Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hot Mama And Could Daddy

Hot Mama And Could Daddy

Ditinggalkan Elena membuat Rio dan putra tirinya, Zain, harus bertahan dalam kesendirian. Meski tanpa ikatan darah, Rio belajar menjadi ayah seutuhnya bagi bocah misterius yang memiliki kemampuan meramal tersebut. Rahasia kelam Elena sebagai pelacur mulai terkuak saat Zain memperingatkan Rio tentang rencana jahat ibunya dan Sarah. Mereka berniat menjebak Rio dengan obat-obatan dan godaan malam ini. Rio kini terjebak dalam dilema antara rasa terancam dan kebahagiaan Zain.
Bab
Bagikan

Bab 2

Genap sudah dua minggu tanpa ibu dan benar apa kata paman dalam dua minggu aku mencoba melupakanya sejenak meski terkadang menangis sendiri jika mengingatnya bagaimanapun aku masihlah anak-anak yang menginginkan sosok ibu, namun aku juga harus menghargai usaha paman Rio menghiburku, melupakan pekerjaanya yang bertumpuk-tumpuk dan mengajak kemanapun yang ku mau tentu hanya berdua kami bercanda mengamati setiap orang-orang yang lengkap keluarganya.

"jika kau mau ibu pengganti yang sesungguhnya paman bisa mencarikanya untukmu"paman merubah panggilanya sejak dua hari yang lalu mungkin terbiasa dengan panggilanku, paman bukan ayah atau daddy atau apapun itu.

"tidak perlu, paman saja cukup menjadi ibu penggantiku"aku menikmati es krim ditangan setelah puas kesana kemari hanya membeli satu mainan murah, aku tak bohong itu murah bahkan paman menyuruhku mencari mainan yang lebih berkelas namun aku menolak bukan karna tak enak namun aku lebih menyukai yang sederhana.

"apa yang kurang dari diriku sebagai ibumu, apakah aku harus ganti kelamin juga?"aku tertawa sambil memandang satu anak kecil yang sendirian membawa boneka merah tedy bear, berkuncir dua tengah lewat didepanku senyumnya merekah membuatku terpesona beberapa saat hingga paman berbicara dan membuatku kembali fokus.

"paman cukup menjadi seorang teman bermainku saja itu lebih dari cukup"

"bagaimana jika paman mencari pasangan?, apa kau merestuinya?"

"tidak"

"mengapa?"paman menoleh menatapku penuh tanda tanya,

"karna aku hanya punya paman saat ini aku tak mau berbagi apalagi ibu tiri dia pasti kejam"

"Ha.. Ha..darimana kau mengetahui itu?"

"temanku paman, namanya Amelia dia sangat senang memiliki ibu baru saat telah resmi bersama ia diperlakukan tidak baik dan pada akhirnya sekarang ia harus tinggal dipanti asuhan karna ibu tiri itu"

"sungguh malang Amelia"

"dia sangat cantik paman, aku menyukainya"

"Ha.. Ha.. Kau masih anak-anak boy, bukan masamu tentang percintaan, kau harus belajar menjadi pria yang bisa melindungi ibumu"

"mungkin ibu saja yang tak ingin kulindungi"aku dan paman sepakat terdiam dalam sunyi entah angin apa yang membuat kamu tiba-tiba kembali teringat sosok ibu Elena aku jadi merindukanya saat ini,

"kau ingin es krim lagi Zain?"paman mencoba mencairkan lagi suasana yang keruh itu, membuatku senang entah karna apa

"tak perlu paman, aku ingin cepat-cepat pulang aku berjanji membawakan nasi padang ini untuk Miza(pembantu tertua), secepatnya"

"baiklah boy"paman berdiri membawakan mainanku yang lumayan besar, ia sama sekali tak malu membawa bungkusan makanan dan mainan yang lumayan besar berplastik hitam itu, bisa saja merusak citranya yang seorang Ceo ternama berbalut jas kerja mewah mengkilap itu, tak bohong beberapa kali paman digoda namun ia tidak tergoda.

