Emang abis dari mana loe?” tanya Rara memasang muka curiga, takut kalau Andre iseng nguping percakapan Rara dan Yui tadi. Karena Rara curiga ada yang nguping dari balik pintu kelas tadi, saat Rara akan memulai mengobrol dengan Yui. Tetapi saat Rara menoleh, orang itu sekilas hilang.

“Abis dari toilet. Kan, gue bilang tadi ama Dika, sakit perut gue,” ucap Andre sambil menyantap makanannya.

“Gue udah bilang makasih sama Yui,” ucap Rara dengan nada datar.

“Oh, ya, terus?” ucap Andre pura-pura penasaran.

“Ngobrol apa aja loe ke Yui, Ra. Loe nggak canggung ngobrol sama anak Jepang itu?” tanya Bella penasaran.

“Tumben banget!” ucap Irish menyusul obrolan.

“Emang kenapa sih? Gue cuma bilang makasih doang, lebay banget!” ucap Rara sambil menyantap makanannya.

“Terus loe nggak ngajak dia gabung?” tanya Andre.

“Enggak,” ucap Rara santai sambil terus menyantap makanannya.

“Ajak lah dia gabung, yaa… itung-itung sebagai tanda terima kasih loe ke dia,” bujuk Andre seakan mendesak Rara. Rara sempat diam sejenak dan meletakkan sendok di piringnya. Irish dan Bella udah mulai merasa hawa-hawa nggak enak. Mood Rara lagi nggak bagus.

“Gue ke toilet dulu,” ucap Rara sambil beranjak dari tempat duduknya. Rara nggak cuma kesal, dia seperti

cemburu ketika Andre perhatian banget kepada Yui. Maklum, Rara sudah menyukai Andre sejak masih duduk di bangku kelas 1 SD, waktu Andre ditempatkan ibu wali kelasnya duduk di samping Rara. Rara jadi jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Andre. Sampai sekarang pun Rara masih suka, apalagi mereka 1 kompleks.

~~

Yui pergi ke toilet, karena penasaran dengan rasa sakit yang ada di jidatnya. Yui pun mengangkat poninya dan ternyata ia melihat dua benjolan merah yang sedang meradang, yang tidak lain adalah jerawat. Mungkin karena hawa di Jakarta yang begitu panas, sehingga jerawat pun bermunculan.

“Huh, Itai! “ ucap Yui kesakitan sambil memencet jerawatnya.

Tak lama kemudian, saat Yui sedang fokus dengan jerawatnya. Yui kaget, karena Rara tiba-tiba muncul di belakangnya. Yui segera menurunkan poninya kembali. Yui melihat Rara sambil menyilangkan tangannya dan bersandar ke tembok.

“Ra-rara,”

“Kenapa kaget? Gue mau cuci tangan,” ucap Rara menuju wastafel dan kemudian mencuci tangannya. Yui hanya diam.

“Kok, diem? Loe mau cuci tangan juga? Mau gue ajarin?”

Yui masih terdiam. Yui bingung mau ngomong apa, karena Rara menanyainya dengan nada jutek dan lirikan matanya yang begitu sinis. Selesai mencuci tangan, Rara menyisiri tubuh Yui dari bawah ke atas. Tiba-tiba Rara tersenyum remeh.

“Gimana bisa punya temen, kalau modelan loe kaya gini? Poni sama rambut aja hampir nutupin muka, aneh tau gak! Udah kaya Sadako aja!” ucap Rara sambil mengambil tissue toilet untuk mengelap tangannya yang basah dan kemudian meninggalkannya.

Lagi-lagi Yui hanya terdiam dan membisu, ini bukan pertama kali Yui mendapat bully verbal seperti ini. Memang dulu sempat ada teman mirip seperti Rara yang komentar pedas kepada Yui. Namun Yui merasa aneh, kenapa Rara tiba-tiba tersenyum remeh dan memaki Yui, padahal tadi di kelas dia baru saja mengobrol dan berkenalan dengan Yui.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KPW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KPW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dari Pembantu Menjadi Ratu
8.2
Dengan tangan gemetar dan mata terpejam, Scarlett mencoba meraih celana yang dikenakan Ethan. Namun, suasana seketika pecah saat Scarlett berteriak kaget karena tak sengaja menyentuh sesuatu yang terasa sangat keras. Ethan pun tersentak mendengar jeritan nyaring yang memekakkan telinga tersebut. Dengan wajah yang merona merah karena malu sekaligus dilingkupi rasa takut, Scarlett menunjuk ke arah benda itu untuk menjelaskan penyebab kepanikannya yang tiba-tiba.
Sampul Novel Dijatah Lima Juta
9.2
Uang belanja sebesar lima juta rupiah setiap bulan menjadi akar permasalahan yang terus memicu perselisihan antara aku dan suamiku. Pertengkaran demi pertengkaran tak terelakkan karena nominal tersebut dirasa sangat tidak mencukupi kebutuhan hidup kami. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran suamiku yang tetap teguh memberikan jatah bulanan yang sangat terbatas itu tanpa mempertimbangkan realita yang ada dalam rumah tangga kami.
Sampul Novel FORBIDDEN INLAWS
9.1
Bagi Alexys, dicintai sepenuh hati adalah impian terbesar. Namun, ia tak menyangka bahwa sosok yang memendam perasaan mendalam padanya justru sang kakak ipar sendiri. Selama ini, Alexys mengira hidupnya akan berjalan normal setelah pernikahan kakaknya, tanpa menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasinya. Saat rahasia terlarang ini mulai terkuak, akankah Alexys menyadarinya? Bagaimana nasib hubungan mereka jika Alexys ternyata memiliki rasa yang sama?
Sampul Novel Hakikat cinta yang kau nodai
9.1
Hana lelah menghadapi perselingkuhan Devan yang terus berulang meski telah berkali-kali dimaafkan. Setelah delapan tahun bersabar, ia akhirnya memilih bercerai. Di tengah luka, hadir Rama, pewaris Abimana Group yang saleh, sebagai oase ketenangan. Namun, cinta mereka terhalang status Hana sebagai janda dua anak dan hierarki bisnis keluarga Rama. Akankah Rama diterima oleh anak-anak Hana, atau justru Devan kembali mengejar mantan istrinya yang dulu ia khianati?
Sampul Novel Mendarat di Hatimu yang Retak
8.4
Liora Anindya mencintai angkasa, namun bagi Arlo Dirgantara, langit hanyalah memori pahit pengkhianatan. Sepuluh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Arlo yang dulu hangat kini berubah dingin akibat luka masa lalu dari mantan tunangannya, seorang pramugari. Kehadiran Liora sebagai pramugari memicu trauma mendalam bagi Arlo. Di antara kenangan manis masa kecil dan kebencian pada seragam Liora, mampukah cinta menyembuhkan hati Arlo yang telah retak?
Sampul Novel Merebut Jodoh
9.0
Vanya terjebak dalam pernikahan paksa dengan Purnomo, pria yang jauh lebih tua darinya, demi memuaskan ambisi egois orang tuanya. Hubungan tanpa cinta ini pun berada di ambang kehancuran sejak awal. Namun, harapan muncul melalui kehadiran Anthony. Pria ini telah lama memendam perasaan mendalam untuk Vanya. Dengan tekad yang membara, Anthony berjuang gigih demi merebut kembali wanita pujaannya dan menyelamatkannya dari belenggu takdir yang kelam.