
IntroGirl & EkstroBoy
Bab 2
Proses belajar mengajar tahun ajaran baru dimulai, dimana banyak wajah-wajah baru di SMA Paffela. Siswa siswi junior saling berkenalan satu sama lain.
Tapi tidak dengan gadis dingin tak tersentuh itu. Namanya Meira Arkayyana, cewek introvert yang tak pandai bergaul. Sejak pertama masuk sekolah ia tak mempunyai teman satu pun. Hingga pertama kali masuk kelas ia memilih duduk sendiri di bangku pojok belakang. Keadaan seperti ini tidak membuat Meira kesepian. Dengan begini, ia merasa tenang. Tak ada pengganggu, pikirnya.
Beberapa menit kemudian bel masuk berbunyi. Semua siswa siswi masuk ke kelas dan duduk di bangku masing-masing.
Dubrakkk
Dorongan pintu yg keras menyita perhatian seisi kelas. Mata mereka berpusat pada cowok di depan pintu yang memasang wajah tanpa dosanya. Namanya Deon Arkayuda, cowok ekstrovert yg tidak bisa diam, usil, dan petakilan. Deon sengaja mencuri perhatian dengan membanting pintu kelas.
"Apa lo semua liat-liat?Terpesona heh!" Deon berucap dengan songongnya. Semua memandang sinis ke arahnya.
"Songong banget sih, untung ganteng. Kalo gak udah gue ulek lu," ucap Kate
Dengan pdnya Deon menjawab ,"emang ganteng," semua yang ada disana menyorakinya. Deon ini percaya dirinya sudah overload ternyata.
Pemuda itu mengangkat bahunya acuh, resiko jadi orang ganteng tuh dimana-mana pasti jadi pusat perhatian. Matanya menyusuri kelas mencari tempat yang kosong.
Deon mendengus, semua bangku penuh, hanya tersisa satu bangku di bagian pojok belakang, yang disebelahnya diduduki seorang cewek yang sedang fokus membaca novel. Tak peduli dengan kegaduhan yang diciptakan olehnya tadi.
Matanya melihat semua meja. Rata-rata perempuan duduk dengan perempuan dan laki-laki dengan laki-laki.
"Masa cuma gue doang yang duduk sama cewek? Ogah ah," batinnya. Tak sengaja ia melihat satu meja yang diduduki oleh sepasang berbeda gender itu.
"Woi lo pindah disana . Gue duduk sama dia. Cuma lo doang cewek yang duduk sama cowok. Ke belakang sana duduk sesama cewek!" Suruhnya.
"Apa-apaan lo nyuruh-nyuruh. Dia cewek gue, jadi biarin dia disini. Lagian gue ogah ngegay duduk sama lo," bukan ceweknya yang menyahut, tapi cowoknya yang bernama Levin.
Sheina, cewek Levin tersenyum mengejek ke arah Deon.
Deon memandang sinis ke arah mereka. "Dih, bucin lo," sahutnya
"Sirik lo jones!" Balas Levin dan Sheina kompak
"Bacot lo both." Deon berjalan kesal ke arah bangku pojok belakang. Tak ada pilihan lain, hanya tempat di samping cewek itu yang kosong.
Deon membanting tasnya kesal ke meja membuat Meira yang sedang membaca tersentak. Meira mendongak dan menatap Deon tajam. Deon menatap balik Meira.
"Heh lo cewek yang buat gue tadi dihukum kan?" Ucapnya teriak. Meira memasang wajah bingung. Lagi-lagi mereka menjadi pusat perhatian.
"Aduh gak usah pura-pura gak tau. Karena lo udah buat gue dihukum, lo juga harus dihukum!"
"Apaan sih" jawab Meira ketus.
"Apaan apaan! Lo harus dihukum pokoknya. Hukumannya gue mau lo jadi teman gue dan duduk sama gue terus. Gampang kan?"
"Gue gak mau," Deon terlihat kesal. "Gak bisa gitu dong, lo harus tanggung jawab atas perbuatan lo. Nama lo siapa? Gue maksa ini!" Meira tetap tak peduli. Tak sengaja Deon melihat name tag Meira.
"Meira Arkayyana, oh nama lo Meira? Gue udah tau wlek," ucapnya girang. Meira menatap Deon aneh. "Cowok freak," batinnya. Kemudian dia kembali membaca novelnya.
"Jangan cuek cuek napa jadi cewek. Cuma lo nih cewek yang nolak pesona gue, di luar sana yang mau sama gue antri kek mau dapat sembako," cerocosnya namun tak dipedulikan Meira.
"Woii temenin gue ngobrol dong. Masa novel lebih menarik," ucapnya mengganggu Meira.
"Guys gantengan mana gue atau novel?" Tanyanya ke seisi kelas.
"Gantengan cowok fiksi di dalam novel sih," sahut mereka. Deon mendengus sebal.
"Dengar ya, kalian semua stress. Masa muji-muji cowok fiksi yang jelas-jelas gak nyata itu, mana halu pengen jadi istrinya lagi. Kenapa gak realistis aja gitu. Misalnya suka sama gue yang berdiri nyata di depan kalian ini. Udah ganteng, baik, sholeh, kaya raya dan tidak sombong pula," ujar Deon sombong sembari merapihkan kerah bajunya yang sama sekali tidak rapih itu.
"Bentar bro, lo udah gak tertolong. Saking pd-nya gue sampai mau gumoh,"
"Ya gitu, ciri-ciri orang yang menolak kenyataan gini nih," sindir Deon. Yang disindir hanya berdecih sinis.
"Udah woy, gak usah debat. Orang ganteng, soleh, tajir tuh diakui, bukan mengakui. Diem ya Deon, gak usah pancing keributan lagi," final Levin frustasi. Deon menatap Levin sinis, agaknya pemuda itu hendak mengibarkan bendera perang.
"Ekhem." kelas yang tadinya ribut menjadi hening saat ada guru yang masuk. Sesaat guru sedang menjelaskan mengenai sekolah, karena hari pertama masuk sekolah belum dikasih materi. Masih pengenalan lingkungan sekolah. Deon tak hentinya mengganggu Meira. Mengajaknya ngobrol terus menerus meskipun tidak direspon.
Lama-lama Meira merasa risih, hingga menginjak keras kaki Deon. "Arghh" Deon berteriak. Bu Lina yang sedang menjelaskan menatap ke arah bangku Deon dan Meira.
"Deon Arkayuda, ada apa?"
"Ehmm nggak Bu, tadi digigit semut," jawabnya sambil nyengir.
"Digigit semut aja sampe teriak, lemah. Cowok bukan sih? Udah tenang! Saya mau menjelaskan lagi."
"Buset gak guru, gak murid-murid disini mulutnya pada pedas ya. Sabarkanlah Deon ya Tuhan semoga tetap waras sampai lulus, aamiin," gerutu serta harapannya dalam hati.
Anda Mungkin Juga Suka





