Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel IntroGirl & EkstroBoy

IntroGirl & EkstroBoy

Kehidupan tenang Meira di SMA mendadak terusik oleh kehadiran Deon, cowok tengil yang kerap mengganggunya. Meski awalnya sering berselisih, Meira mulai melihat sisi lain Deon yang perlahan mewarnai harinya dan menjadi penyemangat utama. Begitu pun sebaliknya, Meira berhasil meluluhkan hati Deon Arkayuda. Namun, saat perasaan makin dalam, semesta menghadirkan skenario tak terduga. Walau raga tak lagi bersama, cinta abadi mereka membuktikan bahwa perbedaan justru saling melengkapi.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sudah satu minggu proses belajar mengajar di SMA Paffela berjalan. Hari ini warga baru SMA Paffela sudah belajar dengan normal.

Masih tak ada perubahan pada keturunan Adam dan Hawa yg berbeda sifat itu. Selama seminggu Deon terus-menerus mengganggu Meira, membuat hidup Meira yang tenang menjadi risih.

Meira pov

Hari ini Minggu kedua aku menjadi siswi dari SMA Paffela. Tapi selama seminggu pula hidupku tak tenang gara-gara cowok songong pengganggu itu. Rasanya ingin pindah sekolah tapi gak mungkin. SMA ini sekolah impianku dari dulu.

Setelah turun dari mobil, aku berjalan di koridor sekolah. Di depan ruang tata usaha ada yang menepuk bahuku. Ketika aku berbalik, ada seorang siswi menatapku sambil tersenyum. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.

Aku mengerutkan dahiku bingung.

"Maaf, boleh nanya, Kelas X IPA 2 dimana ya?"

"Itu kelasku, mau bareng?" Tawarku

"Serius? Wah berarti kita sekelas dong. Kalo gitu kenalan dulu, gue Alea Alexandria panggil aja Alea." ujarnya sambil menjulurkan tangan

"Meira." jawabku seadanya menyambut uluran tangannya. Jujur, Alea ini teman pertamaku. Dia ramah, berbeda denganku yang sangat cuek.

"Okey, nice to meet you, Mei. semoga kita bisa berteman dengan baik." aku pun hanya mengangguk. Kemudian kami berjalan menuju ke arah kelas.

Di dalam kelas ternyata sudah penuh. Mungkin aku datang agak terlambat karena macet,untung belum telat.

Semua bangku sudah terisi kecuali bangku di sampingku. Si songong belum datang ternyata. Aku berjalan menuju bangku ku dan Alea mengikutiku. Tanpa permisi dia duduk di sampingku.

"Gue duduk sama lo ya Mei, bangkunya semua udah full kayaknya yang kosong cuma disini doang." aku mengangguk setuju. Mending duduk sama Lea daripada sama Deon, seenggaknya hidupku lebih tenang.

"Sebenarnya ya Mei, gue udah lulus bersamaan sama kalian pas tahun ajaran baru. Cuma gue gak ikut ospek karena sakit, jadi sekarang baru bisa masuk,"Gak ada yang nanya, tapi dia langsung cerita. Unik juga nih orang. Aku hanya menjadi pendengar yang baik.

"Gimana Mei rasanya sekolah disini? Seru gak? Seru pasti, tadi gue liat banyak yang bening-bening disini, ah betah deh gue"

"Bening-bening?"

"Duh, cowok-cowok good looking Mei, pada bening kan mukanya. Cuci mata tiap hari," demi apa Alea mengucapkannya dengan mata berbinar-binar. Rupanya dia penggemar cowok ganteng.

"Jomblo nih pasti," tebakku iseng. Alea mengerucutkan bibirnya, pertanda aku benar.  Aku hanya tersenyum melihatnya.

"Ya gak apa-apa sih, jomblo gak dosa. Be a high value woman," dan Alea mengangguk setuju.

Disaat kami berdua asik ngobrol, si Deon tiba-tiba datang menggebrak meja. Aku dan Alea berjengkit kaget.

"Siapa lo? Seenak jidat duduk di bangku gue," ketus Deon. Alea menatap cengo ke arah Deon.

"Mei dia siapa? Ganteng bangett," ujarnya histeris. Deon memandang bingung ke arah Alea

"Gak tahu, cowok freak" jawabku singkat. Deon menatap ku tajam, tak terima dibilang aneh. Ku tatap balik tak kalah tajam, akhirnya dia menciut.

