Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Hot Mama And Could Daddy

Hot Mama And Could Daddy

Ditinggalkan Elena membuat Rio dan putra tirinya, Zain, harus bertahan dalam kesendirian. Meski tanpa ikatan darah, Rio belajar menjadi ayah seutuhnya bagi bocah misterius yang memiliki kemampuan meramal tersebut. Rahasia kelam Elena sebagai pelacur mulai terkuak saat Zain memperingatkan Rio tentang rencana jahat ibunya dan Sarah. Mereka berniat menjebak Rio dengan obat-obatan dan godaan malam ini. Rio kini terjebak dalam dilema antara rasa terancam dan kebahagiaan Zain.
Bab
Bagikan

Bab 3

Author pov

Diruangan itu penuh dengan buku berjajar dilemarinya dan satu komputer yang menjadi objeknya, Rio dengan kacamata yang bertengger dihidung mancungnya sangat fokus mengetikan apa saja laporan yang diterima sekali-sekali direvisi dan dimuat ulang untuk mendapat data yang lebih akurat untuk bahan meeting minggu depan, meski punya banyak karyawan Rio tak mudah lepas tangan soal pekerjaan ia harus meneliti hingga benar-benar seperti yang diinginkan

Rio bisa pulang lebih cepat bisa juga hingga pulang pagi lagi tergantung keadaan jika dulu ia sangat sibuk kerja hingga melupakan Sarah dan Amelia sekarang Rio lebih berfokus pada kehidupan barunya bersama Zain orang baru yang menemani paginya hari ini, jika mengingat-ingat kejadian pagi tadi kembali Rio memutar memori beberapa jam yang lalu, sarapan pagi yang tak pernah ia jumpai dimanapun

Flashback

"apa kau masih yakin dengan pilihanmu?, aku tak apa jika harus pergi kau bisa membawa Amelia sendiri tanpaku"Zahra duduk disamping kasur Rio ia yang masih sibuk membenarkan dasinya, Zahra memang bisa dibilang lancang tiba-tiba masuk kamar tanpa mengetuk pintu padahal ia hanya tamu disini, namun beruntung Rio tak mempermasalahkan hal tersebut mungkin Zahra terburu-buru pikirnya.

"kau boleh tinggal disini rumah ini luas dan butuh banyak penghuni"Rio selesai dengan dasinya ia ikut duduk disamping Zahra yang terdiam gugup entah apa yang terjadi padanya, apalagi saat Rio mendekat mengambil hape yang ada disamping Zahra sambil manatap Zahra datar, wajahnya semerah udang rebus ketika mata mereka saling beradu lalu Zahra memutus tatapan mata itu

"jangan memandangku seperti itu bodoh!kau bisa semakin membuatku jatuh cinta"batin Zahra kesal dalam hati

"aku menitipkan Zain padamu kau bisa mengajaknya menjenguk Amelia"Zahra hanya menganguk singkat sambil mengalihkan pandanganya kearah lain

"dan ini"black card yang baru pertama kali Zahra lihat, kartu atm yang sangat ia impikan Zahra hampir melotot ketika Rio memaksanya menerima atm itu "anggap saja uang jajan Zain"Zahra semakin melotot, uang jajan? Padahal dijamanya dulu tak ada kartu seperti ini andai saja Zahra jadi Zain pasti hidupnya amat-amat bahagia, sejak kecil telah mendapat uang sebanyak ini.