"paman besok aku ingin ketaman bunga yang penuh bunga lili, tempat kegemaran Amelia"saat hendak berdiri tiba-tiba seseorang datang menghampiri kami, wanita itu sangat kukenal namun sepertinya ia lupa padaku, ia menangis seperti kehilangan uang milyaran rupiah, celingak-celinguk seperti mencari seseorang hingga pandanganya sangat fokus pada paman, beberapa kali ia mengatur nafasnya hingga benar-benar siap berbicara

"Tuan, apa kau tau dimana gadis kecil yang berkuncir dua?, membawa boneka tedy bear merah?"oke disini aku merasa tidak dianggap atau memang diriku yang terlalu kecil?.

"sepertinya tidak nyonya, memang kenapa?"paman sepertinya tak melihat gadis itu tadi karna paman tak kunjung memberi hal yang melegakan aku maju bak pahlawan bertopeng, yang membantu banyak orang

"aku tau nyonya, ia berlari kearah sana"wanita itu menoleh padaku yang ada disamping paman, cepat-cepat berjongkok menyelaraskan tingginya denganku, nampak sangat menyedihkan dengan buliran air mata yang terus jatuh dan hidung merah yang kentara bahkan beberapa detik aku sampai mengira bahwa itu bukan ibu tiri Amelia yang kejam dan dingin.

"nak katakan dimana kau melihat gadis itu?"

"dia berlari kearah sana kau bisa menghubungi pihak bantuan mall nyonya"aku menunjuk arah yang kuingat dengan jariku, benar kearah ekskafator yang sesak orang, kulihat ia berlari kesana beberapa menit lalu Amelia yang malang.

"terimakasih nak"wanita itu sepertinya tak mengenalku, ia berlari secepat kilat mencari anaknya yang hilang, paman mendekatiku ikut memandang punggung ibu tiri Amelia yang menjauh, beberapa saat aku teringat tentang gadis itu

"Amelia!"pekik ku kuat, benar gadis itu Amelia aku baru menyadari dari cara senyumnya meski yah bisa dibilang tempilanya berbeda, ia semakin cantik.secepat kilat aku bicara pada paman sambil menggandeng tangan kekarnya memohon

"paman, itu ibu Amelia ayo bantu dia menemukan Amelia paman"paman Rio menganguk menggendongku dengan santai karna ia tahu mungkin aku tak akan bisa berlari cepat, menggendongku yang hampir berbobot delapan belas kg sambil membawa bungkusan mainan besar paman benar-benar tak kualahan dengan itu, ia berjalan santai dengan kaki panjangnya membuatku berdegus karna tak sabaran

"paman cepat, Amelia bisa-bisa pergi semakin jauh"bukanya semakin mencepatkan langkah paman malah berhenti mematapku sejenak dengan tatapan khasnya membuatku semakin bingung

"aku yakin Amelia tidak akan jauh dari sini, kau lihat wanita itu dia telah menemukan anaknya"aku menoleh kearah tempat yang ditunjukan paman, banyak orang mengerubungi disamping ekskafator, ada ibu yang terseduh-seduh menangis sambil memegangi anaknya yang penuh darah sepertinya ia jatuh

"Amelia!"pekiku semakin yakin bahwa itu Amelia

"antar aku kesana paman!"paman hanya mengganguk sembari berlari kecil kearah ekskafator itu, ia membelah beberapa kerumunan orang yang hanya asik melihat tanpa berniat menolong membuatnya geram dan secepat kilat menaruhku aku terdiam tepat dihadapan ibu tiri Amelia yang masih setia menangis histeris, paman menaruh barang-barang ditanganya ia melepas jas dan menggendong tubuh Amelia ditanganya, ia berlari memecah kerumunan sembari berbicara singkat pada orang-orang

"jika tak berniat menolong lebih baik tak usah melihat, jangan jadi manusia bodoh"paman berlari secepat kilat membawa Amelia keruang kesehatan mal, aku membantu ibu tiri Amelia berdiri, yang sekarang kutahu namanya adalah Zahra baru kuingat sejak beberapa menit yang lalu

"Amelia... Amelia... kasian kau"Zahra hanya menangis sembari mengulang kata-kata itu berulang kali seiring dengan tangisnya yang tak pernah berhenti, aku hanya mengikuti dari belakang sedangkan ia berjalan sendiri didepan sembari menangis beberapa orang pasti mengira ia gila dengan menyebut nama orang sambil menangis belum lagi keadaanya yang acak-acakan.