"Pindah lo ah, lagian lo siapa sih? Salah kelas ya?" Ujarnya ke Alea. "Enak aja gue duluan duduk disini. Ini kelas X IPA 2 kan?" Deon mengangguk menjawab pertanyaan Alea.

"Nah berarti nggak salah dong. Gue baru bisa masuk karena kemarin sakit. Dan, kenalin, gue Alea. " ujarnya sambil menjulurkan tangan

"O, gue gak peduli. Gue maunya lo pindah!"

"Ih, gue gak mau! Gak ada tempat lagi kalo gue pindah," kekeh Alea.

"Bodo amat bukan urusan gue. Pindah gak?!"

"Gue bilang gak mau! Lo kok ganteng-ganteng annoying? Jadi ilfeel gue, gak jadi suka sama lo," ketusnya.

"Biarin, pindah ih!" Greget juga Deon lama-lama. Alea belum beranjak dari tempat duduknya. Semua memandang ke arah mereka aneh. Untung belum ada guru.

Deon memperlihatkan senyum smirknya.

"Oke kalo lo gak mau pindah dengan cara terhormat, gue harus pake cara lain."

Deon menarik paksa tangan Alea. Mereka berdua ini gak bisa akur ternyata. Sudahlah, selamat tinggal kedamaian.

"Dibilangin gue gak mau! Maksa banget sih!!" Alea berteriak di telinga Deon, sampe pengang telinganya. Deon mengusap-usap telinganya

"Buset dahsyat ya suara lo,"

"Bodoo,"

"Udah Yon, ngalah aja sama cewek. Coba cari di kelas lain siapa tahu ada bangku kosong. Ntar duduk di mejanya Didit noh,"  finally, Cleo si ketua kelas nyahut juga.

Deon mendengus. Memandang sinis ke Alea.

"Apa lo!"

"Untung cewek. Lu udah rusakin proses pdkt gue gentongg,"

"Bodo amat wlekk" Alea menjulurkan lidahnya mengejek ke Deon. Dengan kesal Deon berjalan keluar kelas.

Seisi kelas menggeleng-geleng melihat sepasang anak manusia yang ribut tadi. Nambah lagi si Lea biang rusuh, Deon aja gak habis-habis. Makin ribet dah kalo ada mereka berdua.

Sudah satu minggu proses belajar mengajar di SMA Paffela berjalan. Hari ini warga baru SMA Paffela sudah belajar dengan normal.

Masih tak ada perubahan pada keturunan Adam dan Hawa yg berbeda sifat itu. Selama seminggu Deon terus-menerus mengganggu Meira, membuat hidup Meira yang tenang menjadi risih.

Meira pov

Hari ini Minggu kedua aku menjadi siswi dari SMA Paffela. Tapi selama seminggu pula hidupku tak tenang gara-gara cowok songong pengganggu itu. Rasanya ingin pindah sekolah tapi gak mungkin. SMA ini sekolah impianku dari dulu.

Setelah turun dari mobil, aku berjalan di koridor sekolah. Di depan ruang tata usaha ada yang menepuk bahuku. Ketika aku berbalik, ada seorang siswi menatapku sambil tersenyum. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.

Aku mengerutkan dahiku bingung.

"Maaf, boleh nanya, Kelas X IPA 2 dimana ya?"

"Itu kelasku, mau bareng?" Tawarku

"Serius? Wah berarti kita sekelas dong. Kalo gitu kenalan dulu, gue Alea Alexandria panggil aja Alea." ujarnya sambil menjulurkan tangan

"Meira." jawabku seadanya menyambut uluran tangannya. Jujur, Alea ini teman pertamaku. Dia ramah, berbeda denganku yang sangat cuek.

"Okey, nice to meet you, Mei. semoga kita bisa berteman dengan baik." aku pun hanya mengangguk. Kemudian kami berjalan menuju ke arah kelas.

Di dalam kelas ternyata sudah penuh. Mungkin aku datang agak terlambat karena macet,untung belum telat.

Semua bangku sudah terisi kecuali bangku di sampingku. Si songong belum datang ternyata. Aku berjalan menuju bangku ku dan Alea mengikutiku. Tanpa permisi dia duduk di sampingku.

"Gue duduk sama lo ya Mei, bangkunya semua udah full kayaknya yang kosong cuma disini doang." aku mengangguk setuju. Mending duduk sama Lea daripada sama Deon, seenggaknya hidupku lebih tenang.