"kau bercanda?, menurutku ini sangat banyak"

"nanti sore aku akan pulang lebih awal mengajak Zain ke taman lili dan pulang agak larut kau boleh menginap dirumah sakit untuk menemani Amelia"Rio pergi keluar kamarnya bergabung bersama Zain yang siap makan rapi dengan tampilanya yang menawan, lucu Zain sangat mirip dengan Amelia anaknya, wajahnya terpahat sempurna sangat-sangat mirip dengan Elena, mengingat Elena membuatnya teringat sesuatu tentang tadi malam

'halo a-apa ini k-kau Rio?'seseorang disebrang sana berbicara melalui sambungan telepon nadanya sangat gemetaran ditengah kebisingan suara yang beradu, nampaknya ia menangis namun berusaha ditutupi

"Elena?"Rio mematikan komputernya meninggalkan pekerjaan yang sebentar lagi selesai, telpon yang tak sengaja ia jawab ternyata dari orang penting membuatnya sedikit terkejut

"yah ini aku Elena, aku sedang emm berada di-kau tak perlu tau!, aku tak punya banyak waktu untuk berbasa-basi intinya aku ingin Zain kembali padaku"Rio hanya mengangguk sangat hafal jika ini benar-benar Elena yang asli, cerewet dan tidak jelas seperti sikapnya dulu.

"lalu?"

"aku ingin mengambil Zain"

"ohh"

"Huuh mengesalkan sekali dirimu sama sekali tak berubah, aku ingin Zain cepat kembalikan dia padaku!"Elena benar-benar sudah kehabisan kesabaran didalam keadaan segenting ini masih bisa ia hanya bersikap biasa, sungguh lelaki yang sangat dingin.

"bukanya kau yang meninggalkanya demi kehidupan pribadumu?, apa kau masih waras dengan mengatakan hal itu?"

"Rio dengar, aku tak punya banyak waktu berbicara hal yang tak penting denganmu tak sempat meladeni pertengkaran ini, aku butuh Zain aku ibunya aku berhak hidup bersamanya meski aku telah meninggalkanya"Elena menangis disebrang sana entah tangisan palsu atau asli yang pasti tangisanya jelas terdengar ditelinga Rio, ia hanya menatap datar tanpa ada rasa iba direlung hatinya

"aku tidak akan mengizinkan Zain bertemu denganmu"

Pip

Sambungan mati dan percakapan itu berakhir sedetik setelahnya telfon berdering lagi, dari nomer tidak dikenal pasti Elena ia sungguh malas berhadapan dengan wanita itu lagi segera Rio menghapus dan memblokir nomernya menaruh hapenya sembarangan dan duduk dimeja kerja pribadinya sambil mengusap wajahnya gusar,

"Elena, sampai kapanpun kau tak akan pernah bisa bersama Zain, sama sepertiku kau harus merasakan sakitnya perbuatanmu karna tak benar menjadi seorang orang tua"

"paman.."

"paman.."Zain mengadahkan tanganya mencoba membuat Rio tak lagi melamun namun beberapa panggilan tak berhasil membuatnya tersadar, Zain mengambil sendok dipiringnya mengetukanya di kepala Rio

"Aww Zain, apa yang kau lakukan?"Zain hanya nyengir lalu kembali membenarkan posisi duduknya siap makan sandwich kesukaanya melupakan Rio yang merintih kesakitan

"kenapa paman melamun, apa paman memikirkan tentang ibu?"

"iya, hanya sedikit"Zain hanya mangut-mangut sambil menikmati sandwichnya dengan lahap, rasanya sangat sepi dimeja makan yang sebesar ini namum hanya dua orang yang menempati, Zain melihat Zahra namun tak ada untuk makan bersama kemana wanita itu pergi?

"paman, aku memimpikan tentang ibu dia datang mengambilku entah mengapa rasanya aneh ketika melihat ibu"Rio seketika menoleh menatap Zain melotot, tak percaya.

"apa yang aneh darinya?"

"ibu sepertinya kembali seperti dulu, yang suka pulang dengan aroma mawar yang menyengat dan bekas merah dimana-mana, selalu pulang dipagi hari dan bangun bekerja dengan dandanan yang sangat cantik ia selalu tak memperdulikanku waktu dulu paman"Zain memang bocah pintar Rio mengakui itu bahkan diusia yang saat ini Zain mampu mendeskripsikan bagaimana kacaunya ibunya saat itu membuatnya harus menelan sakit berkali-kali pasti sulit bagi Zain, ataupun Elena dengan semua itu diusia yang masih sama-sama muda mereka berdua butuh seorang penopang.