__

"apa yang tejadi pada Amelia paman?"disudut ruangan yang pengap ini, paman dan aku saling terdiam kentara paman sangat khawatir pada Amelia meski tak mengenalnya namun ia mencoba profesional bersikap baik-baik saja, membuatku yang duduk disebelahnya segera bergerak melakukan sesuatu, mencoba mengajaknya bicara.hanya ada paman yang kulihat setelah sampai disini.

"lukanya sangat parah ia harus dibawah kerumah sakit agar mendapat perawatan yang tepat"aku hanya mangut-mangut paham, kasihan dengan nasib Amelia baru saja kupikirkan ia telah celaka.

"Apa Amelia temanmu?"aku mengganguk sekali lagi, menatap wajah dingin paman yang terlihat sedikit guratan sedih diwajahnya membuatku heran apa yang terjadi padanya

"jaga dia"

"tentu saja paman, itu tugas lelaki"paman mengacungkan jempolnya lalu menatap datar kursi dihadapanya yang kosong, lorong ini benar-benar jarang dikunjungi maka dari itu tempatnya sangat sepi dan mencekam meski ini masih siang hari

"aku punya anak gadis Zain, seumuran denganmu dan cantik seperti Amelia hanya saja karna aku melupakan tugasku sebagai lelaki aku membuatnya pergi kesurga dan tak akan pernah kutemui, anakku pergi istriku pun pergi, aku sendiri."

"paman sekarang punya Zain, bukanya paman yang berjanji tidak akan mengingat tentang ibu lagi?"

"bukan itu maksudku"

"aku tau paman, paman pasti menyesal telah kehilangan anak gadis paman tapi apa hubunganya dengan semua ini?"aku menatap paman Rio yang menghembuskan nafas pelan, apa salah aku berbicara seperti itu? hingga membuatnya semakin sedih.

"Amelia adalah nama anakku sama seperti temanmu, dan dia mengalami nasib yang sama dengan Amelia hanya saja dia pergi secepat itu namun Amelia berhasil selamat sedangkan anakku tidak, itu karna aku tak becus menjaganya"

"rasanya kejadian ini seperti nostalgia bagiku, mengingatkan kembali tentang tragedi itu seolah semua memang harus terjadi seperti ini entah apa maksud tuhan padaku"aku menatap wajah paman iba terlihat sekali ia menahan tangis dimatanya, bingung harus melakukan apa lebih baik mendengar cerita selanjutnya, aku memasang telinga kuat-kuat mencoba memahami perasaan paman lewat cerita yang ia bicarakan.

Flashback

"pergilah sendiri Amelia, jangan jadi anak yang manja apa kau tak lihat Mom dan Daddy masih sibuk memilih belanjaan"Sarah—istri Rio memandang Amelia singkat sebelum kembali bergelayut manja pada lengan kekar suaminya, sedikit risih pada keberadaan anaknya yang tadi merengek ingin beli es krim yang ada dilantai bawah mal, membuatnya memutar bola malas jenuh mendengar rengekan mengesalkan itu harusnya tadi ia tak mengajak Amelia ikut berbelanja kebutuhanya.