"Sebenarnya ya Mei, gue udah lulus bersamaan sama kalian pas tahun ajaran baru. Cuma gue gak ikut ospek karena sakit, jadi sekarang baru bisa masuk,"Gak ada yang nanya, tapi dia langsung cerita. Unik juga nih orang. Aku hanya menjadi pendengar yang baik.

"Gimana Mei rasanya sekolah disini? Seru gak? Seru pasti, tadi gue liat banyak yang bening-bening disini, ah betah deh gue"

"Bening-bening?"

"Duh, cowok-cowok good looking Mei, pada bening kan mukanya. Cuci mata tiap hari," demi apa Alea mengucapkannya dengan mata berbinar-binar. Rupanya dia penggemar cowok ganteng.

"Jomblo nih pasti," tebakku iseng. Alea mengerucutkan bibirnya, pertanda aku benar.  Aku hanya tersenyum melihatnya.

"Ya gak apa-apa sih, jomblo gak dosa. Be a high value woman," dan Alea mengangguk setuju.

Disaat kami berdua asik ngobrol, si Deon tiba-tiba datang menggebrak meja. Aku dan Alea berjengkit kaget.

"Siapa lo? Seenak jidat duduk di bangku gue," ketus Deon. Alea menatap cengo ke arah Deon.

"Mei dia siapa? Ganteng bangett," ujarnya histeris. Deon memandang bingung ke arah Alea

"Gak tahu, cowok freak" jawabku singkat. Deon menatap ku tajam, tak terima dibilang aneh. Ku tatap balik tak kalah tajam, akhirnya dia menciut.

"Pindah lo ah, lagian lo siapa sih? Salah kelas ya?" Ujarnya ke Alea. "Enak aja gue duluan duduk disini. Ini kelas X IPA 2 kan?" Deon mengangguk menjawab pertanyaan Alea.

"Nah berarti nggak salah dong. Gue baru bisa masuk karena kemarin sakit. Dan, kenalin, gue Alea. " ujarnya sambil menjulurkan tangan

"O, gue gak peduli. Gue maunya lo pindah!"

"Ih, gue gak mau! Gak ada tempat lagi kalo gue pindah," kekeh Alea.

"Bodo amat bukan urusan gue. Pindah gak?!"

"Gue bilang gak mau! Lo kok ganteng-ganteng annoying? Jadi ilfeel gue, gak jadi suka sama lo," ketusnya.

"Biarin, pindah ih!" Greget juga Deon lama-lama. Alea belum beranjak dari tempat duduknya. Semua memandang ke arah mereka aneh. Untung belum ada guru.

Deon memperlihatkan senyum smirknya.

"Oke kalo lo gak mau pindah dengan cara terhormat, gue harus pake cara lain."

Deon menarik paksa tangan Alea. Mereka berdua ini gak bisa akur ternyata. Sudahlah, selamat tinggal kedamaian.

"Dibilangin gue gak mau! Maksa banget sih!!" Alea berteriak di telinga Deon, sampe pengang telinganya. Deon mengusap-usap telinganya

"Buset dahsyat ya suara lo,"

"Bodoo,"

"Udah Yon, ngalah aja sama cewek. Coba cari di kelas lain siapa tahu ada bangku kosong. Ntar duduk di mejanya Didit noh,"  finally, Cleo si ketua kelas nyahut juga.

Deon mendengus. Memandang sinis ke Alea.

"Apa lo!"

"Untung cewek. Lu udah rusakin proses pdkt gue gentongg,"

"Bodo amat wlekk" Alea menjulurkan lidahnya mengejek ke Deon. Dengan kesal Deon berjalan keluar kelas.

Seisi kelas menggeleng-geleng melihat sepasang anak manusia yang ribut tadi. Nambah lagi si Lea biang rusuh, Deon aja gak habis-habis. Makin ribet dah kalo ada mereka berdua.

Sudah satu minggu proses belajar mengajar di SMA Paffela berjalan. Hari ini warga baru SMA Paffela sudah belajar dengan normal.

Masih tak ada perubahan pada keturunan Adam dan Hawa yg berbeda sifat itu. Selama seminggu Deon terus-menerus mengganggu Meira, membuat hidup Meira yang tenang menjadi risih.

Meira pov

Hari ini Minggu kedua aku menjadi siswi dari SMA Paffela. Tapi selama seminggu pula hidupku tak tenang gara-gara cowok songong pengganggu itu. Rasanya ingin pindah sekolah tapi gak mungkin. SMA ini sekolah impianku dari dulu.