"itu hanya mimpi Zain jangan dianggap nyata"

"aku tau paman tapi... Aku sangat rindu ibu meski dia sama sekali tak merindukanku"Zain menjeda ucapanya sebelum akhirnya mengucapkan hal selanjutnya lebih lirih dan sedih"maafkan aku paman lagi-lagi mengingat tentang ibu"

"sepertinya kau memang sulit jika tak tinggal denganya, Zain aku bisa mengantarkanmu pada ibumu"

*****

"permisi pak, ada laporan yang harus anda tanda tangani"Sila—sekertaris Rio terdiam sedari tadi melihat sang bos yang tak kunjung menjawab panggilanya, ia curiga jangan-jangan direkturnya ini sedang kerasukan sesuatu namun jika dipikir-pikir sepertinya tak mungkin, setan mana yang berani merasuki seorang presdirnya ini bahkan bisa saja mereka lari ketika melihat Rio secara banyak orang mengatakan aura dari seorang Rio sangat-sangatlah terang entah apa itu maksudnya.

"pak..."

"pak Rio..."

"pak Rio... Apa anda benar kerasukan?"Sila berdadah tepat muka Rio dan seketika itu Rio sadar dan menatap Sila datar mencoba untuk terlihat cool padahal aslinya ia bingung kenapa Sila tiba-tiba hadir diruanganya

"ada apa Sila?"

"bapak tanda tangan disini dan ini data-data pemasukan bulan ini jika ada kesalahan bapak bisa memanggilku diruangan samping"sambil menyodorkan berkas dan data dalam bentuk flashdisk sesekali Sila curi pandang menatap wajah presdirnya yang sangat tampan itu, andai saja Rio tak menikah dengan Elena dulu sudah dipastikan Sila yang akan menggantikan posisi itu, menjadi istri dari presdir tampan dan kaya raya.impian Sila sejak kecil.

"kenapa kau terburu-buru pergi Sila?"Sila hanya menahan senyum sebelum langkahnya benar-benar membuatnya tak menduduki kursi itu lagi, ia kembali terduduk berharap hal yang ia harapkan terjadi bodoamat soal punya istri selagi bisa Sila akan mencoba meski caranya salah.

"saya takut mengangu bapak bekerja"ucap Sila memang sengaja dihalus-haluskan agar terlihat lebih anggun itu pikirnya padahal dimata Rio ia seperti bicara layaknya perempuan biasa

"apa kau sibuk?"Sila lagi-lagi menahan senyum menatap wajah tampan presdirnya yang masih stay menatap laporan itu sesekali ditandatangi

'semoga pak Rio mengajakku makan siang, kabulkanlah yatuhan'Sila membatin dalam hati, ralat berdoa ia sangat berharap Rio mengajaknya makan siang bersama dan semoga tuhan mau mengabulkanya, meski kemungkinan itu hanya dua puluh persen karna Sila bukanlah anak yang rajin apalagi penurut pada orang tua sudah dipastikan doanya tidak mustajabah.

"apa pekerjaanmu telah usai?"

"masih banyak, namun saya memiliki waktu yang cukup untuk menyelesaikan pekerjaan sebelum besok"Rio hanya mengangguk paham sama sekali tak menatap Sila didepanya yang berwajah sangat-sangat penuh harapan, ia masih fokus pada apa yang ia kerjakan

"bisa kau membantuku Sila?"

"Katakan saja!"ucap Sila cepat membuat Rio mengangkat wajahnya menatap Sila, ia membenarkan kacamatanya sebelum akhirnya mengatakan hal yang membuat Sila kecewa berat bahkan marah namun tak akan mampu ia luapkan,

"buatkan aku kopi katanya kau sangat jago meracik kopi, bukanya kau dulu seorang barista?"