"tapi Amelia takut mom, Amelia tak bisa turun ekskafator sendiri"Amelia merengek memberi jeda pada ucapanya lalu berucap lagi dengan nada pelan"Amelia ingin ditemani Dad"

"Anak tidak tahu diri sudah kubilang berapa kali jangan ganggu Dad ketika bersamaku, seharusnya kau dirumah bersama bibi tersayangmu itu, kau hanya merusak pagi spesialku!"Sarah marah membentak dengan lantang bahkan didepan suaminya sendiri beberapa orang yang lewat bahkan menatapnya dengan gemas bagaimana ibu tega melakukam hal itu pada anaknya sendiri, sedangkan Rio disamping bingung harus membela siapa karna sejujurnya ia tak ingin membuat istrinya marah kali ini, namun ia menghela nafas pelan mencoba berbicara baik-baik

"sudahlah aku akan menemani Amelia, kau bisa menunggu sambil memilih baju yang ingin kau beli itu tak akan lama"Sarah hanya melotot tak suka ia bersendekap dada membuang baju-baju ditanganya, sungguh emosi ia kali ini sangat kesal karna sejak Amelia hadir kasih sayang suaminya kini telah turun mulai fokus menemani anak kandungnya itu, ia sangat tak suka kasih sayang Rio dibagi pun itu berlaku pada anaknya, Amelia.

"kau pilih aku atau Amelia?"Rio hanya menghela nafas kasar lagi-lagi ia harus merelakan kejantananya hilang sebagai seorang ayah, Rio berjongkok mensejajarkan tingginya dengan Amelia anak gadis pertamanya yang sangat cantik dan murah senyum membuatnya tenang walau hanya melihat senyum itu

"Amelia ingin dengan Dad, kali ini saja Amelia mohon hanya beli es krim sebentar"Rio mengelus surai anaknya lalu menyelipkan dibelakang telinga, adegan seperti ayah yang sangat menyayangi putrinya

"bagaimana jika nanti?"Amelia hanya menggeleng pelan lalu merengek lagi dengan nada lebih memilukan

"hanya kali ini saja Dad, kumohon... karna Amelia tau Dad hanya berbohong pada akhirnya Amelia hanya akan pergi dengan Miza"Rio menghela nafas kasar perang batin dengan dirinya sendiri, menatap putrinya lamat ada rasa haus kasih sayang disana membuatnya seketika ingat bahwa ia sama sekali tak becus menjadi ayah ingatan itu membuat hatinya sakit, benci pada dirinya sendiri

"baiklah mari kita borong semua rasa es krim dimal ini"Amelia tertawa mengganguk singkat, tersenyum sangat lebar lalu memeluk Rio dengan sangat erat membisikan sesuatu yang membuat Rio hampir menangis itu, suaranya sungguh merdu tak akan Rio dapat dimanapun ia baru mengingat Amelia sangat memimpikan menjadi penyanyi

"Daddy adalah ayah terbaik didunia ini, Amelia sangat sayang pada Daddy kuharap Daddy pun sama"

"Daddy sangat-sangat mencintai dan menyanyangi Amelia cinta Daddy sebesar bumi dan isinya, sangat besar dan tak terhitung jumlahnya"keduanya saling tertawa singkat, lalu bersiap akan pergi membeli es krim dilantai bawah bahkan melupakan Sarah yang sekarang tengah dikerubungi api kemarahan, nampak mengebu-ngebu bahkan keluar asap seperti yang difilm-film kartun, saat satu langkah Rio akan pergi disitulah Sarah tak bisa memendung kemarahan lagi

"Jangan pergi bodoh!, jangan tinggalkan aku atau aku akan nekat"Sarah memegang cutter ditangan kananya mengarahkan pada denyut nadi ditangan kirinya, menghadang Rio yang akan lewat, baik Rio maupun Amelia sama-sama terkejut Sarah memang nekat namun tidak ditempat umum ini, masih beruntung bahwa toko ini sepi pengunjung

"Sarah!"Rio berseru marah melepas gandengan tanganya dengan Amelia dan memeluk tubuh istrinya erat hingga cutter itu jatuh dan menyisakan tangis bagi Sarah, lagi-lagi ia berhasil menipu suaminya Sarah bisa saja nekat jika itu menyangkut tentang kehidupanya inilah yang membuat Rio lebih banyak menuruti kemauan Sarah daripada memberi sedikit perhatian kecil pada Amelia, Sarah benar-benar cemburu buta pada cinta.