Setelah turun dari mobil, aku berjalan di koridor sekolah. Di depan ruang tata usaha ada yang menepuk bahuku. Ketika aku berbalik, ada seorang siswi menatapku sambil tersenyum. Aku belum pernah melihat dia sebelumnya.

Aku mengerutkan dahiku bingung.

"Maaf, boleh nanya, Kelas X IPA 2 dimana ya?"

"Itu kelasku, mau bareng?" Tawarku

"Serius? Wah berarti kita sekelas dong. Kalo gitu kenalan dulu, gue Alea Alexandria panggil aja Alea." ujarnya sambil menjulurkan tangan

"Meira." jawabku seadanya menyambut uluran tangannya. Jujur, Alea ini teman pertamaku. Dia ramah, berbeda denganku yang sangat cuek.

"Okey, nice to meet you, Mei. semoga kita bisa berteman dengan baik." aku pun hanya mengangguk. Kemudian kami berjalan menuju ke arah kelas.

Di dalam kelas ternyata sudah penuh. Mungkin aku datang agak terlambat karena macet,untung belum telat.

Semua bangku sudah terisi kecuali bangku di sampingku. Si songong belum datang ternyata. Aku berjalan menuju bangku ku dan Alea mengikutiku. Tanpa permisi dia duduk di sampingku.

"Gue duduk sama lo ya Mei, bangkunya semua udah full kayaknya yang kosong cuma disini doang." aku mengangguk setuju. Mending duduk sama Lea daripada sama Deon, seenggaknya hidupku lebih tenang.

"Sebenarnya ya Mei, gue udah lulus bersamaan sama kalian pas tahun ajaran baru. Cuma gue gak ikut ospek karena sakit, jadi sekarang baru bisa masuk,"Gak ada yang nanya, tapi dia langsung cerita. Unik juga nih orang. Aku hanya menjadi pendengar yang baik.

"Gimana Mei rasanya sekolah disini? Seru gak? Seru pasti, tadi gue liat banyak yang bening-bening disini, ah betah deh gue"

"Bening-bening?"

"Duh, cowok-cowok good looking Mei, pada bening kan mukanya. Cuci mata tiap hari," demi apa Alea mengucapkannya dengan mata berbinar-binar. Rupanya dia penggemar cowok ganteng.

"Jomblo nih pasti," tebakku iseng. Alea mengerucutkan bibirnya, pertanda aku benar.  Aku hanya tersenyum melihatnya.

"Ya gak apa-apa sih, jomblo gak dosa. Be a high value woman," dan Alea mengangguk setuju.

Disaat kami berdua asik ngobrol, si Deon tiba-tiba datang menggebrak meja. Aku dan Alea berjengkit kaget.

"Siapa lo? Seenak jidat duduk di bangku gue," ketus Deon. Alea menatap cengo ke arah Deon.

"Mei dia siapa? Ganteng bangett," ujarnya histeris. Deon memandang bingung ke arah Alea

"Gak tahu, cowok freak" jawabku singkat. Deon menatap ku tajam, tak terima dibilang aneh. Ku tatap balik tak kalah tajam, akhirnya dia menciut.

"Pindah lo ah, lagian lo siapa sih? Salah kelas ya?" Ujarnya ke Alea. "Enak aja gue duluan duduk disini. Ini kelas X IPA 2 kan?" Deon mengangguk menjawab pertanyaan Alea.

"Nah berarti nggak salah dong. Gue baru bisa masuk karena kemarin sakit. Dan, kenalin, gue Alea. " ujarnya sambil menjulurkan tangan

"O, gue gak peduli. Gue maunya lo pindah!"

"Ih, gue gak mau! Gak ada tempat lagi kalo gue pindah," kekeh Alea.

"Bodo amat bukan urusan gue. Pindah gak?!"

"Gue bilang gak mau! Lo kok ganteng-ganteng annoying? Jadi ilfeel gue, gak jadi suka sama lo," ketusnya.

"Biarin, pindah ih!" Greget juga Deon lama-lama. Alea belum beranjak dari tempat duduknya. Semua memandang ke arah mereka aneh. Untung belum ada guru.

Deon memperlihatkan senyum smirknya.

"Oke kalo lo gak mau pindah dengan cara terhormat, gue harus pake cara lain."