'sial, Rio brengsek!'pekik Sila dalam hati sangat tak habis pikir dengan ucapan presdirnya ini, yang telah membuatnya berkali-kali sakit hati namun hebatnya kembali menaruh harap dan berjuang meski Rio telah menikah

"apa tidak ada lagi pak?"

"itu saja"Sila hanya menganguk sambil hendak melangkah pergi namun teringat sesuatu, ia mengambil amplop putih disakunya memberikanya pada Rio, tadi pagi seseorang menitipkan padanya untuk diberikan pada Rio Sila tak tau siapa pengirimnya karna yang memberikan adalah serorang ojek online hanya tertulis untuk Rio didepan amplopnya

"untuk bapak"amplop itu telah dipegang Rio tugas Sila telah selesai entah mengapa ia sangat lega telah memberikan amplop itu pada pemiliknya seolah-olah didalamnya terdapat hal yang sangat penting, setelahnya Sila keluar menyisakan Rio yang termenung menatap amplop putih itu saat ia membukanya panggilan telepon tiba-tiba masuk dan menjeda aktifitasnya

"Rio, apa kau ada waktu sore nanti?"

"Sarah?"perempuan dibalik telpon itu tersenyum singkat lalu menjawab lagi dengan nada khasnya, setelah hampir dua tahun Sarah sama sekali tak menemuinya dan sekarang ia menelpon ingin bertemu sungguh kejutan yang luar biasa

"benar, ada hal yang harus aku bicarakan maaf menelponmu secara tiba-tiba"

"katakan saja"

"bisa kita bertemu?"terdiam Rio hanya termenung tanpa berniat menjawab, tubuhnya seketika gemetar pasti sesuatu terjadi pada Sarah saat ini tak biasanya Sarah menelpon secara tiba-tiba

"katakan disini aku sedang sibuk bekerja"Sarah menghembuskan nafasnya kasar ada beban yang seperti coba dikeluarkan dari nafas tersebut ketika mendapat ucapan dari Rio,

"nanti sore, kuharap kau bisa ini sangat penting bagiku"Sarah tak peduli jika ia memohon, ini sangat penting baginya dan hanya Rio yang dapat memahamimya

"maafkan aku, Sore nanti aku harus menemani Zain ke taman Lili, mungkin lain hari kita bisa bertemu"

Deg

Sarah meneteskan air matanya, apakah ini karma?, atau Rio memang terlalu benci padanya?, yatuhan Sarah ingin bunuh diri saat ini orang yang sangat-sangat ia butuhkan ternyata tak menanggapinya juga harus dengan siapa ia meminta bantuan, Sarah menyerah dibalik telpon itu ia menyilet tanganya sendiri menahan perih sambil mengingit bibir agar tak ada rintihan disana, rutinitasnya sejak dua tahun yang lalu saat perpisahanya dengan Rio

"Sarah?"

"Sarah?apa kau baik-baik saja?"Rio terdiam sambil menahan cemas, Sarah gadis itu sangat-sangat nekat meski tak ada rintihan dibalik telpon namun firasat Rio mengatakan Sarah sedang menangis sambil melukai dirinya

"Sarah!"

"Rio, siapa Zain?"

"Anakku"

"oh, kau telah memiliki istri?"

"ya"

"Ha... Ha... Lucu sekali diriku telah lancang ingin kembali padamu, maafkan kesalahanku Rio"lagi-lagi terdiam Rio benar-benar tak habis pikir dengan Sarah, wanita ini pasti sedang depresi berat membuatnya sangat-sangat cemas

"apa yang terjadi Sarah?"dibalik telpon Sarah tersenyum menghentikan aktifitasnya membuka jendela kamar dan menatap pemandangan luar, setidaknya Rio masih perhatian, benar Rio masih sangat mencintainya ia masih memiliki kesempatan dan Sarah berjanji akan memperjuangkan kehilangan tak semudah itu diiklhaskan dan mengikhlaskan tak semudah itu melepaskan, Sarah benci dirinya sendiri ia selalu bergantung dan tak bisa hidup mandiri membuatnya harus mengemis cinta lagi, untuk dikasihani dan diberi kesempatan kedua.