"jangan tinggalkan aku, aku telah sabar menunggu hari cuti ini untuk dinikmati berdua jangan sampai hanya karna ganguan kecil kau lebih memilih pergi"Sarah terisak didada suaminya ia memang paling jago berakting karna sedikit bercampur dengan perasaan membuat semua ini menjadi benar-benar profesional

"aku hanya sebentar menemani Amelia kebawah lalu kembali kesini, apa itu juga membuatmu cemburu, takut kehilanganku?"Rio menjawab dengan sedikit ketus tatapan Amelia yang terjadi beberapa menit lalu membuatnya sedikit berubah, mulai berani mengatakan apa yang harusnya ia katakan rasanya Rio mulai menyadari sesuatu

"sial"pekik Sarah dalam hati

"kumohon hanya kali ini saja besok aku akan memberimu waktu bersama Amelia berdua saja"Rio tersenyum singkat lalu melepas pelukan mereka, menghapus air mata istrinya yang masih deras menetes

"jangan terlalu banyak menangis tak baik untukmu yang sedang mengandung"Sarah menganguk menghapus air matanya sendiri

"maka jangan buat aku menangis"Rio hanya tertawa singkat lalu berjongkok menatap putrinya yang kecewa, sebelum Rio berbicara Amelia lebih dulu menyela sambil mati-matian menahan air matanya jatuh

"Daddy jahat, Amelia benci namun Amelia tak bisa melakukan itu pada Daddy, Amelia sebenarnya ingin sangat sangat ingin bersama dengan Daddy meski itu hanya satu kali dalam waktu yang lama, namun Daddy tak menyayangi Amelia seperti yang Daddy bicarakan, sebesar bumi dan isinya dan tak terhitung jumlahnya semua itu bohong daddy lebih menyayangi Mom daripada Amelia tapi tak apa... Amelia sudah biasa tanpa kehadiran daddy"baik Sarah maupun Rio hanya terdiam mendapat pengakuan dari anak mereka, Rio benar-benar bingung sang ibu sangat egois dan sedang dalam mode sensitif karna hamil sedangkan sang anak terlalu banyak mengalah mereka berdua sama-sama orang yang Rio cintai namun Rio selalu bersikap tak adil pada Amelia, Rio benar-benar bingung harus melakukan apa saat ini

"apa gunanya kau punya kaki Amelia, kau bisa kesana sendiri membeli sendiri es krim yang kau inginkan, jangan jadi anak yang manja yang terus merengek pada sang ayah"Sarah bicara ketus semakin tak punya hati pada anak kandungnya itu

"Amelia akan pergi sendiri Mom bahkan sampai kapanpun Amelia tak akan bisa pergi dengan daddy berdua"Amelia menghapus air matanya dalam sekali suap tangan, ia tak butuh orang lain untuk menghapus air matanya, Amelia berjalan sendiri membawa uang pemberian Rio tadi, ia pegang kuat-kuat sambil berjalan melewati ibunya tanpa tersenyum seperti biasanya, membuat Sarah sedikit merasakan sakit dihatinya.

Flashback off

"dan setelah itu kami bertengkar singkat hanya karna Amelia beberapa menit orang-orang mulai berlarian melihat orang kecelakaan diekskafator hanya karna bocah itu ceroboh menaruh kakinya dipijakan yang salah terpeleset kesamping dan jatuh dari lantai dua, dan detik itu aku berlari dengan cepat menerobos kerumunan yang hanya terdiam tanpa berniat menolong membuatku marah sejadi-jadinya, mengatakan apa saja sambil memeluk erat tubuh Amelia yang penuh darah dan setelah itu Amelia dinyatakan mati ditempat ini dan dokter yang sama menangani Amelia temanmu itu"hanga terdiam seribu bahasa, aku yang masih tujuh tahun ini tak paham apapun tapi melihat wajah paman Rio yang gusar aku hanya mangut-mangut meski tak paham satupun ceritanya.