Deon menarik paksa tangan Alea. Mereka berdua ini gak bisa akur ternyata. Sudahlah, selamat tinggal kedamaian.

"Dibilangin gue gak mau! Maksa banget sih!!" Alea berteriak di telinga Deon, sampe pengang telinganya. Deon mengusap-usap telinganya

"Buset dahsyat ya suara lo,"

"Bodoo,"

"Udah Yon, ngalah aja sama cewek. Coba cari di kelas lain siapa tahu ada bangku kosong. Ntar duduk di mejanya Didit noh,"  finally, Cleo si ketua kelas nyahut juga.

Deon mendengus. Memandang sinis ke Alea.

"Apa lo!"

"Untung cewek. Lu udah rusakin proses pdkt gue gentongg,"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HSD" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HSD
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Luka di Balik Seragam Putih
7.9
Aldian bertekad mengungkap misteri kematian adiknya yang penuh fitnah. Penyelidikannya tertuju pada seorang guru yang menyimpan rahasia kelam di balik reputasi terhormat. Di tengah rencana balas dendam, Aldian bertemu Aluna, putri sang guru yang hidupnya terkekang ambisi ibu. Meski awalnya hanya dianggap alat, Aluna ternyata memiliki luka serupa. Kini Aldian terjebak dilema antara menuntaskan dendam atau merajut cinta di atas kebenaran yang menyakitkan.
Sampul Novel Benci Membawa Cinta
8.2
Eleonore Duvall, pewaris sombong Duvall Enterprises, terjebak pernikahan dua tahun dengan Kaelan Ravenswood, pria yang dituduh membunuh keluarganya. Meski dianggap parasit, Kaelan menyimpan obsesi sejak malam rahasia mereka di masa lalu. Ia bertekad mencegah perceraian demi melindungi rahasia besarnya. Di tengah penyelidikan Eleonore atas kematian tragis keluarganya, kebencian mendalam mulai goyah oleh gejolak cinta yang tak terduga dan identitas asli sang suami.
Sampul Novel DIBUANG MANTAN TUNANGAN, DICINTAI MANTAN AYAH MERTUA
8.6
Reza berniat menepati janji pada sahabatnya dengan menjodohkan putranya, Krisna, dengan Vivi. Namun, Krisna justru mengkhianati Vivi dengan melamar wanita lain di hari ulang tahun gadis itu. Demi melindungi Vivi dan membalaskan rasa sakit hatinya, Reza mengambil langkah drastis yang mengejutkan seluruh keluarga. Ia melamar Vivi, mantan calon menantunya sendiri, agar wanita itu bisa merebut kembali martabat serta hak yang seharusnya ia miliki selama ini.
Sampul Novel Diculik Untuk Menjadi Ibu
9.2
Alina Daryanov adalah wanita karier ambisius yang hidup tanpa cinta. Usai kecelakaan tragis saat badai, ia terbangun di samping Ivan Vasiliev, konglomerat yang menjadikannya istri kedua. Alina ternyata diculik untuk menjadi ibu pengganti bagi pasangan kaya yang putus asa. Kini ia terjebak dalam pernikahan kontrak yang penuh manipulasi dan rahasia gelap. Alina harus memilih: tunduk pada tekanan hidup baru atau berjuang melawan permainan besar demi kebebasannya.
Sampul Novel Lelaki Yang Tak Terlihat Kaya
9.8
Gerald Crawford tidak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah drastis dalam semalam. Selama ini, ia mengira keluarganya hanyalah pekerja biasa di luar negeri. Namun, sebuah pengakuan mengejutkan dari orang tua dan saudara perempuannya mengungkap identitas aslinya. Gerald ternyata adalah pewaris takhta kekayaan bernilai triliunan dolar. Kini, sang pemuda harus menghadapi realita baru sebagai keturunan konglomerat yang selama ini tersembunyi.
Sampul Novel Moonlight and Mr. CEO
8.2
Nicholas Liu adalah CEO furnitur sukses di Hong Kong yang masih melajang hingga muncul rumor miring tentang orientasinya. Hidupnya yang tenang terusik saat ia terpaksa merawat kucing putih milik sahabatnya, Hanna. Karena enggan, Nic membiarkan hewan itu di teras. Namun, di bawah cahaya bulan purnama yang menyilaukan, kucing itu lenyap secara misterius. Sebagai gantinya, muncul seorang gadis cantik tanpa busana yang mengubah takdir Nic selamanya.