"Jika kau ada waktu, hubungi aku aku ingin memperbaiki apa yang salah"

"apa yang kau bicarakan?"

"aku akan menemuimu besok meski kau tak ingin kutemui"

Pip

Rio menghembuskan nafas kasar hampir saja membanting hapenya jika Sila tak segara datang, ia berkeringat dingin melihat tatapan presdirnya yang berapi-api dengan langkah sangat pelan Sila menyuguhkan kopi, menaruhnya dimeja dan terdiam beberapa menit mengatur nafas untuk menyampaikan sesuatu setelah mulai mendingin Sila angkat bicara

"nanti sore ada jadwal meeting pak, dengan client besar dan meeting ini adalah investor yang bertaruh banyak dengan harga saham perusahaan, semua data telah disiapkan, bapak bisa merevisi jika perlu"

"batalkan saja meetingnya"Sila melotot tak percaya

"apa bapak yakin"hanya anggukan yang membuat Sila semakin memanas, ini adalah kesempatan besar dan ia telah mempersiapkanya telah lama Sila tak yakin jika lelaki dihadapanya benar-benar seorang Rio

"tapi pak–"

"batalkan saja Sila, aku harus menemani Zain ketaman Lili nanti"Sila melotot hampir mengeluarkan matanya, merelakan meeting penting hanya untuk ketaman lili bersama anak tiri apakah kau bercanda?, Sila benar-benar tak habis pikir dengan perubahan Rio yang sangat drastis ia hampir pingsan namun tak jadi ia tak ingin semakin merepotkan bosnya yang sedang aneh hari ini, Sila hanya pasrah tanpa protes lalu berjalan keluar ia tak punya hak apa-apa disini, ia hanya karyawan bukan bos yang bisa berlaku apa saja.

Rio duduk dikursinya dengan frustasi, belum kelar dengan Elena sekarang Sarah datang tiba-tiba, lagi-lagi masalah tentang wanita ia bingung karna Rio sama-sama merasakan sakit hati karna dua wanita itu, Elena yang pergi tiba-tiba hanya karna sebuh masalah belaka dan Sarah yang egois dan cemburu buta kenapa tuhan selalu mempertemukanya dengan wanita-wanita yang tak sesuai dengan kepribadianya diluar terlihat seperti iblis, padahal ia berhati sangat lembut tapi kenapa tidak ada satupun yang mau mengerti dirinya, ingin rasanya ia tak mengenal tentang cinta dan wanita lagi.

Saat matanya menatap sesuatu yang belum terbuka itu, Rio mengambilnya membukanya dengan tidak sabaran karna mendapat firasat buruk tentang amplop ini, surat didalamnya terdapat kertas pink dengan sample mawar disekelilingnya Rio melotot membukanya dengan cepat, dan mengusap wajahnya kasar ketika telah membaca surat itu

Untuk cintaku

Apa kau baik-baik saja disana?....

Mama akan pulang seminggu lagi

Dilandon...

Mama selalu merindukanmu

Maka setelah tiga bulan berwisata Mama tercintamu ini akan pulang

Sambutlah Mama...

Karna jika tidak Mama akan marah

Ajaklah Sarah...

Atau siapapun itu wanitamu

Kau harus menyambut Mama dengan pemandangan keluarga yang harmonis

Karna jika tidak...

Mama akan marah

Ingatlah satu minggu lagi kau bisa mempersiapkanya

Lakukan yang terbaik buat semenawan mungkin dekor penyambutanya untuk mama...