"Ha.. Ha.. Maafkan aku telah bercerita hal yang seharusnya tak kau dengar Zain"

"lalu apa yang terjadi setelah itu paman?"

"kau tau Sarah sangatlah egois dan aku baru menyadari akhir-akhir ini aku menyalahkan kematian Amelia itu karnanya namun ia membantah dengan keras menangis sejadi-jadinya dan meminta cerai, diantara bingung dengan semua itu aku hanya pasrah melepaskan dan mengikhlaskan meski itu sangat-sangat berat walau terkadang aku selalu berpikir akan ada kesempatan untuk memperbaiki apa yang salah"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan
9.5
Demi membalas penderitaan keluarganya, Layla berpura-pura mencintai seseorang dalam sebuah rencana balas dendam yang matang. Namun, ambisinya terancam saat perasaan tulus mulai tumbuh di tengah misinya. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara menuntaskan dendam masa lalu atau menyerah pada cinta yang tak terduga. Akankah Layla tetap pada tujuannya, atau justru melepaskan segalanya demi perasaan itu? Ikuti kisah penuh intrik dalam Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan.
Sampul Novel Cinta Joanna
9.0
Dunia Joanna Alexander seketika hancur berkeping-keping saat mendapati kekasih yang sangat dicintainya tega berkhianat dengan teman dekatnya sendiri. Namun, penderitaan Joanna tidak berhenti di situ saja. Sebuah rahasia besar yang telah disembunyikan orang tuanya selama belasan tahun akhirnya terungkap ke permukaan. Di tengah badai emosi yang mengguncang hidupnya, mampukah Joanna melapangkan dada dan memaafkan kesalahan besar orang tuanya tersebut?
Sampul Novel Kau Tak Pernah Mencintaiku
9.3
Aurora terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Leandro, pengusaha sawit kaya. Meski hidup mewah, ia menderita akibat dominasi ibu mertua dan kekejaman adik iparnya. Leandro tak pernah memihaknya hingga Aurora merasa terasing. Penderitaannya memuncak saat kakak kandungnya, Ravela, hadir dan mulai menggoda suaminya. Pengkhianatan ini menghancurkan jiwa Aurora, terutama ketika ia menyaksikan Ravela keluar dari kamar Leandro pada suatu malam yang kelam.
Sampul Novel Maaf, Kami Pernah Berzina
8.5
Demi tanggung jawab sebagai kakak angkat, aku terpaksa menikahi Niken yang hamil oleh adikku, Nara. Hal ini terjadi karena Nara telah terikat pernikahan paksa dengan Nada. Konflik memuncak saat aku diminta melakukan perbuatan nista dengan Nada agar dia mengandung, sebab Nara bersumpah tak akan menyentuh istrinya demi kesetiaan pada Niken. Di tengah dilema moral ini, sanggupkah aku merusak kehormatan Nada yang merupakan wanita baik-baik?
Sampul Novel Melamar Anakku Sendiri
9.5
Dominik Fedorov berencana menikahi kekasihnya yang tengah mengandung, namun penculikan tragis memisahkan mereka secara paksa. Selama puluhan tahun, Dominik gagal menemukan jejak wanita itu hingga tekanan keluarga untuk menikah terus menghantuinya. Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali di sebuah pertemuan tak terduga. Saat Dominik berniat melamar seorang gadis muda, ia justru berhadapan lagi dengan Larisa, cinta masa lalunya yang sempat hilang misterius.
Sampul Novel MENIKAHI CEO KEJAM
9.5
Obsesi Jennifer pada Maximilian Jefferson, pengusaha real estate Jerman, berujung penyesalan. Awalnya ia berniat meminta maaf pada kakak korban perundungannya, namun Jennifer justru menjebak Max dalam pernikahan karena cinta buta. Meski disiksa secara emosional, ia bertahan hingga fakta kelam terungkap bahwa Max adalah dalang kematian ayahnya. Saat cinta Jennifer berubah jadi benci, Max justru mulai mencintainya. Akankah dendam memisahkan mereka selamanya?