From: Mama

Rio memijat keningnya lagi merasakan pusing kepala yang luar biasa, rasanya seperti akan pecah ia butuh koyo atau obat sakit kepala saat ini, hari kerja yang memusingkan bahkan ketika ia baru menyelesaikan satu berkas, rasanya Rio ingin pulang lebih cepat hari ini

"yatuhan masalah apa lagi selanjutnya?"

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan
9.5
Demi membalas penderitaan keluarganya, Layla berpura-pura mencintai seseorang dalam sebuah rencana balas dendam yang matang. Namun, ambisinya terancam saat perasaan tulus mulai tumbuh di tengah misinya. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara menuntaskan dendam masa lalu atau menyerah pada cinta yang tak terduga. Akankah Layla tetap pada tujuannya, atau justru melepaskan segalanya demi perasaan itu? Ikuti kisah penuh intrik dalam Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan.
Sampul Novel Cinta Joanna
9.0
Dunia Joanna Alexander seketika hancur berkeping-keping saat mendapati kekasih yang sangat dicintainya tega berkhianat dengan teman dekatnya sendiri. Namun, penderitaan Joanna tidak berhenti di situ saja. Sebuah rahasia besar yang telah disembunyikan orang tuanya selama belasan tahun akhirnya terungkap ke permukaan. Di tengah badai emosi yang mengguncang hidupnya, mampukah Joanna melapangkan dada dan memaafkan kesalahan besar orang tuanya tersebut?
Sampul Novel Kau Tak Pernah Mencintaiku
9.3
Aurora terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Leandro, pengusaha sawit kaya. Meski hidup mewah, ia menderita akibat dominasi ibu mertua dan kekejaman adik iparnya. Leandro tak pernah memihaknya hingga Aurora merasa terasing. Penderitaannya memuncak saat kakak kandungnya, Ravela, hadir dan mulai menggoda suaminya. Pengkhianatan ini menghancurkan jiwa Aurora, terutama ketika ia menyaksikan Ravela keluar dari kamar Leandro pada suatu malam yang kelam.
Sampul Novel Maaf, Kami Pernah Berzina
8.5
Demi tanggung jawab sebagai kakak angkat, aku terpaksa menikahi Niken yang hamil oleh adikku, Nara. Hal ini terjadi karena Nara telah terikat pernikahan paksa dengan Nada. Konflik memuncak saat aku diminta melakukan perbuatan nista dengan Nada agar dia mengandung, sebab Nara bersumpah tak akan menyentuh istrinya demi kesetiaan pada Niken. Di tengah dilema moral ini, sanggupkah aku merusak kehormatan Nada yang merupakan wanita baik-baik?
Sampul Novel Melamar Anakku Sendiri
9.5
Dominik Fedorov berencana menikahi kekasihnya yang tengah mengandung, namun penculikan tragis memisahkan mereka secara paksa. Selama puluhan tahun, Dominik gagal menemukan jejak wanita itu hingga tekanan keluarga untuk menikah terus menghantuinya. Takdir akhirnya mempertemukan mereka kembali di sebuah pertemuan tak terduga. Saat Dominik berniat melamar seorang gadis muda, ia justru berhadapan lagi dengan Larisa, cinta masa lalunya yang sempat hilang misterius.
Sampul Novel MENIKAHI CEO KEJAM
9.5
Obsesi Jennifer pada Maximilian Jefferson, pengusaha real estate Jerman, berujung penyesalan. Awalnya ia berniat meminta maaf pada kakak korban perundungannya, namun Jennifer justru menjebak Max dalam pernikahan karena cinta buta. Meski disiksa secara emosional, ia bertahan hingga fakta kelam terungkap bahwa Max adalah dalang kematian ayahnya. Saat cinta Jennifer berubah jadi benci, Max justru mulai mencintainya. Akankah dendam memisahkan mereka selamanya?